
24 đź“·
“Kamu...” kata Alfarezi.
📸📸📸
Keesokan harinya, Arlynda sudah siap untuk pergi ke kantornya dan ia pun turun ke bawah untuk mengikuti sarapan bersama tante dan Alfarezi karena semalam tidak sempat untuk sarapan karena ketiduran.
Saat Arlynda turun dari tangga dan hendak menghampiri meja makan, Arlynda melihat sosok yang sudah tidak asing lagi baginya. Arlynda pun langsung duduk di meja makan dan menatap orang yang sekarang berada di meja makan yang sama dengannya.
Hening.
Tidak ada yang berbicara dan mereka pun fokus untuk sarapan. Begitupun dengan Arlynda dia pun memakan makanannya dengan lahap dan tidak terlalu menghiraukan orang yang kini ada di rumah tantenya. Urusan makan akan berbeda lagi dengan urusan yang lainnya.
“Arlyn udah selesai makan, Arlyn duluan ya mau berangkat...” kata Arlynda lalu berjalan menuju pintu keluar dan tak lupa memakai sepatunya.
“Arlynda tunggu!” kamu gak mau tau siapa yang ada di rumah ini selain kita?” tanya Alfarezi yang sekarang sudah ada di hadapan adiknya.
“Orang aneh itu? Hmm maaf, gak ada waktu buat orang gak penting kayak dia...” kata Arlynda yang masih memasang tali sepatunya.
Alfarezi menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang masih tetap sama juteknya dan mungkin jika tahu yang sekarang ada di rumah tantenya itu adalah Kinza kakaknya sendiri apakah mungkin Arlynda akan langsung menerimanya ataukah akan sama seperti yang Arlyn lakukan kepada Alfarezi waktu itu.
Arlynda pun menuju kursi untuk mengambil tasnya. Tetapi saat Arlynda hendak mengambil tas, Tante Zia memegang tangannya Arlynda dan menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu, dan Arlyn pun menurut.
Tante Zia menarik nafas dan membuangnya secara perlahan dan itu di ulang tiga kali berturut-turut dan saat ini Arlynda sedang memperhatikan tantenya dan juga Alfarezi dan Kinza yang sudah duduk dihadapannya.
“Arlynda kamu jutek terus kenapa? Kamu kayak lihat penjahat aja deh,” kata tantenya.
“Ia penjahatnya ada dihadapan Arlynda sekarang,” kata Arlynda yang sedang menatap tajam Kinza.
Kinza hanya diam dan melihat Arlynda yang saat ini mungkin ingin memakannya karena tatapannya yang menakutkan.
“Jangan galak-galak dong, dengar dulu tante mau menjelaskan sama kamu.” Kata tantenya.
Flasback On.
“Kamu...” kata Alfarezi.
__ADS_1
“Kak Alfarezi... kak ini aku kak, aku Kinza...” kata
Kinza yang sekarang sudah ada di depan pintu rumah tante Zia
“Ah ngaco kamu, kamu kan orang yang suka kejar-kejar Arlynda emang dasar ya kamu ini nekat,” kata Alfarezi.
“Ia awalnya emang aku suka kejar-kejar Arlynda karena waktu itu ojek yang dinaiki oleh Arlynda gak sengaja nyerempet Ciara,” kata Kinza “Kak Alfarezi ini aku Kinza adiknya kakak, kakak gak percaya sama aku?” tanya Kinza berkata jujur.
Alfarezi agak ragu kepada Kinza karena dari tampangnya saja tidak cukup untuk meyakinkan bahwa dia adalah adiknya. Tetapi Alfarezi ingin melihat kebenarannya dan dia meminta KTP milik Kinza, dan Kinza pun memberikan KTP-nya kepada Alfarezi.
Tante Zia dan Alfarezi melihat KTP-nya dan disana tertera nama Kinza Evano Putera. Tante Zia langsung memeluk Kinza dan mata Alfarezi pun berkaca-kaca ternyata Kinza yang selama ini dia cari adalah orang yang sama yang selalu membuat kegaduhan.
“Ya Allah Kinza, tante gak menyangka kita akan bertemu kembali...” kata Tante Zia yang sudah melepaskan pelukannya.
“Kamu Kinza adikku...” kata Alfarezi bahagia.
Tante Zia dan Alfarezi merasa bahagia dan keluarganya telah lengkap. Sekarang tinggal memberitahukan kebenarannya kepada Arlynda.
Flashback Off.
“Tante, Arlynda berangkat dulu ya, Seo udah ada di depan,” kata Arlynda lalu pergi.
“Arlynda...” teriak Alfarezi lalu menyusulnya ke depan bergitupun dengan Kinza yang ikut menyusulnya ke depan.
Tetapi Arlynda sudah masuk ke dalam mobilnya Seo dan mereka pun sudah berangkat sedangkan Alfarezi hanya diam sekarang dan mungkin nanti akan dijelaskan setelah Arlynda pulang dari kantornya.
Di perjalanan, Seo membawakan makanan ringan untuk Arlynda di mobil dan Arlynda malah fokus dengan musik yang ada di ponselnya. Seo pun fokus menyetir dan mengantarkan Arlyn ke kantor.
Sesampainya di kantor, Arlynda dan Seo pun masuk ke kantor. Tetapi semuanya sudah berantakan. Mora dan Sehan pun tidak terlihat.
“Ya ampun ini kok berantakan banget,” kata Arlynda.
“Kok bisa kayak gini Ar?” tanya Seo.
Tiba-tiba ada video yang menyala dan memperlihatkan Mora dan Sehan sedang di sekap di sebuah gudang tua. Arlynda mendengar suara dari video itu bahwa Sehan dan Mora akan selamat jika dia datang ke gudang tua itu.
Ancaman yang diberikan itu dari Aditfi dan sekarang Aliska juga sudah ada di gudang tua itu disekap bersama Sehan dan Mora. Seo yang melihat kakaknya di sekap marah besar dan dia hendak pergi ke gudang tua itu untuk menyelamatkan kakaknya.
__ADS_1
“Seo lo mau kemana?” tanya Arlynda.
“Lo gak lihat mereka di sekap? Temen-temen lo dan kakak gue disekap disana?” kata Seo emosi.
“Lo tenang dulu, kita gak bisa pergi cuma berdua, kita butuh bantuan seenggaknya kita harus lapor polisi,” kata Arlynda.
“Gue gak peduli, gue mau kesana sekarang.” Kata Seo yang sekarang pergi meninggalkan Arlynda sendiri.
Arlynda pun menelepon polisi dan melaporkan semua kejahatan Aditfi dan sekarang Arlynda pergi menyusul Seo yang sudah pergi ke gudang tua itu dan polisi akan datang ke alamat yang sudah diberikan oleh Arlynda.
Di perjalanan, Seo sangat gelisah dan sangat mengkhawatirkan kakaknya dan sekarang dia sadar bahwa Seo meninggalkan Arlynda di kantor sendiri. Seo pun mencoba menelepon Arlynda tetapi tidak aktif.
Setelah sampai di gudang tua, Seo masuk ke dalam gudang tua itu dan mencari keberadaan kakaknya yang mereka sekap.
“Kak Alis... kak ini aku Seo, kak...” teriak Seo.
Terlihat Aliska, Sehan dan Mora yang pingsan dan kedua tangan mereka diikat oleh si penculiknya. Dengan cepat Seo menghampiri mereka tetapi tiba-tiba Aditfi datang dan memukul kepala Seo sampai dia pingsan. Aditfi pun mengikat Seo dan sekarang di menunggu kedatangan Arlynda. Karena dari awal Aditfi hanya ingin membuat Arlynda celaka.
Tak lama, Arlynda datang ke sebuah gudang tua tersebut dan mencari keberadaan Mora dan sehan beserta Seo dan kakaknya. Tiba-tiba di depan Arlynda, Aditfi muncul dengan membawa sebuat tongkat kayu yang dipakai untuk memukul kepala Seo tadi.
“Akhirnya orang yang gue tunggu datang juga, sini maju lawan anak buah gue setelah itu lo lawan gue...” kata Aditfi.
“Emang dasar lo itu kurang kerjaan tau gak...” kata Arlynda.
Pyyaarrr.
Tiba-tiba piring yang sedang di cuci oleh Tante Zia terjatuh dan pecah. Alfarezi dan Kinza langsung menghampiri tantenya dan mereka pun panik.
“tante, kenapa kok piringnya pecah?” tanya Alfarezi
“Gak tau Farez, perasaan tante gak enak tentang Arlynda. Coba telepon Arlynda tante takut terjadi apa-apa sama adik kalian,” kata tantenya.
Alfarezi pun mencoba menelepon Arlynda tetapi tidak ada jawaban dan ponselnya pun tidak aktif. Alfarezi menjadi panik karena tidak biasanya Arlynda tidak mengaktifkan teleponnya dan sesibuk apapun Arlyn pasti teleponnya selalu aktif.
Kinza pun mengajak Alfarezi untuk menyusulnya ke kantor dan mencaritahu tentang firasat tantenya. Mereka berdua pergi ke kantor Arlynda dan mereka melihat kantor yang sangat berantakan. Mereka melihat video yang ada di laptop.
“Kurang ajar, berani-beraninya mereka ...” gumam Alfarezi.
__ADS_1