
"Tiara!" Bunga langsung memeluk anak gadisnya tersebut ketika ia sadar dari pingsannya.
"Alhamdulillah." ucap Angga kemudian menghembuskan nafas lega.
"Kamu kenapa Nak?" tanya Bunga sungguh khawatir.
"Ibu." ucapnya memijat kepalanya pening.
Tak lama kemudian Joko pun tiba di dekat Tiara dan belum sempat kakinya berpijak sempurna, Angga malah memukul Joko sekuat tenaga.
Blush...
Secepat kilat pula Joko menghindar dan beralih berdiri di belakang Angga.
"Kamu!" kesal Angga pukulannya Meleset.
"Joko tidak jahat Mas Angga." ucapnya lalu menghilang lagi.
"Jahat atau tidak, kamu tidak bisa berdekatan terus dengan anakku. Kau bukan manusia tentu tidak dapat berteman dengan Tiara seperti yang lainnya." marah Angga tentu hanya bicara di dalam hati.
"Mas Angga bisa menghabisi Joko, tapi setelah itu Mas Angga juga akan kerepotan dengan banyak makhluk ghaib lainnya yang pasti juga akan mengejar Tiara."
"Omong kosong!"
"Aku tidak bohong Mas, Tiara akan selalu dalam bahaya sebelum dia menemukan jodohnya."
Angga terdiam, memahami apa yang dikatakan Joko dan melihat wajah Tiara yang pucat, tentu dia sedang tidak baik-baik saja sekarang.
Dia ketakutan, bingung, dan entah apa lagi yang sedang ia rasakan. Dia tidak mau kehilangan Tiara seperti kehilangan adiknya, Gibran.
Kembali melihat Joko yang menunduk sedih, walaupun Angga tidak tahu apa yang membuat jin itu bersedih.
"Assalamualaikum." suara Adit membuat semua orang menoleh.
"Wa'alaikum salam."
__ADS_1
"Tumben pulang cepat Nak?" Bunga menanyai anak laki-laki tampan tersebut.
"Gurunya rapat Bu." jawab Adit yang kemudian melirik Joko yang duduk lemas di sudut ruangan, dan Angga yang masih bersikap waspada.
"Bawa Tiara ke kamar." perintah Angga kepada istrinya dan Tari yang setia menemani.
"Iya Mas." Bunga kemudian merangkul Tiara bersama temannya tersebut.
Angga kembali khilaf, menyerang Joko dan jin itupun kembali menghindar.
"Mas Angga!" ucapnya meminta Angga berhenti.
Tapi Angga tak mau mendengarkan, kali ini malah perisai putihnya terlihat jelas, pukulan dahsyat pasti akan menghancurkan Joko.
"Tunggu Ayah." Adit menahan tangan ayahnya.
Angga menoleh putranya tersebut.
Dan itu tidak disia-siakan Joko untuk segera pergi.
"Dia sedang tersesat Ayah, dia lahir dari pernikahan anak manusia dengan jin yang saling jatuh cinta. Hatinya seperti ibunya, nalurinya seperti ayahnya. Bangsa Jin yang di usir, kemudian tak sengaja jatuh cinta tentu anaknya juga tak bisa pulang ke alam mereka."
Angga menautkan alisnya. "Adit tau darimana?"
"Dia selalu bersedih dengan hal itu Ayah."
Angga menarik nafas, pantas saja Joko selalu galau kalau di usir. Angga baru paham jika dia memang tak punya tempat tinggal.
"Dia hanyalah jin yang kaya pengetahuan seperti kita manusia, ada banyak macam dan keahlian. Sebagian dari mereka memiliki kehidupan seperti kita, bercocok tanam, berdagang bahkan mereka juga memiliki pasar seperti sebutan di dunia kita. Dan juga memiliki kelompok layaknya kita juga, ada manusia yang baik, ada manusia yang hanya bersyukur dengan kehidupan sederhana, ada manusia yang dipenuhi ambisi berkuasa dan ingin kaya, maka tak jarang mereka bersekutu dengan Jin yang juga memiliki sifat serakah yang sama. Ingin mendapatkan keuntungan dari perjanjian dengan manusia, saling memanfaatkan. Tak jarang uang ditukar nyawa, tentu manusialah yang rugi dari perjanjian mereka. Manusia berpikir jika perjanjian mereka sangat enteng untuk dijalani, sebagian mereka juga berpikir untuk ingkar janji dan berharap bisa lolos suatu saat nanti. Tanpa mereka tahu, hati mereka dalam genggaman makhluk ghaib tersebut, mereka tahu apapun yang mereka rasakan, juga yang mereka pikirkan."
Angga berjongkok memegang pundak anak laki-lakinya tersebut. "Aditya juga salah satu manusia yang penuh pengetahuan." ucapnya kemudian tersenyum.
"Adit hanya tahu sedikit. Di luar sana, ada banyak dukun yang memburu jin seperti dia, hanya karena ingin memiliki pengetahuan di atas normal, ingin diakui sebagai paranormal. Padahal dia hanya mencari tahu dari jin-jin yang dengan mudah mencuri informasi. Salah satunya Joko yang memang memiliki kekuatan untuk menembus dimensi waktu hingga puluhan tahun. Dan tak punya tempat di dunia manusia ini, tentu dukun akan memberikan tempat dan makanan sebagai umpan untuk berteman, dan dia tidak punya pilihan."
Angga menelan ludahnya sendiri, merasa anaknya sungguh sangat dewasa bukanlah tanpa alasan, tapi memiliki kelebihan.
__ADS_1
"Lalu ayah harus bagaimana?" tanya Angga pelan.
Aditya tersenyum dengan pertanyaan yang tak perlu di jawab.
"Baiklah, biarkan Allah yang menentukan, insyaallah Mbak Tiara akan baik-baik saja." Angga kini tersenyum dengan memegang dua pundak Adit yang masih begitu kecil. Angga mengusap kepalanya.
Meskipun masih banyak yang membuat ia penasaran, tapi sungguh apa yang di katakan anak laki-lakinya itu membuat ia sadar. Dia tidak punya hak untuk membunuh, terlebih lagi Joko tidak sedang ingin membunuh.
Jin dan manusia.
Angga menggeleng memikirkan hal diluar nalar tersebut, tapi sungguh kelebihan yang dimilikinya menjelaskan bahwa mereka benar-benar ada.
Walau tak semua orang bisa melihat, tapi sebagian dari manusia biasa juga bisa merasakan kehadiran mereka. Alam Ghaib itu ada.
Langit kembali gelap ketika matahari lelah bersinar di bumi bagian timur ini. Berganti bulan yang kini separuh namun dapat menerangi bumi yang gelap.
"Makan yang banyak." ucap Bunga kepada Tiara yang tampak malas mengangkat sendok ke mulutnya.
"Kenyang Bu, tadi nasinya kebanyakan." ucapnya lalu meraih air putih dan meminumnya.
"Mulai sekarang kamu perkuat ibadahmu, agar tidak terulang lagi kejadian tadi pagi." ucap Angga di meja makan itu.
"Iya Ayah." Tiara menunduk.
"Walaupun sedang tidak bisa sholat, perbanyak istighfar kalau bisa jangan berhenti. Wanita yang dalam keadaan berhalangan akan sangat di sukai oleh jin dan makhluk sejenisnya, sebagiannya malah memanfaatkan masa kotor itu untuk mengajak berhubungan. Karena kalian sering lengah, dan larut oleh waktu luang dalam masa berhalangan kalian." Angga menambahkan lagi.
Namun tak hanya sampai kepada Joko, ada banyak makhluk lain yang juga penasaran dengan sosok Tiara Andini yang tersohor kecantikannya. Dari alam manusia hingga ke negeri Jin, terutama para jin laki-laki yang haus kekuatan, kekuasaan di alam mereka.
Dan itu yang membuat Angga bingung, ada apa dengan anak gadisnya tersebut sehingga menjadi incaran para makhluk ghaib.
Tapi tidak dengan Joko, dia sudah lebih dulu tahu tentang gadis yang dicintainya tersebut. Sejak awal dia tahu apa yang akan terjadi setelah dia dewasa, bahkan itu yang menjadikan alasan Joko berusaha keras menambah kekuatannya, Joko mencintainya.
"Mbak Andini bisa membuka segel pembatas alam lain."
Adit berkata sambil memandangi Joko yang melamun didepan rumahnya.
__ADS_1