DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Minta tolong dari Raka


__ADS_3

"Itu...itu. Aku tidak_"


Angga sudah memegang kening Joko lebih dulu tanpa sempat ia menghindar. Mata Joko membulat sempurna karena di luar dugaan Angga dapat melihat apa yang dipikirkan Joko yang sedang gugup.


"Mas Angga!"


Dia semakin terbelalak dengan paksaan Angga, bahkan tak mampu melawan sama sekali.


Samar terlihat bayangan saat Gibran tersenyum manis dengan kumisnya yang tipis, Beberapa kejadian terlewati dengan cepat bak film yang di singkat. Dia sempat terluka karena berkelahi. Laki-laki berkulit putih kekuningan itu terlihat berbaring di rumah sakit bersama Bunga juga Raka dan seorang wanita yang sinis terhadap Bunga.


Dari situ ia melihat wajah orang yang ingin Bunga dan Tiara segera mati. Tak hanya itu, harusnya seringai licik Raka sudah bisa di lihat. Tapi tak ada yang menyadari termasuk Joko yang terlalu sibuk bermain-main dengan keponakannya.


Tak sampai disitu, kegelapan yang mencekam di hiasi purnama sempurna. Gibran berjalan keluar dari rumahnya, sempat saling menoleh dengan Bunga, lalu berbalik mengecup kening anak dan istrinya dengan senyum manis.


Kesedihan mulai terasa, langkahnya ragu, nafasnya berat namun harus tetap mengikuti rencana sekelompok warga.


Kemudian mereka berjaga-jaga dan tanpa sadar hanya berdua dengan Raka.


Berkelahi, terlihat Raka menyingkir dan hanya fokus dengan dua orang yang satunya malah tak menyerang. Sedangkan Gibran harus berhadapan dengan serangan membabi buta dari tiga orang yang sepertinya memiliki ilmu yang lumayan.


Hingga akhirnya Gibran terpojok, Raka juga terpojok.


Tapi malah empat orang menyerang , dan Raka samasekali tak melawan dengan senyum tipis yang penuh arti.


Gibran di pukul berkali-kali.


Dia jatuh.


Dia terluka dalam.


Dia ingin melawan tapi kembali di pukul.


Joko Datang dan berusaha menolong, baru setelah kejahatan Raka terlihat jelas di mata Gibran yang sudah sekarat.


Sudah terluka, tak berdaya. Lalu dibiarkan saja.


Dan tak terduga Raka juga memiliki ilmu yang bisa menghabisi mereka dengan sekali serang.


Tinggallah Gibran yang menyedihkan...


Tak berdaya, kemudian kembali di pukul dengan sengaja di arahkan tepat di jantungnya.


Dia meninggal di bahu Joko, dan kemudian dilempar seperti karung tak berguna.


Mata hitam pekat milik Angga meneteskan Air mata. Tangannya mulai mengendur melepaskan Joko tanpa menggosok hidung yang terasa pedas.


"Joko sudah berusaha." jawab Joko menatap sendu Angga yg tertunduk.


Hening sejenak, mengatur nafas yang sesak Angga kemudian duduk di lantai dengan melamun.

__ADS_1


Kemudian ia beranjak keluar, tanpa menoleh ia langsung menuju mobilnya.


"Mas Angga mau kemana?" Joko masih setia mengekor.


Dia enggan menjawab, hanya Joko yakin jika Angga akan menuju Toko Tiara, milik adiknya.


"Jangan mengamuk Mas Angga, Joko ngeri." Jin tampan tersebut berusaha mencegah.


Angga tetap diam saja, menyetir lurus dengan tatapan mengerikan. Membuat Joko semakin bingung.


"Gimana ini?" Joko menggaruk kepalanya berkali-kali.


Sudah pukul Lima sore, Angga sengaja menunggu Raka yang tak juga keluar dari tokonya, sedangkan Yanto saja sudah menutup toko dan pulang.


Senja berwarna merah, cahaya matahari seolah malas meninggalkan Bumi bagian timur ini. Namun terlihat menyeramkan ketika mata bertemu cahaya barat tersebut, silau dan menyakitkan.


Angga keluar dari mobilnya, sepertinya pula pemilik toko sudah tahu akan ada tamu tak diundang.


"Keluarlah Raka Wijaya." ucap Iyan pelan namun yakin di dalam sana dapat mendengarnya.


"Sebaiknya pulang Mas Angga, ini sudah Maghrib." ucap Joko membujuk Angga walaupun tahu akan sia-sia.


"Pergilah." usirnya kepada Joko.


Raka keluar dengan jaket mahal sudah terpasang rapi di tubuhnya.


"Ada apa? Bukankah tadi pagi kau begitu sombong sudah bisa jalan-jalan dengan Bunga?" Raka tersenyum mengejek.


"Aku memang tidak suka. Tapi jangan lupa bahwa kami pernah sangat dekat, bahkan seranjang bersama." Dia tertawa senang.


Hati yang memang sudah panas itu semakin terbakar, Angga menatap tajam Raka. Secepat kilat kepalan kokohnya menyambar dan membuat bibir Raka berdarah.


"Kau!" Raka menatap nyalang sambil memegangi bibirnya yang berdarah. Namun kemudian ia malah tertawa terbahak-bahak.


Angga mengeratkan giginya, sepertinya dia butuh kesabaran lebih dalam menghadapi Raka. 'Begini ternyata rasanya adikku sangat tersiksa batin dan raganya. Pintar sekali dia membuat panas hati orang.'


"Kau cemburu?" Raka kembali tertawa terbahak-bahak. "Kau ingin memiliki janda adikmu, hah?" Dia benar-benar tertawa sampai puas.


Angga menarik nafas. "Kalau iya? Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan Bunga, seperti yang diucapkan adikku padamu malam itu. Aku datang untuk menghalangi mu."


"Tidak tahu malu!" kesal Raka.


"Tentu saja tidak, aku masih bujangan." Angga tertawa remeh.


"Ah, aku lupa kalau dirimu adalah bujangan yang tak laku!"


"Dari pada menikah tapi pikiranmu kemana-mana?" balas Angga semakin meremehkan Raka.


"Brengsek."

__ADS_1


Kali ini Raka yang terpancing, nafasnya mulai cepat dan tatapan ingin membunuh.


"Gibran tidak masalah harus berbagi ranjang dengan ku." Sambung Angga lagi.


Kembali mengelap bibirnya yang asin, Raka menyerang Angga di remang menjelang adzan itu.


Perkelahian terjadi. Dengan gerakkan gesitnya Raka belum juga berhasil memukul Angga. Bahkan terbilang kewalahan dengan gerakan cepat pemuda yang sedikit lebih tua darinya.


Sejenak saja, Angga tak cukup sabar melayani Raka yang terlihat rabun dengan gerakan cepatnya.


Angga memukul Raka berkali-kali, membuatnya jatuh terduduk dan memukuli wajahnya.


Kemudian Raka berhasil menghindar melakukan serangan balik, tangannya bergerak mengerahkan tenaga dalam penuh, merasa sulit menjatuhkan Angga dengan pukulan biasa. Dengan hati yang di penuhi emosi, tak terima wajahnya perih dipukuli Angga, dia menyerang menggunakan ilmu andalannya.


"Aduh bahaya." suara Joko terdengar di telinga Angga.


Tentu ia tak tinggal diam, tidak punya ilmu yang sama, tapi melirik pasir yang tersedia di belakangnya, tumpukan yang tinggi di depan toko bangunan itu mendadak menjadi sasaran angin yang keluar dari tangan Angga. Dengan sangat cepat melemparkannya tepat ke wajah Raka.


"Aaargghhh..!"


Ilmu yang tadi sudah di ujung jari, mendadak melesat masuk lagi. Tangan Raka


mengusap wajahnya yang di penuhi pasir dan sebagain butiran halusnya masuk ke dalam mata Raka.


"Angga!" marahnya berteriak keras.


Bukanya mendapatkan jawaban, malah mendapat pukulan membabi buta dari Angga Syailendra.


"Dia bisa mati!" teriak Joko menutup telinganya tak mau ikut campur tapi berusaha mencegah.


Angga mengakhiri pukulan yang cukup menguras tenaga, namun lumayan memuaskan sedikit kemarahannya.


"Semoga kau buta, dengan begitu tidak bisa melihat Bunga." ucap Angga tak peduli.


Dia melenggang pergi masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Raka yang menjerit-jerit kesakitan.


"Tolong..." teriaknya berkali-kali.


"Arka!" Joko segera mendekatinya.


"Ngapain kamu nolongin dia?" kesal Angga mengeluarkan kepalanya di kaca mobil yang terbuka.


"Dia minta tolong Mas Angga." jawab jin tersebut kemudian menghilangkan pasir di mata Raka.


"Itu teriakan minta tolong pertama, harusnya tidak kamu tolong." Angga segera melaju, tak peduli apa yang terjadi.


"Sial!" teriak Raka lagi merasa sakit dan belum bisa membuka mata.


Sementara Angga terus melaju dengan pikir masih kacau, namun untuk membunuh?

__ADS_1


Angga tersenyum penuh arti.


__ADS_2