Detektif Cinta Anti Cinta

Detektif Cinta Anti Cinta
Bab 17 Detektif Cinta Anti Cinta


__ADS_3

17 πŸ“·


"Malam-malam gini kamu mau kemana?" tanya Alfarezi kepada Arlynda yang sudah siap hendak keluar.


"Bukan urusan lo, kepo banget..." kata Arlyn lalu keluar.


Alfarezi pun menyusul Arlyn, dia sengaja menghalangi jalannya Arlyn dan berdiri di hadapan adiknya itu.


Karena kesal dengan tingkahnya Alfarezi, Arlynda menginjak kakinya Alfa sampai dia kesakitan.


"Aw... Arlynda sakit," kata Alfarezi yang sekarang memegangi kakinya.


"Rasain, makanya jangan halangin jalan orang!" kata Arlyn lalu pergi.


Tetapi Alfarezi tidak mau kalah, dia mengikuti Arlyn dan berjalan dibelakangnya. Walaupun Arlynda tahu tetapi dia tidak menganggap Alfarezi.


Arlynda masuk kedalam supermarket untuk berbelanja. Masih diikuti oleh Alfarezi.


"Wah lihat bodyguardnya ganteng banget ya, beruntung banget dia punya bodyguard ganteng kayak dia..." kata pegawai Indomaret yang melihat Alfa.


"Ia yah kalo gue sih mau di kawal sama dia apalagi kalo di kawal hatinya... eaaa," kata teman pegawai itu sambil tertawa.


Arlynda melihat para pegawai itu dan menghampirinya dengan kesal kepada pegawai itu.


"Dia bukan bodyguard gue, kalo lo mau ambil aja..." kata Arlyn lalu meninggalkan pegawai itu.


"Emang aku ini barang apa main ambil-ambil aja," gerutu Alfarezi.


"Galak banget sih mba nya..." gumam pegawai yang tadi.


Arlynda berbelanja mie instan, sosis, makanan ringan dan juga minuman dingin untuk isi kulkas.


Setelah beres memilih bahan makanan dan minuman, Arlyn hendak membayar. Sebelum membayar, Alfarezi sudah menyodorkan uang seratus ribu kepada kasir. Arlynda membuang nafas kasar melihat Alfa yang membayar belanjaannya.


Mereka pun keluar dari Indomaret tersebut dan seperti biasa, Arlyn berjalan di depan sedangkan Alfarezi di belakang Arlynda. Arlynda menghentikan langkah kakinya dan berbalik badan melihat ke arah Alfarezi.


"Lo beneran kakak gue?" tanya Arlynda penuh tanda tanya.


"Kamu gak percaya? Aku ini beneran kakak kamu Arlynda Deira Puteri," kata Alfarezi.


"Dengan lo tau nama panjang gue, itu gak berarti lo kakak gue. Temen-temen gue juga tau nama panjang gue," kata Arlyn lalu melanjutkan langkahnya.


"Kamu itu adiknya aku, kalo kamu gak percaya juga ayo kita ketemu bunda dan kamu juga harus tau bunda Arlynda," kata Alfarezi.


Karena lelah mendengar ocehannya Alfarezi, Arlynda membuka minuman yang dibelinya tadi dan Arlynda sengaja duduk di pinggir jalan sambil menikmati minumannya.


Arlynda bingung, antara harus percaya atau tidak karena perasaannya yang sudah terlanjur membencinya.

__ADS_1


Tetapi bagaimanapun jika memang benar Alfarezi adalah kakaknya, Arlynda harus senang karena bisa bertemu dengan keluarganya. Tetapi disisi lain, Arlynda masih kecewa karena baru sekarang mereka mencarinya.


Sesampainya di rumah, Arlyn membereskan barang belanjaannya di kulkas dan menyeduh dua bungkus mie instan untuknya dan untuk Alfarezi juga karena Tante Zia sudah tidur jadi dia hanya menyeduh dua bungkus mie instan.


"Makan tuh mienya gue buatin buat lo, karena gue tau lo pasti lapar... gue juga lapar karena gak ada makanan disini. Tante hanya masak untuk tadi siang," kata Arlynda kepada Alfarezi.


Tak lama Alfarezi memakan mie yang sudah dibuatkan oleh Arlynda tadi tanpa mendengar ocehannya Arlynda.


πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ


Pagi harinya, Arlyn sudah sampai di kantor. Di kantor, Sehan marah kepada Arlyn karena dia menyelesaikan marahnya yang tertunda.


"Sekarang masalah apalagi yang lo buat? Dan lo seenaknya meninggalkan pekerjaan lo ia?" tanya Sehan.


"Lagian lo itu harusnya fokus kerja Arlynda bukannya kerjaan lo itu lo kasih ke kita..." kata Mora.


"Siapa juga yang kasih kerjaan gue sama kalian. Gue lagi ada masalah kalian malah marahin gue," kata Arlynda.


"Masalah lo udah kelar kan? Sekarang lo ikut gue buat selidiki Isabel sama pacarnya." Kata Sehan.


"Isabel?" tanya Arlynda.


"Ia Isabel, katanya dia selingkuh dan merebut cowok orang dan yang melapor namanya Dion." kata Sehan.


"Ya udah mana gue minta fotonya. Kirim ke Hp gue," perintah Arlyn.


"Merintah aja kerjaan lo, kita disini tim gak ada atasan gak ada bawahan," kata Mora.


Mereka berdua pun pergi untuk mencari informasi tentang Isabel. Dan sekarang Dion sudah menunggu mereka berdua di cafe.


Tak lama kemudian, Sehan dan Arlyn datang dan menghampiri Dion yang sudah menunggunya lama.


"Kalian itu lama banget sih, gue ada kerjaan lain selain nungguin kalian." Bentak Dion.


"Ia maaf ya mas, kita ada masalah di kantor tadi..." jelas Sehan.


Mereka bertiga pun berdiskusi untuk menyelidiki Isabel yang diduga merebut cowo orang padahal statusnya sekarang adalah tunangannya Dion.


Dion penasaran apakah benar Isabel berselingkuh dengan pacar orang lain atau tidak dan Dion ingin membuktikan kebenarannya lewat tim detektif cinta.


Arlynda dan Sehan dengan senang hati membantu Dion karena memang misi mereka adalah membantu percintaan orang lain.


Dimulai dengan Arlynda yang mengikuti Isabel dan Sehan mengikuti Dion untuk mengetahui setiap laporan yang diberikan oleh Arlynda tentang Isabel.


Diduga Isabel mencintai cowok kaya dan ingin menguasai kekayaannya dengan cara membuat orang itu jatuh cinta kepada Isabel.


"Sehan nih maunya enak aja terima laporan nah gue disuruh ikutin Isabel. Isabel pasti punya alasan kenapa dia mendekati cowo kaya kan..." oceh Arlynda saat berada di dalam angkot.

__ADS_1


"Mba kenapa ngomong sendiri? Situ stress ya?" tanya salah satu penumpang.


"Iihh enak aja ya gue dibilang stress... bang kiri disini," kata Arlyn.


Abang angkotpun berhenti tepat di depan butik dan Arlyn segera turun lalu langsung membayar abang angkotnya.


Kring... kring... kring.


Telepon Arlyn berdering ada telepon masuk dari Sehan. Arlyn langsung mengangkat telepon tersebut.


"Lo dimana? Gimana udah ketemu sama Isabel?" tanya Sehan.


"Gue ada di..." dengan cepat Arlyn menutup telepon dari Sehan karena kebetulan melihat Isabel masuk ke dalam butik tersebut.


"Gak sopan banget matiin telepon sepihak..." gerutu Sehan.


Di kantor, Mora tidak diajak untuk menyelidiki Isabel karena Mora harus menyelesaikan urusannya dengan Klien lain. Dia marah-marah karena tidak bisa bersama dengan Sehan.


Rasa cemburunya kepada Arlyn telah mengalahkan kesabarannya padahal Sehan dan Arlyn tidak ada hubungan apapun hanya sebatas rekan kerja. Melihat Sehan dan Arlynda berdua menyelidiki kasusnya itu membuat Mora kesal.


"Itu kan Isabel..." gumam Arlyn lalu masuk ke butik tersebut untuk mengikuti Isabel.


Arlyn bersembunyi dibalik pakaian sambil melihat Isabel yang sedang memilih pakaian dan bertemu dengan seorang laki-laki.


Diam-diam Arlyn memfoto Isabel dengan laki-laki tersebut "Itu sih orang kaya banget kayaknya, dari penampilannya aja dia kayak pengusaha." Batin Arlynda.


Tiba-tiba Kinza datang bersama Ciara dan melihat Arlyn yang sedang mengendap-ngendap dan bersembunyi.


Kinza pun menghampiri Arlynda, dia berdiri di belakang Arlynda dan memperhatikannya. Sedangkan Ciara fokus memilih baju untuk dibelinya.


Arlynda masih asik memperhatikan Isabel yang memilih pakaian bersama laki-laki tersebut. Sambil memperhatikan, Arlyn mengirim pesan kepada Sehan untuk datang ke butik dimana Isabel berada sekarang.


"Lagi ngapain lo disitu?" tanya Kinza.


"Astaga!" Pekik Arlynda saat mendengar suara Kinza.


"Lo mau maling ya? Ngendap-ngendap gitu, curiga gue..." kata Kinza.


Arlynda celingukan saat Kinza menuduhnya mencuri. Benar-benar sembarangan mulutnya.


"Kok lo ada disini?" tanya Arlyn.


"Suka-suka gue, bukan urusan lo. Lo sendiri ngapain disini?" tanya Kinza.


"Idih suka-suka gue, bukan urusan lo." Kata Arlyn menirukan perkataannya Kinza. Lalu Arlyn pergi meninggalkan Kinza tanpa kata dan meninggalkan penyelidikannya terhadap Isabel.


Kinza berdiri mematung dan bengong saat mendengar Arlyn menirukan kata-katanya dan Kinza benar-benar tidak habis fikir kepada Arlyn, baru kali ini Kinza bertemu dengan wanita yang tidak mengenal rasa takut.

__ADS_1


Kinza semakin penasaran kepada Arlynda, ia ingin mengetahui tentang Arlynda dan entah kenapa perasaan Kinza terhadap Arlynda bukan benci tapi ia merasa ingin dekat dengannya.


Mungkin karena ikatan batin yang tidak akan pernah bisa dipisahkan antara seorang adik dan kakaknya. Dan sekarang Kinza merasakan keanehan dalam dirinya saat bertemu dengan Arlynda.


__ADS_2