
"Tiara."
Lirih menyebut nama yang begitu indah jelas terukir di dinding hati. Mata yang mulai berkaca-kaca itu mendongak langit yang gelap. Membayangkan betapa indahnya hari-hari yang sudah di lalui bersama Tiara.
Tak pernah terbayang betapa pedihnya perpisahan itu mengoyak rasa, betapa dahsyatnya kerinduan itu menyiksa jiwa...
Joko membentang tangannya, menyedot kekuatan dari batang pohon dan tumbuhan di sekitar dirinya, aura lembab dan dingin dari rimbunnya hutan memberikan energi tersendiri bagi Joko.
Perlahan tangan yang tadinya ringan terasa berat, aura biru dari tumbuhan melaju ke arah Joko seketika itu.
Senyum tipis terbit setelah merasa energi yang di hisapnya sudah cukup.
"Aku pasti bisa." ucapnya kemudian berkonsentrasi untuk menghancurkan perisai tak terlihat yang di buat Angga.
Tentu tidak mudah, tak hanya sekali bahkan berkali-kali. Berulang kali pula ia menghisap aura pepohonan agar bisa menembus hutan tersebut, hingga subuh menjelang.
Blarr...
"Hah! Akhirnya." Joko melompat dari hutan tersebut, menghilang dengan tanpa beristirahat, membawa nafas yang sambung menyambung kemudian tiba di depan rumah Tiara.
"Ibu sedih Pak." suara istri Yanto tersebut sambil menangis.
Tak ada aroma gadis kecil itu di sana.
"Tiara." Joko berlari menelusuri jalanan sambil menajamkan mata, mengikuti kemana arah mobil membawa Tiara.
Lelah, sungguh dia lelah. Tenaga yang tinggal sedikit membuat ia tak mampu menghilang menempuh jarak yang jauh.
Sungguh jika manusia dapat melihat, betapa membuat iba laki-laki muda yang berlari mengejar mobil yang melaju itu.
"Tiaraaaaa!" panggilnya menggema namun tak terdengar manusia.
Seolah ada yang memanggil, Tiara menoleh ke belakang melihat jalanan kosong itu, membayangkan ada yang berlari mengejar dirinya. Dan entah mengapa rasanya ingin menangis.
Bunga yang berada di samping merasa heran dengan sikap gadis kecil itu, menoleh begitu lama, leher yang kecil itu terlihat seperti salah bantal.
"Tiara lihat apa?" tanya Bunga kepada gadis kecil itu.
"Bisa berhenti sebentar Bu?" pintanya dengan mata menatap sendu.
"Kenapa? Tiara mau beli sesuatu?" tanya Bunga lagi melihat banyak jajanan pasar di pinggir jalan.
Tiara mengangguk.
"Mas Dudung, Tiara mau beli jajan sebentar." ucap Melati kepada tetangganya yang sengaja menyetir mobil Iyan mengantar mereka ke bandara.
"Nanti saja ya." Angga menyahut, dia tahu ada Joko di belakang sana sedang berlari mengejar.
"Sebentar saja Mas." pinta Bunga dengan suara lembut, tentu membuat Angga tak bisa menolak.
Mobil pun berhenti.
__ADS_1
Tiara turun menuju gerobak pedagang yang menjual berbagai macam gorengan dan kue tradisional lainnya.
Tentu waktu berhenti itu tak disia-siakan Joko, jin yang sudah kelelahan itu langsung masuk ke dalam mobil, tepat di samping kursi Tiara.
"Kamu!" kesal Angga.
"Kenapa Mas?" malah Bunga yang menyahut.
"Eh, anu. Enggak jadi." ucapnya serba salah, tersenyum kaku kepada istri tercinta.
Mobil kembali melaju, semua terlihat tenang kecuali Angga yang tidak suka dengan kehadiran Joko.
Terlebih lagi pemuda jelmaan Jin itu sekarang duduk membentangkan bahunya, dan Tiara menyandar mulai mengantuk.
"Katanya mau makan Nak?" tanya Bunga kepada Tiara.
"Pusing Bu." ucapnya seperti sedang mabuk kendaraan.
"Aku bisa menghajarmu Joko!" kesal Angga hanya mengomel di dalam hati.
"Maaf Mas Angga. Aku hanya meminta waktu yang sedikit ini. Setelah ini, aku akan pulang ke tempat asalku." jawabnya merangkul Tiara yang mulai memejamkan mata.
"Dia anakku Joko!"
"Aku pun sudah tertulis dalam takdir kisah cinta anakmu Mas Angga." jawabnya memelas.
Angga tak bisa berbuat apa-apa jika sudah begitu. Bunga yang tidak tahu malah senang melihat Tiara tertidur dengan sangat nyaman.
"Nanti setelah dia dewasa, kau akan gila jika tidak menyentuhnya."
Ucapan Raka Wijaya sahabatnya mengiang jelas di telinga Joko. Dia baru mengerti sekarang.
"Dia belum dewasa saja, aku sudah sangat ingin memeluk tubuh kecilnya tak mau berpisah." ucap Joko melihat wajah teduh Tiara di bahunya.
Bibirnya tertarik sedikit, seulas senyum terbit begitu saja ketika bayangan Tiara yang dewasa tampak memanggilnya mesra.
Tentu saja itu adalah masa depan, impian Joko Arya Wardana.
*
*
*
"Jangan lupakan aku. Nanti, setelah kau di sana... Aku akan merindukanmu, selalu memikirkan mu."
Seperti sebuah janji, bibir keduanya berucap bersamaan di bawah langit yang biru. Awan beriring terasa di depan mata, hati keduanya merasa aman jika sedang bersama.
*
*
__ADS_1
*
"Tiara, Bagun Nak."
Matanya masih tertutup rapat, telinganya mendengar tapi enggan beranjak.
"Tiara."
Buku mata yang lentik itu bergerak-gerak.
"Astaghfirullah Tiara, bangun Nak." suara Bunga lebih meninggi.
"Iya Bu."
Dia mengusap-usap matanya, kemudian melihat ruangan yang menyilaukan, dan bola mata berwarna hitam pekat itu berhenti pada sebuah benda bulat di atas meja.
"Astaghfirullah."
Dia melempar bantal guling itu sembarangan, segera menghambur menuju kamar mandi dan mengacau air yang tenang.
"Tiara mandinya pelan-pelan!" teriak Bunga di balik pintu kamar mandi yang sudah di tutup.
Wanita berusia 36 tahun itu hanya bisa menggeleng dengan kelakuan anak gadisnya.
Seperti biasa dia akan terburu-buru pergi ke sekolah.
"Sarapan dulu Tiara." ucap Bunga lagi ketika Tiara sudah keluar dari kamarnya, memakai dasi sambil berjalan dan hanya melihat isi meja makan.
"Buru-buru Bu." jawabnya meraih tangan Bunga dan Angga kemudian mencium punggungnya.
"Uang jajanmu Nduk." panggil Angga memberikan amplop, pada awal bulan seperti ini dia baru saja mengambil gaji.
"Terimakasih." ucapnya tersenyum, tapi kemudian berhenti melangkah. "Kok lebih tebal ya? Apa isinya uang dua ribuan?" ucapnya tersenyum jahil kepada ayah sambungnya tersebut.
"Itu buat ongkos kamu mendaftar kuliah." jawab Angga sambil menyendok makanan ke mulutnya.
"Oh iya, Tiara lupa bicara sama Ayah, juga Ibu." ucapnya kemudian duduk di meja makan tersebut.
"Apa?" tanya Angga juga meletakkan sendok.
"Tiara dapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah di Jakarta." ungkapnya menatap wajah Angga, jelas jika selama ini Angga tidak suka Tiara pulang kampung. Bahkan saat orangtuanya meninggal Tiara tidak diajak pulang.
"Mengapa harus di Jakarta, di sini juga kampusnya bagus-bagus." Angga mencoba berdiskusi perihal kampus pilihan anaknya.
"Tapi Tiara mau melanjutkan kuliah di Jakarta Ayah, seperti almarhum Ayah Tiara." ucapnya lirih di ujung kata.
Bunga hanya melirik Angga, mengingat yang dimaksud adalah Gibran almarhum suaminya, dia tidak bisa menolak, juga tak bisa membantah jika Angga mencegah.
Tampak berat nafas Angga mendengar keinginan Tiara.
"Ayah melarang bukan tanpa alasan Tiara, tapi karena_"
__ADS_1
"Tiara sudah besar Ayah, mana mungkin Tiara bisa tergoda dengan sosok yang tak terlihat. Lagi pula hal ghaib itu tidak nyata, antara ada atau tidak, mereka hidup di alam yang berbeda, mana mungkin di jaman seperti sekarang ini mereka bisa membaur dengan manusia." jelas Tiara tak mungkin kalah berdebat setelah sepuluh tahun hanya mendengar cerita tentang dirinya, seperti sebuah dongeng antara jin dan manusia.