Detektif Cinta Anti Cinta

Detektif Cinta Anti Cinta
Bab 6 Detektif Cinta Anti Cinta


__ADS_3

6 πŸ“·


"Kamera gue, jangan ambil kamera gue!" teriak Arlyn sambil memegang lututnya yang terbentur ke lantai. Arlyn pun menangis sejadi-jadinya bahkan dia sendiri pun lupa bisa bela diri seandainya tadi kemampuan bela dirinya digunakan, kamera pentingnya tidak akan mereka ambil.


πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ


"Arlyn, ya ampun lo kenapa kok ini semua berantakan?" kata Sehan yang baru datang lalu membantu Arlyn untuk duduk di kursi.


"Ada yang gak beres, mereka menghancurkan seisi kantor," kata Mora lalu melihat meja kerjanya yang berantakan.


"Mereka cuma ambil kamera gue," kata Arlyn sambil terisak.


"Kamera lo? Sebenernya mereka siapa? Lo tau siapa mereka?" tanya Sehan.


"Gue gak tau siapa mereka... "


Sehan pun segera mencari tahu dan melihat CCTV yang ada di dalam kantor dan mengecek semuanya. Ada dua orang laki-laki yang masuk dan mengambil kamera milik Arlyn.


Sedangkan Mora membantu mengobati luka Arlyn dan mengambilkan air minum untuk Arlyn.


"Terus kenapa preman itu cuma ambil kamera lo aja? Dan mereka juga menghancurkan seisi kantor ini. Gak bisa dibiarin," kata Mora.


"Aduh gak tau gue Mora..." kata Arlyn.


Masih terus berfikir dan mengingat, kesalahan apa yang Arlyn perbuat sampai ada yang berbuat jahat dan nekat seperti ini.


Terlintas didalam fikirannya Arlyn tentang kejadian tadi siang bersama dengan Seo. Apakah Seo yang melakukan ini semua kepadanya dan tega merampas kamera miliknya.


"Sekarang gue antar lo pulang ya, biar nanti gue sama Mora yang beresin ini semua," kata Sehan menghampiri Arlyn.


"Ia Ar, lebih baik sekarang lo pulang ya..." kata Mora.


Arlyn pun mengangguk setuju, Sehan membantu memapah Arlyn menuju ke mobilnya yang terparkir diluar. Sehan pun membukakan pintu mobil untuk Arlynda dan menutupnya kembali setelah Arlyn masuk.


Segera Sehan melajukan mobilnya pelan mengantar Arlyn pulang. "Udah jangan nangis terus nanti gue beliin lo kamera yang baru," kata Sehan.


"Masalahnya kamera itu banyak foto-foto orang yang gue selidiki Han," kata Arlyn kesal dan masih terisak.


"Ya udah, kan lo punya salinan fotonya gak akan hilang," kata Sehan.


"Masalahnya gue gak punya salinannya, dan kamera itu berharga banget buat gue Han." Kata Arlyn.


"Ya udah lo jangan nangis terus! Mata lo nanti bengkak tau. Udah jelek nanti tambah jelek..." ledek Sehan kepada Arlyn.


Bukannya berhenti menangis, Arlyn malah semakin menjadi dan membuat Sehan pusing tujuh keliling dibuatnya karena tangis Arlyn semakin keras.


Sehan pun menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di rumah Arlyn dan cepat membuat Arlyn turun dari mobilnya. Sayangnya keadaan tidak memihak kepada Sehan karena jalanan saat ini sedang macet dan mereka terjebak macet bersama.


Arlyn pun sekarang sudah berhenti menangis tetapi berubah menjadi kesal karena jalanan yang macet.

__ADS_1


Sehan pun dengan sabar menghadapi Arlyn karena bagaimanapun Arlyn adalah teman kerjanya dan Sehan sudah menganggap Arlyn sebagai adiknya.


Sesampainya di rumah, Tante Zia melihat Arlyn dari jendela diantar oleh Sehan langsung keluar dengan panik karena melihat luka di lututnya Arlyn.


"Ya ampun Arlyn kamu kenapa?" tanya Tante Zia panik.


"Tadi..." kata Sehan terputus.


Dengan cepat Arlyn mencubit lengannya Sehan agar tidak bicara apa yang terjadi tadi di kantor dan hilangnya kamera Arlyn.


"Anu tante... tadi Arlyn jatuh didepan kantor akhirnya aku antar Arlyn pulang," kata Sehan.


"Ya udah sini tante bantu," kata Tante Zia memapah Arlyn.


"Kalo gitu Sehan pamit ya tante, Lyn gue balik ke kantor ya," kata Sehan.


"Ia, makasih ya..." kata Arlyn.


πŸ“ΈπŸ“ΈπŸ“Έ


Pagi ini Arlyn benar-benar tidak ingin pergi ke kantor karena kejadian kemarin yang membuatnya enggan untuk pergi ditambah kameranya yang dicuri. Tetapi bagaimanapun Arlyn harus bekerja.


"Arlyn kok belum siap-siap?" tanya Tante Zia yang melihat Arlyn masih diatas kasurnya.


"Arlyn malas bekerja tante," kata Arlyn.


"Luka kamu udah sembuh belum?" tanya Tante Zia.


Di tempat lain ada yang sedang melihat kamera milik Arlynda, semua foto yang ada di kamera itu dilihatnya satu persatu.


Setelah melihat foto di dalam kamera tersebut, kamera Arlyn pun dibantingnya dengan keras sampai rusak.


"Kalian harus culik pemilik kamera ini, aku akan buat dia menyesal seumur hidupnya karena telah menghancurkan rencanaku," perintah orang yang sudah memegang kamera Arlyn yang tak lain adalah Aditfi kepada lima orang pengawalnya.


Orang yang telah mengambil kamera milik Arlyn adalah orang suruhan Aditfi. Kini dia sedang merencanakan sesuatu untuk Arlyn karena gara-gara Arlyn semua rencananya gagal.


"Baik bos akan kami lakukan," kata Dua orang bodyguard itu berbarengan.


"Bagus!" kata Aditfi lalu pergi dari hadapan bodyguardnya.


Setelah selesai membersihkan diri, kini Arlyn siap untuk pergi bekerja. Sebelum pergi bekerja, Arlyn mengecek saldo di rekeningnya dan bayaran dari Seo ternyata sudah masuk kemarin.


Arlyn pun memberikan uang kepada Tante Zia, karena setiap bulan Arlyn selalu memberikan uang kepada tantenya. Karena bagaimanapun Arlyn ingin membahagiakan tantenya.


Tante Zia memang cerewet dan suka marah-marah kepada Arlyn tetapi Tante Zia memiliki hati yang baik dan sangat sayang kepada Arlyn.


"Terima kasih ya Arlyn, setiap bulan kamu selalu memberi tante uang. Maaf tante merepotkan kamu," kata Tante Zia kepada Arlyn saat Arlyn memberikan uang kepada Tante Zia.


"Gak usah berterima kasih tante, ini udah menjadi kewajiban Arlyn. Yang ada maafin Arlyn karena adanya Arlyn disini membuat tante susah," kata Arlyn

__ADS_1


"Jangan bilang gitu sayang, tante senang ada kamu. Andai mamah sama papah kamu tau pasti mereka juga bangga sama kamu," kata Tante Arlyn.


"Udahlah tante gak usah sebut mamah sama papahnya Arlyn, mereka itu gak sayang sama Arlyn makanya mereka titipkan Arlyn sama tante," kata Arlyn kesal.


Arlyn pun pamit berangkat ke kantor. Hari ini Arlyn naik angkutan umum, biasanya berangkat pakai ojek tetapi ojeknya tidak aja jadi memakai angkutan umum.


Di kantor, Sehan sedang mencari tahu siapa orang yang sudah membuat onar dan mencuri kamera itu, belum ada petunjuk hanya CCTV satu-satunya petunjuk.


Rumah Arlyn ke kantor memakan waktu 45 menit jika memakai angkutan umum, tetapi jika naik ojek hanya 20 menit.


Kini Arlyn sudah sampai di kantor, dilihatnya di meja sudah ada kamera baru yang masih dibungkus rapi.


"Kok ada kamera disini?" tanya Arlyn.


"Itu dari Sehan dan gue, kita gak bisa kerja tanpa itu," kata Mora.


"Ya ampun, makasih banget Mora, Sehan kalian emang sahabat gue yang paling baik," kata Arlyn lalu melihat-lihat kameranya.


"Oh ya Ar, kasus yang lo tangani gimana? Itu loh Seo itu yang kemarin dia dateng loh kesini baru aja," kata Mora.


"Ngapain Seo datang kesini?" tanya Arlyn.


"Dia tanyain lo, dan ini dia memberikan alamat rumah. Dia suruh lo dateng ke alamat ini," kata Mora.


Arlyn pun mengambil kertas berisikan alamat yang tertulis itu dari Mora dan melihat alamatnya.


Arlyn pun akan datang ke alamat ini karena Seo adalah Kliennya walaupun kemarin Seo marah-marah kepadanya.


Bukan salah Arlyn juga tetapi Emosi yang menguasai Seo yang membuatnya kesal dan marah. Sebelum pergi ke alamat yang diberikan Seo, Arlyn pergi untuk membantu Klien yang lain.


Kliennya bernama Runa dan bilang bahwa dia diputuskan oleh pacarnya karena pacarnya berselingkuh dengan sahabatnya, kini Arlyn bertugas mencari kebenaran yang sesungguhnya.


Mulai menguntit. Arlyn mengikuti targetnya sekarang dan akan tahu yang sebenarnya.


Memulai dari sahabatnya Runa yang bernama Wulan, Wulan gadis yang cantik, rambut ikal, dan tinggi badan 160 cm ditambah warna kulit putih yang ia miliki. Pantas saja banyak yang menyukainya karena dia adalah wanita yang paling populer di kampusnya.


Arlyn benar-benar mengikuti Wulan sampai ke kampus dan melihat dari jauh.


Kriing... kriing... kriing.


Telepon Arlyn berdering ada panggilan masuk dari Seo lalu diangkatnya panggilan tersebut.


"Hallo," kata Arlyn.


"Lo dimana? Gue ada perlu sama lo, Gue tunggu lo dalam waktu 10 menit," kata Seo.


"10 menit, lo parah sih emang. Gue gak mau datang dalam waktu 10 menit, kalo lo butuh gue tunggu aja sampai gue dateng!" jawab Arlyn.


Tut... tut... tut.

__ADS_1


Panggilan diputuskan secara sepihak oleh Arlyn. Arlyn pun meneruskan memata-matai Wulan.


"Heran ya ni cewek, awas aja ya kalo ketemu, gue acak-acak rambutnya..." gerutu Seo.


__ADS_2