
Malam itu, Angga sekeluarga sedang bersiap-siap akan bertemu dengan keluarga Tomo sesuai janjinya.
Tak terkecuali Aditya yang juga diajak ayahnya.
"Adit masih kecil, ngapain ikut acara beginian." kesalnya duduk di sofa enggan beranjak.
"Kamu umur saja yang masih kecil. Tapi pikiranmu terkadang lebih dewasa daripada aku." Tiara mendekati adiknya yang sudah terlihat ganteng dengan Jas rapi, pas sekali dengan wajahnya yang putih dan hidung yang mancung.
"Aku masih sepuluh tahun!"
"Enggak ada alasan." Tiara memeluk lengan adiknya.
"Ayo kita berangkat." Bunga
mengajak keduanya segera berangkat.
"Kok Adit ga senang ya?" dia masih saja bergumam.
Angga hanya melirik sedikit, dia tahu anaknya bahkan lebih suka dengan Joko. Sayangnya Joko hanya jin yang tidak mungkin menjadi menantu.
Dan tentu saja sosok yang sedang dipikirkan kedua laki-laki tersebut sedang berdiri di jalanan menatap mobil mereka dengan wajah sedih.
"Andini..."
*
*
*
Restoran yang lumayan berkelas, begitu yang di lihat Tiara dan keluarganya. Wajarlah dengan status orang kaya baru, mana mungkin Tomo tidak mengistimewakan calon besannya tersebut.
Dari kejauhan, laki-laki paruh baya itu melambaikan tangannya.
"Itu dia, ternyata Mas Tomo sudah datang duluan." Angga tersenyum sambil mengajak semuanya mendekati meja yang lumayan luas, sepertinya di pesan khusus.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga." sapanya begitu ramah.
"Iya Mas, maaf kami sedikit telat." ucap Angga dengan sangat sopan.
"Tentu tidak, Saya juga baru
datang." Mata hitam laki-laki itu langsung melirik Tiara yang juga sedang menatapnya nyaris tak berkedip.
"Kamu Tiara?" tanya Tomo maju selangkah lebih dekat dengan Tiara.
'Pemilik Cafe.' begitu yang dipikirkan Tiara.
__ADS_1
Sedikit memaksa tersenyum, tidak menyangka bertemu dengan Tomo yang jauh berbeda penampilannya ketika ia masih sangat dekat dengan Arya. Dan lagi, tidak menyangka jika laki-laki paruh baya yang ia temui di cafe adalah Tomo, ayah dari Arya teman masa kecilnya.
"Salim Nak!" perintah Angga, tak ingin anak gadisnya terus terlihat kaku.
Tiara mengulurkan tangannya, ragu namun tetap ia lakukan.
Dan
Tepat ketika tangan keduanya berjabat, mata bening Tiara seolah menebus batas waktu yang sangat jauh, gelap dan berputar tak tahu arah.
Semakin erat laki-laki itu menggenggam, semakin jauh pula matanya menembus sesuatu seperti arus. Dan sekilas ia melihat seorang laki-laki yang amat dikenalnya, Joko sedang berdiri dengan wajah sendu.
"Mas Joko!" lirihnya.
"Nak Tiara?" panggil, laki-laki itu menggoyang tangan kecil dalam genggamannya, namun tetap tak bergeming.
"Mbak."
Adit segera meraih tangan kakak perempuannya, terlepas dari tangan laki-laki yang Adit tidak suka.
Tiara menoleh kanan dan kiri, dia sungguh tidak tenang setelah melihat wajah Joko.
"Maaf Mas Tomo, dia sedang melupakan sesuatu." Bunga memberi pengertian, walaupun tak nyaman ikut terasa olehnya.
"Arya-nya mana Mas? Kok belum terlihat." Angga menoleh mencari seseorang yang mungkin adalah Arya, tapi tak ditemukan juga.
Rasanya laki-laki itu bukanlah orang yang baik, jika Arya adalah anaknya, apakah Arya juga bukan orang baik?
"Ada apa Mbak." ucap Adit setengah berbisik.
Tiara menoleh cepat. "Dimana Mas Joko Dit?" tanya Tiara terdengar khawatir.
"Tadi dia ada di belakang Mbak." ucap Adit menoleh ke belakang tapi tidak menemukan Joko, atau malah dia hanya mengikuti setengah jalan saja.
"Setiap kali Mbak ketemu dengan laki-laki itu, Mas Joko selalu menjadi aneh." ucap Tiara masih berbisik kepada Adit.
Adit menatap wajah laki-laki bernama Tomo tersebut, memang benar ada Aura tak biasa dari sosok laki-laki yang merupakan teman ayahnya. Dan itu lebih kuat dari makhluk-makhluk halus yang sering datang ke rumah kontrakan mereka.
"Maaf Paman, permisi ke toilet sebentar." Tiara yang memang tak nyaman akhirnya membuat alasan.
"Oh silahkan, lagipula Arya belum datang." jawabnya.
Langkahnya terburu-buru, dia menuju toilet dengan memanggil Joko.
"Mas Joko, aku ingin Mas Joko datang." panggilnya dengan perasaan tak karuan, benar-benar ingin tahu ada apa sebenarnya.
"Mas Joko." panggilnya lagi, namun sepertinya sia-sia.
__ADS_1
Hingga pukul 21:00 Joko tak juga muncul, Arya pun tak juga datang.
"Maaf atas ketidak hadiran Arya, tapi aku akan memintanya datang ke rumahmu untuk menemui Tiara, seperti dulu mereka sangat dekat." ujarnya seperti berjanji.
Tentu saja pertemuan singkat itu meninggalkan kegelisahan tersendiri bagi ke empat orang tersebut, pulang dengan saling berdiam, larut dalam kekhwatiran masing-masing.
"Dia pemilik cafe di depan rumah kita." ungkap Tiara ketika sudah setengah jalan.
Angga menoleh anak gadisnya tersebut.
"Dan aku juga melihat Mas Joko di sana." sambung Tiara lagi.
"Joko?" tanya Angga, kemudian saling melempar pandangan satu sama lainnya.
Malam hingga pukul 23:00 Angga masih belum juga bisa tidur, begitu pula dengan Adit baru saja selesai sholat dua rakaat.
Berdua di halaman rumah memandangi cafe yang setengah tertutupi pohon yang rimbun, sekaligus menunggu kedatangan Joko.
Namun sia-sia, Jin tersebut terlalu sensitif untuk di harapkan, dia akan biasa saja jika hanya Angga juga Adit yang mengharapkan kedatangannya, terlebih lagi masalahnya tidak terlalu penting.
"Apa kita akan ke sana?" tanya Adit memandangi Cafe di hadapan mereka.
Tanpa berpikir lagi, keduanya langsung pergi masuk begitu saja ke halaman cafe tersebut.
"Tapi tidak ada Mas Joko di sini." ucap Adit merasa terlalu curiga kepada jin yang selalu baik itu.
"Tapi ada banyak makhluk ghaib di sini." Angga menoleh kesana-kemari mencari-cari keberadaan seseorang.
"Iya." sahut Adit sedikit merinding. Bagaimanapun juga di masih terlalu kecil untuk berhadapan dengan banyaknya makhluk tak kasat mata tersebut.
"Kalau manusia? Kamu bisa mendeteksi keberadaannya apa tidak?" Angga sedikit mengalihkan ketegangan.
"Ya enggak, kecuali keteknya bau." jawab Adit membuat Angga terkekeh.
"Kalau itu Ayah juga bisa, tidak perlu pakai insting dan mata batin." Angga terus melangkah menuju pintu belakang cafe tersebut. Aneh bukan, cafe yang lumayan besar tapi minim penjagaan, bahkan tidak ada sama sekali untuk malam ini, atau memang tak ada, dan yang mereka lihat hanyalah ilusi saja ketika ada beberapa orang berjaga dimalam-malam sebelumnya.
"Itu seperti ada orang." Adit menunjuk seseorang yang duduk di tengah kegelapan seorang diri.
Angga berjalan pelan, walaupun tetap tenang tapi tak mau terlihat seperti maling.
"Permisi!"
Teguran Angga membuat pemuda itu sangat terkejut, ia segera berdiri dan menghadap kedua orang yang datang tak di duga.
"Siapa?" tanya pemuda tersebut terdengar takut, bahkan mundur beberapa langkah hingga cahaya lampu mengenai wajahnya melewati sela daun-daun pohon yang cukup rimbun.
Samar terlihat wajah dan postur tubuhnya yang tak asing bagi keduanya.
__ADS_1
"Joko!"