DENDAM Cinta Dua Dunia

DENDAM Cinta Dua Dunia
Joko Andini


__ADS_3

"Tiara..." suara halus Arya mendadak menjadi melodi di hati bocah perempuan itu, hingga langkah kaki kecil itu kembali melangkah pulang rasa yang berbeda itu sungguh menyisa walaupun dia tak tahu apa.


"Tiara dari mana?" suara Angga terdengar dari rumah ayahnya tersebut.


"Dari mengambil buku Paman." jawabnya memperlihatkan buku bergambarkan Peri dan Pangeran di bagian sampulnya.


"Buku apa itu?" tanya Angga lagi memegang kepala Tiara dan membelai rambutnya.


"Dongeng Paman, Arya bilang ini cerita yang bagus. Peri dan pangerannya nanti hidup di istana, tinggal atas awan." jelasnya tersenyum senang.


"Ya sudah, Tiara pulang ya, sudah malam." perintah Angga kepada keponakannya itu.


"Iya."


Entah mengapa ia curiga jika Joko ada di rumah anak laki-laki bernama Arya tersebut.


Sedangkan Tiara pulang dengan senyum bahagia menghias bibir mungilnya. Mendadak Arya menjadi seorang Kakak yang baik, perhatian dan membuat Tiara merasa istimewa.


"Joko Arya Wardana."


Bibir mungil itu menyebut nama panjang Arya yang baru saja dia tahu kalau namanya begitu panjang. Tidak seperti dirinya hanya dua kata saja Tiara Andini.


Tak henti ia tersenyum dengan rasa nyaman yang ia rasakan malam ini, tangan kecilnya mulai membaca buku yang isinya hanya sekitar 12 lembar itu, dan ada yang unik di halaman paling depan tertulis.


"Joko & Andini."


Begitu pula malam selanjutnya, semakin sedikit waktu yang tersisa, semakin gencar pula Joko mendekati Tiara, bisa di bilang nyaris tak melepaskannya sehari ini, hanya ketika Tiara pulang Joko sedikit terpisah, dan bujuk rayu sebelumnya ia bisikan kepada Arya agar Tiara bermain dirumahnya tentu akan menuai hasil, Tiara pasti datang dengan sendirinya. Mengingat semalam Tiara menyukai Arya yang berbeda.


Keduanya larut dalam permainan, sesekali belajar lalu bercerita, tentu itu sangat membuat bahagia hati keduanya. Tadinya hanya berniat menghabiskan waktu terakhir, malah setelah bersama hati keduanya enggan berpisah. Hingga malam menjelang keduanya masih tak mau berhenti dari permainan yang terlihat seru dimata orang dewasa.


"Tiara, apakah tidak bisa kau tetap di sini?" ungkap Arya ketika mereka baru saja selesai membaca buku berdua.


"Maaf Arya, aku harus ikut Ibu dan Paman ke Kalimantan." jawab tiara menoleh teman sekolah beda kelas tersebut.


"Kalau boleh jujur, aku ingin ikut kamu ke Kalimantan. Tapi itu tidak mungkin, mengingat ayahku tak akan memberi izin." ucap Arya sedih.


"Kau disini saja, bahagiakan ayah dan ibumu. Dan aku, akan membahagiakan Ibuku. Aku hanya punya Ibu, sedangkan Ayah sudah pergi." Tiara menunduk sedih.


Tak terkecuali Arya, hatinya seperti di serang mendengar ungkapan sedih Tiara. Matanya menerawang jauh kepada peristiwa saat meninggalnya Gibran ayah Tiara.

__ADS_1


"Kalau Ayah masih ada, tentu aku tidak akan pergi kemana-mana." ungkap Tiara lagi.


Arya meraih tangan Tiara, menggenggamnya erat dan berbicara serius seperti orang dewasa. "Maafkan aku Tiara, andaikan saat itu aku sudah cukup umur, dewasa seperti manusia yang lainnya. Aku pasti bisa membantu dan menyelamatkan ayahmu."


Tapi Tiara malah tertawa. "Kau lucu sekali, kita masih kecil Arya." dia benar-benar merasa lucu dengan ucapan Arya.


Arya ikut tertawa sambil menggaruk kepalanya, keduanya tertawa senang layaknya anak-anak yang pada umumnya, namun hati mereka merasa ada yang mengikat. Ketika jauh selalu teringat, ketika dekat tak mau berpisah.


"Tiara." suara Angga memanggil anak sambungnya itu.


"Iya Paman." Tiara beranjak dari kursi yang sama di duduki Arya.


"Pulang Nak, ini sudah malam." bujuk Angga kepada anak perempuan tersebut.


Tiara menoleh Arya yang masih setia memandanginya. Bahkan sepasang bola mata itu tak pernah lepas dari Tiara.


"Ayo Nak. Besok kita akan berangkat."


"Iya." jawab Tiara kemudian kembali mendekati Arya, mengambil buku yang kemarin Arya berikan, juga tak pernah lepas dari tangannya.


"Tiara jaga diri baik-baik." ucap Arya pelan takut di dengar Angga.


"Semoga kamu tidak melupakan aku." ucap Arya lagi.


Tiara menoleh. "Kamu juga." jawabnya kemudian melangkah meninggalkan rumah Arya, karena Angga sudah tampak tak sabar menunggu.


Langkah keduanya semakin menjauh terdengar. Arya keluar mengiring dan melihat hingga Tiara masuk ke dalam rumah neneknya. Sungguh hatinya seperti sedang ditimpa batu besar, sesak, dan sakit.


"Keluar kamu."


Perintah Angga membuat Arya mendongak, entah sejak kapan laki-laki itu berada di hadapannya.


"Keluar, aku mau bicara." kesal Angga tapi Arya malah tak menjawab.


"Keluar enggak? Angga mengambil sapu dan memukul-mukul telapak tangannya sendiri.


Arya menguap, kemudian duduk di bangku dan tertidur cepat.


"Dasar jin tidak tahu diri! Kamu pikir aku tidak tahu kamu sengaja mengajak Tiara keluar?" Angga berbicara sambil menendang Joko yang sedang ngos-ngosan karena kehilangan banyak tenaga.

__ADS_1


"Aku tidak melakukan apapun Mas." jawabnya kemudian menunduk, memegangi perutnya yang sakit.


"Tidak melakukan apapun, tapi kau mendekatinya, kau juga memanfaatkan anak manusia yang nyaris putus asa itu?" tunjuk Angga kepada Arya yang memang dikenal selalu murung karena orang tuanya selalu ribut, bahkan tidak tinggal serumah walaupun masih suami istri.


"Aku hanya bermain dan berbicara Mas Angga. Tidak lebih daripada itu."


"Hanya katamu!" Angga kembali memukuli Joko, untuk kesekian kali tapi Jin tersebut tidak juga membalas.


"Pergilah dari dunia yang hanya membuatmu bingung. Kau hanya sedang tersesat disini, dan sebaiknya kau kembali selagi masih ada jalan." perintah Angga kemudian, sadar bahwa Joko tidak mau diajak berkelahi.


"Aku hanya ingin melihat Tiara pergi." jawabnya mengusap wajahnya yang mungkin sakit karena pukulan Angga.


"Tidak."


"Aku tidak akan pergi sebelum Tiara pergi." jawab Joko lagi, dia jujur tapi membuat Angga emosi.


Angga kembali memukul dada Joko dengan sangat keras membuat Jin tersebut menjerit.


"Ku rasa semua Jin memang keras kepala." Angga bersiap memukul Joko dengan tenaga penuh.


Joko bangun dan kali ini ia melawan, merasa terancam nyawa ia juga mengeluarkan kekuatannya.


Tiba-tiba petir di atas sana terdengar menyambar sekitar rumah mereka. Kekuatan keduanya ternyata cukup dahsyat.


Angga menautkan alisnya, tak menyangka Joko saat ini memiliki kekuatan di luar pengetahuannya.


Namun tak di pungkiri jika Perisai putihnya bisa menghanguskan makhluk-makhluk ghaib yang menyerang dirinya.


Akhirnya Joko terpental jauh.


Angga kembali memukul Joko lagi, membuat makhluk berwujud manusia itu menutup matanya. Yakin jika tak binasa tapi sekarat sudah pastikan ia terima.


Hening


Bahkan tak ada hembusan angin. Joko membuka matanya dan melihat tak ada Angga di hadapannya.


Ia menoleh kesana-kemari tak juga melihat keberadaan pemuda itu.


"Mas Angga!" panggilnya namun tak ada, hingga beberapa saat ia sadar, jika dia sedang berada di hutan dan tak bisa keluar dari sana.

__ADS_1


"Mas Angga!" teriaknya ingin lepas, dia tahu jika tujuan Angga adalah membuat Joko berhenti mendekati Tiara.


__ADS_2