DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Jin


__ADS_3

"Bunga?" Angga terbelalak melihat Bunga.


"Iya Mas." Bunga meninggalkan Angga dengan bingung.


"Mimpi apa itu." kesalnya melihat kiri kanan, yang ternyata semua orang sudah bangun dan sholat subuh.


Angga bangun segera, menuju kamar mandi dan segera berwudhu. Mata yang masih kesat itu kembali terkejut ketika melihat seseorang berdiri di dalam kamar mandi rumah itu.


"Astaghfirullah!" Angga memegang dadanya.


"Maaf Mas Angga." ucapnya terlihat sopan.


"Kamu ngapain disini, siapa yang nyuruh kamu tinggal di sini?" Angga menutup pintu kamar mandi dan bersilang dada berbicaralah dengan Joko.


"Enggak ada Mas Angga, aku sendiri yang ingin disini." ucapnya menunduk.


Angga semakin kesal mendengar panggilan yang sama beberapa kali.


"Mas Angga, Mas Angga! Kenal juga enggak." Angga menyingkirkan Joko yang berwujud manusia. Mencuci muka dan membuang hajat sebelum wudhu.


Tapi malah aneh melihat Joko yang menutup wajahnya.


"Kamu itu Jin, ga usah sok tutup wajah padahal suka." kesal Angga tak peduli dengan Joko.


"Aku tidak suka Mas Angga, aku sukanya yang wangi sama yang hidup." jawab Joko diam di sudut dinding.


"Di sini tidak ada bunga, tidak ada yang hidup. Adanya juga di belakang, ayam milik Bunga. Sana pergi, jangan ganggu!" usir Angga kepada Joko.


"Aku bisa mencari sendiri, aku tidak mau makan milik Tiara."


Angga berbalik dan melihat Joko dari atas kepala hingga ujung kaki. Dan itu berkali-kali membuat Joko salah tingkah.


"Kamu menyukai keponakanku?" tanya Angga menatap tajam.


Joko tersenyum dengan wajah bersemu merah, semakin salah tingkah, mengadu telunjuknya.


"Sebaiknya kamu pergi jauh-jauh sebelum aku hajar kamu. Jangan ganggu keponakan ku." Angga terlihat marah.


"Aku tidak mengganggu Mas Angga. Sumpah!" Dia mengangkat dua jarinya hingga sejajar dengan wajahnya.

__ADS_1


"Dengan kamu selalu di sini saja sudah menganggu, tidak baik Jin selalu mengikuti manusia. Tiara bisa lemah dan sakit jika selalu kau dekati. Energi negatif akan mengelilinginya, melemahkan pikiran dan hatinya, dia akan kesulitan menyatu dengan teman-teman sesama manusia karena kau selalu membisikan hal ternyaman untuk Tiara sehingga dia selalu merasa lebih nyaman sendirian. Itu membuatnya dikucilkan, dia tidak punya teman, dia terasing dan akhirnya berbalik arah lebih suka menikmati kesendiriannya, tidak percaya kepada siapa saja lantaran kau juga selalu membisikan, memberitahukan niat buruk seseorang kepada dirinya, bahkan hal kecil dia akan mengetahuinya, hatinya akan menebak pikiran buruk seorang teman kepada dirinya. Dan itu karena dirimu."


"Bukannya itu bagus Mas Angga? Aku selalu menjaganya." sahut Joko.


"Kau menjaganya karena kau mencintainya. Lama kelamaan kau tak akan bisa mengendalikan perasaanmu sendiri ketika dia sudah mulai dewasa. Aku tidak mau kau membuat hidup Tiara menjadi berbeda karena dirimu. Alangkah baiknya kau menyukai sesama jin di alam kalian, bukankah di sana wanita-wanita sangat cantik melebihi Tiara keponakanku?" Angga menatap Joko penuh harapan, tak perlu berkelahi dengan jin bucin tersebut.


"Mereka memang cantik, tapi mereka bisa berubah menakutkan." jawab Joko menunduk memikirkan ucapan Angga.


"Terus kamu ganteng begitu?" kesal Angga malas berbicara lagi, dia ingat hari sudah semakin siang dan waktu subuh nyaris hilang. "Gara-gara kamu, aku telat sholat."


"Joko enggak ngapa-ngapain Mas Angga." dengan wajah di tekuk.


Angga tak peduli, meninggalkan dia sendiri di kamar mandi.


"Dasar iprit, bisanya bikin orang lengah." Angga mengomel ketika melihat jendelanya terbuka. Hari sudah terang, meski begitu dia tetap melaksanakan sholat.


"Sarapan Paman." Tiara mendekati Angga setelah pemuda tersebut mengucap salam dan beranjak.


"Iya Tiara cantik, kita sarapan bareng?" Angga memeluk anak tujuh tahun tersebut.


Dia tersenyum senang, balas memeluk Angga dan menatap wajah pemuda itu. "Tiara rindu Ayah." ucapnya.


"Paman juga rindu." jawab Angga kemudian menggendong gadis kecil itu menuju meja makan.


"Biarkan saja, lagipula ketika aku pulang di masih dua tahun." Angga kemudian mendudukkan gadis kecil itu dekat dengan dirinya.


Sarapan pagi yang ramai, menyenangkan, setelah kepergian Gibran, rumah mereka selalu sepi.


"Bunga, untuk sementara kamu tinggal di rumah Ibu saja." Angga membuka obrolan di tengah sarapan pagi tersebut.


Bunga menatap Angga, dia sedikit heran dengan permintaan Angga, namun masih berpikir untuk menjawab.


"Rumahmu memiliki aura gelap, tidurpun aku tak nyenyak. Di tambah lagi dengan kejadian-kejadian yang tidak masuk akal seperti sakit tiba-tiba, itu bukanlah kebetulan saja. Jadi lebih baik kau dan Tiara hindari saja dulu. Biar aku yang menginap di sini." sambungnya lagi.


"Tapi Mas?" Bunga melihat sekeliling ruangan yang selalu menjadi kenangan indah bersama Gibran.


"Hanya sementara, rumah dan semuanya tetap milik kamu dan Tiara." ucap Angga takut Bunga salah faham.


"Bukan itu Mas, hanya..."

__ADS_1


"Iya, Mas mengerti." Angga meraih air minum dan segera meneguknya.


Sedikit melamun, ditengah menyuap makanan ia sedang memikirkan banyak hal yang terjadi belakangan ini.


"Hindari suami orang." ucap Angga tiba-tiba setelah ibunya mengantar Yanto untuk pergi ke toko menggantikan Bunga.


Bunga menatap Angga dengan terkejut.


"Apapun alasannya, merebut milik orang tetap salah."


"Aku tidak merebut Mas." jawab Bunga berusaha menjelaskan.


"Ya, hanya menanggapi sedikit. Tapi kamu mendapatkan hatinya, dan dia mengabaikan istrinya. Itu merebut namanya."


Bunga terdiam, dia benar-benar malu dengan kata-kata Angga baru saja. Entah dari mana ia tahu tentang Raka, tapi sepertinya Ayah yang bercerita bahwa Raka ada bersebelahan dengan toko miliknya.


"Nanti aku akan mencari daun bidara, mana tahu ada di sekitar sini buat kamu dan Tiara mandi." sambung Angga lagi.


"Boleh aku ikut Mas, sama Tiara?" ucap Melati pelan.


"Tentu saja Boleh, wong pakai mobil suamimu." jawabnya selesai dengan piring dan gelas di hadapannya. Angga beranjak pulang ke rumah ibunya.


Bunga melihat ruangan yang belakangan memang di biarkan seperti itu semenjak kepergian Gibran , bahkan beberapa pakaian Gibran, jaket dan alat sholat masih di letakkan di tempat yang sama.


Pagi itu dia kembali merasa bersedih dengan kematian Gibran setelah beberapa waktu dia malah bersedih dengan Raka. Dan dia sadar jika semuanya salah.


*


*


*


"Kita mampir ke toko mu ya?" ucap Angga kepada Tiara yang duduk di sampingnya menemani Angga menyetir.


"Iya Paman." sahutnya senang karena sudah tidak pernah jalan-jalan selama beberapa waktu.


Angga menepikan mobilnya di depan tokonya ramai sekali pembeli. Tampak beberapa orang sibuk di dalam menghitung barang pembeli, juga ayahnya yang sibuk menghitung bayaran.


"Rame." ucap Angga lagi turun dengan memegang tangan Tiara.

__ADS_1


Bunga juga ikut mendekat sebelum akhirnya masuk ke dalam toko.


Tentu tak luput dari sepasang mata yang sudah menunggu kedatangannya. Hidungnya pun sudah mengendus bau Bunga yang akan datang di pagi menjelang siang itu.


__ADS_2