
"I...itu."
Tiara malah memejamkan mata, menikmati bayang wajah tampan Joko sambil tersenyum, berharap ia segera mendapat ciuman pertama dari jin yang gantengnya melampaui aktor papan atas tersebut.
"Andini." panggil Joko menjadi gugup melihat wajah ayu itu sedang menanti.
"Cepat Mas."
"Aih, Joko bisa pingsan." ucapnya berusaha sadar bahwa mereka sedang berdiri di ketinggian.
"Jangan pingsan Mas, aku tidak mau jatuh." rengek Tiara semakin merapatkan diri kepada Joko.
Tentu Joko juga tidak mau kekasihnya terjatuh.
Cahaya bulan menerpa wajah Tiara yang mendongak, membuatnya semakin cantik di mata Joko. Sebagai laki-laki, tentu dia tidak bisa menahan rasa cinta, rindu dan ingin memiliki itu bersama-sama membujuk hasratnya, ingin menikmati bibir merah merekah yang belum tersentuh.
Pelan namun pasti, wajah yang sudah tak berjarak itu akhirnya menyatu juga dalam sentuhan maha dahsyat, membuat sosok ayu itu melayang jauh.
Sekalinya Joko menghisap pelan Tiara tak bisa bergerak, merasa ikut terhisap habis, luluh pasrah jiwa raganya.
Tangan keduanya semakin mengerat, Joko mengusap pelan punggung halus Tiara yang larut seperti tak sadarkan diri. Hanya menutup mata dengan rasa menggila tak bisa di kata.
Joko melepaskan sejenak agar Tiara tetap bernafas.
Perlahan mata beningnya terbuka dan tangan kecilnya mencengkeram punggung Joko. Sadar bahwa mereka melayang semakin tinggi.
"Mas." panggilnya pelan.
"Ya." sahutnya setengah berbisik.
"Aku mencintaimu." ungkap Tiara terdengar romantis.
Joko Hanya tersenyum tipis, tentu dia lebih mencintai Tiara Andini.
"Mas." panggil Tiara lagi.
"Ya, aku tahu." Joko kembali mendekapnya erat.
Hingga awan menutupi cahaya bulan Joko melepaskan pelukannya, mulai fokus dengan tujuan pertemuan mereka.
"Tutup matamu, dan siapkan diri. Kita akan melihat apa yang terjadi setelah ini." ucap Joko meraih satu tangan Tiara dan menggenggamnya erat.
Tiara mengangguk, menuruti apa yang di katakan Joko.
Joko menyatukan keningnya. "Jangan pernah merasa takut." ucap Joko mengingatkan Tiara.
"Iya."
Suasana malam gelap itu terdengar rusuh, suara-suara mengerikan begitu jelas membuat Tiara ketakutan dan sedikit gemetar.
__ADS_1
"Tiara!"
Suara Angga terdengar menggema, tampak di dalam penglihatan mereka Angga sedang terluka.
Juga Adit yang kepayahan mengibaskan sorban milik gurunya yang selalu ia bawa.
Dan yang paling membuatnya takut, dia melihat dirinya sendiri sedang di ikat oleh seorang laki-laki paruh baya yang tidak asing, Tomo.
Makhluk-makhluk mengerikan itu semakin banyak berdatangan, ada yang ingin membebaskan Tiara, ada yang malah ingin membunuh Tiara.
Sedangkan Joko bertarung habis-habisan dengan Tomo.
"Tiara Andini."
Suara seseorang memanggil Tiara yang mulai tak sadarkan diri, samar ia melihat seorang yang sangat ia kenal.
"Mas Joko."
Tiba-tiba Joko terlihat ada Dua.
"Sudah." ucap Joko menjauhkan keningnya, menghentikan semua penglihatan seperti sebuah layar di otak mereka.
"Lagi Mas." pinta Tiara masih belum habis penasaran.
"Sudah cukup. Besok kita sambung lagi, Mas takut kamu capek." ucap Joko menyentuh wajah halus Tiara dengan ujung jari.
"Tidak Andini." ucapnya lebih tegas.
Entah apa yang membuat Joko berhenti dan tidak menuruti keinginan Tiara.
"Takut khilaf ya?" Tiara sedikit menggodanya, tak peduli dengan wajah serius Joko.
Joko tersenyum lagi, sungguh Jin seperti dia memiliki nafsu yang berlipat-lipat dari manusia. Hanya saja, dia sadar bahwa dia pun adalah hasil dari cinta yang salah.
Joko tahu persis, andaikan ia memintanya Andini tak akan menolak.
"Tidurlah." tangan hangatnya mengusap mata Tiara.
"Mas!"
Tik
Tik
Tik
Mendadak Hanya suara Jam yang terdengar.
"Mimpi?" ucapnya memutar bola mata ke seluruh ruangan dan tidak menemukan siapa-siapa. "Padahal masih pingin di cium." gumamnya menunjuk keningnya.
__ADS_1
Lalu mengusap bibirnya yang masih terasa halus akibat ciuman Joko yang kira-kira hanya satu menit saja.
Dia tersenyum-senyum sendiri, entah apa yang dipikirkan gadis itu, sehingga bantal guling menjadi sasaran, memeluknya erat, menciuminya dan kemudian tidur dengan posisi tak beraturan.
"Aku sungguh mencintaimu, Tiara Andini." Joko ikut tersenyum-senyum di balik dinding, menyaksikan tingkah gila kekasih manusianya itu.
Diantara bahagia yang hanya sedikit, malah sedihnya semakin membukit.
"Sebentar lagi kita akan berpisah. Dan sungguh aku masih khawatir dengan dirimu." Joko menatap langit yang luas, bahkan di hari-hari terakhir ini Tiara belum juga menunjukkan penguasaan diri atas kekuatan yang luar biasa dahsyat itu.
Joko hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi.
"Asal bukan aku yang kehilanganmu. Aku bersedia hancur asal kau tetap hidup, menikmati waktu yang sangat singkat ini." ucapnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
Dia menoleh rumah yang tak jauh dari rumah Tiara tersebut, tersenyum penuh arti.
"Hanya batu permata putih ini yang bisa mengendalikan kekuatan ayahku yang di pakai laki-laki itu." gumamnya menembus waktu, melihat wajah Tomo yang sedang gusar, memarahi anaknya juga mengamuk di sebuah ruangan. Dia merasa telah kehilangan Tiara, dan tentu saja dia akan menyusulnya segera.
"Tidak ada yang bisa menghalangi aku!" teriak Tomo di perkumpulan Demit berkedok cafe tersebut.
"Berhentilah Ayah, bahkan kau sudah mengorbankan saudara sepupuku. Aku tidak mau kau juga mengorbankan Tiara." ucap Arya mencoba menghentikan Tomo yang mulai berkomat-kamit memanggil semua makhluk peliharaannya.
"Hentikan perasaan bodoh mu itu Arya! Tentu sepupumu berbeda dengan Tiara, dia istimewa. Kau lupa ibumu malah meninggalkan kita demi seorang laki-laki kaya dan berilmu tinggi? Dia sudah menghina ku, dia tidak peduli denganmu. Dia hanya memikirkan diri sendiri, hidup bergelimang harta dan membuang kita yang tidak punya apa-apa."
"Itu sudah takdir Ayah!" sahut Arya.
"Dan laki-laki itu, dia bersenang-senang dengan ibumu. Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya di khianati, di tinggalkan dan dicampakkan. Jadi lebih baik kau diam, nikmati saja harta yang sudah kita miliki." Tomo menatap tajam Arya.
"Aku tidak bisa, aku tidak mau kehilangan Tiara." bantahnya dengan berani.
Tomo tersenyum remeh. "Baiklah, kalau begitu kau ikut pulang ke kampung. Di sana kau akan menyaksikan bagaimana Tiara mu itu sangat mencintai laki-laki dari bangsa Jin. Dia bahkan bersedia mati bersamanya." Tomo tertawa terbahak-bahak.
Sungguh ia sedang bahagia menyaksikan Wajah tegang sekaligus kecewa Arya anaknya.
"Mereka terlalu mesra." Tomo kembali memanas-manasi Arya.
"Aku ikut." ucap Arya kemudian meninggalkan Tomo yang masih tertawa semakin keras.
Pukul 4 pagi, Tiara byngun lebih cepat dari biasanya. Dia merasa panas di bagian dada, haus dan rasanya ingin mandi.
Tiara melangkah keluar, meraih botol air mineral yang tinggal setengah dan meneguk habis.
"Dadaku sesak." ucapnya memegangi dadanya, merasa ada sesuatu yang akan meledak.
"Mbak."
Suara Adit terdengar memanggil.
"Astaghfirullah." Adit sungguh terkejut ketika Tiara menoleh.
__ADS_1