DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Kedatangan makhluk ghaib


__ADS_3

Sore di malam Jum'at itu, Adit dan Bunga keluar untuk membeli martabak manis tak jauh dari rumah kontrakan kedua anaknya. Tepatnya tak jauh dari Cafe tempat Tiara dan teman-teman belajar.


"Beli dua kotak pak." pinta Bunga seraya merangkul Adit yang dari tadi menoleh kanan dan kiri.


"Rasa apa sajak Mbak?" tanya pedagang kaki lima tersebut.


"Coklat satu." pinta Bunga yang kemudian diangguki penjual martabak tersebut.


"Jangan lama-lama ya Pak!" Adit mendekati tukang martabak tersebut.


"Iya adik tampan." jawab penjual martabak menyukai Adit yang memang tampan dan putih bersih seperti ibunya.


"Sabar Dit, memangnya kenapa terburu-buru?" tanya Bunga kepada anak laki-lakinya, dari tadi matanya tertuju pada pohon rimbun halaman cafe.


"Enggak apa-apa Bu, sebentar lagi Maghrib." ucapnya, padahal masih ada tiga puluh menit lagi.


Hingga tak berapa lama kemudian, mereka sudah mendapatkan martabak pesanan mereka.


"Ayo Bu." Adit menggandeng lengan ibunya, tidak mau berlama-lama di sana.


"Ada apa Dit?" Bunga sungguh heran dengan sikap anaknya yang tidak biasa.


Adit terus berjalan dengan langkah agak cepat, hingga sudah berada di dalam rumah mereka.


Adit langsung menutup semua pintu dan jendela, membuat suasana di dalam rumah itu mencekam tiba-tiba.


"Ada apa sih Dit?" Tiara kesulitan membuka kotak martabat tersebut karena semua pintu dan jendela di tutup, dan Lampu belum dinyalakan.


"Enggak ada apa-apa Mbak." Adit menyalakan lampu dan ikut duduk menyantap martabat hangat tersebut.


Makan sedikit terburu-buru, kemudian semuanya langsung berwudhu kecuali Tiara. Gadis berusia hampir 18 tahun itu hanya duduk dan terus makan dengan begitu santai.


Adzan berkumandang merdu, pelan terdengar dari jarak beberapa meter itu membuat ketiga orang tersebut menyiapkan diri untuk segera sholat.


"Allahu Akbar." Takbir pertama terdengar dari suara Angga sebagai imam.


Tiara mengakhiri makan makanannya, menyimak bacaan sholat yang terdengar dari ayah sambungnya tersebut.


"Allahu Akbar."


Tiara masih menyimak, tapi detik berikutnya lampu yang menyala itu jadi berkedip, gelap dan terang bergantian.

__ADS_1


"Astaghfirullah, Ayah." panggilnya begitu saja, sungguh terbiasa memanggil Ayah.


Sholat terus berlanjut dengan keresahan, Bunga kehilangan konsentrasi dalam sholatnya mendengar panggilan Tiara yang sedang takut.


"Assalamualaikum warahmatullahi.


Disambung Adit dan Bunga. Namun kemudian hanya satu salam yang terucap oleh Bunga, lantaran Tiara sudah tertidur lunglai di Sofa ruang tamu tersebut, tepat dibelakang mereka sholat.


"Tiara, Sayang." Bunga meraih tubuh Tiara yang benar-benar tak sadarkan diri, lemas dan pucat.


"Mbak." panggil Adit tak terkecuali Angga ikut khawatir, lampu masih berkedip hebat.


Suasana mencekam itu tak bisa berhenti, ditambah pula lolongan anjing tak mau kalah terdengar semenjak adzan berkumandang.


"Mbak, bangun." Adit terus menepuk wajah kakaknya tersebut.


Angga tak bisa tinggal diam dengan kejadian itu, ia segera keluar dan melihat apa yang terjadi sehingga membuat rumahnya tak nyaman.


Remang, gelap yang belum terlalu itu memperlihatkan berbagai macam penampakan, bahkan terus berdatangan berasal dari pohon besar di halaman cafe.


"Astaghfirullah." Angga bergidik ngeri melihat beberapa makhluk datang seolah sedang diundang.


Salah satunya terlihat berada di jendela kamar Tiara, seolah mencium aroma yang menyenangkan, dia mengendus-endus celah jendela di kamar itu.


"Grrrgghhhhh...." tatapannya tajam, tak mau dilarang, rambutnya lebih rapi daripada yang lain, dari postur tubuhnya dia berjenis kelamin perempuan.


Angga melempar batu kearah makhluk tersebut, sengaja membuatnya marah dan pergi dari jendela kamar anak gadisnya.


"Grrrhhhhh...." Dia berlari menyerang Angga, tak ketinggalan yang lainnya ikut menyerang dan ada pula yang malah ingin membuka jendela kamar Tiara.


Perkelahian tak mungkin urung, Angga kesulitan melawan mereka yang begitu banyak, sementara Adit belum keluar, lantaran harus menjaga Tiara dan menahan jendela kamar kakaknya tersebut.


"Ya Allah." ucap Adit menggeleng ketika mengintip apa yang terjadi diluar, mau tak mau ia ikut keluar, membantu ayahnya.


Angga terus saja melawan mereka, tak sekali dua kali tersudut karena di keroyok lima makhluk ghaib sekaligus. Sedangkan Adit tak bisa jauh dari pintu, menghalangi makhluk yang ingin menerobos masuk.


Tapi tak berapa lama kemudian Joko datang membantu, ikut berkelahi dengan wujud manusia yang begitu gesit, dia sungguh terlihat tampan di tengah perkelahian menjelang malam itu.


"Grrgghhh.. Bodoh, harusnya kau ada di pihak kami!" ucap salah satu makhluk berjenis kelamin perempuan yang berkelahi dengan Joko.


"Jangan bermimpi, dia kekasihku." ucap Joko dengan sangat bangga.

__ADS_1


"Aaarggghhh..." Makhluk tersebut terlihat marah, tentu saja penampilan dan ilmu tinggi yang dimiliki Joko membuat makhluk tersebut juga ingin memiliki.


"Kalau itu sudah benar, dia bisa dijadikan kekasihmu." Angga menyahut setelah membuat dua makhluk menyeramkan menyerah.


"Joko tidak mau." jawabnya malah bergidik ngeri.


"Dia cantik Mas Joko." ucap Adit ikut menyahut setelah menendang salah satu makhluk ghaib itu hingga menghilang seketika.


"Tiara Andini yang paling cantik." jawabnya menepuk tangannya usai berkelahi.


Angga menoleh tajam, tidak suka anak gadisnya di jadikan pembicaraan Jin tampan bernama Joko.


Adit terkekeh melihat Joko berpura-pura tidak tahu.


"Sana pergi!" usir Angga lagi.


Joko hanya tercengang dengan keadaan di rumah itu. Lalu mendekati jendela kamar Tiara.


"Pantes." ucapnya dengan mata bersinar, seperti sedang lapar dan melihat makanan.


Sementara Adit segera masuk dan mengambil keranjang pakaian kotor milik Tiara. Bau mnyengat tak ayal mengundang dahaga dari luar rumah. Anak perempuan biasa saja memiliki bau kotoran khas yang mengundang. Apalagi Andini yang memiliki keistimewaan.


Adit menyiram pakaian tersebut dengan air hingga banyak, kemudian menghembus nafas lega.


Dia sendiri tidak tahu bagaimana menjaganya kakaknya, keistimewaan yang tercium makhluk ghaib tentu akan mengundang kerusuhan-kerusuhan selanjutnya.


"Jangan sampai Mbak Tiara jatuh ke tangan mereka, jika tidak maka semua makhluk ghaib akan berhamburan di muka bumi. Manusia akan berada dalam kesulitan mengendalikan diri jika makhluk yang jahat memanfaatkan kelalaian manusia yang hidup di dunia nyata ini."


"Apakah Ayah harus mencarikan jodoh segera untuk Mbak mu?" ucap Angga mendengar anaknya bergumam.


"Sebaiknya seperti itu Ayah, Mbak Tiara akan terus sakit-sakitan dan lemah."


Keduanya jadi berpikir, tak terkecuali Angga yang tidak tahu harus bagaimana.


"Tapi, jodoh tidak bisa dipaksakan sebelum waktunya." ucap Angga kemudian.


"Panggil saja supaya mendekat." sahut Adit dengan wajah polosnya.


"Hush, itu ilmu perdukunan." Angga menegur Aditya yang seperti sedang tidak tahu harus bagaimana. Atau mungkin dia tahu ada banyak masalah setelah ini.


"Nanti Ayah pikirkan." ucapnya kemudian, berjalan lemas memikirkan anak gadisnya yang juga sedang tersiksa lahir dan batinnya.

__ADS_1


"Takut Bu." ucap Tiara merengek.


Terdengar dari luar, Joko ikut meringis mendengarkan rintihan kekasihnya tersebut. Dapat Joko rasakan betapa takutnya Tiara melihat makhluk yang menyeramkan itu, dia belum siap.


__ADS_2