DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Modus


__ADS_3

Mana ada wanita yang sudah janda ikut saudara laki-lakinya merantau ke pulau yang jauh.


Bunga masih termenung memikirkan kata-kata Angga sore itu.


"Gimana ya Nduk, ibu tidak mau jauh-jauh dari kamu apalagi Tiara." jawab Ibu mertuanya yang sedang duduk memangku Tiara di pagi hari kemudian.


"Tapi apa yang di katakan Mas Angga ada benarnya Bu, aku tidak mau Tiara menjadi korban." jawab Bunga juga terlihat sedang bingung.


"Ibu juga keberatan. Kamu anak Ibu satu-satunya, kalau kamu pergi lalu kami yang sudah tua ini akan sangat kesepian." ucap Ibu Nur, ibunya Bunga yang juga sedang berkunjung.


"Kalau Bapak ikut keputusan kamu saja, yang terbaik buat kamu dan Tiara. Bapak tidak mau kehilangan lagi seperti Gibran yang meninggal dengan tiba-tiba."


Yanto menatap langit yang jauh, mata tuanya masih sangat bersedih dengan meninggalnya Gibran putra angkatnya yang baik dan sopan, selalu berbakti walaupun bukan anak kandung.


"Ibu juga tidak mau Pak." istrinya ikut bersedih.


Hening kemudian, hingga sosok Angga keluar dari rumah Gibran dengan wajah segar sehabis mandi, berjalan menuju teras rumah ibunya.


"Ngga, sini." Yanto menepuk lantai tempat mereka duduk bersama di pagi itu.


"Ya Pak." jawabnya tersenyum ramah pada kedua orang tua Bunga.


"Katanya, Bunga mau ikut kamu ke Kalimantan." Ayah Bunga memulai pembicaraan.


"Bukan Bunga yang mau ikut Pak, tapi Angga yang mengajak." jawab Angga tegas.


Sungguh jawaban yang berani, persis seperti Gibran yang selalu tegas dan bertanggung jawab.


"Ya, siapapun yang mengajak atau juga yang mau ikut. Tapi rasanya tidak pantas jika hanya ikut pergi dengan status seperti ini. Apalagi Bunga sekarang janda adikmu." Yanto langsung kepada inti pembicaraan para lelaki.


"Tapi tak ada pilihan Pak, kalau hanya pergi dari kampung ini jelas Raka akan mengejar lagi." jawab Angga juga menegaskan apa yang sedang menjadi kekhawatirannya.


"Iya, bapak tahu." jawab Yanto kemudian mengangguk-angguk.


Begitu pula Gutama, ayah Bunga juga mengangguk-angguk. Tapi kemudian keduanya saling memandang.


"Kalau kalian sudah sepakat ingin pergi ke Kalimantan, Bapak setuju." ucap Yanto kemudian.


"Itu yang terbaik Pak." jawab Angga senang.


"Kita akan menikahkan mereka hati Jum'at nanti."


"Apa?" ucap mereka serentak.


Bunga dan Angga sangat terkejut, keduanya saling pandang dengan mulut terbuka.


"Saya setuju." Gutama menyahut dengan suara santai.

__ADS_1


"Pak." Bunga ingin protes dengan obrolan yang akhirnya main jodoh-jodohan itu.


"Apalagi Ibu." Istri Yanto tersebut malah berkata dengan senyum lebar sempurna.


Sementara Angga menggaruk-garuk kepalanya yang jelas tidak gatal karena habis keramas.


"Seneng...!" teriak Joko yang tak mungkin mendekat karena ada Bidara di teras rumah tersebut. Jin tampan itu duduk di atap rumah Gibran dengan menekuk wajahnya.


"Bunga permisi dulu Bu." tiba-tiba Bunga menunduk dan kemudian berlalu menuju rumahnya.


"Bunga." panggil ibunya paham betul jika anaknya sedang bersedih.


"Ikut Dek." istri Yanto juga ikut mengejar Bunga bersama ibu Nur.


Terlihat baik-baik saja, tapi setelah sampai di dalam rumahnya ia menumpahkan kesedihan atas kehilangan Gibran.


Bayangan saat bersama suami tercinta tak mungkin dapat di lupa. Dia adalah laki-laki sempurna yang bersedia menerima kekurangan Bunga. Dia yang tahu semua baik dan buruknya Bunga. Dia yang sanggup berkorban apa saja untuk Bunga, bahkan hampir kehilangan nyawa karena dirinya.


"Aku hanya mencintaimu Mas, aku tidak mau membagi cintaku untukmu." ucapnya menangis tergugu menyandar di dinding.


"Bunga." suara ibunya memanggil.


Namun tak peduli, dia hanya ingin menangis saat ini.


"Bunga." pelan ibunya lagi.


"Maafkan Ibu." ibu mertuanya juga ikut bicara.


"Aku hanya mencintai Mas Gibran Bu." ucapnya terkekeh pilu.


"Ibu tahu Nak." jawab ibu mertuanya memeluk Bunga.


"Tapi kalau kalian bertahan di sini, lama kelamaan kamu akan melupakan Gibran dan mencintai Raka kembali." jelas ibunya ikut mengusap pundak Bunga.


"Aku juga tidak mau Bu." jawabnya terus terisak.


"Raka tidak kenal penolakan. Dia masih menggilai masa lalu." jawab ibunya lagi.


"Kami hanya memberi jalan yang mungkin kalian akan bisa bahagia. Sebuah pernikahan adalah ikatan untuk melindungi, menjauhkan diri dari hal-hal maksiat. Menenteramkan jiwa dan semuanya berisikan Ibadah."


"Ibu juga tidak memaksa, hanya ingin kamu memikirkannya." kedua ibu yang sudah nenek-nenek itu bergantian menenangkan Bunga.


"Jawabannya tak perlu sekarang." Ibu mertuanya mengusap air mata menantunya tersebut.


Aneh sekali jalan hidup ini. Bunga mendongak langit-langit rumahnya, membayangkan saat-saat bersama Gibran selama delapan tahun, mereka selalu bahagia.


Dan sekarang.

__ADS_1


"Masa iya, aku akan menikahi kakak dari suamiku." Bunga menggeleng.


Hingga malam itu, Bunga tetap di rumahnya sendirian. Enggan beranjak dari sofa tempat mereka dulu bermanja-manja.


"Mas Gibran." ucapnya pelan.


"Maaf."


Malah suara Angga yang menyahut, cukup membuat wanita yang melamun itu terkejut.


"Aku ingin kita bicara."


Angga duduk di sofa berhadapan dengan Bunga.


"Bicara saja Mas." jawabnya menunduk, sejak pembicaraan tadi pagi, ia jadi serba salah berhadapan dengan Angga.


"Kamu yakin Gibran meninggal karena di hajar pencuri?" tanya Angga menatap lurus adik iparnya tersebut.


Bunga mendongak sedikit, menatap mata elang Angga yang tak berkedip. "Aku tidak tahu Mas." jawabnya pelan.


"Sebenarnya aku juga tidak melihat, tapi aku merasa yakin itu semua ada hubungannya dengan Raka."


"Apakah maksud Mas Angga, Raka pelakunya?" tanya Bunga menatap serius.


Angga hanya tersenyum tipis. "Yang aku tahu seperti itu. Aku sudah berkelahi dengan Raka, itu sebabnya dia tidak membuka tokonya." jelas Angga lagi.


"Astaghfirullah Mas." Bunga menutup mulutnya sendiri, kembali mata beningnya mengalirkan air mata, bahkan sejak awal dia sudah curiga.


"Gibran tidak mau kamu tetap dekat dengan Raka."


"Aku juga tidak mau Mas. Aku ingin dia juga merasakan apa yang aku rasakan, apa yang Mas Gibran rasakan. Aku ingin dia mati!" Bunga berdiri dengan tatapan penuh amarah, seumur hidup ini kali pertama ia terlihat marah seperti malam itu.


"Mematikan seseorang bukan hak kita. Tapi menjauhinya, menghindarinya, bisa kita lakukan." jawab Angga terlihat tenang, tentu karena dia sudah menghajar Raka.


"Tapi membalas apa yang sudah dia lakukan belum termasuk dosa."


"Hush! Hadis darimana itu?" Angga meminta Bunga kembali duduk.


"Aku benar-benar ingin dia tersiksa Mas. Aku ingin dia menderita seperti aku, seperti Tiara yang kehilangan ayahnya." ucap Bunga meluapkan kekesalan.


"Kalau begitu kamu menikah lagi, dengan begitu dia akan menderita dan tersiksa." jawab Angga meletakkan korek api yang baru saja menjadi mainan di jarinya, meraih air putih yang tersedia di meja tersebut.


"Baiklah, kita menikah."


"Puphhht....!"


"Dasar modus." kesal Joko ketika air dari mulut Angga tak sengaja mengenai wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2