
"Nyi!" panggilnya sungguh terdengar menyedihkan.
Namun tak ada tanda-tanda wanita jadi-jadian itu datang.
"Nyai Roro aku butuh bantuanmu." panggil Raka berkali-kali.
"Kemana perempuan itu." kesal Raka. Namun kemudian dia ingat hari itu adalah selasa.
Bahkan bangsa ghaib pun memiliki jadwal untuk datang. Pantas saja sebagian dukun mengatakan jika ingin berobat datanglah pada hari-hari tertentu.
"Bahkan Nyai Roro Ayu tak bisa datang di hari Selasa dan Sabtu."
Hanya berbaring di ranjang, Dewi tampak sibuk merawat Raka yang merasa remuk seluruh tubuhnya.
Matanya masih di perban agar proses penyembuhan luka di matanya lebih cepat.
"Makan ya Mas." ucap Dewi membantu tubuh gagah suaminya duduk.
Tak punya pilihan selain menurut, bahkan ke kamar mandi ia butuh bantuan Dewi.
"Aku tidak suka dengan keadaan seperti ini, lemah dan sungguh tak berguna." kesalnya seraya menyandar di dinding ranjang.
"Jika tidak suka maka berhentilah mengejar mantan kekasihmu itu Mas Raka, sebentar lagi aku akan segera melahirkan. Jangan sampai anakmu tahu bahwa ayahnya tidak menyayangi sepenuh hati, lantaran masih mencintai wanita yang jelas sudah meninggalkanmu."
Tangan Raka mendorong tangan Dewi hingga jatuh sendok berdenting di lantai.
"Jangan menceramahi aku." geramnya urung sarapan di pagi itu.
"Aku tidak ceramah, hanya kau rasakan sendiri bagaimana sengsaranya kau di hajar orang gara-gara berusaha mendekati janda itu. Kau bahkan membuang-buang uang dengan membeli dan mengisi toko tersebut hanya untuk mendekati Melati. Kau sudah di buat bodoh oleh masa lalu, kau di buat buta karena tak bisa melupakan kenangan bersamanya."
"Diam!"
"Aku tak akan diam, sudah waktunya kau mendengar dan mengetahui kebodohanmu yang sudah terlalu lama. Mengabaikan calon anakmu, menyakiti hatiku, seolah-olah hanya dia yang berharga dan aku tidak. Kau membuatku sakit hati Mas Raka. Sekedar mengingatkan, jangan sampai kau menyesal sudah membuat aku begini."
"Kau mengancamku?" teriaknya lagi.
"Tidak, hanya aku sudah lelah selalu kau acuhkan. Kehadiranku tidak kau hargai."
Dewi membawa piring berisi makanan itu keluar dari kamarnya, dapat di lihat jika sekarang Raka sedang marah, dan sebentar lagi akan mengamuk.
Terserah.
__ADS_1
Begitu Dewi sekarang tak terlalu peduli, cintanya memang masih besar untuk Raka, tapi melihat Raka seperti itu hatinya mulai lelah.
"Joko!" teriak Raka memanggil jin sahabatnya yang semakin hari semakin aneh karena jatuh cinta pada bocah ingusan.
"Ada apa?" ucapnya mengorek-ngorek lubang telinga akibat panggilan Raka yang terlalu keras.
"Bantu aku agar segera sembuh. Aku tidak mau terus menerus di ceramahi Dewi, bahkan butir nasi yang masuk ke dalam mulutku, lebih banyak ocehan Dewi terhadapku." kesalnya mengadu kepada Joko.
"Aku bisa saja menyembuhkan mu, tapi akan terjadi kekacauan lagi setelah kau sembuh, dan aku tidak mau kehilangan kesempatan dekat dengan Tiara Andini kekasihku."
"Aku tidak mau tahu. Ingat, kau bisa bertemu dengannya karena aku yang membawamu keluar dari gubuk tua itu." dia mulai marah.
"Aku tidak lupa Raka, tapi tidak semua Jin selalu berambisi dan tertawa keras ketika melihat kehancuran dan kesedihan manusia. Sebagian dari kami tak mau di ganggu, tak mau tinggal di tempat kotor dan sebagian dari kami juga seperti manusia, tinggal di atap-atap rumah orang sholeh, lalu ketika mereka makan di pagi hari, kami juga makan bersama mereka. Hanya kami melihat kalian makan dan beraktivitas lainnya, tapi kalian tidak tahu."
"Aku tidak peduli, buktinya kau mengikuti aku hingga ke sini. Artinya kau harus menurut kepadaku." ucapan egois yang membuat Joko menggeleng.
"Kau sembuh, tapi perkelahian kembali terjadi. Kali ini aku khawatir bukan lawan mu yang mati."
"Jangan meremehkan aku! Jika kau tidak mau, aku bisa memanggil yang lain dan kita bermusuhan." geram Raka lagi.
"Baiklah Raka, aku akan menyembuhkan mu."
"Bersiaplah, sakit dan perih kau harus tahan." Joko meminta Raka duduk bersila, tangan yang yang tadinya halus seperti manusia itu kini berubah besar dan kasar. Mulai menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Raka, tanpa membuang waktu ia menyalurkan tenaga dalam penuh untuk memulihkan tenaga dan luka Raka.
Tak hanya sekali Raka, menjerit keras menahan sakit di semua sendi dan bagian yang lebam akibat pukulan Angga yang membabi buta.
Belum lagi luka dalam akibat urung mengeluarkan ilmu andalannya. Raka benar-benar tersiksa dengan pengobatan kilat dari tangan jin tersebut.
"Joko, berhenti!" teriaknya merasa dadanya seperti mau pecah.
"Tidak bisa Raka." jawabnya terus menyalurkan tenaga dalam, suara yang biasanya lembut kini terdengar menyeramkan dan penuh kuasa.
"Joko!" teriaknya lagi.
Raka pingsan.
Joko, menarik kedua telapak tangannya.
"Kekuatanku bertambah jika usiaku bertambah." ucapnya melihat kedua telapak tangannya yang kembali ke wujud manusia.
Hanya berselang beberapa puluh menit saja, Raka sudah kembali sadar dengan mata yang sudah kembali membuka.
__ADS_1
"Kau belum bisa memakai tenaga dalam, kalau mau berkelahi sebaiknya diam di rumah selama dua Minggu." ucap Joko tengah duduk santai di kasur Raka.
"Kau memiliki ilmu yang luar biasa." ucap Raka menoleh Joko penuh selidik.
"Tentu saja, aku butuh kekuatan lebih untuk melindungi kekasihku Tiara." dia tersenyum lalu menghilang.
*
*
*
Hari-hari berjalan normal, toko di sebelah Bunga tutup dalam waktu yang lama membuat Bunga kembali menjaga toko miliknya.
Tak terkecuali kehadiran Angga membuatnya merasa aman lantaran banyaknya kejadian aneh beberapa waktu lalu.
Tak heran lagi, dulu saja Angga yang mengobati Gibran saat terluka karena Raka.
Teringat Raka, Bunga menoleh toko di sebelahnya. Biasanya dia sibuk mengincar Bunga yang akan pulang di sore hari.
"Jangan mengingat suami orang." suara Angga membuat Bunga terkejut.
"Tidak Mas, hanya heran saja mengapa bisa tutup cukup lama." jawab Bunga kepada Angga yang datang menjemput.
"Sudah sekarat mungkin, gagal melet kamu." jawabnya membuka pintu untuk Bunga.
"Mas Angga." jawabnya ingin membantah, tapi benar kenyataannya.
"Mending kamu nikah lagi, karena dia tidak akan menyerah sampai benar-benar mati." Angga mulai menghidupkan mesin mobil Iyan tersebut.
"Mas aneh, harusnya Mas Angga senang aku tetap sendiri. Lagi pula Mas Gibran meninggalkan nafkah yang cukup banyak untuk membesarkan dan menyekolahkan Tiara. Aku tidak butuh suami lagi." jawab Bunga mengingat Gibran suaminya.
"Kalau begitu, kamu ikut aku ke Kalimantan saja. Jujur aku tidak bisa meninggalkan kamu dan Tiara dalam keadaan seperti ini, jika mengharap Raka sadar itu sama sekali tidak mungkin, dia akan tetap mengejar kamu dengan segala cara. Kalau aku tidak segera pulang, dapat di pastikan sekarang kamu sudah dalam kendali Raka." jelas Angga lagi.
"Kalau aku ikut bagaimana dengan semua usaha Mas Gibran. Aku juga tidak punya ijazah yang tinggi untuk bekerja di Kalimantan." Bunga terlihat bingung di tengah perjalanan menuju rumah mereka.
"Kau tidak perlu bekerja, biar aku yang bekerja. Lagi pula kontrakan adikku tak perlu di jaga, mereka bisa mengirim uangnya kepadamu."
Bunga menatap Angga dengan bingung, mengapa harus merantau jauh hanya untuk menghindari Raka , tapi jika tetap di sini juga berbahaya untuk Tiara. Dan itu sudah terbukti dengan kejadian kemarin.
"Bicaralah kepada Ibu, juga orang tuamu. Aku tidak mau Tiara sampai menjadi korban. Karena dengan jelas Gibran meminta aku untuk menjaga kamu dan Tiara sebelum dia menghembuskan nafas terakhir." ucapnya menatap serius kepada wanita yang mulai ingin menangis mendengar nama Gibran di sebut.
__ADS_1