
Kiyai Ahmad meraih sorban di tubuh Adit, menutup mata Tiara menghalangi sosok hitam itu menyedot kekuatannya. Namun tak disangka malah sorban milik Adit terlempar jauh, kekuatan Tiara dan makhluk tersebut terlalu kuat.
Angga tak tinggal diam, mengarahkan telapak tangannya di punggung Tiara, mencoba menghentikan keduanya.
"Agghh." Angga pun terpental, semakin terluka.
"Tiara, konsentrasi dan ambil kekuatanmu." perintah Kiyai Ahmad mengarahkan telapak tangannya menggantikan Angga.
"Astaghfirullah." Kiyai itu juga terpental jauh.
"Tiara Andini, tutup matamu." ucap Joko pelan, mendekati Tiara, namun perlahan tubuhnya berubah menjadi besar dan menyeramkan.
Mendadak ingatan masa kecil Tiara melintas. Ada Arya yang memanggil setiap pagi, ada Gibran ayahnya yang selalu mengantar kemanapun ia ingin pergi.
"Tiara." panggil Gibran melambaikan tangannya.
"Ayah." ucap Tiara tanpa sadar, hatinya di penuhi rasa sedih, pedih dan kemudian menutup mata.
"Grrrrrfhhhhhhh..." suara mengerikan itu menggema seperti petir, marah karena Tiara menutup matanya.
"Jangan Nekat Joko!" suara teriakan laki-laki seusia Angga itu membuat Tiara sadar bahwa mereka dalam bahaya.
Joko dalam wujud mengerikan maju berkelahi dengan makhluk hitam yang dikelilingi asap tebal mematikan.
Tiara menoleh semua orang sudah kelelahan, terluka bahkan Adit sudah pingsan.
Dengan perasaan yang tak menentu, takut dan ragu menyelimuti, tapi ia tidak bisa diam saja atau mereka semua akan mati, jantungnya akan di keluarkan dari dada dan darahnya akan dibuat sebagai persembahan menambah kekuatan makhluk yang sedang melawan Joko. Makhluk yang tersegel di dunia lain akan bebas, dunia akan di penuhi makhluk yang penuh tipu daya.
Tiara memegangi dadanya yang kembali sesak jika mengingat hal yang menegangkan, maju dengan membuang rasa takut, tubuh yang kecil itu perlahan masuk ke dalam asap yang mulai menyelimuti Joko.
Makhluk besar itu memandangi tubuh kecil Tiara.
"Tiara!" Angga berteriak.
"Kita hanya bisa berdoa." Kiyai Ahmad duduk bersila.
Sepasang mata merah itu mulai berkonsentrasi untuk mengambil energi murni Tiara, begitu juga Tiara mendongak bersiap-siap dengan apa yang akan terjadi.
"Aaargghhh.." makhluk itu menendang Joko, lalu mengeluarkan cahaya dari matanya ke arah Tiara.
Dari kejauhan tampak tubuh kecil itu seolah terhisap, namun beberapa saat kemudian keadaan berbalik. Makhluk itu malah berteriak kesakitan.
Senyum lega terlihat dari Kiyai Ahmad dan Angga. Namun tidak dengan Joko, dia berlari mendekati Tiara dan berteriak agar berhenti.
"Hentikan Andini, kau bisa mati." dia mencoba menarik tubuh Tiara namun sepertinya tubuh Tiara tidak dapat di sentuh.
"Tiara Andini berhenti!"
dengan segala macam cara Joko ingin menghentikan Tiara yang terus saja menarik kekuatan makhluk hitam tersebut.
"Mas Angga, hentikan dia." ucap Joko memohon, berteriak kepada Angga.
"Tiara anakku, berhenti." ucap Angga juga kiyai Ahmad. keduanya berusaha menyadarkan Tiara.
__ADS_1
Namun tak berhasil, hanya terlihat makhluk tersebut semakin lemah, meraung-raung kesakitan.
"Aku mohon, hentikan Andini." ucap Joko tak juga berhasil. Joko berubah menjadi manusia, dia berdiri di hadapan Tiara berusaha memecah konsentrasi Tiara.
"Waktunya sudah dekat, kita akan segera berpisah." ucap Joko kemudian meraih tangan Tiara, bertahan dengan rasa seperti ingin membakar tubuhnya.
"Joko!" panggil ayahnya terlihat begitu sedih. Teriakannya membuat sadar Adit yang sekarang dipangku Kiyai Ahmad.
Sosok hitam itu mulai limbung kesana-kemari, berteriak kesakitan tak bisa lepas dari Serangan mata Tiara.
Dan Joko bertahan memegang kedua tangan Tiara, hinggap gemetar seluruh tubuhnya membagi energi yang masuk di tubuh kekasih manusianya.
"Joko hentikan." teriak ayahnya. Namun tak di dengar, sehingga laki-laki itu juga ikut di belakang Joko, menyerap kekuatan dari tubuh Tiara agar tidak membunuh keduanya.
"Astaghfirullah." Adit yang baru sadar ikut mendekati kakak perempuannya.
Anak kecil itu mendongak langit yang sudah hampir berada pada titik sempurna gerhana bulan.
Ia meraih tangan Kiyai Ahmad untuk mendekati Tiara agar membantu menyerap kekuatan yang yang masih terus mengalir.
"Biar aku saja, kau masih terlalu kecil." ucap Kiyai Ahmad kepada Adit.
"Aku di belakang Kiyai, waktunya hanya sedikit lagi." jawabnya berpindah ke belakang Kiyai Ahmad.
Dan akhirnya makhluk hitam itu jatuh, hancur menjadi abu bersamaan dengan Tiara yang lemas jatuh di pangkuan Joko.
"Tiara Andiniku." panggil Joko pelan.
"Mas Joko." jawabnya lirih.
"Ya." ucap Tiara hampir tak terdengar.
"Sebentar lagi aku akan pulang, dan jodohmu akan menjemput." ucap Joko terdengar semakin sedih.
Tiara tak bisa menjawab lantaran sangat lemah setelah menampung kekuatan musuh, yang rasanya sempat ingin meledakkan jantungnya.
"Hiduplah bahagia, di manapun aku berada akan selalu mengingatmu, mendoakan mu."
Setetes air mata jatuh di wajah Tiara.
"Terimakasih sudah manjadi kekasihku." ucapnya lagi mengusap wajah Tiara dengan jarinya.
Joko membuat Tiara duduk menyandar, bersiap dengan titik rembulan yang tertutup, pintu menuju dunia lain terbuka, dan semua makhluk yang tersesat akan segera kembali.
"Arahkan matamu ke atas sana." perintah Joko kepada Tiara.
Tiara mengangguk, tentu dia harus memandang bulan yang tertutup itu agar cahaya putih melingkar dan pintu mereka terbuka.
Ayah Joko menutup matanya, memanggil semua makhluk yang tersesat agar bersiap.
"Sekarang!"
Tepat ketika bulan menutup sempurna, Tiara berusaha berdiri dan menatap bulan dengan matanya bersinar putih. Kini lebih lembut dan terkendali tidak seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Tampak banyak makhluk beterbangan masuk di lingkaran bulan bak cincin berkilau itu.
Joko menolah Tiara, di saat semua orang berkonsentrasi dengan bulan, Joko memeluknya lembut dari belakang, mengecup punggungnya dan keningnya dari samping. "Aku mencintaimu selalu. Terimakasih sudah merubah kematian ku, andaikan kau hangus terbakar, aku pasti akan ikut bersamamu." ucap Joko setengah berbisik.
"Sudah waktunya." ucap Ayah Joko, seraya menunduk berpamitan kepada semua orang.
"Hiyaaaa..." tanpa di duga seseorang menyerang dari belakang menusuk tiara dengan keris runcing.
Brugh.
Namun tubuh laki-laki itu merosot di tanah, dengan punggungnya mengalirkan darah.
"Mas Tomo." Angga tak habis pikir Tomo masih berniat ingin membunuh Tiara. Dan seseorang tak terduga pula di belakang Tomo berdiri dengan ketakutan karena sudah menusuk ayahnya sendiri dengan pisau.
Semua orang terpaku dengan kehadiran pemuda itu.
"Alhamdulillah, kau baik-baik saja. Maafkan ayahku." ucapnya menatap wajah Tiara dengan khawatir, juga penuh rindu.
"Alhamdulillah." suara Kiyai Ahmad pula membuat Tiara menoleh.
Gerhana sudah berlalu, awan yang melingkar kini sudah memecah. Langit tak lagi menyeramkan, tapi ada yang hilang.
"Mas." lirih Tiara menoleh kesana-kemari, dan kembali menoleh ke belakang.
"Nak Arya." sapa Kiyai Ahmad kepada sosok laki-laki tampan yang masih berdiri sedih dengan kematian ayahnya.
"Ayah Kiyai." ucapnya kemudian duduk meraih bahu Ayahnya.
"Mas Joko." penggil Tiara kepada Arya.
Sungguh dia adalah Joko, tidak ada yang berbeda bahkan sehelai rambut saja.
"Dia Arya Wardhana." ucap Kiyai Ahmad tersenyum kepada Tiara.
"Dia Mas Joko Kiyai." jawabnya masih tak habis pikir, dada yang menyesak sangat kehilangan tapi bingung kehilangan apa.
"Ya, dia yang seperti Arya, bukan Arya yang seperti dia. Jin akan menyerupai seseorang yang benar-benar mencintaimu, dan akan bersikap seperti apa yang kau mau. Tapi ingatlah, kita manusia yang penuh kekurangan, maka terimalah kekurangan pasanganmu, seperti itu pula pasanganmu menerima dirimu."
"Arya." panggil Tiara pelan, sungguh tidak menyangka.
Arya mendongak, memandangi wajah gadis kecil yang dulu selalu menghabiskan hari bersamanya.
"Tiara." ucapnya tersenyum haru.
*
*
*
...Tamat...
...Sampai jumpa di karya Otor yang lainnya. Terimakasih......
__ADS_1
...♥️♥️♥️♥️♥️...