
"Mas." panggil Bunga ketika Angga akan berangkat bekerja.
"Iya." jawab Angga menarik nafas berat, tahu apa yang akan dibicarakan istrinya.
"Aku khawatir, tak juga mampu menolak. Bagaimana menurutmu?" tanya Bunga memeluk lengan Angga erat, di saat-saat seperti ini ia jadi teringat Gibran suaminya.
"Dia sudah besar, ya... itu benar." Angga duduk di kursi kayu dekat pintu, menghadap Bunga yang selalu terlihat cantik, tapi sedikit cemas di pagi ini. "Kita serahkan saja kepada Allah, kita hanya bisa berusaha untuk mencegah."
"Kalau kita pulang ke kampung bagaimana? Apakah Mas Angga tidak keberatan?" ungkap Bunga yang sepertinya sudah memikirkan hal itu sejak lama.
Angga menatap bening mata Bunga, bibirnya menciut, mungkin dia takut Angga tidak setuju.
Sosok yang tegas dan berani, berbeda dengan Gibran yang lebih lembut dan penyayang. Walaupun soal kasih sayang Angga tak kalah dengan almarhum Gibran, tapi mungkin karena sudah terbiasa dengan cara Gibran memperlakukannya sehingga ada kecanggungan tersendiri ketika menginginkan sesuatu hal yang besar.
"Kalau kamu mau pulang? Mas bisa apa?" jawabnya mengerti apa yang dirasakan Bunga.
"Mas tidak keberatan kan?" tanya Bunga lagi.
Laki-laki itu tersenyum, kemudian memeluk Bunga agar lebih mendekat.
"Sama sekali tidak. Mas berat kalau jauh dari kamu." ucapnya sedikit merayu.
"Bukannya terbalik Mas, aku yang takut jauh-jauh dari kamu. Terlebih lagi status kita saat menikah, itu membuat aku tidak percaya diri hingga saat ini." jawabnya tersenyum tapi serba salah.
Angga jadi tertawa mendengarnya, ada kebanggaan tersendiri mendengar ungkapan hati sang istri, tapi sebenarnya tidak seperti itu, Angga malah lebih takut Bunga diambil orang.
"Aku memang bujangan, tapi kamu cantik, lebih cantik dari gadis-gadis yang suka melirik Mas." jelas Angga semakin. merapatkan pelukannya.
"Tuh, ada yang melirik kan Mas!" Bunga mengerucutkan bibirnya.
"Dulu Sayang, sekarang mana ada. Istriku lebih cantik, susah lho mendapatkan kamu." rayunya kepada Bunga lagi.
"Bukannya aku yang bilang kita menikah." jawab Bunga lebih manja memeluk Angga.
"Ya, karena aku mau menjadi suamimu. Kalau tidak seperti itu, mana mungkin sekarang kamu ada disini bersamaku."
__ADS_1
"Mas Angga paling bisa." Bunga menyandarkan kepalanya di dada bidang Angga, menikmati bahagia yang utuh, walaupun terkadang ada yang mengganjal jika teringat Gibran, ada rasa bersalah atas kebahagiaan itu.
"Mas tidak jadi berangkat ini." Angga mengingatkan Bunga yang semakin nyaman dalam pelukan Angga.
"Eh, maaf Mas." Bunga tersipu malu.
"Ndak usah minta maaf, Mas suka." Angga mengecup kening istrinya. "Nanti malam kita lanjutkan." bisiknya membuat Bunga semakin salah tingkah. "Soal yang tadi, nanti sore kita bicarakan lagi ya, bersama Tiara juga."
"Iya Mas." Bunga hanya mengangguk patuh, seiring mengantarkan kepergian Angga suaminya.
Sementara Tiara yang ada di sekolah.
Gadis belasan tahun itu duduk seorang diri di bawah pohon hias di halaman sekolahnya. Tidak terlalu rindang tapi membuat nyaman.
Menyenangkan sekali menatap langit yang biru, ada bayangan indah terukir di sana, walaupun yang terlihat di matanya hanyalah sekelompok awan yang kemudian memecah.
Teringat masa kecil di kampung kelahiran, dia sangat menyukai suasana di sana. Samar terbayang indahnya hari-hari di sana dengan suasana selalu terasa bahagia. Bahkan kesendirian di kampung itu terasa sangat nyaman, jauh berbeda dengan tempat ia saat ini berada.
Merasa pernah memiliki teman dekat, yang terbayang bagaimana ia memegang tangannya. Walaupun sebenarnya tidak ada, dia jadi bingung sendiri atas kerinduan tak beralasan ini.
Memikirkan semua itu, kemudian memutarkan tas yang ada di punggungnya, membuka dan mengambil sesuatu di dalamnya.
Jari lentiknya mulai membuka halaman buku yang selalu ia bawa itu. Kemudian telunjuk dan jari tengah itu terulur, mengusap tulisan yang masih terang walaupun kertasnya sudah tidak bersih lagi.
"Joko & Andini."
Gumamnya kemudian kembali melihat langit.
"Apa kabarmu Joko Arya Wardana?"
Dia tersenyum tipis, menikmati hembusan angin yang tiba-tiba menyapu anak rambutnya.
"Huh." Dia menghembuskan nafas yang selalu berat.
Sesekali menoleh ke kiri dan kanan, ia melihat banyak teman-temannya sedang bercanda, ber-selfie ria bersama teman laki-laki. Entah mengapa ia enggan menjalin Hubungan serius dengan siapapun, merasa mereka tidak akan bisa membuat ia bahagia, tidak sesuai dengan maunya.
__ADS_1
"Tiara Andini yang cantik, kita foto bareng ya." teman sekelasnya mendekat, lalu mengarahkan kamera ke wajah mereka, ternyata di belakang mereka ada banyak orang yang ikut ber-selfie bersama.
"Selamat ya, kamu dapat beasiswa, itu salah satu kampus terbaik lho di Jakarta." salah seorang pemuda mendekati Tiara.
"Iya, baru rencana." jawabnya dengan laki-laki muda bernama Sholeh itu.
"Kenapa tidak di sini saja, aku sedih lho kami tinggal pergi." ucap pemuda itu lagi.
"Kan masih banyak teman yang lain." jawab Tiara menoleh sahabatnya tersebut.
"Tapi bukan kamu." dia tersenyum namun ada kesedihan. "Aku sukanya sama kamu. Bukan suka aja, tapi cinta." jelasnya tak mau kehilangan kesempatan untuk mengungkapkan isi hati yang sudah berulang kali.
"Kita belum dewasa, tidak usah membahas cinta." Tiara terkekeh.
"Hem, kamu selalu saja seperti itu." Sholeh kecewa, tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Tiara kembali tersenyum, menggelengkan kepala dengan ungkapan-ungkapan cinta yang tak pernah dia anggap serius.
"Kamu sudah punya pacar ya?" tanya sholeh lagi.
"Enggak Sholeh, aku ingin fokus belajar." jawab Tiara lembut.
"Lalu siapa yang bernama Joko itu?" pemuda itu menunjuk buku yang selalu saja di bawa Tiara kemana-mana.
"Hah!"
"Dia teman masa kecilmu ya, jatuh cinta sejak kecil kaya di film-film." tebaknya lagi.
Lagi-lagi Tiara hanya tersenyum.
Jujur, dia sendiri merasa penasaran dengan buku yang ada di tangannya itu. Bayangan Arya selalu melintas, tapi tidak begitu istimewa. Lalu rindu yang sering mengganggu itu untuk siapa?
Bahkan di malam-malam yang terkadang membuat ia bangun mendadak. Ada suara merdu yang sering mengganggu, mengingatkan kata-kata janji untuk tidak saling melupakan. Dan ada bayangan bahagia walaupun entah bersama siapa.
Aneh, tapi kemudian tidak aneh ketika sudah terbiasa, bahkan aneh jika tidak merasakan di dalam mimpinya. Rindu yang mendalam, cinta yang berlebihan, bahkan rasanya ingin dimanja, dan itu semuanya membuat ia betah tertidur lebih lama. Tak ada yang tahu bahwa itu hal yang sering membuat ia bangun kesiangan.
__ADS_1
Ditambahkan lagi dengan cerita ayahnya, tentang seorang Jin yang jatuh cinta kepadanya ketika masih di kampung. Bukannya takut, malah mengundang rasa penasaran di dalam hatinya.
"Aku ingin lihat, seperti apa wajah Jin yang berani mencintaiku?"