DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Siapa dia?


__ADS_3

Hatinya menjadi sendu ketika hanya bisa melihat sekilas lalu pergi. Tak seperti biasanya dia akan selalu menemani hingga Adit yang mengusir.


"Mas Joko dimana?" gumamnya terdengar sedih.


"Ndin?" Rendy yang baru saja kembali langsung menghampiri Tiara.


"Aku mau pulang saja." pinta Tiara terlihat lemas.


"Tapi kita belum makan?"


"Aku mau pulang Rend!" Tiara sedikit memohon, tapi menoleh di dalam sana, ia ingat masih ada dua temannya dan juga buku miliknya.


"Ya sudah. Biar nanti aku kasih tahu Tari."


"Kita ajak pulang saja, di dalam tidak nyaman." pintanya lagi setengah merengek.


"Iya." Rendy membawa Tiara masuk ke dalam mobilnya sambil menghubungi Tari dan Dika di dalam.


"Kita pulang sekarang." ucap Rendy tanpa basa-basi.


"Kenapa pulang?" suara kedua orang itu terdengar protes.


"Andini tidak nyaman." lalu menutup ponselnya.


Tiara menyandar lelah, matanya masih tak lepas dari halaman cafe yang dia rasa Joko masih ada di sana.


Tak berapa lama kemudian Tari dan Andika datang membawa buku-buku milik Tiara, tak lupa membungkus makanan yang sudah mereka pesan.


"Kan udah di pesan." ucap Tari tahu arti tatapan Tiara pada kotak makanan di tangannya.


Mobil mulai melaju pelan, mengingat jarak hanya beberapa meter saja.


"Mas Joko!" gumam tiara menoleh halaman samping cafe tersebut, terlihat sekilas laki-laki paruh baya itu sedang memarahi Joko yang hanya menunduk, menyandar di pagar besi Cafe tersebut.


"Siapa?" tanya Rendy penasaran dengan apa yang baru saja diucapkan Tiara.


Namun tak mendapat jawaban, lantaran pikiran gadis itu masih tertinggal di cafe.


"Mampir dulu ah...!" Tari turun lebih dulu, membawa kotak makanan di tangannya.


"Andini capek, ngapain kamu mampir?" kesal Dika kepada gadis yang sering mengagumi Aditya yang masih kecil.


"Tidak apa-apa, ayo masuk." Tiara mengajak semuanya.


Tampak Adit sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tampan menyambut, langsung menatap kakak perempuannya.


"Assalamualaikum." Tiara melewati Aditya.


"Wa'alaikum salam." jawab Adit menatap teman kakaknya satu-persatu.


"Dit, makan yuk!" Tari merangkul bahu Aditya yang hanya tersenyum kaku.


"Adit sudah makan Mbak." jawabnya sopan.

__ADS_1


"Kalau begitu kamu temenin Mbak makan." dia tidak mau di tolak, tetap meminta Adit duduk di sofa bersamanya.


Tari membuka kotak makanan tersebut, memperlihatkan makanan cafe tersebut sungguh menggoda perut yang lapar. Belum lagi aroma bumbu khas yang jarang di temui di rumah, Tari mulai mengambil potongan daging.


"Jangan di makan Mbak!" Adit meraih kotak makan itu dari pangkuan Tari, juga potongan daging yang sudah di tusuk memakai sendok garpu plastik tersebut.


"Kenapa Dit?" Tari masih memandangi makanan dengan menelan air liurnya.


"Ini tidak boleh di makan." ucap Adit lagi.


"Tidak boleh bagaimana?" Tiara ikut bertanya.


"Kalau enggak percaya kasih aja ke kucing." Adit menunjuk ada kucing tetangga sedang bermain di depan pintu rumahnya.


Tari yang lapar dan penasaran pastinya tak sabar dengan sikap Adit. "Biar aku yang memberikan sama kucing."


Tari memberikan potongan daging tersebut kepada kucing.


Detik-detik berlalu lambat ketikan lima orang tersebut melihat kucing yang hanya mencium daging tersebut.


"Makan dong!" Tari menyodorkan lebih dekat kepada kucing tersebut.


Bukannya menggigit dan menjilat malah kucingnya segera pergi.


"Kok enggak mau, bukannya kucing makannya daging dan ikan?" gumam Tari lagi.


"Kenapa Dit?" tanya Tiara lagi.


"Pulang yuk, takut." Tari jadi berpikiran yang aneh-aneh.


"Ya sudah, kita pulang dulu ya Ndin." Rendy berpamitan kepada Tiara.


"Iya, maaf ya karena jadi kacau makan siang kita." Tiara merasa dia yang bersalah, padahal mereka tidak tahu apa yang tadi terjadi.


"Tidak masalah, lain kali kita akan mencari tempat makan yang lain." Rendy sedikit memahami situasi yang kurang baik tersebut.


Yang terjadi hari-hari terakhir sangat mengganggu, tak hanya Tiara sendiri yang melihat hal-hal aneh, tapi sudah merembet kepada teman-teman dan orang sekelilingnya.


'Joko'


Dia teringat Joko yang hari ini sangat berbeda, ada hubungan apa Jin yang belakangan begitu mesra padanya malah tiba-tiba menjadi sosok yang penakut, terlihat sangat tertekan ketika laki-laki paruh baya itu berbicara, hanya menunduk mendapat ocehan sepertinya.


"Kenapa Mbak?" tanya Adit menatap wajah bingung Kakaknya.


Tiara jadi ingin bertanya. "Dit, tadi Mbak lihat Mas Joko sedang di marahi pemilik Cafe." ucap Tiara berpikir jika adiknya akan lebih tahu.


"Pemilik Cafe?" Adit menautkan alisnya.


"Heem." Tiara mengangguk.


Adit berpikir lagi. "Perasaan Mas Joko tidak kemana-mana." Adit menunjuk gudang tetangga yang tak jauh dari belakang rumahnya, dan Joko sedang beristirahat di bangku kayu, sepertinya tak bergerak dari tadi pagi mereka pergi.


Tiara melongo melihat jin laki-laki itu sedang tidur. Tapi di sisi lain ia penasaran, sangat jelas laki-laki yang memberinya uang di atas meja cafe adalah Joko.

__ADS_1


Tiara beranjak mendekati pagar belakang tersebut, setengah berbisik ia memanggil Joko.


"Mas Joko." panggilnya hingga beberapa kali.


"Dia istirahat Mbak, Ayah akan sampai sebentar lagi." jelas Adit memang begitu yang dikatakan Angga, menunda beberapa hari kedatangannya semenjak Joko bisa dipercaya.


"Dit, tadi Mbak benar-benar melihat dia di cafe!" Tiara masih berusaha menjelaskan. Kesal tak di dengarkan Joko, Tiara menatap tajam jin tampan tersebut, dan ternyata ampuh membuat ia segera bangun.


Kedua kakak beradik itu saling memandang, kemudian masuk ke dalam rumah agar pembicaraan mereka tidak di dengar orang.


"Ada apa?" tanya Joko mendekati keduanya.


"Geser!" Adit menengahi tempat duduk keduanya.


"Apaan sih Dit, Mbak mau bicara serius!" kesal tiara lagi berpindah menghadap Joko yang memilih berdiri didekat dirinya.


Joko terkekeh geli.


"Lagian sudah Adit bilang itu bukan Mas Joko!" kesal Adit.


"Tapi aku melihatnya! Mataku masih normal." Tiara kembali menatap Joko.


Anehnya malah jin itu cuma tersenyum tipis, entah apa artinya dari senyuman kecil tersebut, yang pasti Tiara tidak mendapatkan jawaban.


"Dia siapa?" tanya Tiara dengan nada selidik.


Dan sejak kapan pula jin seperti dia menjadi gugup.


"Jin?" tanya Tiara meminta Joko menjawab, malah dia menggeleng.


"Demit?" Tiara tak juga menyerah, dan lagi Joko masih menggeleng.


"Terus apa?" kesal Tiara lagi.


"Joko serba salah ini." ucapnya menautkan jarinya.


"Serba salah bagaimana?" Tiara berdiri mendekati Joko, semakin detik langkahnya maju dan semakin dekat.


"Itu, di sana banyak makhluk ghaib, tapi juga ada manusia. Bingung cara menjelaskannya."


"Terus ngapain Mas Joko ngasih uang, lalu pergi ketakutan?"


Joko menatap wajah cantik yang masih terlalu ingin tahu itu.


Sejenak diam, lalu tersenyum lembut dan mendekatinya dengan pelan. "Nanti kamu akan tahu jika sudah waktunya." ucap Joko pelan sekali.


"Apa maksudnya?" Tiara masih tak tahu, tapi ada kenyamanan saat laki-laki itu memberi pengertian, juga kesabaran yang Tiara pasti akan menurutinya.


"Manusia ya manusia, Jin ya Jin. Tetap ada jarak dan perbedaan, Andini pasti paham suatu saat nanti." Joko mengusap anak rambut yang basah karena keringat di kening Tiara.


"Ayah datang!" teriak Adit menatap tajam.


Joko langsung pergi dalam sekejap mata, tak mau mengambil resiko berhadapan dengan Angga. Apalagi baru saja telunjuknya menyentuh anak rambut gadis yang memiliki dua laki-laki hebat itu, sudah pasti keduanya bisa menghanguskan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2