DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Sah


__ADS_3

Raka memegang dadanya, ia berusaha bangkit dengan tenaga yang tersisa. Kakinya terseok-seok mundur tapi bukan kabur. Dia mengatur nafas untuk mengumpulkan kekuatan yang lain.


Tangannya bergerak ke atas, seolah sedang memanggil angin dan membuat daun yang kering itu bergumpal cepat.


Tentu membuat Angga mundur menghindari daun yang berhamburan menghalangi penglihatannya bahkan peci di kepalanya ikut terbang entah kemana.


Angga tak tinggal diam, terlihat santai namun seperti muncul sendiri perisainya kembali menyalakan cahaya.


"Kau pasti mati." geram Raka dengan mata berkilat merah, rambutnya yang lumayan panjang ikut melayang-layang membuat wajahnya semakin menakutkan.


"Raka Berhenti!" Joko berteriak tak bisa mendekat.


"Sudah terlambat." ucapnya maju dengan pukulan angin yang menggumpal.


Suasana mencekam, pohon di sekitar mereka ikut bergoyang kesana-kemari akibat pukulan tenaga dan perisai Angga yang saling beradu.


Beberapa kali bunyi ledakkan terdengar membuat gosong dahan kayu di sekitar mereka.


Ambisi untuk mengalahkan Angga benar-benar menguasai Raka Wijaya, dia tak peduli akibat dari serangan tanpa perhitungan itu dapat membuatnya tak berdaya setelah ini.


"Serang aku Bodoh!" kesal Raka tidak melihat pergerakan Angga.


Tetap pada posisinya, Angga hanya berlindung dalam cahaya yang membungkus dirinya. Membiarkan Raka terus menyerang hingga beberapa saat kemudian,...


Serangan Raka mulai mengendur, tenaganya mulai terkuras habis. Dan akhirnya ia jatuh terduduk lemas.


"Aku terlalu baik jika membiarkan mu tetap hidup." ucap Angga mendekati Raka. Tangannya mengepal, mata hitam pekatnya menatap tajam di bagian dada Raka. Bagian dimana Raka membuat jantung adiknya hitam, matang sempurna.


Joko mendekat berusaha menolong Raka, namun tangan Angga lebih cepat memukul Raka.


Wuzzhhh


Angga hanya memukul udara kosong.


"Eh, ada setan." suara Joko membuat Angga menoleh dimana jin itu melihat.


Tampak seorang perempuan berparas cantik sedang memeluk tubuh lemas Raka. Dia bergerak cepat seperti terbang, lalu menyandarkan tubuh Raka di pohon yang besar.


Matanya menatap tajam Angga dan Joko, langkahnya anggun pelan mendekat.


"Habisi dia Nyi!" perintah Raka.


Tapi malah tersenyum senang, matanya berbinar seketika. "Aku suka pemuda yang masih perjaka."


"Eh."


Joko dan Angga menutup bagian intinya bersamaan.

__ADS_1


"Kok dia lihat yang di situ." Joko jadi serba salah merapatkan kedua kakinya.


"Yang dia sebutkan itu aku." ucap Angga kepada Joko, menyadari sikapnya sedikit berlebihan.


"Aku juga masih perjaka Mas Angga." jawab Joko tak mau ketinggalan.


Tawa melengking wanita tersebut kembali membuat keduanya siaga.


"Kita bermain-main, aku tidak akan menghabisi mu." rayu Nyi Roro Ayu membujuk Angga.


"Aku tidak ada urusan denganmu." jawab Angga tidak menanggapi.


"Tapi aku tertarik, kau sangat tampan." ucapnya lagi menatap setiap inci wajah Angga dari dekat. Dan jarinya terangkat tidak bisa menahan untuk tidak menyentuh wajah tampannya.


Angga mendelik tajam, seketika itu pula perisai putihnya muncul, dan membuat Nyi Roro Ayu terpental jauh.


"Aaakkhhhh..." seperti di serang ia merasa tubuhnya terbakar.


Tak mau kehilangan kesempatan, Angga malah melangkah maju, dia ingin tahu siapa sebenarnya wanita itu.


"Kau siapa?" tanya wanita yang sekarang melangkah mundur.


"Angga." jawabnya seperti sedang berkenalan.


Nyi Roro Ayu menendang Angga agar berhenti mendekat, dia tidak mau mengambil resiko, meraih tubuh lemas Raka dan segera menghilang.


"Siapa dia?" tanya Angga kepada Joko.


"Pulang yuk, capek." Angga berpegang dengan lengan Joko agar bisa pulang secepat kilat.


Joko tersenyum senang, dengan wajah sumringah dia mengangguk berkali-kali. Lalu menghilang menuju rumah Gibran.


*


*


*


Pukul 08:30. Akad pernikahan Angga dan mantan adik iparnya akan dilaksanakan secara sederhana di rumah Bunga.


Teringat ketika dulu Angga yang membawa adiknya untuk menikah di rumah paman Aryo agar Raka tidak mengacau. Kini malah dia yang menjadi pengantin prianya.


Angga sudah duduk dengan jas rapi melekat di tubuhnya yang gagah. Sementara Bunga baru saja keluar dengan riasan sederhana namun terlihat sempurna. Wajahnya yang memang cantik serta tubuh yang bagus membuat Angga hampir tak berkedip di pagi itu.


Dia tersenyum tipis. 'Begini toh rasanya menikah. Setelah berjuang semalam berkelahi dengan Raka, rasanya sakit dan nyeri di seluruh sendi langsung pergi melihat wajah ayu yang sebentar lagi akan menjadi istri.'


"Bisa kita mulai." suara penghulu membuat suasana tertib dan Angga segera berbenah lebih tegap duduk berhadapan dengan Gutama, calon mertua.

__ADS_1


Tangan mereka bertaut erat, memasang telinga dan hati yang mantap. "Saya terima nikah dan kawinnya Bunga binti Gutama dengan mas kawin tersebut di bayar, tunai!"


"Sah!" serentak beberapa orang menyahut, diiringi kalimat hamdalah dari semua orang.


Nafas lega terdengar dari beberapa orang tua di dalam ruangan itu, senyum kedamaian juga menghias setelah kedua orang itu menjadi suami istri.


Jodoh memang penuh misteri, ada yang berjuang hingga mati demi mendapatkan pujaan hati, tapi malah akhirnya ditinggal pergi.


Ada yang memberikan segalanya demi agar tidak di tinggal pergi, tapi akhirnya mundur sendiri.


Dan banyak lagi.


"Sekarang kamu adalah istriku." ucap Angga kepada Bunga yang masih lebih sering menunduk. Angga mengangkat dagu yang selalu bersembunyi itu.


"Iya Mas Angga." jawabnya pelan.


"Tidak usah bersikap seperti itu, aku jadi ikut serba salah." Angga melepaskan wajah Bunga, sesekali juga mengusap tengkuknya sendiri.


"Aku malu Mas." jawabnya semakin membuat Angga dag-dig-dug sendiri.


"Ya wes, kita jalan-jalan saja." Angga meraih tangan Bunga mengajaknya masuk ke dalam mobil. Berharap sore yang cerah itu dapat mencairkan suasana yang masih kaku.


Sementara di rumah yang lain, tubuh yang tak berdaya itu benar-benar membuat iba. Matanya enggan terbuka, tubuhnya malas bergerak, membuat bingung Dewi yang hanya bisa duduk memegang tangan Raka.


"Sudah ku bilang, berhenti mengejar perempuan yang tak lagi mencintaimu." ucap Dewi pelan.


Raka membuka sedikit matanya.


"Sekarang dia sedang bahagia, menikah dengan orang lain dan kamu malah menderita tak berdaya." sambung Dewi lagi.


"Besok jadwalku operasi, dan aku harus segera pulang ke rumah Ibu untuk bersiap. Maafkan Dewi yang tak bisa mengurus Mas Raka. Aku akan meminta Bibi tetangga mengurusi kebutuhanmu."


Raka meraih tangan Dewi, tapi tak juga bicara.


"Aku akan melahirkan anak kita Mas. Dan dia terlalu besar untuk dilahirkan secara normal."


Tampaknya dia sudah bersiap, bahkan tas yang biasa di bawa sudah siap di atas meja.


Raka memandanginya dengan rumit. "Maaf." lirihnya.


Dewi tersenyum sedikit, lalu memeluk Raka. "Aku pergi ya Mas, semoga kamu cepat pulih dan menyusul untuk melihat anak kita."


Entah mengapa ucapan terakhir Dewi membuat hati Raka terasa nyeri.


Senja yang mulai menghilang, seringkali merubah suasana hati seseorang. Tadinya senang dan bahagia, mendadak menjadi sedih dan teringat dosa.


Tadinya penuh dengan tawa, sombong dan merasa hebat, mendadak menjadi ingat Tuhan dan takut mati.

__ADS_1


Begitulah alam merubah hati manusia, sesuai kehendak yang maha kuasa, Allah yang maha membolak-balikkan hati.


"Toloooooongggg.....!!! teriakan panjang dan ketakutan terdengar dari rumah besar itu, seorang wanita tua berteriak kencang.


__ADS_2