
28 đź“·
Alfarezi, Kinza dan Tante Zia sudah menunggu Arlynda di depan pintu kamarnya. Mereka bertiga berdiri di depan pintu kamar Arlynda dan menunggu Arlynda keluar dari kamarnya.
Tak lama, Arynda membuka pintu kamarnya sontak Arlynda kaget saat melihat sudah ada kakaknya dan tantenya berdiri di depan pintu kamarnya.
“Aduh tante, kak Alfa kalian ini kenapa sih kok berdiri di depan pintu gini?" tanya Arlynda yang sekarang turun kebawah dan disusul oleh kakanya dan tantenya.
“Sini... sekarang kamu akan kita perlakukan sebagai tuan putri dan kamu jangan melakukan apapun kecuali makan, shopping dan apapun yang buat kamu bahagia," kata Tante Zia lalu memegang pundaknya Arlynda dan berjalan bersama ke bawah.
“Kalian ini kenapa sih? Aneh banget deh,” kata Arlynda. “Oh ia, kalian kok mau sih ada orang ini di rumah ini?” sambung Arlynda sambil nunjuk kepada Kinza.
“Loh kamu kok ngomongnya gitu Ar? Kinza ini kakak kamu,” kata Alparezi.
“Oh ya? Dia ini gak pantes di sebut kakak, dia ini bukan kakak yang baik. Kak Alfa gak tau aja kalo orang ini punya rencana jahat dibalik kebaikannya,” kata Arlynda blak-blakan.
“Arlynda cukup, kamu gak seharusnya bicara seperti itu sama kakak kamu sendiri,” kata Tante Zia.
Arlynda pun cemberut dan sedikit kesal, tetapi Arlynda pun tidak bisa terus menyalahkan Kinza dan dia harus bisa menerima Kinza sebagai kakaknya walaupun kekasihnya Kinza lah yang berusaha mencelakainya.
Kinza yang mendapat lontaran kata-kata itu dari Arynda hanya diam dan menunggu sampai Arynda bisa menerimanya sebagai kakaknya.
Tak lama, Sehan dan Mora datang untuk menjenguk Arlynda karena mereka mendapat kabar dari Alfarezi bahwa Arlynda sudah pulang kemarin malam. Tante Zia pun membukakan pintu untuk Sehan dan Mora yang sudah datang. Mereka membawa bingkisan makanan dan buah-buahan untuk Arlynda.
Arlynda yang melihat teman-temannya selamat sangat bahagia, untung saja kemarin Zaidan dan anak buahnya serta polisi segera datang untuk menghentikan aksi Aditfi, kalau tidak entah apa yang akan terjadi kepada mereka semua dan kepada dirinya.
“Ya ampun Arlynda, kita khawatir banget sama kamu Arlynda,” kata Mora.
“Makasih banget kalian udah khawatir sama aku, maaf kemarin aku gak bisa nolong kalian,” kata Arlynda.
“Arlynda lo gak usah fikirin soal itu, kita gak papa. Yang ada kita yang bikin repot lo,” kata Sehan.
__ADS_1
“Gila ya Sehan, gue ajak kesini itu buat nengokin Arlynda, sekarang malah deket-deketan lagi sama Arlynda so' soan lagi so' perhatian,” batin Mora.
Setelah Sehan dan Mora selesai menjenguk Arlynda, mereka kembali ke kantor. Tetapi Mora agak berbeda dari sebelumnya karena dia merasa cemburu dan merasa tersaingi padahal sebentar lagi mereka akan menikah.
Sebenarnya Sehan tau perubahan Mora dan dia juga tahu bahwa Mora sedang cemburu, tetapi Sehan hanya berniat menjenguk Arlynda dan jika Sehan merasa khawatir itu wajar karena mereka juga kan sahabat dan teman kerja.
Di tempat lain, Ciara masih menunggu kedatangan Zaidan yang tak kunjung datang. Ciara mulai kesal kepada Zaidan dan dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk menjemput Zaidan ke rumahnya.
Setelah mendapat perintah dari Ciara, salah satu anak buahnya Ciara pergi ke rumahnya Zaidan untuk menjemput Zaidan. Tetapi saat anak buah Ciara datang untuk menjemput Zaidan, Zaidan sudah tidak ada di rumahnya dan rumahnya dalam keadaan sepi.
📸📸📸
“Apa? Jadi Kinza sudah menemukan Zia dan juga kedua anakku?” kata Pak Hardi.
“Betul tuan,” kata salah satu anak buahnya.
“Mas kamu ingat kan sama janji kamu dulu bahwa kamu tidak akan pernah menemui mereka lagi walaupun mereka sudah ketemu? Kamu juga ingat kan bahwa kamu sudah menganggap mereka bukan anak kamu lagi,” kata Berly.
“Tapi Kinza tidak pulang apakah aku harus membiarkan Kinza bersama mereka? Kamu jangan egois Berly mereka semua juga anakku,” kata Pak Hardi.
“Kamu ancam aku? Berani-beraninya kamu ya...” kata Pak Hardi.
“Ia aku ancam kamu dan kalau kamu macam-macam maka keselematan anak kamu akan jadi taruhannya atau kamu juga akan jadi taruhannya mas!” kata Berly lalu dia pun berlalu pergi.
Ternyata di balik jendela sudah ada Vito yang sedang mendengarkan pembicaraan mereka. Dan sebenarnya Vito di suruh oleh Kinza untuk menjadi mata-mata papahnya karena Kinza sudah tahu kelicikan Berly yang sesungguhnya karena dia hanya ingin harta papahnya saja.
Dan Kinza tidak mungkin membiarkan semua itu terjadi. Tidak mungkin Kinza akan membiarkan semua harta papahnya jatuh ke tangan Berly, ibu tirinya yang hanya memanfaatkan harta papahnya.
Vito pun menelpon Kinza dan mengirimkan video rekaman tadi kepada Kinza agar Kinza memiliki bukti.
Di depan Rumah Arlynda, ternyata Zaidan sudah ada disana dan dia setia menungu di depan rumah Arlynda. Alfarezi melihat Zaidan dan menyuruh Arlynda untuk menemuinya tetapi Arlynda terlihat malas dan enggan untuk menemui Zaidan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Seo pun datang dan akhirnya Zaidan dengan Seo pun bertemu secara lansung. Disana ada perdebatan sedikit dan Arlynda melihat di balik jendela. Akhirnya melihat perdebatan antara Seo dan Zaidan, Arlynda pun keluar dan menemui mereka berdua.
“Hai Arlynda...” sapa Zaidan.
“Arlynda ini aku bawa sarapan buat kamu,” kata Seo sambil menyodorkan kotak makanan untuk Arlynda.
“Kalian itu ya, ngapain kesini?” tanya Arlynda.
“Yang pertama aku itu mau ngajak kamu jalan Arlynda...” kata Zaidan.
“Sama aku juga mau ajakin kamu jalan, makan, nonton dan banyak lagi...” kata Seo.
Zaidan pun melihat ke arah Seo tidak terima karena Arlynda di ajak jalan oleh Seo “Gue duluan yang nyampe disini dan lo gak berhak untuk jalan sama Arlynda. Karena Cuma gue yang pantas jalan sama dia,” kata Zaidan.
“Lo itu siapa? Lo juga gak berhak ajak jalan Arlynda,” kata Seo.
“Aduh stooop, kalian tuh berisik banget sih kenapa kalian jadi bertengkar,” kata Arlynda. “Oke, Seo kenalin ini Zaidan dan Zaidan kenalin ini Seo. Zaidan ini temen gue dan kita udah lama kenal. Zaidan dia ini Seo dia juga temen gue! Dari pada kalian ribut lebih baik kalian masuk dan kita makan sama-sama kebetulan di rumah ada makanan banyak banget,” kata Arlynda lalu langsung masuk.
Zaidan dan Seo pun mengikuti Arlynda tetapi mereka tetap masih bertengkar dan tidak mau kalah. Mereka pun rebutan untuk masuk duluan ke rumah Arlynda. Tetapi Arlynda mendiamkan mereka dan terlihat kesal karena melihat mereka berdua bertengkar dan tidak akur.
Setelah mereka ada di dalam rumah, Kinza melihat Zaidan dan sepertinya dia mengenali Zaidan “Eh eh lo... lo kayak anak buahnya Ciara, Wah ia lo anak buahnya dia kan? Jangan-jangan yang kemarin bawa Arlynda itu lo,”
“Ehm.. sebenarnya,” kata Zaidan.
“Alah udahlah lo pasti mata-matain gue kan?” tanya Kinza.
“Lo apaan sih, dia ini Zaidan temen lama gue...” kata Arlynda.
“Temen lama lo? Arlynda dia ini orang jahat dia mata-mata! hati-hati lo sama dia,” kata Kinza.
“Tau apa lo soal dia? Lo juga pacaran kan sama Ciara? Lo tau gak yang menyelamatkan gue kemarin itu Zaidan dan pacar lo yang udah suruh orang buat celakain gue,” kata Arlynda kesal.
__ADS_1
“Apa?” kata Kinza.
“Ia, dan lo jangan pernah bilang Zaidan itu mata-mata karena dugaan lo salah. Dan sekarang gue mau lo keluar dari rumah Tante Zia! Karena lo, gue jadi incarannya Ciara,” kata Arlynda.