
Andaikan kita tidak berbeda, mungkin dunia yang rumit ini akan terasa indah, dan seandainya perbedaan ini tidak menjadi masalah. Tentu kita tidak perlu memikirkan sakitnya berpisah...
Joko memegangi dadanya di bawah pohon rimbun halaman Cafe, memejamkan mata dan mencoba menahan sesak. Dadanya berdenyut nyeri, sakitnya bukan karena luka, tapi karena cinta.
Begitu pula Tiara di dalam kamarnya. Andaikan jodoh itu datang, seperti apakah laki-laki yang akan mencintainya nanti.
"Apakah ada, laki-laki yang mencintaiku seperti cintamu kepadaku?"
Hatinya ikut merasa sakit membayangkan kehilangan Joko nantinya, takut tidak bahagia ketika bertemu jodohnya.
Sementara di kampung halaman Angga, kedua suami istri itu sibuk dengan barang-barang yang masuk, hingga baru akan pulang setelah isya.
Pelanggan toko tersebut masih datang setelah sekian lama tidak berjualan.
"Kita pulang dulu, biar besok saja Rozak dan lainnya yang menyusun barang-barang ini." ucap Angga meraih jaketnya.
"Iya Mas, aku juga capek." Bunga masih duduk lelah, belum juga beranjak.
"Nanti Mas pijit." rayunya tersenyum kepada istri tercinta. "Sampai di rumah." tambahnya lagi.
"Bener ya Mas?" Bunga meminta Angga berjanji.
"Iya. Kapan Mas pernah bohong." Angga memeluknya sebentar agar segera berdiri.
Angga segera mengunci pintu toko tersebut.
"Mau beli sesuatu?" tanya Angga sambil berjalan.
"Enggak Mas, mending langsung tidur." bergelayut manja di lengan Angga.
Asyik berjalan menuju parkiran, tak sengaja lengan Bunga menyenggol seseorang yang berjalan sambil melihat ponsel ditangannya.
"Astaghfirullah." Bunga terkejut, tak menyangka kemesraan keduanya malah mengganggu orang.
"Maaf Mas." Angga segera mengambil ponsel laki-laki yang kira-kira lebih tua sedikit darinya.
"Oh tidak apa-apa. Saya juga salah Mas." jawabnya merasa tak enak karena menyenggol istri orang tanpa sengaja.
Dan wajah laki-laki tersebut membuat Angga terpaku, dia masih ingat wajah laki-laki yang merupakan tetangganya saat itu.
"Angga?" ucapnya mengusap matanya dia kali mungkin sudah minus, terlihat dari kaca mata yang kemudian dipakainya.
"Iya Mas Tomo, ini saya Angga!" Angga senang sekali melihat pria itu lagi, langsung mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Sudah lama sekali tidak bertemu, semenjak kalian menikah." pria bernama Tomo tersebut memperhatikan wajah keduanya, tak menyangka akan bertemu lagi.
"Mas Tomo apa kabar?" ucap Angga kemudian memilih duduk di kursi plastik di depan tokonya bersama Tomo.
"Baik Alhamdulillah. Kalian bagaimana? Ah, Saya jadi ingat dengan anak gadis mu." ucapnya seperti memiliki pemikiran yang sama dengan Angga.
"Tiara!" Angga tersenyum lebar, mendapat umpan untuk mendapatkan ikan. Dia sendiri sudah tak sabar ingin menanyakan Arya, anak Tomo yang berteman dengan anak gadisnya.
"Ya, dia pasti sudah besar." ucap Tomo dengan wajah sumringah.
"Ya, Tiara anakku sudah besar, dan kuliah di Jakarta bersama anak laki-laki ku, Aditya yang masih sekolah dasar." jelas Angga.
"Oh, dia pasti cantik sekali." ucap laki-laki itu penuh makna tersirat dimatanya, membuat Angga sedikit tak nyaman.
"Namanya anak gadis Mas, kalau ganteng ya laki-laki, seperti Arya anak laki-lakimu." Angga langsung membahas pada tujuannya.
"Ya. Arya juga ada di Jakarta. Dia sekarang adalah seorang pengusaha. Dia juga ganteng Mas Angga." ucapnya sedikit menepuk lengan Angga.
"Ya, pastinya dia ganteng Mas, seperti Mas Tomo dan Mbak Karina." Angga tertawa memuji.
"Kamu bisa saja. Bagaimana kalau kita jodohkan anak kita, mereka akan senang sekali dapat bertemu kembali." usulnya juga tak merasa canggung, seperti sudah direncanakan sejak lama dan baru terlaksana sekarang.
"Wah! Ini suatu kehormatan bagi kami." Angga tersenyum lebar, namun kaku ketika menoleh Bunga istrinya.
"Begitulah keluarga Mas Tomo, kamipun tak lepas dari kekurangan. Tiara juga sangat bersedih ketika adikku meninggal, dan keadaan keduanya sedang tidak baik-baik saja." jelas Angga pula.
"Ya, benar sekali." laki-laki yang sedikit botak itu mengangguk.
"Begini saja, kita pertemukan anak kita nanti di Jakarta." Angga merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan ponsel.
"Ini saja." Tomo mengeluarkan kartu nama dan memberikan kepada Angga.
"Wah, keren sekali Mas Tomo sekarang." Angga mengambil kartu nama dari laki-laki tersebut.
"Ah, itu biasa saja, hanya Arya yang membuatkan benda itu untukku." jelasnya tentang kartu nama. "Kalau begitu saya permisi, mau ada acara di rumah keluarga di desa sebelah." ucapnya kemudian beranjak.
"Silahkan Mas Tomo. Terimakasih."
"Ayo Mas." ajak Bunga lagi, dia sedikit heran dengan suaminya yang sejak Tomo pergi malah terus memandangi kartu nama dan berpikir.
"Ya." Angga kemudian beranjak pulang.
"Mas kenapa?" Bunga masih menoleh suaminya yang bengong seperti tidak tahu cara menyetir.
__ADS_1
"Enggak." jawab Angga kemudian mulai melaju pelan.
"Pasti ada sesuatu." gumam Bunga.
Angga menoleh sedikit. "Aku merasa pertemuan ini bukan tidak sengaja."
Bunga jadi terkejut, hatinya mengatakan jika itu ada hubungannya dengan Tiara anak gadisnya.
"Bagaimana Mas?"
Angga kemudian bergumam di dalam hati memanggil Joko. Mau tak mau dia hanya punya pilihan memanggil jin tersebut. Selain Joko sangat kuat, dia juga yang paling bisa diandalkan setelah Adit.
"Mas Angga memanggil saya?" suaranya langsung terdengar di belakang mereka duduk.
"Ya. Aku ingin tahu siapa saja yang saat ini gencar mengincar anakku?" tanya Angga mulai bingung, sedangkan ia dan istrinya terlalu lelah untuk langsung ke Jakarta malam ini.
"Ada beberapa Dukun yang sudah mengutus peliharaannya datang ke rumah Mas Angga. Dan aku sudah menghajarnya." ucapnya bangga.
Angga meliriknya sedikit, hatinya kesal karena sudah pasti Joko akan menemui Tiara.
"Aku mengizinkanmu terus berada di rumah anakku, asal kau berjanji tidak macam-macam dengan Tiara!" tegas Angga.
Joko sedikit melongo.
"Atau_"
"Joko berjanji, Tiara akan aman bersama Joko. Joko siap terbakar hangus untuk menjaga Tiara, Joko janji." ucapnya cepat.
"Kalau kamu macam-macam, Aku akan buat kamu jadi Abu."
"Joko berjanji." ucapnya lagi, kemudian menghilang sebelum Angga berubah pikiran.
"Dit, Joko ikut berjaga atas permintaan Ayah." isi pesan Angga kepada anaknya.
Adit langsung menghubungi Angga, saat itu juga.
"Bukannya itu malah memancing kericuhan lainnya Ayah?" Adit semakin bingung saja.
"Paling tidak kamu tidak sendirian Dit, dia bisa diandalkan. Jin tidak ingkar janji, percaya saja." ucap Angga menutup panggilannya, takut Bunga mendengar.
Sementara di luar rumah itu, Joko berdiri memandangi kamar kekasihnya tersebut dengan senyum mengembang. Akhirnya dia bisa kembali menemui Tiara, apalagi gadis belia itu kini sudah bisa melihat dirinya.
"Mas datang Tiara Andini Sayang."
__ADS_1