
Maghrib di separuh bulan suro tersebut semakin mencekam ketika Cahaya langit merah terbentang di ufuk barat.
Di dalam rumah Bunga kedua orang ibu dan anak itu baru saja melaksanakan sholat. Tak lupa mereka berdoa masing-masing.
"Ibu khawatir, mengapa ayahmu tak pulang juga, ini sudah hari ke dua dia pergi, harusnya ia segera kembali." ucap Bunga kepada Adit.
"Insyaallah Ayah baik-baik saja." jawab Adit tidak ingin ibunya semakin khawatir.
Bunga beranjak, sedikit melihat anak gadisnya tengah tertidur lelap di kamar karena sejak sore ia mengeluh nyeri pada perutnya, Bunga berpikir dia sedang datang bulan.
"Tidurlah."
Begitu bisik Joko yang akhir-akhir ini sering menjaga Tiara tidur secara diam-diam. Mengelus rambut halus Tiara sepanjang malam hingga subuh menjelang. Tak terkecuali malam ini, Joko nyaris tak meninggalkannya sedikit saja.
"Terimakasih Mas." ucapnya merasa bantal yang di tiduri nya begitu halus ,lembut dan nyaman.
"Sama-sama Andini Sayang." jawab Joko kemudian di balas senyum manis sambil memejamkan mata oleh Tiara.
Joko memandanginya dengan tersenyum-senyum sendiri, lalu berpikir untuk bersikap seperti manusia. Tidur nyenyak dan bersembunyi dari Cahaya bulan yang indah.
"Mas mau tidur di samping kamu." ucapnya ikut berbaring di samping Tiara. Detik-detik berlalu begitu hangat dengan bayang kebahagiaan di samping keduanya.
Tangan Joko tak tinggal diam kali ini, memeluk tubuh ramping Tiara yang begitu indah di matanya, sungguh kehancuran tidak menjadi ancaman. Bagi Joko, tak urung akan lebur menjadi abu.
Sungguh posisi berdekatan itu membuat Joko ingin melakukan yang lebih dari sekedar memeluk. Namun ingat akan janjinya, dia tidak mau meninggalkan luka abadi di hati Tiara. Dan tidak mau ada Joko yang lain di dunia ini, menderita karena kelahiran yang tidak seharusnya.
"Mas!" teriakkan Tiara membuat waktu istirahat Joko usai.
"Andini."
Joko sangat terkejut ketika matanya terbuka, tangan yang tadinya memeluk tubuh ramping Tiara kini hanya kosong tak ada siapa-siapa.
"Tomo!"
Teriakan yang menggema, tentu membuat makhluk-makhluk hidup selain manusia merinding takut mendengar teriakkan mengerikan Joko.
"Mas Joko." Adit ikut terbangun dan segera ke kamar Tiara.
Joko hanya menoleh Adit sedikit, kemudian melesat pergi ke rumah Tomo.
Tentu tak mudah masuk ke dalam rumah laki-laki itu, Joko harus bertarung dengan banyak makhluk mengerikan, entah darimana Tomo mendapatkan anak buah sebanyak itu, padahal kemarin dia tidak melihatnya kehadiran mereka.
"Mas Joko!"
Adit mendekat dan ikut berkelahi dengan banyaknya makhluk dengan wajah tak berbentuk tersebut.
__ADS_1
"Hati-hati dengan makhluk yang berkaki lebih panjang itu, kukunya beracun." ucap Joko kepada Adit.
Adit mengangguk, kemudian kembali berkelahi di belakang Joko.
Sesekali Adit yang masih terlalu kecil menerima pukulan dari makhluk yang menyerang bergantian, dia kewalahan.
"Panggil Ayahmu Dit!" perintah Joko di sela perkelahian yang tak bisa berhenti.
Adit mencoba berkonsentrasi di tengah suara berisik dan serangan yang bertubi-tubi. Tangan kecilnya melepaskan sorban pemberian gurunya ketik di Kalimantan, membentang dan menyelimuti tubuh kecilnya.
"Ayah." panggilnya sedikit memejamkan mata.
Langit mendadak gelap dengan kilat menyambar di ketinggian, seolah membelah awan menjadi berkeping-keping.
Adit menoleh Joko yang mencoba menerobos masuk, tapi kembali di hadang dan di tarik sehingga mau tak mau kembali bertarung.
Adit melompat mendekati Joko, membantunya melawan makhluk yang tak bisa mati tersebut.
"Biar aku yang masuk Mas." Adit meminta Joko membantunya membuat jalan.
"Tidak Dit, di dalam lebih berbahaya." Joko melarang anak manusia yang tampak belum berdosa itu. "Berdoa saja bantuan akan datang lebih cepat."
"Aku lelah Mas." ucap Adit merapatkan diri kepada Joko.
"Mereka hanya takut dengan sorban milik gurumu, jangan buang tenaga." ucap Joko lalu mengerahkan tenaga lebih besar untuk memukul mundur lawannya.
"Beri aku jalan." pinta Joko kepada anak laki-laki yang siap mengibaskan serangan itu.
Adit mundur dan mulai membuat celah diantara banyak makhluk yang berjaga, semakin menuju pintu semakin kuat pula pertahanan mereka.
"Ahhgg." Adit tersungkur ketika bagian punggungnya terkena pukulan dari makhluk besar.
Joko langsung melompat menendang makhluk tersebut dan meraih tubuh kecil Adit.
Dan keduanya mendapat Serangan ganda ketika lengah sedikit hingga tersungkur di keroyok kaki-kaki hitam makhluk tersebut menginjak-injak Joko dan Aditya.
Dan tak terbayangkan sebelumnya, Joko berubah menjadi makhluk besar dan sekali tangannya mengibas mereka semua terjatuh.
"Mas Joko." ucap Adit tak percaya dengan wujud asli jin ganteng tersebut.
"Bertahanlah dengan doamu, Ayahmu sudah dekat."
Joko menendang pintu rumah Tomo lalu kemudian menghilang.
Benar saja Ayahnya datang bersama dua orang kakek tua, yang kemudian langsung menyerang habis makhluk yang mulai menyerang mereka.
__ADS_1
"Ayah." panggil Adit segera mendekat ketiga orang tersebut.
"Maaf, ayah terlambat." Angga memeluk Adit yang sudah mandi keringat. "Dimana Kakakmu?" ucap Angga melihat rumah Tomo telah berantakan bagian depannya.
"Mas Joko sedang mengejarnya." Adit menunjuk pintu yang sudah patah.
"Kita harus cepat." Seorang kakek bersorban itu melangkah lebih dulu, dialah ketika masih muda dipanggil ustadz Ahmad.
"Mereka tidak di sini?" kesal Angga.
Dan Kiyai Ahmad menoleh Adit dengan penuh arti. "Panggil jin temanmu itu, kita akan mengikuti suaranya."
Adit mengangguk mengerti, kemudian menutup matanya. "Mas Joko."
Dan terdengar suara kasar dari wujud asli Joko, ke empat orang tersebut merasa bingung, dimana mereka berada.
"Itu terlalu jauh, kita semua tidak bisa pergi ke sana." Ucap kiyai Ahmad.
"Aku akan tinggal, menjaga Bunga jikalau ada sesuatu terjadi di sini." Salah seorang kakek tu itu menjawab, dia adalah kakek kandung Tiara Andini.
"Baiklah." tanpa berbicara banyak, ketiga orang tersebut langsung melesat hilang.
"Hebat!" ucap Adit ketika mereka masuk ke ruangan gelap seperti terbang.
"Dia yang hebat." tunjuk Kiyai Ahmad kepada seseorang yang mereka tidak sadar ada di belakang mereka.
"Jin?" bisik Adit kepada Kiyai tersebut.
Hanya dijawab anggukan dengan senyum tipis.
"O...walah, tak kirain ada manusia yang sehebat film-film." gumam Adit sambil terus memegang lengan ayahnya.
"Bersiaplah, kita akan mendarat tepat di tempat Tomo sedang menahan Tiara." ucap Kiyai Ahmad mengingatkan.
"Kayak pesawat ya Pak Kiyai?" tanya Adit sambil memandang ke depan.
"Ya, cerita orang jaman dulu, manusia itu sering memanfaatkan persahabatan dengan Jin, dan bisa pergi secepat kilat."
"Kalau sekarang ya pesawat." sambung Angga menyingsingkan lengan bajunya.
"Logikanya magic itu sekarang untuk menanak nasi." Adit menyahut lagi.
"Itu magic com." sahut Kiyai yang mengerti Adit sedang mengalihkan ketegangan.
"Kamu laper?" tanya Angga.
__ADS_1
"Capek Ayah." ucapnya mengernyitkan hidungnya.
"Sekarang!" Kiyai sedikit berteriak. Tampak di depan mereka sebuah barisan yang mulai kacau, dan seorang gadis di ikat di tengah-tengahnya di jaga beberapa orang.