
"Joko?" ucapnya menatap wajah Angga diantara remang cahaya.
Diam beberapa saat, Angga yang tadi meraih kerah baju pemuda itu mendadak mengendur, melepaskan perlahan karena merasa detak jantung yang begitu kencang. Pemuda itu takut.
Kedua ayah dan anak itu kemudian saling pandang.
Entah siapa yang mengajak, ketiga orang yang saling diam itu akhirnya duduk di ambang pintu keluar bagian belakang.
"Aku Arya."
Pelan, suara dan nada bicaranya masih seperti dulu. Mencerminkan belum ada yang berubah dari keadaan yang sudah berlalu cukup lama. Tertekan dan pasrah.
"Kamu mirip dengan..." Adit ragu untuk mengatakan.
"Lalu tadi, mengapa kamu tidak datang?" tanya Angga terus saja memperhatikan teman masa kecil anaknya itu.
"Jauhi Ayah, dia bukan lagi Ayah yang dulu." ucapnya kemudian beranjak masuk ke dalam cafe tersebut dengan terburu-buru.
"Tunggu Arya!" Angga memanggilnya lagi, namun tak di dengar.
Suara deru mobil memasuki halaman cafe tersebut, mungkin itu penyebab Arya segera masuk.
"Kita pergi." Angga mengajak Adit segera pulang melewati pintu belakang yang sepertinya sengaja di buka Arya. "Lagian kemana si Joko?" kesal Angga belakangan terkesan menjauh.
"Adit tidak tahu." jawab Adit setengah ngos-ngosan mengikuti langkah Angga.
"Jauhi Ayah!"
Kata-kata yang menjadi peringatan, harus berhati-hati dengan laki-laki yang sepertinya sengaja mendekati Tiara anaknya.
"Sebenarnya ini tidaklah aneh jika Mas Tomo ingin menjodohkan Tiara dengan Arya? Tapi ini bukanlah keinginan biasa, di lihat dari raut wajah Mas Tomo begitu senang melihat anak gadisnya. Seperti sedang melihat makanan kesukaan." Angga bergumam sendiri.
Sejenak menoleh Adit yang sudah tertidur pulas, dia semakin larut dalam lamunan di malam hari.
"Sepertinya, rumah ini sudah tak aman untuk anak-anakku."
Berkali-kali mengubah posisi mencari rasa kantuk yang tak kunjung datang.
__ADS_1
"Mas Angga."
Samar terlihat Jin tampan itu mendatanginya.
"Tujuh hari lagi merupakan bulan purnama sempurna dalam seratus tahun. Pembatas alam manusia dan alam ghaib akan terbuka dalam waktu bersamaan gerhana tepat di tengah malam. Itu adalah waktu yang di tunggu-tunggu para makhluk yang terombang-ambing seperti aku, dan Ayahku." suara Joko terdengar jelas ketika mata Angga mulai menutup, antara sadar dan tidak, matanya sungguh berat untuk di buka.
"Joko." hanya kata-kata itu saja yang bisa diucapkan Angga.
"Dia mengincar Tiara karena ingin memanfaatkan kekuatan Tiara untuk membuka pembatas dimensi lebih lama. Mengeluarkan seluruh makhluk yang akan menjadi pengikutnya. Itu sangat berbahaya bagi manusia yang masih bertahan dengan iman yang sedikit. Perdukunan akan lebih marak dari sebelumnya, karena banyaknya makhluk seperti aku yang mereka manfaatkan."
"Lalu kamu sendiri?" tanya Angga kemudian merasa sedang duduk berhadapan dengan Joko.
"Aku harus pergi ke lereng bukit dimana dulu Aki Arjuna bertemu aku. Ada benda milik ibuku di sana, yang mungkin bisa aku gunakan untuk melindungi Tiara, dan membebaskan Ayahku."
"Ayahmu?" Angga semakin bingung.
"Ya, laki-laki itu mengurung ayahku di dalam batu permata, cincin di jari manisnya. Itu sebabnya aku selalu menghindar, dan aku hanya bisa menggerakkan hati Arya untuk melindungi Tiara jika sedang dekat dengan dia." Joko menunduk sedih.
"Kenapa kamu tidak bilang?" kesal Angga menatap tajam Joko.
Joko langsung menghilang bersamaan dengan mata Angga yang mulai terbuka.
"Astaghfirullah, mimpi." mengusap wajahnya dua kali.
Beberapa hari selanjutnya, kejanggalan demi kejanggalan masih saja mengganggu, bahkan semakin membuat tak nyaman ketika malam hari.
Suara berisik yang bermacam-macam membuat tidur tak nyenyak. Terlebih lagi Tiara yang mulai bisa mengendalikan diri dengan penglihatan tak biasanya, tapi masih menjerit jika ada yang berteriak memintanya keluar di malam buta. Apalagi akhir-akhir ini Joko benar-benar tidak ada.
"Ayah sudah menemukan kontrakan baru, kita akan segera pindah." ucap Angga di sore itu.
Sadar bahwa mimpinya bukanlah sekedar bunga tidur, dan Joko yang tak juga menampakkan diri. Pastilah sesudah ini akan terjadi hal besar, terlebih lagi Adit yang sejak kemarin sibuk beribadah mengurung diri di kamar, dia tahu persis anak laki-lakinya sedang khawatir.
Angga ingat jika Tiara masih punya Kakek, ayah kandung Gibran yang bersahabat dekat dengan ustadz Ahmad. Tapi bagaimana caranya datang ke pesantren tersebut, jika keadaan selalu tak aman. Terlebih lagi Joko sedang tidak ada.
"Kita pulang kampung."
Angga memutus untuk mengajak semuanya pergi dari rumah kontrakan itu.
__ADS_1
"Tapi besok Tiara ada ujian. Bukankah tadi Ayah bilang sudah menemukan kontrakan baru?" Tiara sedikit kesal dengan keputusan Ayahnya yang berubah mendadak.
"Tiara, bisa dengarkan Ayah sekali ini?" ucap Angga serius.
Tiara mengangguk pelan, sadar bahwa Ayahnya sedang bingung, dan dia tak boleh membantah.
"Ayah tidak mau menyesal, Ayah lebih suka melihat kamu jadi pengangguran daripada kamu tetap kuliah, tapi kemudian Ayah harus kehilangan. Demi Allah Ayah sangat khawatir."
Keputusan yang mungkin lebih baik.
Lagipula tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi untuk pulang kampung, Tiara dan Joko sudah bertemu. Dan Angga percaya anak gadisnya bisa menjaga diri, juga Joko yang sudah berjanji.
"Mas, kenapa mendadak seperti ini?" tanya Bunga sambil mengemas pakaian anak-anak mereka.
"Dalam situasi seperti ini, rumah sendiri lebih aman." jawab Angga segera meraih tas milik Tiara. "Cepatlah, kita harus keluar dari kota sebelum Adzan."
Perjalanan yang sedikit terburu-buru memberikan suasana tegang untuk semua orang.
Begitu pula dengan Tiara, antara senang dan sedih, dia merasakan dadanya tak nyaman ketika mobil mulai memasuki jalan perdesaan yang tak lagi luas.
"Hampir sebelas tahun kamu tidak pulang, apakah masih ingat jalanan ini?" Bunga memeluk anak gadisnya tersebut.
"Tentu saja Bu." jawabnya hanya tersenyum tipis.
Tiara ingat masa kecil yang menyenangkan bersama Gibran ayah tercinta, dia merasa menjadi anak paling beruntung kala itu. Sampai akhirnya Gibran meninggal.
Tiara menyandar, menatap langit yang mulai gelap selepas Azan Maghrib. Sedih rasanya mengenang kebersamaan yang tak mungkin terulang.
Hanya tujuh tahunan saja, masa indah itu akhirnya berganti duka, walau pada akhirnya Angga datang sebagai ayah sambung yang cukup sempurna. Seorang Pak De tepatnya, walaupun tetap ingin dipanggil Paman karena belum menikah saat itu.
"Mas Joko." lirih hatinya memanggil.
Suasana desa yang menenangkan membuat kerinduannya menjadi ombak yang tiba-tiba memberontak ingin memecah kesepian yang begitu luas.
Jika di kota besar dia tak begitu merasakan kedekatan hatinya dengan Joko, tapi di desa malah sebaliknya.
Sepi... Membuat cinta lebih berkuasa, dan rindunya berteriak memanggil.
__ADS_1
"Turun Nak, kita sudah sampai." Suara Angga terdengar mengejutkan ketika tanpa terasa mobil sudah berhenti.
"Iya Ayah."