
18 π·
"Selidiki penumpang ojek yang pernah menabrak Ciara, telusuri dia sampai lo dapat informasi soal dia," kata Kinza berbicara dengan seseorang.
"Kamu lagi bicara sama siapa?" tanya Ciara saat melihat Kinza berbicara di telepon.
"Ah... enggak, tadi papah telepon aku untuk segera pulang. Kamu udah beli bajunya?" tanya Kinza.
"Heem.. ya udah kita pulang sekarang," ajak Ciara.
Setelah Kinza dan Ciara selesai berbelanja, Mereka segera bergegas pergi meninggalkan butik. Tetapi di depan pintu keluar, Sehan dan Kinza berpapasan saat Sehan hendak masuk kedalam butik untuk menghampiri Arlynda.
Kinza dan Ciara pun pergi dan Kinza mengantar pulang Ciara setelah itu langsung pulang ke rumah.
"Kinza, dari mana saja kamu?" tanya Pak Hardi saat Kinza sampai di rumah.
"Mengantar Ciara ayah, biasa belanja..." kata Kinza.
Pak Hardi menatap Kinza dengat tajam "Jangan pernah bohong sama ayah, kamu bertemu dengan gadis lain kan? Siapa dia?" selidik Ayah Hardi.
"Ayah, aku cuma sama Ciara seharian ini gak sama siapapun. Jangan-jangan ayah kirim orang untuk memata-matai aku," kata Kinza.
"Ayah hanya ingin kamu tetap bersama Ciara, karena dia adalah aset bagi kita," bentak Ayah Hardi.
"Aset..." kata Kinza.
Pak Hardi hanya tersenyum saat melihat reaksi Kinza yang kaget karena mendengar ucapannya.
Kinza tidak habis fikir apa yang sedang difikirkan oleh ayahnya saat ini.
Di butik, Sehan mencari-cari Arlynda tetapi dia sudah tidak ada di dalam butik. Isabel juga sudah tidak ada di butik.
Sehan mencoba menelpon Arlynda tetapi tidak di angkat oleh Arlynda. Sehan segera pergi dari butik dan mencari Arlyn, dan Sehan pun menelpon Mora untuk menanyakan Arlynda.
"Halo Sehan? Ada apa kamu telepon?" tanya Mora berbicara lewat telepon dengan Sehan.
"Arlynda, dia ada di kantor?" tanya Sehan.
"Gak ada, Arlyn kan sama kamu Han." Kata Sehan.
"Emang Arlyn kemana?" tanya Mora.
"Aku gak tau, ya udah nanti aku kabarin kamu lagi ya." Sehan pun mematikan teleponnya dan melanjutkan mencari Arlynda.
Di perjalanan, Arlynda melihat seseorang yang mirip dengan Fifi. Arlyn penasaran dengan yang dilihatnya, dia pun diam-diam mengikuti Fifi dan memperhatikannya dari jauh.
Ternyata apa yang dilihatnya benar bahwa itu adalah Fifi tetapi terlihat dia sedang menunggu seseorang. Tak lama seseorang yang di tunggu Fifi itu datang.
__ADS_1
Seorang laki-laki yang saat ini Arlyn tidak tahu siapa, Arlyn langsung memotret mereka berdua.
"Hmm ngapain gue jadi ngikutin pacarnya Aditfi," guman Arlyn, lalu pergi dan begegas kembali ke kantor.
Sehan yang sedang mencari Arlyn akhirnya menemukan Arlyn karena melihat Arlyn yang sedang menunggu angkutan umum. Sehan yang sedang berada di dalam taksi langsung memberhentikan supirnya dan menghampiri Arlyn.
"Jadi lo disini, lo suruh gue ke butik tapi lo sendiri disini." Kata Sehan.
"Tadi gue emang di butik dan Isabel ada disana cuma..."
"Cuma apa? Lo itu selalu menghindar dari penyelidikan tahu gak sih akhir-akhir ini," jelas Sehan.
"Ceritanya panjang banget..." kata Arlynda.
"Sepanjang apa?" tanya Sehan kesal.
"Sepanjang cinta lo sama Mora," kata Arlyn lalu pergi meninggalkan Sehan.
Sehan pun mengejar Arlyn yang pergi begitu saja dan Sehan mengekor di belakangnya sambil membawa berkas yang tadi dibawanya.
πΈπΈπΈ
"Terima kasih pak atas kerja samanya dengan kami," kata Kliennya Seo.
"Sama-sama Pak Handoko, saya juga senang bisa bekerja sama dengan bapak." Kata Seo.
Seo segera pergi dan menuju ke parkiran mobil, belum sampai ke parkiran, tiba-tiba anak buahnya Aditfi memukul kepala Seo sehingga Seo pingsan.
Dengan segera anak buahnya Aditfi membawa Seo ke suatu tempat dan setelah sampai, mereka mengikat kaki dan tangannya Seo.
Di kantor, Arlynda di introgasi oleh Sehan karena pergi tiba-tiba sampai kehilangan jejak Isabel. Sehan tampaknya kesal kepada Arlyn karena akhir-akhir ini Arlynda selalu tidak fokus dalam pekerjaannya.
"Plis deh lo itu kenapa sih marah-marah terus, udah kayak emak-emak tau gak..." kata Arlynda.
"Jelas gue marah, karena lo kehilangan jejaknya Isabel. Lo tau gak sih Dion itu udah bayar jasa kita gede banget dan kita cuma dikasih waktu 2 hari untuk tau Isabel," kata Sehan.
"Gue tau, tapi ceritanya panjang banget. Gue janji deh besok gue akan ikuti Isabel lagi dan selidiki dia oke. Sekarang gue harus ke kampus ada kelas," kata Arlyn lalu pergi begitu saja.
Sehan mengusap wajahnya kasar dan frustasi karena Arlynda yang begitu santainya menangani kasus.
Mora yang melihat Sehan kesal kepada Arlynda menghampirinya dan memberikan secangkir kopi untuk Sehan.
"Aku tuh gak habis fikir sama Arlyn selalu kabur-kaburan," kata Sehan.
"Kamu pegang aja kata-kata dia barusan, besok dia akan tangani kasusnya. Jadi kamu gak perlu khawatir gitu ya," Mora menenangkan Sehan.
Di rumah Aliska, dia menunggu Seo yang belum juga pulang dari kantor. Padahal setelah rapat, tidak akan ada lagi acara di kantor. Aliska merasa gelisah, Aliska mencoba menghubungi Seo tetapi tidak bisa karena sekarang ponsel Seo sedang tidak aktif.
__ADS_1
"Seo kamu kemana sih udah sore gini, kamu janjinya akan pulang siang..." gumam Aliska.
Di gudang tempat Seo di sekap, Seo tersadar dari pingsannya dan merasakan sakit dibagian kepalanya akibat pukulan tadi.
Seo berusaha melepaskan tali yang mengikatnya tetapi tidak bisa karena mereka mengikatnya terlalu kencang.
"Dasar kurang kerjaan, emang gue kambing apa diikat kayak gini..." gumam Seo yang masih berusaha melepaskan ikatannya.
Prok... prok... prok.
Suara tepuk tangan dari seseorang yang kini menghampiri Seo dan berdiri di hadapannya.
Seo melihat kearahnya dan Seo mengenali sosok yang ada dihadapannya itu, ternyata itu adalah Aditfi. Seo sangat marah dan kesal karena ulahnya sekarang.
"Lo... kayak bocah tau gak, ngapain lo culik gue?" teriak Seo.
"Jangan marah dong, tenang aja gue gak akan sakitin lo asalkan lo ikutin perintah gue..." kata Aditfi.
"Lepasin gue! Tapi... lo sekap gue juga gak akan ada untungnya, terserah sekap aja gue sepuas lo," kata Seo.
"Lo masih ingat wanita yang lo kejar-kejar itu? Sekarang nyawa dia ada ditangan gue, terserah sih kalo lo mau dia selamat maka lo harus turutin gue..." ancam Aditfi
"Jangan pernah lo sentuh Arlynda, kalo lo punya masalah sama gue selesaikan sama gue jangan bawa-bawa Arlynda!" kata Seo.
"Enggak-enggak, gara-gara wanita itu semua rencana gue lo ketahui dan itu gak bisa dibiarkan. Gue akan buat hidup Arlynda menderita!" ancam Aditfi.
Seo semakin geram terhadap Aditfi karena sekarang dia mengancamnya dan sekarang Seo tidak ada pilihan lain selain menuruti keinginan Aditfi. Tetapi bagi Seo tidak akan semudah itu untuk menuruti keingingan Aditfi.
"Kamu dari mana aja Arlynda?" tanya Tante Zia yang melihat Arlyn masuk ke dalam rumah.
"Kerja lah tante, oh ia tante Arlyn mau cerita..." kata Arlyn yang langsung duduk disamping Tante Zia.
"Cerita apa?" tanya tante.
"Ada cowok, dia nyebelin banget tan. Tante ingat gak waktu aku cerita aku gak boleh pergi dari rumah sakit saat pacarnya keserempet ojek yang Arlyn naikin?" tanya Arlynda.
"Ia tante ingat, kenapa memangnya? Kamu ketemu lagi sama dia?" tanya Tante Zia penasaran.
"Ia tante, tadi di butik aku ketemu sama dia dan dia perhatiin aku tante aku kan jadi takut, ya udah aku kabur aja lagi dari dia." Kata Arlyn.
"Siapa ya dia, kamu tau namanya?" tanya tante.
"Ya enggak, dia belum pernah sebutin namanya... hmm Cowok rese yang ngaku-ngaku sebagai kakaknya Arlyn gak ada disini?" tanya Arlyn.
"Enggak ada, gak tau kemana dari kamu pergi ke kantor, kakak kamu gak ada." Jelas tante.
"Dia bukan kakak aku..." jawab Arlyn lalu masuk ke kamarnya dan merebahkan diri di kasurnya.
__ADS_1