
27 đź“·
Flashback On.
Terlihat dua orang yang sedang bersama di pinggir sungai, mereka sedang mengambil air bersama. Mereka tidak pernah terpisahkan satu sama lain dan mereka selalu bersama dalam susah maupun senang.
Mereka adalah Arlynda dan Zaidan. Persahabatan mereka sudah terjalin sejak lama sejak mereka duduk di bangku SD sampai sekarang SMA.
Mereka sudah menyatakan janji bahwa mereka tidak akan memiliki kekasih sampai mereka lulus SMA.
“Arlynda tolong dong bawain ember yang kosong kesini...” kata Zaidan.
Arlynda pun mengambilkan ember kosong untuk dibawakan kepada Zaidan dan Arlynda membantu mengisi air untuk persediaan di tempat kemping.
“Lo tau gak sih perbedaan lo sama air sungai ini?” tanya Zaidan.
“Kok lo tiba-tiba tanyain soal gituan sih? Gak banget,” kata Arlynda.
“Jawab dulu Arlynda,” kata Zaidan.
“Hmmm, perbedaan gue sama air ini adalah... kalo gue itu cantik, manis, baik kalo air sungai ini airnya ya air tawar lah,” kata Arlynda.
“Salah dong Arlynda... yang benar itu, kalo air sungai ini gampang banget di gapai bahkan air sungai ini itu mudah banget di masukin ke ember, kalo lo itu susah di gapai, apalagi kalo masuk ke hati gue...” kata Zaidan
“Garing lo... udah ah udah mulai gelap nih buruan lo harus cepet ambil airnya,” kata Arlynda.
Terdengar ada orang yang minta tolong, Zaidan dan Arlynda mendengar teriakan itu dan mereka berdua panik karena mereka jauh dari tempart kemah. Arlynda dan Zaidan buru-buru mencari asal suara itu.
Tak lama setelah mereka mencari, akhirnya mereka menemukan orang yang meminta tolong.
__ADS_1
“Ya ampun Vona...” kata Zaidan yang langsung menyelamatkan Vona yang terjatuh ke dalam sungai.
“Hati-hati Zaidan...” teriak Arlynda.
Zaidan pun menolong Vona yang hampir tenggelam di sungai karena Vona tidak bisa berenang. Setelah berhasil menyelamatkan Vona, Zaidan memapah Vona dan dibawa ke tenda sedangkan Arlynda dia yang mengangkat air tadi.
Sesampainya di tenda, Zaidan terlihat perhatian sekali kepada Vona padahal sebelumnya Vona selalu membuat Zaidan sakit hati karena selalu meledeknya dengan tampilan culunnya padahal menurut Arlynda penampilan itu bukan yang nomor satu yang penting hatinya baik.
Arlynda terlihat sedang merebus mie karena dari tadi siang belum makan siang. Semua teman-temannya sudah pada istirahat. Zaidan pun melihat Arlynda dan dia pun menghampirinya.
“Ya ampun Arlynda kok lo gak minta tolong sama gue sih rebusin mie?” tanya Zaidan yang sudah duduk di samping Arlynda.
“Mana ada waktu lo buat gue, dari tadi lo cuma ngurusin Vona, udah ah gue mau makan kalo lo lapar lo bisa bikin sendiri...” kata Arlynda lalu masuk ke dalam tenda.
Semenjak kejadian itu, Arlynda dan Zaidan seperti ada jarak padahal persahabatan mereka sangat dekat bahkan kemana-manapun mereka selalu berdua dan entah kenapa semenjak kejadian itu juga, Zaidan menjadi berbeda dan sekarang dekat dengan Vona.
Penampilan culun Zaidan pun Vona ubah dan sekarang Zaidan menjadi tampan. Sekarang menjadi berbeda dari Zaidan yang Arlynda kenal.
Satu minggu kemudian, Zaidan memberitahukan kepada Arlynda bahwa dia sudah jadian dengan Vona. Mendengar hal itu, Arlynda sangat marah dan memutuskan untuk berhenti menjadi sahabatnya Zaidan.
“Euuuh gue sebel banget sama lo Zaidan, gue benci... benci... benci, lo pilih Vona yang jelas-jelas selalu buat lo sengsara dan sekarang lo udah jadian sama Vona. Gue berjanji gue gak akan pernah jatuh cinta sama siapapun!!!” teriak Arlynda di kamarnya. Untungnya rumah lagi sepi dan Tante Zia sedang tidak ada di rumah.
Flashback Off.
“Lo kenapa sih sama gue? Lo kayaknya marah banget sama gue, udah lo pergi gitu aja tinggalin gue dan lo lupain persahabatan kita, sekarang kita ketemu lagi lo jutek banget sama gue kenapa sih?” tanya Zaidan.
“Gue gak marah, lo aja kali yang sensi,” kata Arlynda. “Oh ya lo bawa mobil kan? Gimana kalo lo anterin gue pulang karena gue udah enek liat muka lo,” sambung Arlynda.
“Ya ampun sejelek itu ya gue di mata lo? Gak liat apa gue tampan gini?” kata Zaidan.
__ADS_1
“Gue gak peduli,” kata Arlynda lalu berlalu keluar
Ziadan pun menyusul Arlynda yang sudah keluar, lalu Zaidan menyuruh supir nya untuk mengeluarkan mobil dari parkiran, sedangkan Arlynda dan Zaidan menuggu diluar parkiran.
“Padahal nih yah menurut gue, harusnya lo di rawat gitu, besok baru pulang. Tapi berhubung lo maksa, ya udah gue anterin lo pulang sekalian gue pengen tau dimana rumah lo sekarang,” kata Zaidan.
“Lo itu ngomong sama siapa? Gue lagi males denger ocehan lo,” kata Arlynda.
“Lo kenapa sih Arlynda, gue itu sekarang lagi bahagia karena gue ketemu lagi sama lo. Tapi kayaknya lo males banget ketemu lagi sama gue,” kata Zaidan.
Arlynda pun tidak menghiraukan perkataannya Zaidan. Tak lama mobil Zaidan pun tiba dan mereka naik mobil tersebut. Arlynda mengarahkan jalan menuju ke rumahnya sedangkan diperjalanan, Arlynda dan Zaidan tidak saling bicara dan hanya diam seribu kata.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, Arlynda sampai di rumah Tante Zia.
“Oh jadi sekarang ini rumah lo, bagus deh gue jadi tau sekarang rumah lo,” kata Zaidan.
“Gak buat lo, makasih banyak lo udah anterin gue pulang dan lo juga udah tolongin gue. Tapi mulai sekarang lebih baik lo kembali ke kehidupan lo sebelum ketemu sama gue,” kata Arlynda lalu langsung masuk ke dalam.
“Arlynda lo gak tau perasaan gue sama lo, gue itu sayang sama lo...” batin Zaidan lalu naik mobil kembali dan pulang ke rumahnya.
Melihat kepulangan Arlynda, Alfarezi dan Kinza langsung memeluknya karena bahagia dan mereka melihat ke arah luar sangat sepi dan tidak ada siapa-siapa.
Mereka berdua pun melepas pelukan mereka dan melontarkan banyak pertanyaan karena mereka penasaran apa yang terjadi kepada adiknya itu.
Bukannya menjawab pertanyaan kedua kakaknya, Arlynda malah pergi meninggalkan mereka ke kamarnya. Alparezi dan Kinza menyusul Arlynda tetapi pintu kamarnya sudah tertutup.
Plak...plak...plak.
Sebuah tamparan mendarat di pipi anak buahnya Ciara satu persatu kecuali Zaidan karena kebetulan dia belum datang. Ciara menampar ketiga anak buahnya karena gagal untuk membuat Arlynda celaka dan sekarang Ciara marah besar. Dia menunggu kedatangan Zaidan yang tak kunjung datang, karena salah satu anak buah Ciara melapor bahwa Zaidan telah membawa Arlynda pergi kemarin.
__ADS_1
Mendengar hal itu, Ciara sangat marah dan ingin sekali rasanya membuat orang yang sudah menolong Arlynda itu menderita dan sekarang Ciara sudah mempersiapkan semuanya untuk menyambut Zaidan untuk memberi pelajaran kepadanya.