DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Ingin menjadi manusia


__ADS_3

"Apa maksud mereka sudah menunggu aku?" tanya Tiara kepada Joko keluar dari desa tersebut dengan banyak kebingungan. Bahkan makanan yang mereka makan tidak mengenyangkan. Hanya langsung habis dan kering di wadahnya.


"Mereka terpisah dari suami dan ayah mereka, dan hanya kamu yang bisa membantunya kembali bertemu."


"Aku?" Tiara menunjuk dirinya sendiri.


"Ya." Joko menghadap Tiara yang masih berdiri bingung di jalanan puncak itu.


"Apa yang bisa ku lakukan Mas?" tanya Tiara semakin bingung.


Joko tersenyum sedikit dan memegang tangan Tiara. "Karena kamu memiliki keistimewaan yang mungkin di seluruh dunia ini hanya ada satu atau dua orang saja." jelas Joko menatap wajah Tiara. "Sekarang matamu sudah bisa melihat makhluk-makhluk halus yang menyatu dengan manusia di dunia. Sebentar lagi mata ini akan bisa melihat hal yang lebih banyak lagi. Seperti kehidupan mereka yang bersembunyi dari manusia, bahkan yang tersegel tak bisa keluar dari alam yang berbatas dengan manusia. Termasuk aku yang tidak bisa pulang ini. Setelah kelebihan mu sempurna, kau akan bisa membuka pembatas tersebut dan aku akan pulang bersamaan saat kau menemukan belahan jiwamu, yang kau cintai nantinya."


"Apakah itu masih lama?" Tiara bertanya dengan khawatir.


"Tidak, dan kita harus mempersiapkan diri. Tak lama lagi, akan ada orang yang datang mendekatimu dan ingin memilikimu. Kau harus siap, penuhi hatimu dengan keyakinan, bahwa kau kuat, berani, dan berada dalam hal yang benar, seperti yang di inginkan ayahmu."


"Tapi kita yang yang saling jatuh cinta ini salah." Tiara menatap Joko dengan sendu.


"Ya, tapi Sang pencipta memberikan anugerah yang indah ini bukan tanpa alasan." Joko meletakkan tangan Tiara di dadanya.


"Sudah menjadi ujian bagi wanita yang memiliki keistimewaan akan jatuh cinta kepada bangsa Jin yang di matanya adakah sosok yang sempurna, kalian bahkan cenderung takut kepada laki-laki sesama manusia karena kalian dapat dengan mudah mengetahui kekurangan mereka. Seperti niat tak baik, pikiran kotor, dan Ambisi yang berlebihan sebagai sifat alami manusia. Berbeda jika yang memiliki kelebihan itu adalah laki-laki beriman. Dia akan dengan mudah mengetahui siapa wanita yang paling baik untuk dijadikan istri."


"Lalu aku?" Tiara jadi khawatir, hatinya mengakui jika ia juga mengagumi dan mencintai Joko yang selalu ada. Tapi di sisi lain dia takut jika sampai terjatuh dengan hubungan serius, atau yang sering di dengar dengan pernikahan dengan makhluk lain.


Joko tersenyum lembut, membelai wajah cantik Tiara. "Sejujurnya, aku sempat berpikir untuk tidak perduli bahwa kau Manusia. Dan aku bisa saja membawamu pergi jauh, hidup bersamaku selamanya. Tapi sungguh aku tidak bisa melakukannya." ucap Joko pelan, wajahnya menjadi sangat tampan ketika angin menerpa keduanya dan rambutnya yang rapi ikut berantakan.


"Mengapa?" pertanyaan yang terdengar pelan, begitu dekat keduanya saling memandangi.


"Karena aku mencintaimu, dan ingin hidup selamanya di dalam hatimu. Walaupun tak adil bagimu Tiara Andini, sungguh setiap yang berjenis laki-laki, akan jatuh cinta dan ingin memiliki walaupun dengan cara yang egois."


"Aku tidak mengerti." Tiara menatap bingung.


"Aku mencintaimu."


Joko memeluknya erat, semakin detik begitu erat. Sungguh dia tidak menjawab apapun, tapi dia hanya memberitahu perasaannya yang begitu dalam.


"Aku juga mencintaimu." lirih Andini nyaris tak terdengar, tapi begitu jelas di telinga Joko, bahkan hanya berkata di dalam hati.

__ADS_1


Itu membuat Joko tersenyum senang.


"Mas!" Tiara berteriak ketika ada beberapa orang perempuan dengan dandanan modis melewati mereka, dan anehnya mereka tidak berjalan menapakkan kaki, tapi terbang rendah mengikut jalanan.


Joko langsung memutar posisi mereka, mendekap Tiara erat dan tidak membiarkan para wanita berpakaian minim itu menatap tajam pada Tiara kekasihnya.


"Siapa mereka?" Tiara masih menatap punggung beberapa orang itu berjalan beriringan.


"Mereka adalah para wanita dari bangsa ghaib seperti aku, tapi sedang mendapatkan perintah untuk membantu manusia, tepatnya membantu manusia berambisi untuk mendapatkan rezeki yang lebih banyak."


"Hah!" Tiara kembali tercengang.


"Sebaiknya kita pergi, kita sudah terlalu lama di sini." Joko melonggarkan pelukannya tapi tak melepas sepenuhnya.


Tubuh keduanya terasa ringan melayang, mengarungi awan yang membeku di tengah sinar cahaya yang mendadak redup.


Dunia mimpi yang tak seimbang, kadang siang begitu singkat, lalu malam datang mendadak.


"Kamu cantik sekali." Joko memujinya tanpa henti, membuat angan Tiara ikut melambung bersamaan dengan posisi mereka yang semakin tinggi.


"Aku khawatir kebahagiaanku hanya ketika bersamamu Mas, dan aku akan bersedih di sisa umurku." ungkap Tiara menatap jauh di bawah sana.


Joko menoleh kekasihnya itu, dia tahu apa yang sedang di khawatirkan Tiara walaupun dialah yang akan mengalami itu semua suatu hari nanti.


"Aku akan selalu berusaha membuatmu bahagia. Sekalipun harus terluka." jawab Joko tersenyum hangat.


"Sebaiknya kita pulang." pinta Tiara sejenak kemudian.


"Baiklah Sayang, Mas Joko akan mengikuti apapun yang Andini tercinta inginkan." Joko mengulurkan tangannya, meminta Tiara meletakkan tangan kecil nan lentik menggemaskan itu diatasnya.


Tiara tersenyum lebar, bahagia sekali mendapatkan perlakuan istimewa dari Joko, jin yang teramat-amat tampan.


"Andaikan Mas Joko manusia, alangkah bahagianya hatiku ini." ucap Tiara memandangi wajah Joko yang sedang tersenyum penuh cinta.


"Memangnya kalau Mas manusia kamu mau apa?" Joko menggodanya, sambil posisi mereka tiba-tiba sudah berpindah entah dimana.


"Mau selalu bersamamu Mas." Tiara merayunya dengan suara pelan dan halus.

__ADS_1


Tentu seperti mendapat hujan duit, rasanya ingin melompat girang dan berteriak kencang, Joko sungguh senang. Wajahnya merona dengan hati semakin tak karuan.


"Tiara suka sama Mas Joko, dan ingin menikah." ucap Tiara lagi.


Mulut jin ganteng itu terbuka, tubuhnya kaku dengan mata juga tidak berkedip.


"Aku mencintaimu Mas Joko."


Brakk!!!


"Mbak!" suara Adit membangunkan Tiara, sementara Joko masih berdiri seperti patung dengan tangan masih terulur seolah sedang berpegangan tangan dengan Tiara.


"Subuh Mbak." Adit kembali memanggil Tiara yang baru saja membuka mata sedikit.


Di ruangan itu hanya Adit yang bergerak, semuanya bisu, kaku, bahkan angin tak mau berhembus untuk sementara waktu. Debu bahkan tak bergerak karena Joko sedang membeku.


Adit melempar bantal kepada Joko yang sepertinya lupa bahwa dia masih hidup. Berdiri diantara dinding dan halaman tidak bergerak sedikitpun. "Astaghfirullah."


Bugh!


Dia terjatuh lemas seperti sedang pingsan.


"Mas Joko!" Tiara segera beranjak dari ranjang dan ikut membangunkan Joko.


"Mbak bisa lihat dia?" Adit menunjuk Joko.


Tiara mengangguk, kemudian meraih tangan Joko agar segera bangun.


"Aku ingin jadi manusia." ucap Joko setengah membuka mata, lebih tepatnya seperti orang mabuk.


Blushh...


Adit mendorong tubuh Joko dengan kedua telapak tangan hingga jauh menghilang.


"Dit!" Tiara menoleh adiknya tersebut.


"Tidak boleh pacaran!"

__ADS_1


__ADS_2