
7 π·
Tut... tut... tut.
Panggilan diputuskan secara sepihak oleh Arlyn. Arlyn pun meneruskan memata-matai Wulan.
"Heran ya ni cewek, awas aja ya kalo ketemu, gue acak-acak rambutnya..." gerutu Seo.
πΈπΈπΈ
Terlihat Wulan keluar dari kelasnya menuju ke kantin kampus bersama dengan seorang pria, dilihatnya Foto pacarnya Runa dan mirip dengan laki-laki yang kini sedang bersama Wulan.
"Wah mereka beneran pacaran, atau mungkin mereka sahabatan. Gue harus lebih teliti lagi," oceh Arlyn.
Selesai mengintai Wulan, walaupun belum dapat informasi lengkapnya Arlyn segera pergi ke rumahnya Seo untuk menemuinya karena ada hal penting juga yang harus Arlyn tanyakan kepadanya.
Arlyn berfikir bahwa Seo lah yang sudah mengambil kameranya dan ingin segera menanyakannya pada Seo.
Sesampainya di gerbang rumah Seo, Arlyn menemui satpam dan menanyakan Seo kepada satpam.
Satpam memberitahukan kedatangan Arlyn kepada Seo. Seo pun langsung keluar untuk menemui Arlyn yang menunggu didepan pintu rumahnya.
"Akhirnya lo datang juga," kata Seo.
"Akhirnya gue bisa nemuin lo si pencuri kamera," tuduh Arlyn kepada Seo.
"Pencuri kamera, kamera apaan? Woy lo itu salah orang! Gue gak pernah curi kamera lo, udah putusin telepon sepihak sekarang lo nuduh lagi," kata Seo.
Rencana untuk mengacak-acak rambut Arlyn pun terlupakan karena tuduhan Arlyn kepada Seo yang membuat Seo kaget bukan main.
"Lo suruh gue kesini karena lo mau balikin kamera gue kan yang lo curi kemarin secara paksa. Lo suruh orang-orang lo buat curi kamera gue!" kata Arlyn sewot.
"Lo... wah sembarangan, buktinya mana kalo gue yang curi kamera lo?" tanya Seo.
Arlyn pun terdiam dan tidak bisa menuduh Seo lagi karena memang tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Seo yang mencuri kameranya.
Seo pun mengajak Arlyn masuk kedalam dan memberikan amplop berisi uang untuk Arlyn.
Merasa curiga, Arlyn pun tidak merespon Seo yang memberikan amplop itu.
"Ambil! Isinya uang dan itu buat lo" kata Seo.
"Lo mau nyogok gue?" tanya Arlyn.
"Ini itu ucapan terima kasih gue buat lo karena lo udah bantu gue membuka kelicikan Aditfi," kata Seo.
"Gue gak butuh uang lo, lagi pula itu tugas gue kan untuk membuka kejahatan di dunia percintaan," kata Arlyn.
Arlyn pun melangkahkan kaki untuk segera pergi dari rumah Seo dan bagi Arlyn sudah cukup sampai disini berurusan dengan Seo.
Seo pun masih tidak mengerti dengan tuduhan yang dilontarkan oleh Arlyn kepadanya. Membuatnya penasaran, Seo pun mengejar Arlyn keluar.
__ADS_1
Diluar rumah Seo, ada yang memperhatikan dan menunggu seseorang. Mereka adalah orang-orang suruhan Aditfi untuk menculik Arlyn.
Bukan hanya dua orang, tetapi lima orang yang berusaha untuk menculik Arlyn.
Para preman itu dibayar untuk menculik Arlyn. Selain menculik Arlyn dan menyuruhnya menyekap Arlyn.
Terlihat dua orang yang sedang menarik tangannya Arlyn secara paksa didepan gerbang rumahnya Seo.
Satpam di rumahnya Seo pun sudah dilumpuhkan oleh orang suruhannya Aditfi dan kini Arlyn dipaksa untuk memasuki mobil orang-orang itu.
Seo pun keluar dari rumah dan melihat Arlyn yang sedang ditarik secara paksa kedalam mobil dan berlari untuk menghampiri Arlynda.
"Lepasin gue... aww tangan gue sakit, lepasin," kata Arlynda berusaha melepaskan cengkraman orang itu.
Seo pun datang dan mencoba untuk membantu Arlynda.
Tetapi sayang, mereka terlalu banyak dan Seo tidak mampu untuk melawan mereka sendiri, dan kemampuan Arlyn pun tidak sekuat mereka.
Arlyn pun mencoba melepaskan diri tetapi tidak bisa akhirnya Arlyn tertangkap oleh mereka semua dan tinggallah Seo sendiri yang kesakitan akibat pukulan orang suruhan itu.
Di dalam mobil, Arlyn diikat dan mulutnya pun dibekap oleh saputangan agar tidak bisa mengeluarkan suara.
Dengan panik, Seo segera mengikuti mobil penculik itu agar tidak ketinggalan jejak.
πΈπΈπΈ
Malam pun tiba dan sesampainya di markas mereka, Arlyn diikat di kursi oleh para penculik itu.
"Eemmmm..." Arlyn tidak mampu berbicara karena mulutnya saat ini masih di bekap, tangan dan kakinya pun diikat.
"Tolong... siapapun tolong gue," batin Arlyn dan kini Arlyn pun menangis.
Siapa yang telah tega menculiknya seperti ini, setau Arlyn dia tidak pernah mempunyai musuh diluar sana.
"Arlyn lo sabar ya, gue ada disini buat bebasin lo. Bertahan Arlyn," batin Seo yang masih fokus memperhatikan para penculik dari jauh.
Seo pun berusaha masuk ke dalam gerbang yang cukup besar, Seo naik ke pagar gerbang agar bisa masuk dan mengendap-ngendap untuk masuk kedalam tempat dimana Arlyn disekap.
Byuuurr...
Satu ember air disiramkan ke tubuh Arlyn oleh Aditfi yang tiba-tiba muncul, tetapi wajah Aditfi ditutupi oleh topeng agar wajahnya tidak terlihat oleh Arlyn.
Seketika Arlyn pun kaget terkena siraman air dari Aditfi. Arlyn pun hanya melihat mata Aditfi saja dan berusaha melepaskan diri walaupun ikatannya begitu kuat.
"Percuma kamu berusaha melepaskan tali ikatan itu, gak akan pernah bisa kamu lolos dari kita!" kata Aditfi.
"Emmm...." Arlyn berusaha untuk bicara.
"Hahaha... percuma juga, ayo teriak sekeras-kerasnya. Kamu gak pantas mendapatkan kehidupan Arlynda, kamu itu penipu dan kamu pantas untuk mendapat hukuman!" oceh Aditfi lagi. "Ambil satu ember air lagi," perinta Aditfi kepada pengawalnya.
Dengan cepat, pengawal itu mengambil air yang diperintahkan oleh Aditfi. Setelah itu diberikannya kepada Aditfi dan.
__ADS_1
Byuurrr...
Satu ember air disiramkan kepada tubuh Arlyn lagi dan sekarang tubuh Arlyn benar-benar basah kuyup.
Seo yang melihat Arlyn disiram air pun merasakan sakit dalam dadanya. Entah perasaan apa yang kini dirasakan oleh Seo saat melihat Arlyn diperlakukan seperti itu.
Aditfi pun menjambak rambutnya Arlyn dan kini Arlyn merasakan sakit dibagian kepalanya karena jambakan tersebut.
"Dengar Arlynda, kamu telah merusak hubunganku dengan seseorang yang begitu berharga untukku. Kamu tahu dia adalah aset untukku dan sekarang kamu menghancurkannya," kata Aditfi yang sekarang berbisik tepat ditelinganya Arlyn.
Arlynda hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa sekarang selain pasrah dan menerima keadaan ini.
Plaak!
Satu tamparan keras di pipinya Arlyn sampai memerah dan itu belum puas bagi Aditfi dia ingin membuat Arlynda menyesal telah menghancurkan kehidupannya.
Brraakk.
Seo menendang pintu markas Aditfi dengan keras sampai pintunya rusak dan satu pukulan berhasil mendarat kepada pengawal Aditfi.
Buuuukkk
Dessiiggh
Seo menghajar semua pengawal Aditfi yang berjumlah tiga orang, karena dua orang telah pergi untuk berjaga-jaga dan Seo membuat tiga pengawal itu lemah tidak berdaya.
Sekarang giliran Aditfi yang akan Seo beri pelarajan. Seo menarik kerah bajunya Aditfi dan meninju wajahnya sampai Aditfi tersungkur ke lantai.
Seo melihat ke arah Arlyn yang sekarang lemah tidak berdaya dan berantakan, matanya Seo berkaca-kaca. Dengan cepat Seo meninju wajahnya Aditfi lagi dan berusaha membuka topeng yang menutupi wajahnya.
Akan tetapi usahanya gagal karena Aditfi menendang perutnya Seo sampai Seo terpental. Tidak mengambil waktu lama, Aditfi pun kabur tanpa Seo sempat melihat wajahnya.
Dengan segera Seo menghampiri Arlyn dan membuka ikatannya serta membuka saputangan yang membekap mulutnya Arlyn.
Arlyn hanya menangis dan tidak berkata apa-apa selain diam dan terus mengeluarkan air matanya karena ketakutan dan kesakitan.
"Lo aman sekarang, ada gue disini." Kata Seo yang masih sibuk membuka ikatannya Arlyn.
"Gue takut, mereka culik gue dan siksa gue..." kata Arlyna masih terisak.
"Maafin gue ya gara-gara gue lo dalam bahaya," kata Seo. "Sekarang kita ke Rumah Sakit ya lo harus diperiksa,"
"Enggak, gue gak mau ke Rumah Sakit gue gak apa-apa kok," kata Arlyn.
Setelah ikatan Arlyn berhasil dilepas, Arlyn mencoba berdiri dan berjalan keluar dari markas tersebut.
Diikuti oleh Seo yang menjaganya dari belakang karena Arlyn menolak untuk dipapah oleh Seo.
Bruuukk.
Tiba-tiba Arlyn jatuh pingsan dan dengan sigap Seo menangkap tubuh Arlyn dan menahan tubuhnya yang benar-benar sudah tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Arlyn... Ar..." kata Seo dengan segera Seo membopong tubuh Arlyn dan memasukannya kedalam mobilnya lalu dibawa ke rumahnya karena sebelumnya Arlyn tidak mau dibawa ke Rumah Sakit.
"Arlyn kamu kemana sih, jam segini kok belum juga pulang..." kata Tante Zia yang menunggu kedatangan Arlyn karena udah terlalu larut.