
19 π·
Dikamar, Aliska menangis karena Seo tak kunjung pulang dan tidak biasanya seperti ini tanpa ada kabar.
Bi Dinar menyuruh anak buahnya Seo untuk mencari Seo atas perintah Aliska. Walaupun malam-malam seperti ini, mereka menuruti perintah Aliska untuk mencari keberadaan Seo.
"Non, non ndak boleh nangis terus. Bibi jadi ikut sedih toh non," kata Bibi Dinar yang sekarang sedang mengelus punggungnya Aliska.
"Bi... Seo itu gak pernah kayak gini sebelumnya, dia gak ada kabar dan susah dihubungi tau bi..." kata Aliska.
"Oh ia non, non masih ingat gak sama gadis yang waktu itu katanya temannya Den Seo? Mungkin temannya Den Seo tau dimana keberadaan Den Seo," kata Bibi
"Oh ia, Arlynda..." dengan cepat Aliska menelepon Arlynda dan kebetulan dia mempunyai nomornya karena pada saat Seo menolongnya waktu itu dia sempat mencatat nomornya Arlynda.
Aliska menelepon Arlynda tepat pukul 22.00 malam hari karena selarut ini Seo belum kembali ke rumah.
Telepon Arlynda yang tergeletak di kursi berdering dan dengan cepat Alfarezi yang mendengar pun mengangkatnya tanpa sepengetahuan Arlynda yang sedang berada di dapur bersama tante.
"Hallo Arlynda ini aku Aliska. Maaf Lyn kakak ganggu kamu malam-malam. Kakak mau tanya, Seo sama kamu gak? Soalnya dari tadi dia belum pulang," kata Aliska.
"Maaf, tapi hari ini Arlynda tidak bersama Seo... saya kakaknya Arlynda," kata Alfarezi.
"Oh begitu ya, maaf tapi..."
"Tidak apa-apa nanti saya sampaikan pada Arlynda," kata Alfarezi.
Merekapun memutuskan teleponnya lalu Alfarezi menghampiri Arlynda dan memberikan ponselnya kepada Arlyn.
Dengan cepat Arlyn merebut ponselnya dari Alfarezi dan mengecek ternyata ada panggilan masuk.
"Ini siapa yang telepon?" tanya Arlynda.
"Aliska, kakaknya Seo. Dia nanyain Seo sama kamu emang kamu deket banget sama Seo?" tanya Alfa.
"Enggak deket juga," kata Arlyn lalu langsung masuk ke kamarnya dan menelpon Seo tetapi nomor Seo tidak aktif.
"Kemana tuh cowok, sampai kakaknya sendiri nyariin." Batin Arlynda.
Ting.
Pesan masuk dari seseorang kepada Arlynda dan Arlynda segera membuka pesan masuk tersebut.
β "Jika ingin Seo selamat, besok pagi kamu datang ke alamat yang sudah gue kirimkan. Datang sendiri dan jangan sampai orang tahu!" Isi pesan dari si pengirim tersebut.
"Ini siapa sih yang kirim pesan kayak gini, jangan-jangan cowok nyebelin itu di culik lagi. Heran ya, jaman sekarang gak anak-anak gak orang dewasa pada di culik," gerutu Arlynda tetapi dia sendiri pun merasa panik.
Pagi harinya, Arlyn segera berangkat ke alamat yang sudah dikirimkan semalam tanpa sepengetahuan siapapun.
__ADS_1
Alfarezi pun yang melihat tingkahnya Arlyn merasa curiga, dia mengikuti Arlyn diam-diam karena merasa khawatir.
Arlyn pun sampai ke alamat yang dikirimkan. Sebuah tempat yang sudah lama tidak beroperasi dan tidak ada penghuninya.
Arlynda bergidik sendiri saat memasuki ruangan tersebut, tempat tersebut sangat luas dan terdapat banyak pintu, seperti pabrik yang sudah lama tidak digunakan.
"Ini tempat apaan sih, masa ia Seo disekap disini. Gue juga bodoh banget ngapain gue turuti si pengirim pesan aneh itu," gerutu Arlynda
Pyaaarrr...
Sebuah botol yang dilemparkan tepat di depan Arlyn saat Arlyn berjalan membuat Arlyn kaget dan menjerit.
"Akhirnya lo dateng juga Detektif gadungan!" kata Aditfi yang sekarang wajahnya ditutupi dengan masker dan kacamata hitam.
"Waah parah, lo... ah gue ingat lo yang culik gue waktu itu kan? penampilan lo sama," kata Arlyn dan menunjuk ke arah Aditfi.
"Bawa dia!" teriak Aditfi kepada anak buahnya.
Tak berapa lama, Anak buahnya Aditfi membawa Seo yang saat ini masih terikat oleh tali dan kondisi Seo saat ini wajah Seo sekarang babak belur.
"Haaa... Seo," teriak Arlynda.
"Lo ngapain kesini?" tanya Seo dengan nada yang sangat kecil karena Seo terlalu lemas.
Arlynda ingin sekali membalas perlakuan orang yang sudah menculiknya dan sekarang yang sudah membuat Seo terluka.
Bugghh.
*Desigh**h*.
Pukulan demi pukulan Arlyn lakukan kepada anak buahnya Aditfi dan Arlyn benar-benar hebat karena pukulannya membuat salah satu anak buahnya Aditfi tak berdaya.
"Gue gak mau anak buah lo yang lawan gue, kalo lo berani lo lawan gue!" kata Arlynda.
πΈπΈπΈ
Bruukk.
Pintu gudang tua itu di tendang dan dibuka secara paksa oleh seseorang dan itu adalah Alfarezi.
Arlynda menepuk jidatnya sendiri saat melihat Alfarezi keluar dari balik pintu itu karena tidak menyangka Alfa ternyata mengikutinya.
"Kalo lo berani lawan gue bukan cewek, lo bukan banci kan?" teriak Alfarezi lalu langsung menghampiri Arlyn.
Aditfi kesal dibuatnya dan rencananya gagal untuk balas dendam kepada Arlyn, dia pun hendak melayangkan pukulan kepada Arlynda dengan batang kayu yang dipegangnya, tetapi Alfarezi dengan sigapnya melindungi Arlynda dengan tangannya sehingga tangan Alfarezi kena pukulan Aditfi.
Arlynda pun melihat Alfa yang melindunginya kaget karena sekarang tangannya Alfarezi terluka karenanya.
__ADS_1
Desiggh.
Dengan cepat Arlynda mendaratkan pukulan tepat di wajahnya Aditfi sampai Aditfi terjatuh dan kacamata yang ia kenakan rusak.
Sedangkan Alfarezi sekarang terduduk merasakan sakit di tangannya sehingga kini tidak bisa membantu Arlynda.
Arlynda menghampiri Aditfi dan mendaratkan satu pukulan lagi di wajahnya Aditfi karena merasa kurang puas akan pukulan yang pertama.
Aditfi tidak melawan Arlynda dan ia malah pergi untuk menghindari Arlynda agar wajahnya tidak diketahui. Anak buah Aditfi pun mengikutinya dan membiarkan Seo tergeletak.
Arlynda buru-buru melepaskan ikatannya Seo dan membantu memapahnya keluar dari tempat tersebut. Mereka bertiga keluar dari gudang tersebut dan masuk ke dalam mobilnya Alfarezi.
"Kita ke Rumah Sakit sekarang, tapi gue gak bisa nyetir," kata Arlynda.
"Enggak, Arlynda gue gak perlu dibawa ke Rumah Sakit. Gue gak papa kok," kata Seo yang sedang memegangi perutnya.
"Kakak aja yang nyetir ya," kata Alfarezi.
"Tangan lo juga terluka kalo dipaksain nanti bahaya. Oh ia sebentar," kata Arlyn lalu ia menelpon Sehan dan menyuruhnya datang dengan menaiki ojek atau taksi.
Tak berapa lama, Sehan pun datang dan langsung menghampiri mereka bertiga. Sehan melihat keadaan mereka yang terluka langsung membantu mereka.
Sehan melajukan mobil Alfarezi menuju Puskesmas terdekat untuk melakukan pertolongan pertama karena jarak Rumah Sakit lumayan agak jauh. Setelah sampai di Puskesmas, merka segera di obati oleh dokter yang bertugas disana.
"Kok mereka bisa terluka gini Ar? Lo gak papa kan?" tanya Sehan.
"Gue gak papa, dan ceritanya panjang banget. Hmm makasih ya lo udah bantuin gue dan bela-belain datang," kata Arlynda lalu duduk di kursi tunggu.
"Sama-sama... lain kali jangan ketemu sama si masalah, biar lo juga gak kena masalah terus," kata Sehan.
"Ia ia, gak usah ceramah disaat kayak gini," kata Arlyn.
Tak lama Seo dan Alfarezi keluar dan sudah selesai pengobatan. Luka Seo dan Alfarezi sudah di obati oleh Dokter.
Arlynda membantu Seo dan memapahnya lalu mereka semua mengantar Seo pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah Seo, Aliska kaget melihat adiknya yang terluka dan banyak luka lebam.
"Seo, kamu kenapa? Arlynda apa yang terjadi?" tanya Aliska.
Seo mencubit tangan Arlyn agar tidak bilang apa-apa sama Aliska dan Arlynda merasakan sakit di tangannya akibat cubitannya Seo.
Arlyn pun mengerti apa yang dimaksud oleh Seo.
"Tadi... tadi Arlyn lihat Seo di jalan dan keadaannya udah seperti ini kak," kata Arlynda terpaksa berbohong kepada Aliska.
"Ya ampun, ya udah bi antar Seo ke kamarnya ya dan Arlynda terima kasih kamu sudah menolong Seo." Kata Aliska.
__ADS_1
Arlynda dan Alfarezi pun pulang diantar oleh Sehan dan setelah sampai di rumah Arlyn, Sehan langsung pulang dan kembali ke kantor.