
Hari pertama.
Usai perkenalan dengan semua Mahasiswa dan beberapa dosen, Tiara begitu lega karena sebagian tampak menyukainya, ingin berteman dengan dirinya. Tapi, ada pula yang tidak suka lantaran merasa tersaingi kecantikannya.
Duduk tak jauh dengan salah satu Mahasiswi yang berasal dari kecamatan yang sama dengan kampung halaman kakek neneknya, Tari.
"Din!"
Panggilan yang terdengar jelas, tapi tak membuat Tiara menoleh. Bahkan ia tidak tahu nama semua teman diruang tersebut.
"Ndin."
Dan kedua kali, sepertinya orang yang di panggil belum juga menyahut.
"Tiara Andini." ulang teman di belakangnya.
"Hah!" Tiara menoleh cepat.
"Melamun atau bagaimana?" kesal Tari.
Tiara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terlebih lagi semua orang melihat kearah dirinya.
"Maaf, habisnya manggilnya Din." jawab Tiara merasa asing.
"Kalau Tiara yang di sana juga Tiara, masak mau samaan. Mending Andini saja, ya nggak?" tanya Tari kepada teman yang lainnya.
"Betul, lebih bagus. Cantik seperti orangnya."
Pujian pertama dari mahasiswa, membuat derai tawa terdengar memulai keakraban.
"Lha iya." Tari ikut tertawa, sedangkan Tiara hanya tersipu malu.
"Terserah saja." jawab Tiara kemudian tertawa sedikit.
"Berarti boleh di panggil Andini?" seorang mahasiswa lagi menyahut.
Andini mengangguk.
"Kalau dipanggil Sayang boleh?" seorang mahasiswa yang memang tampan tersenyum menggodanya.
"Mata lu." Tari menyahut kesal." Sedangkan yang lain malah tertawa senang.
"Mataku sulit berkedip kalau lihat yang cantik." jawab laki-laki bernama Rendy tersebut.
"Kalau gua malah pengen ngedip-ngedip." seorang lagi menyahut.
"Lu kelilipan." Rendy tertawa lepas.
"Itu cacingan." Tari ikut mengatainya.
Canda tawa yang memulai hari menyenangkan bagi Tiara Andini. Benar apa yang dia impikan bahwa kehidupan di Jakarta akan lebih memberi warna.
Namun tak sebaik apa yang selalu ia bayangkan, kehidupan di kota besar juga batas pergaulan sulit di kendalikan. Mereka terlalu banyak tahu tentang apa yang seharusnya mereka tidak tahu.
Siang dan malam berlalu, bahkan hampir sebulan Tiara berada di kota besar itu. Tapi kehadiran Joko belum terlihat.
__ADS_1
Ada rasa penasaran di dalam hatinya, seperti apa Jin yang sering di ceritakan ayahnya itu, terlebih lagi Adit, dia bisa melihat apa saja yang tak kasat mata. "Kalau boleh meminta, mengapa tidak aku saja yang bisa melihat hal ghaib itu. Bukankah Ayahku Gibran Rahendra juga memiliki kemampuan untuk melihat makhluk halus dan sejenisnya?" Tiara melamun di teras rumah itu.
Rasa penasaran yang semakin merongrong hati, tangan lentiknya membuka laptop dan mencari informasi tentang mata batin, ilmu, ghaib dan sebagainya.
"Sebagian dari pemilik kelebihan akan di perlihatkan sejak kecil, dan sebagiannya lagi setelah dewasa."
Mata bening Tiara Andini terbuka lebar, berpikir lagi bahwa saat ini dia sudah dewasa.
"Kalau aku tanya kepada Ayah atau Ibu, dia pasti curiga." Dia berpikir keras.
Hingga beberapa saat kemudian, pukul 19:30 sesuai janjinya, Tari dan teman-teman lainnya datang menjemput. Mereka akan belajar bersama di sebuah cafe tak jauh dari kontrakan Tiara.
"Mbak mau pergi?" tanya Adit kepada Tiara.
"Iya, Mbak mau belajar di cafe dekat tikungan Dek. Apa kamu mau ikut?" Tiara tahu pengawal kecilnya itu sangat over protective.
"Enggak ah, ngantuk Mbak. Nanti pulang jam berapa?" tanya Adit lagi.
"Jam Sembilan Dek, enggak lama kok." Tira merapikan kaosnya yang panjang.
"Ya, asal hati-hati." Adit menyandar di sofa.
"Kalau bisa jangan tidur dulu, nanti Mbak pulang kamu ga bukain pintu, terus Mbak mau tidur di mana?"
"Ya di luar." jawab Adit membuat teman-teman Tiara tertawa.
"Sembarangan." kesal Tiara sembari pergi.
"Adikmu ganteng." Tari menoleh Adit berkali-kali.
"Wajar ganteng, Mbaknya cantik." Rendy kembali memuji Tiara.
Hanya berjalan kaki, mobil Rendy terparkir di depan Rumah Tiara. Mereka bercanda dan tertawa layaknya anak muda.
"Makan dulu atau belajar dulu?" tanya Rendy melihat menu utama tersedia.
"Belajar dulu Ren." Tiara menyahut.
"Baiklah Andini Sayang." jawabnya memulai canda tapi hatinya benar-benar suka.
"Kamu Jangan seperti itu, kamu tahu kan Keysha menyukaimu. Jangan sampai dia tidak suka padaku hanyalah karena kamu memanggil aku seperti itu." protes Tiara.
"Tapi aku tidak suka." ucapnya tersenyum menatap Tiara penuh perasaan.
"Dah ah, besok saja rayu-rayuannya di lanjutkan." Seorang mahasiswa bernama Dika menyahut.
"Cemburu." Rendi menyikut lengan temannya.
"Iya."
Tawa kembali terdengar dari ke lima orang tersebut.
"Minum ya Ndin." Rendy menawarkan menu minuman jus jeruk.
"Iya."
__ADS_1
Terlalu serius belajar, dan tak sengaja tangan Rendy menyenggol jus milik Tiara hingga basah baju yang dipakai gadis itu.
"Aduh, maaf Ndin." Rendy menjadi merasa bersalah.
"Nggak pa-pa Rend." Tiara berdiri, meraih beberapa lembar tisu dan kemudian pergi ke kamarnya mandi.
Sepi, kamar mandi cafe yang lumayan besar, ramai tapi toiletnya sepi.
Tiara menoleh kesana-kemari tak ada orang, tapi kemudian masuk ke dalam toilet.
"Basah lagi." ucapnya bingung.
Dan beberapa menit kemudian dia keluar.
Dan belum sempat melangkah, diambang pintu dia melihat seseorang menoleh bingung seperti sedang mencari seseorang.
Tubuhnya tinggi, rapi, seperti seorang pengusaha muda yang hanya ia lihat di televisi. Tiara menatap punggung laki-laki itu tak berkedip, sampai membuka mulutnya sedikit.
Dan.
"Hey, apakah melihat seorang gadis?" tanya laki-laki itu kemudian berbalik dan bertanya kepada Tiara.
Tiara tak juga menjawab, bagai terhipnotis, otaknya tidak berfungsi dengan benar ketika melihat wajah yang terlalu tampan untuk laki-laki biasa.
"Halo." ucapnya melambaikan tangannya di depan wajah Tiara.
"Ah, hemm..." Tiara menjadi salah tingkah.
Terlebih lagi laki-laki di hadapannya juga sedang memperhatikan dirinya.
"Kamu basah." Laki-laki itu menunjuk kaos bagian dada Tiara.
"Oh, i...iya." jawab Andini menutup dadanya dengan satu tangan menyilang.
"Ya sudah, ini buat kamu." Laki-laki itu menyerahkan kantong dari kertas ala Mall-mall itu kepada Tiara.
"Tidak usah Mas, saya hanya_"
"Tidak apa-apa, saya sedang mencari teman saya yang juga sedang mengganti baju, tapi sepertinya dia sudah pulang." ucap Laki-laki itu menoleh kesana-kemari.
"Tapi kita tidak kenal." tolak Tiara lagi.
"Kalau begitu kita kenalan." ucapnya tersenyum manis sekali, semakin membuat jantung Tiara ingin melompat.
Tanpa sadar Tiara mengulurkan tangannya, semakin membuat laki-laki itu tersenyum senang.
"Siapa namamu?" tanya laki-laki itu meraih tangan Tiara sangat lembut.
"Tiara Andini." jawabnya tak bisa berhenti menatap wajah laki-laki itu.
"Saya Jo."
"Andini!"
Tiara menoleh Tari yang sedang berjalan terburu-buru ke arahnya.
__ADS_1
Lalu kembali melihat laki-laki yang baru saja berkenalan. Tiara menjadi bingung laki-laki tersebut sudah tak ada.