DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Ingin Sah


__ADS_3

"Mbak, mau kemana?" tanya Adit mengikuti langkah Tiara.


Akhir-akhir ini Adit selalu cemas dengan Tiara lantaran keadaan yang sering berubah tiba-tiba, lebih sensitif.


"Mbak mau ke warung sebentar. Beli shampo?" tanya Tiara menoleh Adit.


"Bukannya tadi sudah mandi Mbak?" tanya Adit sambil memakai sendal diambang pintu.


"Sudah, tapi rasnaya gerah. Mau mandi lagi." ucapnya berjalan lurus ke depan rumahnya.


'Aneh, tidak biasanya Mbak seperti ini.' gumam Adit di dalam hati.


"Memang biasanya seperti apa? Orang mau mandi masak enggak boleh." sahut Tiara membuat Adit terkejut.


"Bahaya ini." ucap Adit berhenti mengikuti Tiara.


"Bahaya apanya, orang dia lebih hebat dari kita." Joko ikut berdiri sejajar dengan Adit. Pohon kelengkeng di pinggir jalan itu menjadi tempat menyandar keduanya.


"Aku takut Mbak kesulitan mengendalikan diri." ujar Adit lagi.


"Itu bukan ilmu, dia memiliki kelebihan dari lahir seperti ayahnya. Dan soal rasa panas itu, karena ada banyak yang mengirim mantera kepadanya, tapi tidak bisa menembus dan hanya menjadi uap yang membuat gerah Kakakmu."


"Apa malam menakutkan itu benar-benar akan terjadi?" tanya Adit kepada Joko.


Joko tersenyum mendengar pertanyaan dari anak kecil yang terlalu cerdas tapi malas belajar itu.


"Ya, dan kau juga akan terlibat. Kau lebih hebat daripada ayahmu suatu hari nanti." ucap Joko memuji Aditya.


"Kau pintar sekali memuji, pantas saja banyak pasien para normal yang sulit move on diluar sana, sekalinya datang bertanya, lalu besoknya ingin bertanya lagi. Larut dalam satu pujian, lalu ingin di puji lagi." ucap Adit membuat Joko tertawa.


"Karena sudah sifat dasarnya, manusia itu ingin di puji. Sebenarnya itu wajar saja, sesuai dengan yang sudah tertulis bahwa manusia adalah makhluk paling sempurna ciptaan yang maha kuasa. Dan itu pula sebabnya, makhluk seperti kami dengan mudah jatuh cinta kepada manusia yang kamipun mengakui kalau kalian sungguh sempurna." jelas Joko dengan terlihat bijaksana.


"Dan kalian sungguh pandai merayu, tak heran Tiara Kakak ku sampai tak bisa lepas darimu." sindir Adit merasa kebetulan dengan apa yang mereka bicarakan.


Joko menarik nafas, tentu dia tahu apa yang sedang dibicarakan anak kecil itu.


"Aku hanya ilusi bagi Kakakmu. Setelah semua ini berakhir aku akan menghilang seperti asap yang akhirnya akan kembali naik ke atas sana, dan turun menjadi butir hujan yang menyegarkan, sungguh aku merasa sedikit bermanfaat bagi Tiara Andini yang sangat aku cintai."


"Adit tidak paham dengan rasa yang kalian sebutkan." Adit berpura-pura tidak mengerti, padahal ia tahu persis Joko benar-benar rela melakukan apa saja demi Kakak perempuannya itu.


"Sebaiknya anak kecil tutup mata." ucap Joko kesal.


"Harusnya Mas Joko tutup mata, biar tidak selalu melihat Kakakku." balas Adit.


"Eh, tidak bisa. Tuhan sudah memberikan takdir untuk kami bertemu, saling membantu, lalu berpisah dan saling mengenang. Cinta itu anugerah Aditya Syailendra."


"Anugerah yang membuat dosa! Cinta itu mestinya hanya dirasakan ketika sudah Sah!"

__ADS_1


"Aku juga mau Sah bersama Kakakmu."


"Itu dosa!"


"Lha iya, itu kamu tahu."


Adit kesal dan kemudian pergi meninggalkan Joko. Malas rasanya harus berdebat dengan Jin yang kelewat ganteng tersebut. Tentu tidak ada hasilnya mendebat Joko yang bisa melihat masa depan, apalagi soal kata-kata, pengetahuan Adit hanya seujung kuku saja.


Dan sepeninggal Adit, seseorang mendekati Tiara yang baru saja keluar dari warung tersebut.


"Tiara?"


Tiara tersenyum sedikit, menunggu apa yang akan dilakukan atau di ucapkan Tomo padanya.


"Kita bertemu lagi." ucapnya tersenyum seperti orang bijak.


"Tentu saja Paman, kau menyusulku." jawabnya terlihat tenang.


"Bukan aku, tapi Arya." ucapnya menunjuk rumahnya.


Tiara menoleh rumah tersebut.


"Dia ingin bertemu dengan mu."


"Arya." gumam Tiara terdorong hatinya untuk melangkah ke rumahnya Arya.


Sedikit menyipitkan mata, tentu dia tahu Tomo berniat tak baik. Tapi Arya, dia sungguh penasaran bagaimana keadaan anak laki-laki yang merupakan sahabatnya.


Tanpa berpikir lagi, Tiara melangkah menuju rumah Arya. Tentu hal itu membuat Tomo tersenyum senang.


"Assalamualaikum Arya." Tiara berdiri di depan pintu, persis seperti saat kecil ia sering datang bertamu.


"Arya." ulangnya tak mendapat jawaban.


"Andini, ayo kita pulang." ajak Joko tiba-tiba meraih tangannya.


"Tapi aku belum bertemu Arya." Tiara masih menoleh pintu.


"Besok saja." ucap Joko pelan, matanya melirik Tomo yang berdiri di depan mereka. Mata keduanya saling menyerang tanpa pergerakan.


"Berani sekali Jin rendahan seperti dirimu datang padaku." ucap Tomo dingin.


"Bukan aku yang rendahan, tapi kau yang sudah ketinggian. Jangan lupa, semut yang kecil bisa membuat gajah menunduk, bahkan berguling-guling minta tolong." sindir Joko dengan nada sinis.


"Kau bukan tandinganku, sebaiknya kau segera enyah, tinggalkan Tiara." ucapnya seperti pahlawan.


"Hemh, lucu sekali." Joko mulai menyerang laki-laki itu dengan kibasan tangannya.

__ADS_1


Dan Tomo tak tinggal diam, membalasnya dengan serangan telapak tangan bercahaya merah.


Joko segera membawa Tiara menghindar, kemudian tersenyum sinis.


"Sial, dia bisa menghindari seranganku. Sebenarnya dia siapa?" geram Tomo memandangi kepergian Tiara dan Joko. "Harusnya makhluk seperti dia tunduk padaku."


*


*


*


Sore itu Tiara duduk di ranjangnya sedikit melamun, masih memikirkan dulu betapa Arya sangat baik, menemaninya pergi ke sekolah, terlebih lagi di saat sedih kehilangan ayahnya.


"Aku juga selalu menemanimu."


Tiara menoleh Jin laki-laki yang selalu ada tersebut.


"Walaupun akhirnya..."


Mendadak hening, sejenak memikirkan hari begitu cepat. Seolah detik jam sedang mengingatkan akan perpisahan.


"Bagiku kau sangat berarti." ucap Tiara pelan.


"Bagiku kau segalanya Tiara Andini." Joko menoleh dengan tatapan mesra.


"Aku merasa kau sama seperti aku, manusia." Tiara menoleh sehingga berpandangan.


Joko tersenyum. "Begitulah seorang anak manusia yang bisa melihat dua alam. Sungguh kamipun memiliki perasaan yang sama seperti manusia. Jatuh cinta, sedih, dan juga khawatir." Joko sedikit menunduk.


"Apa yang sedang Mas Joko khawatirkan?" Tiara masih menatap Joko.


"Kamu." setelah helaan nafas yang berat. Keduanya kembali saling menatap. "Aku takut kamu sedih."


Tiara mengalihkan pandangannya keluar jendela. Sore yang mendung itu membuatnya merasa sepi, walaupun hanya membayangkan nantinya Joko telah pergi.


"Aku terlalu mencintaimu." Joko Berbalik setelahnya.


Tiara menoleh dengan mata yang berkaca-kaca, hatinya sungguh sedang menangis melihat punggung Joko.


"Sebenarnya aku sudah tahu tentang kita, hanya saja aku pura-pura tidak tahu agar kita memiliki waktu lebih dekat." ucapnya sedih.


Joko kembali berbalik, menatap lekat Tiara. "Tentang apa?" tanya Joko tidak yakin.


"Mas Joko tidak pulang ke alam lain." ucap Tiara menatap sendu.


"Kata siapa?" Joko tersenyum remeh.

__ADS_1


"Mas Joko hancur karena menyelamatkan aku."


__ADS_2