Detektif Cinta Anti Cinta

Detektif Cinta Anti Cinta
Bab 31 Detektif Cinta Anti Cinta


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Setelah Arlynda pulih dan boleh pulang dari rumah sakit, Bunda Puteri memutuskan untuk membawa Arlynda pergi dari Jakarta dan tinggal di Ciamis. Arlynda pun menyetujui ajakan bundanya dan akan meneruskan pekerjaannya menjadi Detektif Cinta Anti Cinta di Ciamis bersama bunda dan kedua kakaknya.


Sedangkan Tante Zia, dia sudah menikah dengan Vito dan sudah hidup bahagia. Sekarang Tante Zia dan Vito sudah pindah rumah dan tinggal di Ciamis karena ikut Vito yang memang dia orang Ciamis.


"Kak Kinza, maafin gue ya  karena gue udah gak percaya sama lo sebagai kakak gue. Yah karena sikap lo yang gak mencerminkan sebagai seorang kakak," kata Arlynda saat Arlynda dan Kinza sengaja mengobol bersama di luar rumah Tante Zia.


"Ia de gak papa, Maafin kakak juga karena selama ini kakak gak kenalin kamu sebagai adiknya kakak dan selalu tidak pernah percaya apa yang kamu bilang," kata Kinza.


"Kak boleh gak gue minta satu hal sama lo sebelum kita pindah ke Ciamis?" tanya Arlynda.


"Apa?"


"Gue ingin ketemu ayah, ia walaupun dia udaah keterlaluan sama kita, tapi sekali aja temuin gue sama ayah..." mohon Arlynda kepada Kinza.


"Kakak juga udah lama gak jengukin ayah. Ya udah nanti siang kita ke rumah ayah ya barengan sama Kak Alfa."


"Makasih ya kak," kata Arlynda lalu masuk ke dalam.


"Sayang kamu dari mana? Bunda cariin kamu loh,"


"Aku dari luar bunda, ada bunda cari Arlynda?"


"Ini tadi bunda buat roti bakar buat kamu, ayo cobain!"


Tanpa berfikir panjang, Arlynda langsung melahap roti bakar buatan bunda dan Alfarezi. Arlynda terlihat bahagia menyantap roti bakar yang sudah bunda dan kakaknya buat.


"Ehm enak banget, aku suka...," puji Arlynda yang masih asyik menyantap rotinya.


"Ya udah dimakan yah sayang ya..." kata Bunda Puteri.


Sebelum pergi ke rumah ayahnya, Arlynda memutuskan untuk ke kantor tempat kerjanya dahulu untuk menemui Mora dan juga Sehan karena sekalian berpamitan kepada mereka berdua  bahwa Arlynda akan pindah ke Ciamis. setelah sampai di kantor, Arlynda pun menemui Sehan dan Mora. Arlynda meminta maaf karena tidak bisa bekerja sama lagi bersama mereka berdua.


"Lo serius mau pindah Ar?" tanya Mora yang terlihat sedih.


"Ia Mora serius gue..., lo kenapa sih? Harusnya lo bahagia karena gue akan pergi dan artinya gak akan ada lagi yang ganggu lo," kata Arlynda.


"Ih  lo mah, gini-gini juga gue sayang sama lo. Walaupun nih ya gue sering berantem sama lo tapi gue gak mau lo tinggalin kita...," rengek Mora.


"Udahlah Mor, kamu itu. Kalo Arlynda ada disini diajak bertengkar mulu, giliran Arlynda pindah lo nangis," kata Sehan.

__ADS_1


"Sehaaan..., tapi kan gak harus pindah juga Arlyndanya," kata Mora.


"Udah-udah, Mora gue kan bisa sesekali dateng kesini nemuin lo sama Sehan, gue harus pindah karena gue harus ikut nyokap gue. Kan lo tau tante gue sekarang udah nikah jadi dia gak ada di Jakarta juga dan kalo gue ga ikut pindah masa ia gue sendiri di Jakarta,"


"Hmm ia juga sih, ya udah deh gue do'ain dimana aja lo berada lo selalu dalam perlindungan Tuhan dan lo juga jangan pernah lupain gue ya..." kata Mora.


"Ia Arlynda, Mora bener jangan pernah lo lupain kita," kata Sehan.


Arlynda pun mengangguk dan tersenyum. "Ya  enggaklah masa ia gue lupain kalian. Ya udah kalo gitu gue pamit ya sekalian juga mau mampir ke rumah ayah gue."


Siang harinya setelah dari kantor, Arlynda, Alfarezi, Kinza dan Bunda Puteri memutuskan untuk pergi ke rumah Pak Hardi untuk melihat kondisinya dan memberitahukan bahwa mereka akan pindah dari Jakarta. Tak berapa lama, mereka tiba di rumah Pak hardi  Tetapi rumah Pak Hardi terlihat sepi dan tidak berpenghuni.


"Maaf kalian mencari siapa yah?" tanya ibu-ibu pejalan kaki.


"Kami mencari Pak Hardi ayah kami... tapi kenapa semua gerbangnya dikunci dan kelihatan gak berpenghuni," kata Alfarezi.


"Ya ampun kalian kemana aja? Pak Hardi sudah lama meninggal, dua bulan yang lalu semenjak Restorannya bangkrut dan rumah ini pun sudah lama disita," kata ibu-ibu pejalan kaki.


Mendengar bahwa Pak Hardi sudah meninggal, mereka semua syok dan tidak menyangka jika Pak Hardi yang tak lain adalah ayah Alfarezi, Kinza dan Arlynda meninggalkan mereka secepat itu. Padahal harapan Arlynda bisa bertemu dengan ayahnya setelah beberapa tahun tidak pernah bertemu.


\~\~\~


Setelah mendengar kabar bahwa Pak Hardi sudah meninggal, Bunda Puteri dan ketiga anaknya pergi berziarah ke makam Almarhummah Pak Hardi.


"Maafkan Kinza ayah karena Kinza tidak berguna buat ayah, Kinza nyesel tinggalin ayah..." kata Kinza.


"Alfa juga minta maaf ayah, kalo aja Alfa waktu itu gak jahat sama ayah, ayah pasti masih hidup sekarang."


Setelah selesai berziarah, Bunda Puteri dan ketiga anaknya bersiap untuk pergi ke Ciamis dan memulai hidup baru yang mungkin akan lebih baik dari pada sebelumnya. Bunda Puteri sengaja membawa pindah Arlynda dan Kinza karena mulai sekarang rumah mereka bukan lagi di Jakarta melainkan di Ciamis bersama bundanya dan juga Alfarezi kakaknya.


Lima bulan kemudian.


"Hmm..., rasanya berbeda setelah gue tinggal di Ciamis," oceh Arlynda sambil mengirup udara segar.


Tanpa Arlynda sadari, ternyata di belakangnya usdah ada seseorang yang Arlynda kenal. Dia adalah Zaidan sahabat Alynda waktu kecil.


"Lo ngapain disini sendirian? Cuaca lagi dingin banget," katga Zaidan.


Arlynda menoleh ke arah belakang. "Zaidan, lo ko bisa disini?"


"Bisa dong, karena gue samperin lo disini. Lo tau gak Arlynda, gue gak bisa sedetikpun lupain lo karena gue takut kehilngan lo untuk kedua kalinya," kata Zaidan yang kini berdiri di samping Arlynda.

__ADS_1


"Lo gak berhak ngomong gitu," kata Arlynda.


"Kenapa? Gue udah tahu alasan lo menjauh dai setiap cowok yang berusaha mendekati lo. Lo itu berhak mencintai dan dicintai Arlynda,"


"Tau apa lo soal gue? Gue menjauh dari yang namanya cinta karena cinta gak menjamin kehidupan akan membaik,"


"Lo gak bisa ngomong gitu, lo salah Arlynda...,"


"Apa yang salah? Buktinya gue gak percaya," kata Arlynda yang langsung menangis.


Tiba-tiba Zaidan memeluk Arlynda yang sedang menangis. "Lo harus percaya Ar."


"Bagi gue, cinta dalam hidup gue udah hilang dan gak akan pernah bisa kembali Zaidan."


"Gue sayang sama lo Arlynda,"


Arlynda pun dengan cepat melepas pelukannya Zaidan. Arlynda tidak menyangka bahwa Zadian akan sejuju itu kepadanya padahal dulu Zaidan tidak sama sekali tidak menyukainya. Zaidan pun meminta maaf atas kesalahannya yang tidak menganggap Arlynda ada saat itu dan dengan sengaja mementingkan dirinya sendiri demi kebahagiaannya bersama wanita lain yang jelas-jelas mempermainkan cintanya Zaidan.


Kali ini Zaidan tulus mengatakan cinta kepada Arlynda dan Zaidan menginginkan kehidupannya bersama Arlynda terus berlanjut sampai ke jenjang yang lebih serius lagi.


"Cukup Zaidan gue gak mau denger kata cinta keluar dari mulut lo, gue mau fokus sama karir gue!"


"Tapi Arlynda gue tulus sama lo, gue minta maaf sempat mengabaikan lo dan gue kembali untuk menebus semua kesalahan gue sama lo,"


"Enggak, keputusan geu udah bulat. Lo lebih baik pergi dari sini dan lupain gue!"


"Tapi Arlynda...,"


"Gue mohon, lo pergi dan jangan pernah temuin gue lagi,"


"Oke Arlynda jika itu mau lo, gue akan turutin kemauan lo. Tapi lo harus bahagia dengan kehidupan yang lo jalani."


"Gue akan bahagia!"


Setelah Arlynda menyuruh Zaidan untuk pergi, Zaidan pun akhirnya pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali. Arlynda pun melanjutkan kuliahnya dan memutuskan untuk berkarir. mungkin beberapa tahun kemudian profesi sebagai detektif cinta akan berhenti, tetapi siapa yang akan tahu.


Setelah semuanya sudah selesai, keluarga Arlynda sudah berkumpul. Akhirnya keluarga mereka hidup bahagia dengan apa yang sudah keluarga Arlynda dapatkan. Mereka hidup penuh dengan keceriaan dan canda tawa yang pernah hilang sewaktu dulu saat mereka masih anak-anak.


Bertahun-tahun sudah berlalu, kini Alfarezi sudah menikah dan memiliki satu orang puteri yagn cantik jelita. Begitupun dengan Kinza, dia juga sudah menikah dan memiliki satu orang puteri juga yang cantik. Sedangkan Arlynda, dia meneruskan kuliahnya di luar negeri dengan mengambil jurusan hukum. Karena Arlynda memutuskan untuk menjadi pengacaraa yang bisa di andalkan oleh banyak orang.


Arlynda menjalani kehidupannya tanpa seorang kekasih di dalam hidupya dan kini Arlynda sangat menikmati kehidupannya yang benar-benar sempurna.

__ADS_1


"Rasanya tidak percaya bahwa aku kembali lagi ke Ciamis dan sudah menjadi seorang pengacara. Perjuanganku selama bertahun-tahun ini tidak sia-sia. Tuhan aku percaya janjimu. Terima kasih engkau sudah mewujudkan mimpiku."


Selesai...


__ADS_2