Detektif Cinta Anti Cinta

Detektif Cinta Anti Cinta
Bab 22 Detektif Cinta Anti Cinta


__ADS_3

22 πŸ“·


Pagi ini Sehan sedang menemui orang yang akhir-akhir ini bersama Isabel. Namanya Isak dia orang pertama yang Isabel temui waktu di butik.


Arlynda memberikan foto yang ia dapatkan waktu dibutik sebelum ketahuan oleh Kinza dan sekarang Sehan sudah bersama Isak.


Arlynda pergi untuk menemui Isabel dan mencari informasi tentang dirinya. Memberanikan diri untuk mencari tahu. Sekarang Isabel sudah ada di cafe dan Arlynda menghampiri Isabel.


Flashback On.


"Hai... boleh aku duduk disini?" tanya Arlynda kepada Isabel.


"Boleh, silahkan duduk..." kata Isabel mempersilahkan Arlynda untuk duduk di meja bersamanya.


"Sebelumnya perkenalkan aku Arlynda, kamu Isabel?" tanya Arlynda.


"Ia, kamu tahu aku? Hmmm nama aku begitu populer ya sampai-sampai kamu tahu tentang aku. Pasti gara-gara rumor yang beredar diluar sana bukan?" tanya Isabel.


"Rumor? Aku gak tahu soal itu," kata Arlyn pura-pura tidak mengetahui yang sebenarnya.


"Udahlah kamu adalah orang yang entah ke berapa kalinya yang pura-pura gak tau soal aku. Aku juga tau kamu kok," kata Isabel.


"Dia tahu gue..." batin Arlynda.


Isabel berdiri dari duduknya dan berdiri di belakang Arlynda dan berbisik di telinga Arlynda.


Arlynda merasa tidak enak hati dan merasa takut sendiri tetapi apa daya jika memang Isabel tahu dirinya akan semakin bagus dan akan lebih mudah untuk Arlynda menyelidikinya.


"Kamu adalah orang yang sama yang ada di butik waktu itu, kamu mata-matai aku dan kamu ambil banyak foto aku. Tapi gak papa, aku tidak keberatan," bisik Isabel lalu dia kembali ke tempat duduknya. "Aku gak marah sama kamu tapi asal kamu tahu aku lakuin itu karena demi ibu aku. Dia lagi di rawat di Rumah Sakit dan laki-laki yang aku temui di butik itu adalah bos aku yang menyewa aku untuk jadi tunangan pura-puranya," sambung Isabel.


Mendengar itu dari isabel membuat Arlynda menjadi tidak enak karena sudah salah sangka dan mengikuti kemauan Dion.


Arlynda pun di ajak ke Rumah Sakit oleh Isabel untuk melihat ibunya yang sedang mendapat perawatan karena seminggu lagi ibunya Isabel akan menjalani operasi.


"Sorry ya gue gak tahu, lo maafin gue kan? Dan soal Dion apa lo benar-benar serius sama dia?" tanya Arlynda.


"Aku sayang banget sama Dion, dan aku juga serius sama dia tapi dia harus percaya sama aku kalau aku itu gak selingkuh dan gak matre," kata Isabel.


"Ya udah kalau gitu, gue pergi dulu ya sekali lagi gue minta maaf nanti gue bilang sama Dion yang sebenarnya..." kata Arlynda.


Flashback Off.


Setelah itu, Arlynda pamit karena harus segera menyelesaikan misi ini dan melaporkan semuanya kepada Dion.


πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ


Arlynda kembali ke kantor dan dia masih teringat Kinza yang memanggilnya dengan sebutan Deira. Arlynda berfikir mungkin dia adalah kakaknya tetapi jika memang kakaknya kenapa dia tidak memberitahukan yang sebenarnya.


"Enggak-enggak gak mungkin, dia bukan siapa-siapa gue apalagi kakak gue," gerutu Arlynda.


"Lo kok ngomong sendiri bikin takut gue aja," kata Mora


"Gak papa gue, kalo lo takut lo pulang aja sana," suruh Arlynda.

__ADS_1


"Lo tuh sensi banget sama gue, biasa aja dong," kata Mora yang sekarang fokus dengan komputernya.


"Dih bukannya lo yang sensi sama gue?" tanya Arlynda yang sekarang sudah merapikan mejanya karena hendak pulang


"Lo masih marah sama gue?" tanya Mora.


"Lo pikir aja sendiri..." kata Arlynda.


Saat Arlynda akan pulang, Alfarezi datang ke kantornya bersama dengan Sehan karena tadi kebetulan mereka bertemu di jalan.


Alfarezi langsung menghampiri Arlynda sedangkan Sehan dia menatap mereka dan berniat untuk jujur kepada Arlynda tentang apa yang dia tahu. Tetapi Sehan urungkan niatnya karena Arlynda takut marah kepadanya.


"Ya Ampun Arlynda kamu disini, kakak itu cari kamu tadi," kata Alfarezi.


"Udah pulang sana, biar tenang kantor ini gak ada lo," sambar Mora.


"Harusnya lo yang keluar dasar tukang nyinyir lo..." kata Arlynda.


"Lo tuh..." kata Mora.


Sehan dan Alfarezi yang melihat mereka bertengkar akhirnya memisahkan mereka berdua dan Alfarezi membawa Arlynda keluar dari kantor dan membawakan tasnya.


"Ih lo ngapain sih seret-seret gue keluar?" tanya Arlynda sembari kesal.


"Arlynda, itu temen kamu kenapa kamu bertengkar sama dia?"


"Dia yang mulai..." kata Arlynda cuek.


Di dalam kantor, Sehan melihat Mora yang cemberut lalu dia menyeduhkan segelas air teh manis untuk Mora dan memberikannya.


"Gak papa... aku cuma takut aja," kata Mora lalu menyeruput air teh manisnya.


"Takut, takut apa?" tanya Sehan lagi.


"Aku takut Arlynda suka sama kamu..." kata Mora.


Sehan mengusap wajahnya kasar dan berdiri lalu dia jongkok di hadapan Mora dan memberikan penjelasan bahwa Arlynda tidak akan menyukainya dan Sehan sendiri tidak akan berpaling dari Mora.


Mora mendengar hal itu merasa bahagia. Mora meminta Sehan agar dia cepat melamarnya dan menikah dengannya.


Sehan pun mengangguk tanda setuju tetapi tidak secepat itu, karena Sehan harus mengumpulkan dana terlebih dahulu untuk persiapan ke depannya.


"Tadi Dion telepon katanya besok dia akan kesini untuk mendapatkan informasi soal Isabel, kamu udah dapat informasinya?" tanya Mora.


"Udah sih tapi lengkapnya ada di Arlynda. Besok aja kita bahas, sekarang kita pulang udah sore..." kata Sehan lalu merapikan barang-barang dan tasnya.


Alfarezi pun mengajak Arlynda pulang dan dia pun menurut. Tetapi saat mereka akan masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Kinza datang dan menahan pintu mobil Alfarezi agar tidak terbuka.


Melihat itu, Alfarezi heran tiba-tiba Kinza datang dan menghalangi jalan mereka. Kinza ingin sekali berbicara dengan Arlynda tetapi kali ini Arlynda benar-benar tidak mau untuk mendengarkan ocehannya Kinza.


"Kamu lagi ngapain? Kok kamu tiba-tiba muncul dan menghalangi jalan kami?" tanya Alfarezi.


"Ada yang harus aku bicarakan sama kalian, ini penting..." kata Kinza.

__ADS_1


"Gak usah di dengar kak, dia ini orang aneh. Dia juga sempat peluk aku di jalan, bener-bener gak sopan..." sambar Arlynda.


"Gue minta maaf, gue gak maksud tapi tolong dengar dulu ini penting banget!" kata Kinza.


"Sepenting apa sih orang aneh? Lo lebih baik pergi deh..." usir Arlynda.


Kinza bingung antara harus jujur atau bohong lagi karena jika tidak jujur sekarang maka permasalahan tidak akan selesai. Tetapi jika jujur apakah mereka akan menerimanya sebagai bagian dari keluarganya.


Kinza benar-benar pusing, akhirnya dia memilih untuk menyingkir dari mobilnya Alfarezi dan membiarkan mereka pergi.


Melihat Alfarezi dan Arlynda pergi, rasanya sakit sekali karena tidak bisa untuk jujur kali ini.


Kinza pun mendapat telepon dari Ciara untuk menjemputnya dan mau tidak mau Kinza pergi untuk menjemput Ciara.


"Kamu itu lama banget sih jemput aku, aku nunggu kamu disini lama banget tau gak," kata Ciara yang melihat Kinza baru datang.


"Maaf sayang, aku kan harus menempuh perjalanan dulu, belum lagi macet." Kata Kinza mencari alasan.


"Alah kamu itu selalu banyak alasan, ayo kita pulang sekarang..." ajak Ciara yang sekarang berjalan menuju ke mobilnya Kinza.


Dengan langkah buru-buru, Kinza membukakan pintu mobilnya untuk Ciara.


Ciara pun masuk ke dalam mobil dan disusul Kinza yang menaiki mobilnya juga. Dengan cepat Kinza menyalakan mobilnya dan melaju untuk mengantar Ciara pulang.


Diperjalanan, Kinza melihat Ciara yang fokus dengan ponselnya dan merasa diabaikan.


"Ciara, maafin aku dong masa telat sedikit aja marah," kata Kinza membujuk Ciara.


"Aku marah sama kamu! Marah banget, aku tau kok kamu diluar sana bersama cewek lain." Kata Ciara.


"Cewek lain? Ciara aku gak sama siapa-siapa kamu jangan mikir kemana aja," kata Kinza.


"Ini lihat!" kata Ciara memperlihatkan foto yang ada di galeri ponsel nya.


Foto Kinza yang sedang memeluk Arlynda ternyata ada di dalam ponselnya Ciara dan Kinza merasa aneh dengan hal itu, bagaimana bisa Ciara tahu bahwa hari ini Kinza bertemu dengan Arlynda.


Ciara sengaja menyuruh orang untuk mengikuti Kinza dan melaporkan setiap kegiatan yang dilakukan oleh Kinza kepadanya tanpa sepengetahuannya.


"Kamu kok bisa tahu?" tanya Kinza.


"Ia karena aku suruh orang untuk ikutin kamu!" kata Ciara.


Kinza benar-benar tidak menyangka, pacarnya sekarang jadi seperti itu. Apa yang ada difikirannya saat ini sampai dia curiga dan menyuruh orang untuk mengikutinya.


"Ingat ya Kinza, aku bukan perempuan sembarangan yang bisa kamu bohongi, aku tau kamu hari ini ketemu sama cewek yang waktu itu serempet aku kan," kata Ciara.


"Aku bisa jelasin Ra, kamu dengar dulu penjelasan aku ya," kata Kinza.


"Aku gak mau, mulai sekarang aku larang keras kamu untuk deket sama cewek itu," kata Ciara.


Kinza pun diam saat Ciara marah kepadanya, niat untuk menjelaskan bahwa Arlynda itu adiknya tetapi Ciara terlanjur marah.


Akhirnya mereka sampai di rumah Ciara, Kinza langsung pamit dan sengaja tidak mampir ke rumah Ciara.

__ADS_1


"Kamu berubah Za, aku gak nyangka setelah kamu bertemu dengan perempuan itu kamu menjadi beda," batin Ciara lalu langsung masuk ke dalam rumahnya.


"Aaahhh... haruskah gue jujur sekarang kalau Arlynda itu adik gue? Tapi kalau gue jujur sekarang ayah gak akan terima dan pasti Arlynda akan dalam bahaya jika ayah tau soal ini, apalagi nenek sihir yang ada di rumah, ibu tiri paling menyebalkan." Gerutu Kinza saat dalam perjalanan.


__ADS_2