
9 π·
"Ayo Arlyn kamu harus makan yang banyak ya, supaya kamu cepat sembuh," kata Tante Zia yang kini sedang menyuapi Arlynda.
"Tante jangan banyak-banyak, bibir aku masih sakit ini." Kata Arlyn manja.
"Ya udah sedikit-sedikit ya. Dan satu lagi kamu jangan pergi kemana-mana sebelum kamu sembuh oke," kata Tante Zia.
"Oke bos..." jawab Arlyn.
Sehan dan Mora sudah pergi dan akan meneruskan mengusut kasus percintaannya Runa yang tertunda oleh Arlyn.
Tak hanya itu, Sehan dan Mora membantu mencari siapa pelaku yang sudah membuat Arlyn seperti itu dan tidak bisa dibiarkan terulang kembali.
Sedangkan Seo masih memikirkan Arlynda yang saat ini masih dalam keadaan belum stabil. Seo memutuskan untuk menghubungi Arlyn karena hatinya begitu tidak tenang.
"Siapa yang telpon Arlyn? Kok gak diangkat?" tanya Tante Zia yang melihat Arlyn mereject panggilan telepon yang masuk.
"Ia tante, Arlyn lagi pengen istirahat gak mau terima telepon dari siapapun," kata Arlyn.
"Kok direject sih," gumam Seo.
Aliska yang melihat Seo langsung menghampiri Seo yang sekarang sedang menatap layar ponselnya dan melihat wajah Seo yang sedang kecewa.
Sedangkan Seo yang sedang diperhatikan oleh kakaknya tidak tahu bahwa sekarang kakaknya berada dekat dengan Seo.
Dipegangnya pundak Seo oleh Aliska "Kamu kenapa? Kayaknya lagi gelisah banget," kata Aliska.
Seo pun terperanjat kaget saat Aliska memegang pundaknya Seo "Kak Alis, aku gak papa kok. Aku cuma kefikiran Arlynda aja bagaimana kondisinya sekarang," kata Seo.
"Arlynda pasti baik-baik aja. Kalo boleh kakak tau Arlynda itu siapanya kamu?" tanya Aliska yang kini sedang tersenyum kepada Seo.
"Temen kok kak, dia itu cewek paling aneh yang pernah Seo temuin dan baru kali ini juga Seo ketemu sama cewek super duper nyebelin." Kata Seo.
__ADS_1
"Nyebelin tapi kamu suka ia kan?" ledek Aliska.
"Kakak nih, apa lagi. Udah ah lebih baik sekarang kakak istirahat di kamar ya," kata Seo yang sekarang membantu mendorong kursi roda yang diduduki oleh Aliska.
πΈπΈπΈ
"Kamu sedang apa? Udah cukup ya kamu tatap foto itu, kamu tau betapa hancurnya hidup bunda kala melihat foto itu," kata Bunda Puteri yang sekarang telah menitikan air matanya.
"Bunda tau kenapa aku terus melihat foto ini? Karena bunda telah memisahkan aku dengan kedua adik aku. Aku tidak menyalahkan bunda, tapi aku sedang mencoba berdamai dengan hatiku bunda." Kata Alfarezi lalu membalikan bingkai fotonya agar fotonya tertutup.
Bunda Puteri adalah bunda dari Alfarezi dan Arlynda. Puteri memiliki tiga orang anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Bunda Puteri berpisah dengan kedua anaknya yaitu Arlynda Deira Puteri dan Kinza Evano Putera.
Alfarezi Rayhan Putera adalah anak pertama Bunda Puteri, dan Kinza Evano Putera adalah anak kedua dan yang terakhir adalah Arlynda Deira Puteri. Mereka terpisah sejak mereka masih kecil, sedangkan Arlyn ditinggalkan sejak ia masih balita.
Sampai saat ini, mereka belum pernah bertemu kembali dengan Arlynda. Bahkan keberadaannya pun tidak diketahui karena Tante Zia membawa pindah Arlyn saat Arlyn dititipkan kepada Tante Zia.
Flashback On.
"Kamu jangan egois gitu dong mas, kalau kamu mau ceraikan aku silahkan. Tapi jangan korbankan anak kita," teriak Puteri dari dalam rumah yang kini sedang berdebat dengan suaminya.
"Enggak, Alfa sama Arlyn juga anak kamu mas. Jangan pisahkan aku dengan Kinza!" Puteri pun menangis dan tidak bisa mencegah kepergian Pak Hardi.
Tangis dari ketiga anak Pak Hardi dan Bunda Puteri tidak bisa dibendung lagi apalagi Arlynda yang masih balita dia menangis sangat keras.
Keributan di rumah Pak Hardi membuat para tetangga yang mendengarnya pun penasaran saat mendengar keributan tersebut.
Pak Hardi membawa Kinza dan memisahkan Kinza dengan bundanya. Sedangkan Alfarezi dan Arlynda bersama dengan Bunda Puteri.
Bunda Puteri yang hanya seorang penjahit tidak mampu untuk membiayai Alfa dan Arlyn. Setelah kepergian suaminya, Bunda Puteri memutuskan untuk menitipkan Arlyn kepada adiknya karena jika Bunda Puteri membawa bersamanya takutnya Arlyn tidak terurus.
Alfarezi kala itu sudah berusia tujuh tahun dan Kinza saat itu masih berumur lima tahun.
Mereka terpisah dan sampai saat ini tidak bertemu dan bahkan tidak tahu keberadaannya dimana.
__ADS_1
Flashback Off.
"Bunda gak bisa bersembunyi terus hanya karena merasa bersalah, kita masih punya Kinza dan Arlynda Bunda. Aku rindu adik kecil aku, Kinza dan Arlynda." Kata Alfarezi yang kini memeluk bingkai foto keluarganya.
"Bunda mengerti sayang, bunda juga rindu sama Kinza dan Arlynda. Tapi bunda takut saat bertemu dengan mereka," kata Bunda Puteri.
"Bunda izinkan aku untuk mencari adik aku. Arlynda harus bersama kita bunda," kata Alfarezi.
"Baiklah, mungkin ini saatnya untuk kamu bertemu dengan adikmu!" kata Bunda Puteri.
Dengan hati yang bahagia, Alfarezi langsung memeluk Bunda tercintanya karena sudah mengizinkan untuk pergi mencari Arlynda dan juga Kinza.
Tak lama, Alfarezi langsung beres-beres dan mempersiapkan segala keperluannya. Sedangkan Bunda Puteri akan menyusulnya nanti setelah Alfarezi berhasil menemukan kedua adiknya.
Karena sekarang Bunda Puteri sudah memiliki butik yang ia kelola sejak beberapa tahun lalu, jadi tidak bisa ditinggal begitu saja.
Sore ini hujan turun sangat deras, Arlynda menatap ke arah jendela yang kini sudah basah karena cipratan air hujan. Memikirkan sesuatu yang belum pernah terfikirkan.
Arlynda menjadi teringat cerita yang disampaikan oleh Tante Zia mengenai keluarganya. Bahwa saat kecil Arlyn dititipkan kepada Tante Zia.
Tetapi Tante Zia belum pernah sekalipun memperlihatkan foto keluarga Arlynda bahkan Tante Zia sembunyikan rapat-rapat foto itu bahkan Tante Zia tidak memberitahukan bahwa Arlyn mempunyai dua orang kakak.
Tante Zia hanya menjelaskan alasan mereka meninggalkan Arlynda. Pertama karena kekurangan biaya untuk merawatnya dan Bundanya hanyalah seorang penjahit dan tidak mampu membiayai Arlynda.
Sedangkan papahnya Arlynda berselingkuh dengan wanita lain yang satu kantor dengannya. Papahnya Arlyn sebenarnya pengusaha tetapi dia tidak pernah memberi biaya sedikitpun untuk Arlyn semenjak perpisahannya dengan Puteri.
Tante Zia sangat menyayangi Arlyn walaupun mereka sering bertengkar dan Arlyn sudah dia anggap sebagai puterinya. Sejak Arlyn masih kecil, Arlyn hanya dirawat oleh Tante Zia dan itupun serba kekurangan. Tetapi saat ini keadaan sudah membaik karena Arlyn sendiri mempunyai pekerjaan.
Setiap kali Tante Zia melihat Arlyn, dia teringat dengan Puteri, kakaknya yang sudah lama juga tidak bertemu.
"Katanya ibu aku itu cantik, baik, tapi sampai sekarang aku belum pernah melihat sosok ibu, dan juga papah. Apa mereka sekarang udah lupa kali ya sama Aku. Bagaimana aku bisa yakin kalo mereka sayang sama aku sedangkan aku sendiri belum pernah mereka tengok sedikitpun," batin Arlyn.
Sekarang Arlynda hanya fokus kepada pekerjaannya dan juga kuliahnya, dan mungkin sekarang Arlyn harus cari tahu siapa yang sudah menculiknya.
__ADS_1
Bukan tidak perduli tetapi Arlyn sudah nyaman hidup bersama Tante Zia satu-satunya keluarga yang Arlyn miliki.