
Sedangkan di daerah yang jauh, tempat di mana Angga berada.
Pagi-pagi sekali pemuda itu sudah berkemas, bersiap pulang menuju kampung halaman tercinta bersama beberapa orang rekan kerjanya.
"Padahal proyek kita masih di perpanjang satu bulan Ngga." ucap salah seorang ketika mereka sudah berada di dalam taksi menuju bandara.
"Biarkan saja Di, aku sudah tidak tenang berada di sini. Aku merasa keponakan juga istri adikku sedang tidak baik-baik saja." jawab Angga dengan wajah serius.
"Oalah, khawatir sama adik ipar to? Jangan-jangan kamu mau naik ranjang." Seorang lagi ikut menyahut menggoda Angga yang hanya tersenyum.
"Ya, kalau cocok. Janda juga kalau masih mulus jangan di ulur, tarik Bang Angga."
Terdengar gelak tawa dari dua orang di samping Angga. Sedangkan pemuda itu hanya menggeleng sambil tersenyum-senyum saja.
"Eh, dia senyum-senyum. Jangan-jangan bener? Soalnya akhir-akhir ini aku memperhatikan dia sering gelisah."
Mereka kembali menertawai Angga.
Mengingat saudara ipar, ia juga teringat adiknya. Angga menerawang jauh, mengingat bagaimana adiknya berjuang untuk Bunga, bahkan hampir mati. Angga saksinya.
'Dan sekarang kamu benar-benar meregang nyawa.' ucapnya di dalam hati.
Andai saja waktu itu Iyan benar-benar ikut dengannya bekerja di Kalimantan, mungkin semua itu tidak akan terjadi.
Angga menarik nafas. Hal yang ditakutkan akhirnya terjadi tanpa bisa berbuat apa-apa. Raka memang tidak pernah menyerah, harusnya laki-laki di habisi saja ketika dia sudah tidak berdaya.
"Lebih cepat ya pak." ucap Angga kepada sopir taksi yang mereka tumpangi.
"Sabar Ngga, ini antar pulau lho." mereka kembali meledek Angga, bahkan sopir-pun ikut tertawa.
"Habisnya dia cantik." sahut Angga semakin membuat ketiga orang itu terbahak-bahak.
Tentu dia hanya bercanda agar kedua temannya puas tertawa. Walaupun iya, Bunga sangat cantik dalam ingatannya.
Tiba di bandara keduanya duduk di kursi tunggu. Sejenak bermain ponsel sebelum naik ke pesawat.
"Ngga, kita cuma istirahat dua Minggu kalau tidak ada tambahan." temannya sudah menutup ponsel dan bersiap naik pesawat.
"Kalau dua Minggu urusanku belum selesai, aku harus lepaskan proyek ini. Biar kalian saja yang maju." jawab Angga juga sudah bersiap.
"Sayang lho, atau kamu benar-benar ingin menikah?" tanya temannya lagi.
"Nikah sama siapa, aku tidak punya pacar." jawab Angga ikut berjalan bersama dua orang temannya.
"Sama adik iparmu saja, biar kamu tenang. Enggak gelisah lagi saat bekerja di projek." canda Didi lagi.
Angga tertawa sedikit, mereka terlalu konyol selalu saja menjadikan Bunga bahan candaan.
"Aku pernah lihat kamu video call sama adikmu lho, istrinya cantik banget." bisik Didi lagi.
__ADS_1
"Dasar buaya." Angga menatap tajam Didi.
"Kalau kamu tidak mau kasih ke aku saja. Gimana, kira-kira dia mau enggak sama aku?" Didi membenarkan kemeja putihnya.
"Dia enggak mau." jawab Angga berlalu naik lebih dulu menuju pesawat.
Didi terkekeh melihat temannya tak menoleh. Hanya aneh saja baginya, di usia 36 tahun Angga tak berniat memiliki kekasih. Padahal, dari segi penampilan dia paling tampan dari semua pekerja proyek tersebut.
*
*
*
Akhirnya hari yang lelah berakhir juga, Raka pulang dari toko dengan suasana hati yang yang kurang baik. Tak ada bahagia di dalam hatinya, dia malah kesal karena mengingat Dewi sudah ada di rumah, dan pertengkaran sudah pasti terjadi.
Benar saja, wanita yang sedang mengandung anaknya itu sedang duduk di meja makan, menunggu Raka pulang.
"Sudah pulang Mas?" sapanya tidak dengan tersenyum, lebih kepada rasa takut kepada laki-laki egois tersebut.
"Ya." Raka mendekatinya. "Untuk apa kau pergi ke dukun dan mencelakakan anak Bunga." ucap Raka menatap tajam.
"Aku tidak bermaksud mencelakakannya, hanya aku sedang mencegah kalian kembali dekat." jawab Dewi pelan. Dia tak mungkin mengelak jika sudah berhadapan dengan Raka.
"Tidak ada yang bisa mencegahku kembali dekat dengan Bunga, termasuk kau juga siapapun." geram Raka kepada Dewi.
Dewi mencoba melawan, walau entah dia sudah mendapatkan keberanian dari mana.
"Kau tidak akan mengerti!"
"Aku mengerti Mas. Tapi, aku tidak lagi akan menghalangimu mulai saat ini, kau boleh lakukan sesukamu. Karena aku yakin kalian tidak akan pernah bisa bersama."
"Dewi!"
Bentakkan yang mengakhiri pertengkaran suami istri tersebut.
Dewi masuk ke dalam kamarnya. seiring adzan berkumandang, marah dan benci sedang menyelimuti dirinya.
Membuka tas dan mengambil sesuatu di dalam sana, suatu benda yang tak asing bagi perdukunan, boneka berbalut kafan berukuran kecil.
"Bunga binti Gutama." ucapnya seraya menyambung mantera yang tidak tahu seperti apa bunyinya.
Tangannya menekan dada boneka tersebut.
"Aakhh..."
Bertepatan di tempat lain, Melati memegangi dadanya yang tiba-tiba sesak.
"Ada apa Bu." tanya Tiara kepada Bunga yang terduduk dengan wajah pucat.
__ADS_1
"Tidak Nak, hanya sesak sedikit." jawabnya berusaha berdiri.
Bunga urung ke kamar mandi, niat ingin sholat tapi malah tak sanggup hanya sekedar berdiri.
"Ada apa dengan diriku?" ucapnya semakin tak kuasa menahan sesak yang lama-kelamaan berubah sakit.
"Tiara panggil Nenek ya Bu." gadis kecil itu turun dari kursinya.
"Nanti saja Tiara, ini masih Maghrib." cegah Bunga.
"Tapi Ibu sakit." ucapnya melihat Bunga meringis kesakitan.
"Bisa ambilkan Ibu air hangat?" pinta Bunga kepada Tiara.
"Sebentar ya Bu." Tiara menuju dapur.
"Ya Allah." ucap Bunga semakin kesakitan, dadanya terasa seperti sedang di tusuk dan di timpa batu yang sangat besar.
"Ibu!"
Tiara meletakkan gelas berisi air hangat lalu meraih tubuh Bunga yang sudah bersimpuh di lantai menahan sakit.
Tiara segera berlari keluar, tanpa berpikir lagi ia menuju rumah Yanto.
"Nenek!" teriaknya langsung masuk, kebetulan pintu rumah itu tidak dikunci.
"Tiara?" Istri Yanto sangat terkejut mendapati cucunya datang sambil menangis.
"Ibu sakit Nek, dadanya sakit." ucap Tiara semakin menangis.
Membuat kedua orang tua itu saling berpandangan.
"Ayo Bu." Yanto segera mengajak Tiara ke rumahnya.
"Bunga." panggil ibu mertuanya masuk ke rumah Bunga.
Tampak Bunga masih tersungkur di lantai dengan kesakitan.
"Ya Allah Nduk." Yanto meraih tubuh Bunga melihat bagaimana keadaan menantunya.
"Uhugh..uhugh." dia berusaha mengeluarkan sesak tapi tidak bisa.
"Astaghfirullah Nduk. Istighfar, ingat sama Allah." ucap Yanto lagi.
Bunga hanya bisa memandangi kedua mertuanya tanpa bisa bicara.
"Dia di guna-guna pak." ucap seseorang yang baru datang.
Bunga-pun menatapnya penuh harapan.
__ADS_1