Detektif Cinta Anti Cinta

Detektif Cinta Anti Cinta
Bab 30 Detektif Cinta Anti Cinta


__ADS_3

30 πŸ“·


"Heeuuh hp gue ketinggalan disana lagi... Kak kaki lo sakit banget ya?" tanya Arlynda.


"Lumayan, kakak masih bisa nyetir kok. Sekarang kita harus pergi dari sini..." kata Kinza.


Arlynda pun membantu Kinza masuk ke dalam mobil sedangkan Arlynda masih diluar dan hendak masuk ke dalam mobil.


Buugghh.


Brruuuk.


Seseorang memukul kepala Arlynda saat Arlynda hendak masuk ke dalam mobil. Darah segar mengalir dari kepalanya Arlynda begitu terkena pukulan.


Kinza yang melihat adiknya sudah terkapar tidak berdaya langsung menghampirinya dan dia merangkul Arlynda sambil menangis.


"Tadi... tadi gue cuma mau pukul pundaknya tapi... tapi gak sengaja malah kepalanya," kata penjaga yang tadi.


Kinza benar-benar marah dan dia pun melayangkan pukulan kepada orang tersebut tanpa menghiraukan rasa sakit pada kakinya Kinza.


Buughh.


Buughh.


Kinza benar-benar murka dan dia tidak memberi ampunan kepada orang yang sudah memukul adiknya. Setelah penjaga tadi pingsan, Kinza menghampiri Arlynda kembali dan merangkulnya.


"Arlynda... sayang, De kamu harus bertahan ya, Arlynda hey..." kata Kinza.


Tak lama, Zaidan dan Alfarezi datang dan melihat Arlynda dengan Kinza. Alfarezi langsung menghampiri mereka berdua.


Melihat keadaan Arlynda yang penuh dengan darah, Alfarezi pun tercengang kaget. Dia langsung menggendong Arlynda dan memasukan Arlynda ke dalam mobil. Begitupun dengan Zaidan dan Kinza, Mereka masuk ke dalam mobil.


Dengan kecepatan penuh Alfarezi mengendarai mobil untuk sampai ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Arlynda langsung dibawa ke ruang UGD oleh suster. Dokter pun segera menangani Arlynda.


Alfarezi mengubungi bundanya dan setelah mendengar kabar tentang Arlynda, Bunda Puteri langsung pergi untuk menghampiri ketiga anaknya.


Tak lama, Tante Zia pun datang sambil menangis karena mendapat kabar Arlynda terluka karena kejadian itu. Orang yang sudah mencelakai Arlynda pun sudah di amankan oleh pihak kepolisian karena Alfarezi yang sudah melaporkannya kepada polisi.


Selesai menangani keadaan Arlynda, Dokter pun keluar dan memberitahukan keadaan Arlynda.


"Dokter bagaimana keadaan keponakan saya Dok?" tanya Tante Zia.


"Alhamdulillah pasien sudah melewati masa kritisnya dan sekarang pasien masih belum sadarkan diri karena pengaruh obat, lukanya pun sudah kami tangani," jawab Dokter tersebut.

__ADS_1


"Alhamdulillah, terima kasih Dokter. Kalau begitu kami boleh masuk kan?" tanya Tante Zia.


"Boleh silahkan..." kata Dokter "kalau begitu saya permisi,"


"Ia Dokter..." kata Tante Zia.


Setelah mendapat persetujuan dari Dokter, Tante Zia dan kedua kakaknya Arlynda beserta Zaidan masuk ke dalam untuk melihat keadaan Arlynda.


Tante Zia pun duduk di samping Arlynda sambil memegang tangannya Arlynda "Arlynda... ini tante sayang, kamu bangun ya..." kata Tante Zia yang masih menangis.


Alfarezi pun mengelus kepalanya Arlynda dan berharap adiknya sadar dan bisa berkumpul bersama kembali.


πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ


Pyaarrr.


Berly memecahkan beberapa vas bunga karena kesal kepada Ciara yang sudah berhasil mengambil semua kekayaan Hardi bahkan tidak tersisa sedikitpun.


"Aaaa..." teriak Berly di rumahnya "bagaimanapun juga harusnya hartanya Mas Hardi jatuh ke tanganku, tapi kenapa Ciara yang mengambil semuanya,"


Ternyata saat Berly marah-marah, Hardi sudah ada di balik pintu dan mendengar semua perkataan Berly. Hardi semakin kesal dan dia pun menghampiri Berly.


"Ternyata apa yang kamu inginkan tidak sesuai dengan harapan kamu Berly... aku kira kamu tulus mencintaiku, tapi ternyata kamu pembohong. Nyesel aku udah tinggalin istri dan anakku dulu," kata Hardi.


"Baiklah itu semua sudah keluar dari mulut kamu sendiri, sekarang juga aku ceraikan kamu!" kata Pak Hardi.


"Oh bagus, aku juga udah muak jadi istri kamu. Apalagi sekarang kamu sudah jatuh miskin..." jawab Berly, lalu pergi meninggalkan Hardi.


Terlihat Bunda Puteri berlari menuju ke ruang rawat Arlynda. Saat sampai di depan pintu ruang rawat Arlynda, Bunda Puteri langsung masuk dan menghampiri Arlynda.


"Assalamualaikum..." kata Bunda Puteri sambil menangis.


"Waalaikumsalam..." jawab semua yang ada di ruangan rawat Arlynda.


"Kak Puteri..." kata Tante Zia yang langsung memeluk kakaknya.


"Zia..." kata Bunda Puteri yang langsung membalas pelukannya Zia.


"Kak maafin aku, karena aku Arlynda seperti ini..." kata Tante Zia.


Bunda puteri melepas pelukannya "enggak, ini bukan salah kamu Zia... yang sudah berlalu biarlah berlalu. Alfarezi sudah menceritakan semuanya," kata Bunda Puteri.


Bunda Puteri pun menghampiri Arlynda dan langsung duduk di samping Arlynda. Bunda Puteri terlihat bahagia bisa melihat Arlynda kembali setelah sekian lamanya terpisah akhirnya waktu mempersatukan mereka kembali.


"Bunda..." sapa Kinza.

__ADS_1


Bunda Puteri pun berdiri dan melihat ke arah Kinza "Kamu... Kinza? Ya Allah nak kamu udah besar, jagoannya bunda." Kata Bunda Puteri yang langsung memeluk Kinza.


Kinza pun menangis di pelukan bundanya yang sudah lama tidak bertemu "Bunda Kinza kangen sama bunda, Syukurlah Kinza masih diberi kesempatan untuk bisa bertemu bunda kembali,"


"Ia sayang, bunda juga bahagia bisa bertemu sama kamu." Jawab Bunda Puteri.


Setelah pertemuan mereka, Bunda puteri dan yang lainnya menunggu Arlynda siuman. Karena sudah lebih dari dua jam Arlynda masih belum sadarkan diri.


Di luar ruang rawat Arlynda, Vito sudah ada dan sekarang dia meminta Kinza untuk keluar dan menemuinya. Kinza pun menemui Vito di luar ruang rawat adiknya dan menghampiri Vito.


"Kenapa?" tanya Kinza.


"Tuan Hardi, sekarang kondisinya memprihatinkan. Kamu bisa kan temui dia sekarang di rumah?" tanya Vito.


"Papah udah keterlaluan, dia pantas mendapat balasannya. Lo pulang deh jangan temuin gue, lo kesini cuma mau kasih tau soal papah aja? Lo kan bisa telepon gue," kata Kinza.


"Siapa juga cuma kasih info soal tuan aja, Den Kinza aku kesini juga punya urusan dan kamu gak berhak campuri urusan itu," kata Vito.


"Urusan? So penting banget sih lo. Aah gue tau, lo pasti mau ketemu sama tante gue kan?" tebak Kinza.


"Nah itu tau mas bos," kata Vito.


"Udahlah gak usah panggil gue mas bos lagi, kalo lo emang bener suka sama tante gue lo harus jadi calon om yang baik buat gue," kata Kinza.


"Ya ampun mas bos, jadi mas bos restuin nih?" tanya Vito.


"Yah asalkan gue di traktir makan aja sama lo setiap hari, gimana?"


"Deal... setuju saya mas bos, yang penting saya dapat restu langsung dari keponakannya tante kamu," kata Vito.


Kinza dan Vito pun tertawa bersama. Mereka memang sudah dekat bahkan Vito adalah orang yang baik yang selalu menemani Kinza kemanapun kecuali memang Kinza tidak ingin ditemani, Vito tidak akan pernah ikut campur urusannya.


Setelah dua jam lebih menunggu, Arlynda pun siuman. Saat Arlynda siuman, bundanya sudah ada di samping Arlynda sedang menangis dan memegang tangan Arlynda.


"Tante siapa?" tanya Arlynda tiba-tiba dan melepaskan genggaman tangannya Ibu Puteri.


"Sayang, ini bunda nak... bunda datang untuk menjemput kamu sayang," kata Bundanya.


"Serius Kak Alfa?" tanya Arlynda kepada kakaknya.


"Ia De... beneran bunda," kata Alfarezi


"Ia sayang, ini bunda kamu, kakaknya tante. Maafin tante ya tidak pernah memberikan kamu foto bunda kamu," kata Tante Zia.


Tiba-tiba Arlynda memeluk bundanya dengan erat karena rasa bahagia yang tidak pernah bisa di gantikan oleh apapun dan pertemuan Arlynda dengan bundanya merupakan sebuah hadiah terindah dalam hidup Arlynda.

__ADS_1


__ADS_2