
Di tempat lain.
Dia masih berdiri diambang goa yang gelap, batu yang merupakan pintu masuk itu telah terbelah menjadi dua. Dia tersenyum lega sambil melangkah, namun kemudian terhenti.
"Andini." gumamnya merasa sedang di sebut namanya.
Mendadak rindunya juga bergejolak, ingin segera kembali menemui kekasih tercinta. Tapi ada yang lebih penting dan itu juga untuk dirinya.
"Sabarlah, aku akan kembali secepatnya." ucap Joko tersenyum sangat bahagia.
Dengan penuh semangat ia melesat lebih dalam hingga cahaya bulan sudah tak terlihat.
"Ibu." ucapnya pelan.
Joko duduk bersimpuh memegang batu yang menancap di bagian arah kiblat, onggokan tanah yang sudah mengeras nyaris seperti batu lembab tidak pernah tersentuh mata hari itu adalah tempat peristirahatan terakhir sang ibu yang merupakan seorang manusia.
"Joko datang untuk mengambil sesuatu yang berharga. Demi Ayah, dan demi seorang gadis yang aku cintai." ucapnya berbicara pada batu nisan tersebut.
Sejenak setelah bersedih, kemudian dua tangan Joko memegang batu nisan ibunya, mengerahkan tenaga penuh, dan mulai berkonsentrasi memejamkan mata.
Pelan tapi pasti, batu yang menancap itu mulai bergoyang, longgar dan kemudian tertarik sedikit demi sedikit naik ke atas. Cahaya putih terlihat di sela tanah yang mulai berlubang, membuat goa yang gelap itu terang seperti siang.
"Aaarrgghh..."
Erangan Joko terdengar menggema, seiring terlepas nisan itu dari makam ibunya, dia sedikit kesulitan.
Tak lama kemudian muncul sebuah batu permata bercahaya putih ikut terangkat naik dengan sendirinya. Cahayanya sangat menyilaukan mata.
"Aku mengambil batu milikmu Ibu." Joko menggenggam batu seukuran jari kelingking itu. Tapi kemudian goa tersebut berguncang hebat, kaki Joko merasa bergetar lalu kemudian memukul ke atas hingga hancur, Joko segera melompat keluar dari atas ia menyaksikan goa tersebut rata dengan tanah.
"Mulai besok, mata hari akan bersinar, dan hujan akan membasahi makam Ibu, lalu rumput akan tumbuh di atasnya. Kata Mas Angga, rumput-rumput itu akan memuji Sang pencipta, memohon ampunan atas dosa-dosa Ibu." Joko tertunduk lemah.
Sungguh perasaan cinta tidaklah salah, tapi pernikahan dengan makhluk yang berbeda adalah sebuah kesalahan.
"Joko tidak akan mengulangi kesalahan itu. Joko juga akan berusaha menyelamatkan banyak manusia melalui takdir Tiara Andini kekasih Joko. Berharap Sang pencipta dapat mengampuni dosa Ibu." ucapnya sambil menyek air mata.
Selama ini, makam berusia 120 tahun itu sengaja di sembunyikan dari dunia. Tapi tidak mulai sekarang, batu permata milik Ibunya sudah di tangan Joko, batu yang merupakan simbol kelebihan Ibunya dulu, dapat melihat dan bertemu makhluk ghaib seperti ayahnya ketika itu.
"Selamat tinggal Ibu. Andaikan Joko bisa mendatangi makam Ibu, itu hanya seratus tahun lagi." Joko semakin menangis.
Tentu tak hanya menangisi ibunya, tapi juga Andini tercinta.
__ADS_1
Hanya tersisa waktu beberapa hari saja, lalu setelah ini mereka akan berpisah untuk selamanya. Adapun waktunya Joko bisa kembali, itupun seratus tahun kemudian dan dapat dipastikan Andini sudah meninggal.
"Andaikan Joko manusia." gumamnya sedih.
"Andaikan saja pernikahan Jin dan Manusia itu bisa menghasilkan seorang anak manusia. Joko mau, tak apa berusia singkat asalkan bisa hidup bersama Tiara."
Teringat akan Tiara.
"Sebaiknya aku segera menemuinya."
Sementara di desa di bawah bukit tersebut, kediaman Tiara tampak lengang karena memang belum ada yang tahu kedatangan mereka menjelang isya tersebut.
"Mas mau ke pesantren malam ini juga, kamu jaga Tiara." pinta Angga setelah istirahat.
"Tapi ini sudah malam Mas." Bunga ragu akan perjalanan suaminya yang lumayan jauh.
"Tidak apa-apa, Mas yakin semuanya masih aman." Angga meyakinkan Bunga.
Walaupun sebenarnya kepergian mendadak Angga sudah cukup menjelaskan bahwa keadaan sudah tidak baik-baik saja.
"Masuk kamar dan tidurlah." perintah Bunga kepada dua anaknya. Berharap agar malam cepat berlalu, dan matahari segera terbit.
"Ibu!" teriak Tiara melompat dari ranjang besar itu memanggil ibunya. Tangannya sibuk membuka kunci dan menggedor-gedor ingin keluar. Tapi pintu kamarnya malah terkunci rapat.
"Astaghfirullah, Ibuuu!!" jeritnya keras.
Bagaikan tak ada yang mendengar, Tiara kebingungan dengan suasana kamarnya yang mendadak terpisah dari siapa saja.
Dia beringsut di sudut kamar berusaha menenangkan diri. Tapi tak di sangka sebuah tangan malah berhasil menembus jendela yang terbuat dari kayu tersebut, tangan dengan kuku panjang itu berusaha meraih Tiara, dan itu membuat Tiara semakin menjerit.
"Toloooong...!"
Namun tak ada yang mendengar, malah salah satu jendela nyaris terbuka, kuncinya terlepas sendiri seolah sedang di buka oleh seseorang.
"Tidak... tidak."
Dan beberapa detik kemudian jendela tersebut terbuka. Puluhan makhluk mengerikan melompat masuk, terlihat begitu buas menyerang Tiara.
"Aaaaaaaaaaaaa....!" Tiara langsung menutup matanya.
Tapi kemudian suasananya berubah sepi.
__ADS_1
"Ya Allah, apakah aku sudah mati?" gumam Tiara belum berani membuka matanya.
Hingga ia merasa sebuah tangan sedang menahan punggungnya. Ia segera membuka mata.
"Mas Joko."
Pelan ia menyebut sebuah nama yang sejak tadi sore membuatnya rindu.
"Ya." jawab Joko tersenyum hangat.
"Aku merindukanmu Mas." ia langsung menghambur memeluk Joko.
Joko tersenyum tipis, tapi kemudian malah menangis. Sama halnya dengan Tiara yang semakin detik semakin terisak di dada Joko, tangan kecilnya tak mau melapas lagi.
"Sudah, nanti Ayahmu tahu." ucap Joko pelan, mengusap punggung Tiara lembut, dia sedang membohongi diri sendiri, yang sebenarnya ingin seperti itu selamanya.
"Tidak mau Mas." jawabnya masih tak bergerak.
Joko semakin sedih, selama sepuluh tahun ia menunggu kata-kata itu, tapi setelah mendengarnya hatinya malah seperti tersayat-sayat.
Sudahlah, di sisa waktu ini harusnya ini adalah moment yang indah. Joko membalas.
"Aku juga tidak mau jauh darimu Andini ku." bisik Joko kemudian memeluknya begitu erat.
Angin malam tak lagi dingin, awan gelap sudah berlalu. Hanya ada cahaya bulan yang meneduhkan, dan ribuan bintang menjadi saksi bahwa kedua makhluk berbeda itu saling mencintai.
Waktu yang berjalan tak lagi menjadi ancaman, rasa yang menyatu itu melahirkan kekuatan luar biasa di dalam hati masing-masing.
"Aku sudah siap Mas." ucap Tiara setelah sejenak terdiam dalam pelukan Joko.
Joko melonggarkan pelukannya. "Lihat mataku, dan kosongkan pikiranmu." perintah Joko yang lebih dulu menatap wajah cantik Tiara.
"Kenapa memangnya?" tanya Tiara sedikit heran.
"Ada yang ingin ku tunjukkan, sesuatu." jawab Joko tersenyum begitu manis.
Tiara melihat wajah tampan Joko semakin mendekat, hingga nyaris tak berjarak. Dia begitu berani melingkarkan tangannya di pundak Joko.
"Mas mau cium aku?"
"Hah!"
__ADS_1