
Adit sangat terkejut. Wajah Tiara yang biasanya teduh, lembut dan halus kini terlihat terlihat menakutkan dengan mata menatap tajam. Bola matanya berubah kebiruan.
"Mbak kenapa?"
Tiara menggeleng, bahkan berkedip pun masih terlihat aneh.
Adit mendekati kakak perempuannya dengan bingung, walaupun dia tahu Tiara memiliki kelebihan yang akan sempurna dalam waktu dekat, tapi dia tentu tidak paham harus bagaimana dengan perubahan Tiara.
"Mbak sesak, ga bisa nafas." ucap Tiara terengah-engah.
"Adit harus bagaimana ini?" ucapnya memeluk bahu Tiara.
"Dit."
"Iya Mbak."
Adit menoleh kanan kiri, dia mencari seseorang yang bisa membantu, tepat sekali Joko selalu ada berjaga di luar rumah rumahnya.
"Mas Joko."
Adit tak punya pilihan, dia hanya memiliki Joko yang penuh dengan pengetahuan. Sedangkan Angga tak mungkin pulang karena jarak Desa dan pesantren tempat kakeknya lumayan jauh.
"Biar aku bantu." ucap Joko meraih bahu Tiara yang duduk lemas. Tak lupa satu tangannya meraih tangan Adit dan berpindah tempat.
"Waduh, ini dimana?" Adit merasa linglung dengan perpindahan tempat yang begitu cepat.
"Ini cukup jauh dari Desa." jawab Joko kemudian meminta Tiara duduk di atas batu.
"Mas." pelan suaranya semakin sesak.
"Ya. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." ucap Joko pelan.
Sementara Adit ikut duduk di samping Tiara berhadapan dengan Joko.
"Tarik nafas dan ikuti gerakan ku." pintu Joko lagi pelan.
Tiara mengangguk menuruti apa yang di katakan Joko.
Keduanya duduk bersila saling berhadapan, tangan Joko terangkat begitu pula Tiara mengikutinya. Mata keduanya saling berhadapan berfokus pada wajah masing-masing. Hingga gerakan lambat tangan keduanya menyatu.
"Dorong rasa yang membuat sesak itu keluar." perintah Joko membimbing Tiara dengan lembut.
Tiara mengangguk, mencoba fokus sesuai dengan apa yang dikatakan Joko. Namun ternyata tak semudah itu, bahkan sangat sulit bagi Tiara untuk melakukannya.
"Dorong dengan tenaga dalam! Niatkan dan pusatkan pikiran." ucap Joko lebih tegas, tatapannya menuntut agar Tiara cepat melakukannya.
Tiara mengulang dan mengulang lagi hingga hutan yang rimbun itu mulai remang terlihat cahaya, fajar akan segera tiba.
"Dorong sekarang atau kita akan mati dengan kegagalan." Joko sedikit memaksa.
"Aku tidak bisa!" Tiara sudah lelah berusaha, dia benci ucapan-ucapan Joko yang terkadang membuatnya marah.
"Harus bisa!"
"Aku tidak bisa! Kau jangan memaksa aku Mas!"
__ADS_1
"Kau memang harus dipaksa, jika tidak maka akan lemah selamanya."
"Aku memang lemah!" teriak Tiara.
"Kalau begitu berubah, aku tidak bisa menjagamu selamanya!" Joko sedikit membentak.
"Mas."
Sungguh itu bentakan pertama yang di dengar Tiara dari Joko yang selalu melindunginya.
Entah mengapa hatinya sakit, sangat sakit bahkan belum pernah ia merasakannya.
Joko menatap tajam, matanya berkilat menakutkan.
"Mas!" Tiara beringsut, berusaha berdiri dan menghindari Joko.
Namun terlambat, Joko mencengkeram erat pergelangan tangan Tiara dan menahannya.
"Mas Joko berhenti." dia membentak sambil menangis.
Joko tak menyahut, ia hanya terus menatap Tiara dengan kilatan mata berubah-ubah.
"Aku kecewa." ucap Joko kemudian melepaskan tangan Tiara dan pergi melangkah cepat.
"Mas Joko, aku ingin pulang." Tiara berteriak. "Mas Joko!" dia berteriak berkali-kali tak juga di dengar.
Tiara menjerit sekencang-kencangnya meluapkan rasa yang bercampur aduk, marah, benci kecewa, semakin menambah sesak dadanya.
"Aaaaarrrrrgggghhhhh!"
Tiara terduduk masih diliputi amarah, tanpa peduli Adit yang hanya melongo sejak tadi.
"Hebat!" gumam anak laki-laki itu nyaris tak berkedip.
"Aku benci kamu." kesalnya masih tak juga berhenti, emosinya sulit di kendalikan.
"Bagus."
Suara Joko terdengar begitu dekat, tepat di belakang ia duduk dengan lutut.
Tiara menoleh tajam, matanya tak lagi sendu.
"Eh, itu tadi Mas enggak serius." Joko tersenyum kaku.
Tiara berdiri dengan nafas naik turun penuh amarah, berjalan mendekati Joko yang mulai mundur sedikit demi sedikit.
"Mas Bercanda, bener. Sumpah!" Joko mengangkat dua jarinya.
Tiara mengusap air matanya dengan kasar, tak lupa ingusnya yang ikut mengalir.
"Andini, Sayang. Mas minta maaf." Joko berusaha membujuk.
"Aku tidak suka di bentak." kesal Tiara.
"Enggak, Mas enggak serius tadi. Percayalah, cinta Mas Joko hanya untuk Andini seorang." Joko meraih tangan halus Tiara.
__ADS_1
"Aku tidak mau."
Tiara menyerang Joko dengan begitu cepat, tangan kecil yang tadinya menggemaskan tidak bertenaga kini menjadi kuat dan berisi tenaga.
"Andini Sayang, Mas minta maaf!" Joko berusaha mencari celah untuk mengunci gerakkan Tiara kekasihnya.
Adit ikut mendekati Tiara, dia yakin sekali Tiara tidak seperti biasanya.
Hingga sejenak kemudian Joko berhasil menangkap tangan kecil yang mengamuk itu dan menguncinya.
"Lepas! Aku mau pulang."
"Mas antar biar cepat." Joko membujuknya lagi.
"Aku sudah tidak butuh. Aku bisa sendiri."
"Tapi ini jauh." Joko menunjuk hutan di hadapan mereka.
"Ini salahmu, kenapa membawaku jauh di sini!"
"Karena di sini aman, sedangkan di rumah sudah tidak aman." jelas Joko sedikit ragu.
Tiara menoleh curiga pada laki-laki yang mengunci tangannya di belakang.
"Tomo sudah datang." jelas Joko singkat.
Tiara menoleh Adit yang sejak tadi hanya diam. Anak laki-laki itu mengangguk.
"Aku tidak peduli." kesalnya masih merajuk.
"Kalau begitu Mas akan katakan pada Adit juga Ayahmu tentang semalam, kita sudah..."
Bisikan Joko sukses membuat Tiara berhenti.
Joko tersenyum menang. "Kita pulang." Ucapnya tersenyum nakal, mengecup tangan halus Tiara dan menghilang bersama.
"Kalian darimana?" Bunga terlihat heran, pintu masih tertutup rapat tapi kedua anaknya malah sudah berada di luar.
"Ada keperluan Bu." Adit menjawab sambil menggaruk kepalanya.
"Ya sudah, masuk! Sholat." perintah Bunga.
Sekilas Tiara menoleh rumah yang berseberangan itu, pintunya sedikit terbuka dengan lampu menyala di dalam sana. Benar kata Joko, Tomo sudah pulang.
Lalu bagaimana dengan Arya? Tiara menoleh beberapa kali, bahkan dia tidak tahu wajah Arya sahabat masa kecilnya seperti apa.
Sementara di rumah itu, Arya mengintip dari tirai jendela. Melihat sosok yang amat cantik gadis pengisi hatinya.
"Kau lihat, jin itu mengantar dan menjaga rumahnya." Tomo mengejutkan Arya.
Dia hanya bisa menunduk, tidak tahu harus berbuat apa agar bisa menyelamatkan Tiara.
"Aku masih saja seperti dulu, lemah, penakut, dan pengecut." gumam Arya.
Sedang ayahnya tertawa mengejek, sambil mengelus-elus batu berwarna merah delima di jari manisnya.
__ADS_1
Batu itu berkilau hingga menembus kaca jendela. Dapat di lihat Joko bahwa Ayahnya terkurung dan tersiksa. Tomo menggunakan kesaktian ayahnya tersebut untuk menguasai para makhluk berilmu rendah untuk memenuhi keinginannya.