
Secepat kilat ia menghilang dan masuk ke dam kamar Tiara.
Tentu rumah itu tidak bisa ditembus sembarangan makhluk halus, apalagi yang memiliki niat jahat terhadap anak-anak Angga di dalam sana, mereka pasti hangus terbakar.
Angga sadar percuma melarang Joko, karena Jin abu-abu seperti dia bisa menembus perisai yang dibuatnya bersama Adit tanpa kesakitan.
Artinya dia tidak jahat, seperti yang selalu ia katakan. Joko tidak jahat.
"Kamu lagi apa?" tanya Joko mengejutkan Tiara yang belum terbiasa.
"Astaghfirullah, Mas Joko!"
Joko tersenyum, lalu duduk di meja memandangi gadis itu duduk menatap dirinya.
"Ada yang perlu Mas bicarakan sama kamu." ucapnya lagi melempar senyuman mautnya.
"A... apa?" Tiara sedikit gugup.
"Mas mau mengajak kamu jalan-jalan, melihat sisi lain dari dunia ini."
Tiara tak mengerti, dia melongo menatap wajah yang selalu membuat susah berkedip.
"Agar kamu tidak takut lagi, makhluk ghaib tidak semuanya jahat, bahkan mereka terkejut jika ada manusia yang datang ke alam mereka, mereka terganggu, merasa terusik, apalagi jika yang datang adalah seorang dukun yang ingin meminta salah satu pelayan dari kerajaan kami, dan biasanya manusia menjadikannya budak, dan membelinya dengan harga mahal dari seorang raja atau pemimpin." jelas Joko mendekati wajah Tiara menatap bening matanya.
"Membeli bagaimana Mas?" tanya Tiara mendengar apa yang dibicarakan Joko.
"Menukarnya dengan nyawa." ucap Joko jelas.
Tentu ucapan terakhir terdengar sangat menakutkan bagi Tiara, dia sedikit meringis, bergidik ngeri dengan apa yang di sampaikan Joko.
"Tenang, Mas tidak membawamu ke sana, lagi pula Mas tidak bisa ke sana." Joko tersenyum lagi.
"Kemana?" tanya Tiara yang mendadak menjadi pendiam jika sudah berhadapan dengan Joko.
"Ke sebuah tempat yang juga dihuni para makhluk ghaib, tapi mereka memiliki kehidupan seperti manusia."
Ragu namun akhirnya ia menurut.
Joko menggenggam tangan lentik Tiara di malam gelap tersebut. Kembali mengusap kepalanya lalu menyibak rambut halusnya.
"Mau lewat dunia nyata apa lewat mimpi saja?" tanya Joko terdengar sangat romantis.
__ADS_1
"Lewat mana saja Mas." jawab Tiara kemudian tersenyum.
Seolah mengerti dengan kekhawatiran Tiara, Joko meraih tubuh yang baru tumbuh sempurna itu ke dalam pelukannya. Mengusap kepalanya dan tak lama kemudian Tiara tertidur lelap. Berganti dengan alam mimpi yang tenang. Dan paling membuat tenang ada Joko di sana.
"Kita dimana?" tanya Tiara bertanya.
"Di dalam mimpi indah mu." jawab Joko dengan senyum tipis tapi matanya selalu bersinar penuh cinta.
"Tapi tidak ada langit yang biru?" Tiara mendongak langit yang gelap.
Joko tersenyum lagi. "Apakah hanya langit biru yang selalu indah?" tanya Joko memeluk bahu Tiara.
Tiara ikut tersenyum, seolah akan terbiasa dengan keanehan yang nyata ini. "Kita hanya punya langit yang biru sebagai kenangan."
"Ya, kita akan selalu memandang langit yang sama selamanya." Joko tak henti memandangi wajah Tiara, dekat hingga menunduk dan gadis itu mendongak dirinya.
"Dan Awan yang beriring akan selalu ada." sambung Tiara mengingat masa kecilnya.
"Meskipun tak selalu beriring, hujan akan membuatnya hilang. Tapi percayalah masih ada bulan, yang mulai saat ini kita akan selalu menatap bulan yang sama." ucap Joko lagi semakin pelan dan berbisik.
"Selamanya?" tanya Tiara membuat Joko merasa tertusuk hatinya.
Tapi melihat wajah polos itu tersenyum ia ikut tersenyum.
"Katakan saja selamanya." Tiara memaksanya, dengan bibir mengerucut khas anak manusia yang baru beranjak dewasa.
Joko tertawa senang kali ini, melihat wajah cantik itu dari dekat, bahkan saat dia sedikit merajuk. Hatinya sedang di penuhi bunga-bunga indah dan wangi, seperti bunga kesukaan Joko berwarna warni kali ini.
"Sudah siap?" tanya Joko kemudian, melingkarkan tangannya di pinggang Tiara.
Dia tak menjawab, masih tergurat kekhawatiran di wajahnya.
"Kalau takut kamu peluk Mas saja. Di jamin takutnya hilang." ungkap Joko menoleh wajah sejajar di bahunya itu.
"Bukan muhrim Mas." jawab Tiara tersenyum dengan wajah merona.
"Ini dalam mimpi Sayang, ragamu ada di kamar." Joko masih membujuk.
Tiara hanya tertawa dan keduanya seperti terbang, melewati angin yang berhembus, berpijak pada ruang kosong, bahkan terkadang Melayang seperti burung, tapi tetap dalam pelukan Joko, tangannya tak melepaskan Tiara sedikit saja, bahkan semakin erat.
"Lihat itu, di sana tempat warga ghaib sedang menjalani kehidupan seperti manusia." Joko menunjuk lereng gunung dan tampak tinggi rendah perbukitan. Hijau dan di penuhi tamanan.
__ADS_1
"Itu perkebunan dan persawahan manusia Mas." Tiara ikut melihat, sambil terus berpegangan dengan Joko.
"Ya, tapi kamu tidak tahu di dalamnya." Joko turun dan kemudian memilih berjalan kaki.
Tiara mengikut, berjalan berdua menelusuri jalan hitam yang tidak terlalu halus, yang lebarnya hanya dua meter saja khas desa-desa.
Dan tampak rumah kayu bertingkat di pinggir jalan, ketika akan menuju desa.
Tangan Joko terangkat seolah sedang mengucapkan salam.
"Silahkan, kau bisa melihat dan masuk ke dalam." ucap laki-laki yang sekitar lima puluhan itu.
Tiara tak menjawab, lantaran dia hanya melihat hamparan sawah yang luas, lengkap dengan pohon pisang yang berbuah.
"Sawah yang begitu luas, hijau dan akan menghasilkan panen yang berlimpah. Dan sebagian kecil paling sudut mengalami kekeringan, tangkainya tak menghasilkan padi yang bagus, batangnya kuning. Itu artinya yang ada di sana bukanlah rezekinya manusia, melainkan rezeki milik kami." ucap kakek tersebut.
"Begitupun banyak pohon pisang yang mereka tanam, terdapat yang menguning, rusak, dan dianggap berpenyakit bagi manusia, sebenarnya itu adalah milik kami. Begitulah seterusnya, dan itu hanya sedikit." jelasnya membuat Tiara tercengang.
Melangkah masuk ke pedesaan yang banyak penduduk, tapi sepi seperti hutan yang tak ada manusianya. Entah dimana dan bagaimana mereka beraktivitas setiap hari?
"Ayo." Joko menggenggam tangan Tiara menuju sebuah pondok sederhana namun cukup nyaman.
"Rumah siapa Mas?" tanya Tiara belum melihat orang.
"Masuklah, kami sudah lama menunggu kedaitanganmu." seorang wanita berusia lima puluh tahunan pula menyambut. Heran sekali rasanya jika kedatangan Tiara sudah di tunggu. Tiara memeluk lengan Joko.
Joko tersenyum, meyakinkan bahwa Tiara tidak akan apa-apa.
Tak lama kemudian, ada beberapa orang anak-anak, wajah mereka mirip, ada empat orang dan sepertinya kembar dua. mereka duduk sopan berhadapan dengan Tiara.
Wanita berkulit putih dengan rambut di kepang itu sangat ramah dan sopan. Tak berapa lama pula, datang dua orang gadis yang membawa makanan manusia dengan piring yang banyak, mereka juga terlihat kembar.
"Ini banyak sekali." ucap Tiara melihat ada puluhan piring memenuhi papan halus tersusun tempat mereka duduk.
"Para anak-anak gadisku memasak hingga lelah, bahkan berkutat dengan asap untuk membuat hidangan ini, untukmu." ucap wanita lima puluhan itu lagi. Semua anaknya adalah perempuan, semuanya memiliki kembaran, duduk berbaris, berhadapan dengan Tiara dan Joko sangat sopan, wajah mereka merah lelah karena memasak seperti kata ibunya.
Tiara jadi berpikir untuk makan.
"Makanlah apa yang aku makan." ucap Joko agar Tiara tidak takut.
Tiara mengangguk, masih memandangi semua jenis makanan ada di sana. "Ayam, ikan, jamur, bunga yang di tumis, dan banyak lagi hingga semur jengkol di dunia nyata pun ada di sana.
__ADS_1
Tiara mulai mencoba satu makanan yang sudah di cicip Joko.
Semuanya menggiurkan dengan bumbu yang pas, wangi dan seimbang. Tapi tanpa garam.