
Malam kian merayap, jika anak manusia yang lain sudah tertidur pulas, berbeda dengan Adit dan Tiara yang tak juga bisa memejamkan mata.
Adit sedang memikirkan kakak perempuannya yang tidak bisa hidup tenang karena kelebihan yang dia sendiri tidak mengerti. Berbeda dengan Adit yang sudah terbiasa sejak kecil, bahkan menganggap Jin dan makhluk halus itu sama seperti manusia, hanya berbeda rupa dan penampilan saja di matanya.
Sedangkan Tiara merasa banyak mata sedang memperhatikan dan mengawasi dirinya di malam itu. Dia gelisah dengan berbagai posisi, terlebih lagi jika tanpa selimut, tubuhnya seolah sedang dilucuti.
"Ibu." Panggilnya ketika jam dinding menunjukkan pukul 23:30. Matanya berat, nafasnya sesak karena mengantuk. Tapi perasaannya tidak tenang, semua posisi salah.
Bunga beranjak dari tidurnya di ruang tengah.
"Dek." Angga ikut terbangun ketika istrinya beranjak.
"Tiara memanggil Mas." ucapnya merasa sungkan meninggalkan Angga tidur sendirian.
"Ya sudah, temani saja." Angga melepaskan tangan yang memeluk pinggang istrinya, seraya menarik nafas berat. "Gawat ini, kalau begini terus Adit ga bisa punya adik." ucapnya lalu tidur lagi.
Sementara di dalam kamar Tiara, gadis belia itu mulai memejamkan mata setelah Bunga tidur di sebelahnya. Perasaannya lebih tenang kalau ada orang.
"Bagaimana caranya?" di luar jendela Joko bergumam, menyandar sambil berpikir bagaimana membuat Tiara nyaman.
Selama mata batinnya masih samar, dia hanya bisa merasakan apa yang berhubungan dengan dirinya, termasuk merasa gelisah karena ada banyak makhluk yang mengawasinya dari jauh.
Parahnya lagi, peliharaan dukun-dukun mulai ikut mengincar Tiara, dan sebentar lagi dukun-dukun hitam akan ikut mengincarnya untuk mengendalikan Jin-jin yang ingin menikahi gadis seperti dia, mereka juga menginginkan anak-anak jin yang memiliki kekuatan khusus nantinya.
"Andaikan saja, Gibran masih hidup, dia bisa menjaganya termasuk di alam mimpi."
Joko mengernyitkan keningnya, kemudian tersenyum mendapatkan cara untuk membuat Tiara tidak merasa takut.
"Mana tahu berhasil." Joko menutup matanya, kemudian menghilang bagaikan asap tipis perlahan habis.
Di alam mimpinya tersebut, Tiara seperti sedang tidur dan di jaga seseorang, memandanginya, mengelus rambutnya.
"Mas Joko." ucap Tiara sedikit membuka matanya.
"Iya Andini, aku di sini." jawab Joko tersenyum sedikit, samar terlihat wajah tampannya. Mata yang sangat berat itu berusaha terbuka.
"Mulai sekarang, kamu tidak usah takut tentang apapun. Aku akan selalu menjagamu, selalu... Aku siap terbakar menjadi abu untukmu." Joko terus mengusap rambut halus Tiara.
"Aku sendirian Mas Joko." ucap Tiara setengah membuka matanya.
"Tidak, aku selalu bersamamu. Hanya tidak terlihat, dan suatu saat kau akan melihat aku." Joko mendekatkan wajahnya, mengecup kening Tiara dan gadis itu tersenyum, kembali tertidur pulas.
__ADS_1
"Kalau bukan di alam mimpi, aku tidak bisa mendekatimu. Kau tidak bisa terus seperti ini Andini Sayang. Sembuhlah..." Joko membuka satu telapak tangannya dan mengarahkan di wajah Tiara.
Ciiittt...
Pintu kamar Tiara di buka Adit. Anak usia Sepuluh tahun itu langsung dapat melihat kehadiran Joko yang sedang menyalurkan tenaganya kepada Tiara.
"Cukup." cegah Aditya.
Joko menoleh, lalu menarik tangannya.
"Mbak Tiara bisa ketagihan dengan tenagamu, itu sama sekali tidak baik." ucap Adit tetap diambang pintu.
"Tapi dia sakit, tidak bisa melakukan apapun, jangankan untuk kuliah, bangun saja dia kesulitan setiap paginya." jawab Joko merasa khawatir.
"Itu karena banyak Jin yang mendekatinya Mas Joko. Energinya habis karena kalian semua selalu mengawasi Mbak Tiara. Itu merusak energi positif di tubuh Mbak ku." jelas Adit perlahan melangkah masuk.
Joko tertunduk, beralih posisi duduk di kursi kayu meja hias dekat Aditya.
"Walaupun aku sendiri tidak punya pilihan." sambung Aditya lagi menatap wajah Tiara yang sedikit lebih segar setelah mendapat energi dari Joko.
"Aku tidak bisa menjauhi kakakmu." Joko juga menatap gadis yang disebut sebagai kekasih itu.
"Pergilah." ucap Adit, kemudian meninggalkan kamar Tiara bersamaan dengan menghilangnya Joko.
"Lihat Mbak sama Ibu." jawabnya membetulkan sarungnya.
Angga ikut berpindah ke kamar Adit, menemani anak laki-lakinya tersebut.
"Ayah." panggil Adit sebelum memejamkan mata.
"Hem."
"Siapa teman Mbak Tiara yg laki-laki?" tanya Adit tiba-tiba.
Angga langsung membuka mata, menoleh Adit yang sedang memunggungi dirinya. "Kenapa?"
"Mana tahu dia jodohnya." jawab Adit.
"Ada, tapi tidak ada yang tahu dia ada dimana?" Angga kembali memikirkan Arya yang dulu selalu murung lantaran kedua orang tuanya selalu bertengkar.
"Kalau teman kuliahnya bagaimana Dit?" Angga masih berpikir keras, namun tak mendapat jawaban.
__ADS_1
"Dit." Angga memanggil anak laki-lakinya lagi. Sedikit menghadap Adit, namun terdengar nafas teratur dan dapat dipastikan dia sedang tidur.
Malah Angga yang tidak bisa tidur memikirkan jodoh untuk Tiara anaknya.
*
*
*
Pagi itu, Tiara bangun dan segera bersiap untuk pergi ke kampus. Lupa bahwa kemarin dirinya sangat lemas, bahkan enggan bicara karena kehilangan tenaga. Parahnya lagi tensi darahnya selalu rendah akhir-akhir ini, padahal semua kebiasaan dan makanannya sama seperti ketika di Kalimantan.
Jika dulu satu kaleng susu murni bisa membuatnya berolah raga cukup lama, tapi saat ini, dua gelas susu pun tak berpengaruh pada tubuhnya. Aneh!
Kemana perginya makanan dan minuman yang ia konsumsi, jika untuk bangun pagi dan mandi kepalanya selalu merasa berat.
"Obatnya Nduk." Bunga memberikan air putih dan sebutir obat bertuliskan kandungan Zat besi.
Tiara menurut, setiap hari mengonsumsinya.
Lama kelamaan dia bosan, bingung dan khawatir akan diri sendiri.
Seharinya dia terlihat sehat dengan wajah segar, lalu keesokan harinya dia lemas, bahkan demam.
"Kamu aneh Ndin." Tari berkunjung ke rumah sahabat tersebut bersama teman yang lainnya di hari itu.
"Aneh kenapa Tari?" Sahutnya tersenyum sambil menyandar lemas di sofa ruang tamu.
"Kemarin sehat-sehat saja, kok sekarang demam. Ini bukan yang pertama lho! Beberapa hari lalu kamu juga demam di pagi hari, siangnya kamu belanja dan sangat sehat." ungkap Tari menatap wajah sahabatnya.
"Aku juga tidak tahu Tar." Tiara menarik nafas, baru sadar jika keadaan fisiknya memang aneh.
"Mungkin capek, atau banyak begadang." sahut Dika yang sejak tadi hanya diam.
"Begadang mikirin aku kan?" goda Rendy yang memang menyukai Tiara. Candaan mereka membuat suasana ramai di siang itu.
Dia tidak sadar jika di sampingnya ada Joko yang sudah berdiri melotot, dia tidak suka dengan candaan Rendy tersebut.
"Enggak kok. Tapi memang benar aku kesulitan tidur di setiap malamnya. Merasa takut dan seperti ada yang mendekati aku setiap waktu." jelas Tiara apa adanya.
"Jangan-jangan....? Hantu!" Dika kembali menyahut, laki-laki muda itu merapatkan diri kepada Tari.
__ADS_1
"Ini 2023. Hantu udah habis usia." kesal Tari mendorong bahu Dika yang sedang merapat mencari kesempatan.