Dewi Dan Pangeran Terkutuk

Dewi Dan Pangeran Terkutuk
09. Latihan Malam


__ADS_3

Pagi harinya Ijima sudah siap dengan seragam akademi, kini ia tengah menyisir rambut panjangnya didepan cermin.


Chriss membuka mata perlahan ketika mencium bau wewangian. Matanya melihat kedepan, Ijima dengan lembut bersenandung sambil menyisir rambut silvernya. Pria itu beranjak dari ranjang untuk menghampiri Ijima, penampilan Chriss sama seperti biasa. Saat mode santai ia memakai pakaian yang menampakkan dada bidangnya.


Kedua tangan Chriss menyentuh pundak Ijima, "Lepaskan seragam itu, kau ratu Neoma tugasmu menemaniku mengurus pekerjaan."


Ijima tersentak merasakan tangan besar suaminya menyentuh pundaknya, "T-tapi yang mulia saya belum bisa menguasai beberapa element dengan sempurna."


"Sudah kubilang jangan berbicara formal kepadaku saat kita berdua, Ijima," kesal Chriss.


"S-saya harus memanggil anda apa?"


"Chriss."


"C-Chriss," cicit Ijima takut salah bicara.


Tangan kanan Chriss terangkat mengusap puncak kepala Ijima, "Ya, begitu. Untuk itu aku akan melatihmu, aku akan melatihmu pada malam hari."


Ijima kembali terkejut, "Apa kamu nanti tidak lelah, C-Chriss?"


Chriss menggeleng, "Aku adalah murid Petapa Putih jadi itu bukan apa-apa."


"K-kau murid Petapa Putih? Itu berarti kamu satu perguruan dengan Shwan."


"Ya, kami memang satu perguruan," balas Chriss.


"Ceritakan padaku bagaimana Shwan saat latihan disana," ucap Ijima dengan semangat, ia sampai memutar badan menghadap ke arah Chriss.


Tatapan Chriss berubah sendu, "Dia lelaki yang hebat, Petapa Putih lebih mengagumi dia daripada aku, oh tentu saja aku sama hebatnya dengan dia."


"Maafkan aku, Chriss," ucap Ijima menyadari kesalahannya, ia tak tau jika Chriss dan Shwan tak akur.


...👑...


Hari sudah semakin siang dan pertemuan Chriss dengan kerajaan lain belum juga usai. Ijima juga masih setia mendampingi suaminya, wanita itu juga sesekali memperhatikan interaksi Chriss dengan para petinggi kerajaan. Sangat sopan dan berwibawa.


"Terima kasih karna anda mau memberikan saran kepada kami, kami harus kembali karna kami tak bisa meninggalkan kerajaan lebih lama." Chriss mengangguk, ia beranjak dari duduknya kemudian mempersilahan para tamu untuk pulang.


Setelah mereka sudah keluar dari kerajaan Neoma, Chriss menghela nafas perlahan. Pria itu memegang pelipisnya menahan pusing yang menyerang setiap kali ia kelelahan.


Ijima menahan tubuh Chriss agar tidak jatuh, dengan perlahan Ijima kembali mendudukan Chriss ke kursi.


"Aku akan memanggil tabib," ucap Ijima tapi ditahan oleh Chriss.

__ADS_1


"Tak perlu, aku hanya kelelahan."


"Jadi aku harus apa?" tanya Ijima bingung.


Chriss menepuk kursi yang ada di sebelahnya, Ijima menurut. Pandangan wanita itu tak lepas dari wajah Chriss, mata Ijima membola ketika melihat tanda hitam dileher Chriss.


"Chriss, lehermu," panik Ijima lalu menyentuh leher Chriss.


"Monster Geni berlahan-lahan menggerogoti tubuhku," keluh Chriss.


Ijima termenung. Merasa kasihan pada raja Neoma itu, namun ia tak bisa melakukan apapun, kekuatannya belum sekuat Dewi Emina. Ketika jari-jari Ijima ingin menyentuh tanda itu, tiba-tiba Chriss beranjak dari kursinya.


"Istirahatkan dirimu, nanti malam kita mulai pelatihan," ucap Chriss sebelum keluar dari ruangan itu dengan tangan kanan yang masih memijit dahinya pelan.


Ijima tersenyum tipis, dilihatnya gelang pemberian Shwan lalu ia cium singkat, "Tunggu sebentar lagi, aku akan membalas dendam untukmu."


Wanita itu juga ikut keluar dari ruangan setelah menyuruh beberapa penjaga untuk mengunci pintunya.


"Dayang Annie," panggil Ijima begitu melihat pelayan pribadinya tengah berbincang dengan pengurus kebun.


Dayang Annie menoleh dengan senyum hangat seperti biasanya, ia dan pengurus kebun membungkukan sedikit badan mereka sebagai tanda hormat.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Ijima setelah membalas salam hormat mereka.


"Kami hanya membicarakan taman mawar, Ratu," balas Dayang Annie.


"Kebun mawar ini milik mendiang Ratu Ixora, Ratu." Kini giliran pengurus kebun yang menjawab.


Ijima menganggukan kepala tanda mengerti. Katanya Ratu Ixora sangat menyukai bunga mawar sehingga Raja Kodama menyuruh pengawalnya untuk mencari bibit bunga itu diberbagai negara. Ijima melempar pandangan pada hamparan mawar merah yang terawat dengan baik. Kisah cinta orang tuanya sangat romantis, mungkin Chriss juga akan begitu jika pendampingnya Maki, bukan dirinya.


"Ratu, apa anda lapar?" tanya Dayang Annie memecah lamunan Ijima.


Ijima menggeleng, "Tidak, tapi bawakan aku secangkir teh hijau." Wanita itu melangkah pergi setelah berpamitan dengan pengurus taman. Ijima ingin cepat-cepat melepas mahkota yang membebani kepalanya. Berat sekali.


Sesampainya di kamar, Ijima melepas semua aksesoris yang dia kenakan tanpa terkecuali. Kini ia hanya memakai kimono putih bersih.


"Ratu, boleh saya masuk?" tanya seseorang dari luar pintu yang Ijima yakini adalah dayang Annie.


"Silahkan."


Cklek


Pintu terbuka. Menampakan wanita paruh baya yang membawa nampan berisi secangkir teh dan beberapa cemilan.

__ADS_1


Dayang Annie menaruh nampan di meja kecil yang ada dihadapan Ijima, wanita yang kini menyandang sebutan Ratu itu tengah berpikir keras.


"Ratu, apa yang anda pikirkan?" tanya dayang Annie kemudian berjalan kebelakang Ijima lalu memijit pundaknya pelan.


"Aku sedang berpikir bagaimana caranya menarik keluar monster yang ada ditubuh yang mulia," balas Ijima pelan.


"Menurut yang saya dengar, monster Geni akan keluar jika dia menemukan tubuh manusia yang cocok untuk tempatnya bergantung."


"Jadi harus dipindahkan?"


Dayang Annie mengangguk, hal itu membuat Ijima semakin pusing, ia merasa kasian kepada Chriss karna harus menanggung beban seberat itu sejak kecil.


"Anda tidak perlu memikirkan yang mulia sampai seperti itu, bukankah tugas anda hanya mendampinginya selama satu tahun?" tanya dayang Annie memastikan. Ia mulai melancarkan aksinya.


"Ya, kamu benar, aku tak perlu memikirkannya."


...👑...


Sesuai perkataan Chriss tadi siang. Kini mereka berdua sudah memulai latihan di dekat danau. Chriss dengan lihai menyerang Ijima menggunakan sihir apinya sampai wanita itu tak memiliki celah untuk melawan.


"Jika kau hanya bertahan tanpa memberikan perlawanan balik, kau bisa binasa," ucap Chriss sebelum serangan kecilnya mengenai Ijima.


"Aduh," rintih wanita itu memundurkan sedikit badannya.


Chriss tentu tak membiarkan Ijima mengistirahatkan diri walau sejenak.


"Perhatikan ini, Ijima." Chriss mengeluarkan sihir bola api kemudian melempar bola itu ke tengah danau yang mengakibatkan ledakan sedang. Ijima melihat punggung Chriss, tak heran jika kekuatannya sebesar itu. Selain memiliki monster didalam dirinya, Chrisa juga merupakan murid Petapa Putih.


"Sekarang cobalah," titah Chriss.


Ijima mengumpulkan konsentrasinya, ia mengenyahkan pikiran kotornya. Saat bola api mulai terbentuk, tiba-tiba Ijima merasakan sakit yang luar biasa pada tangan kirinya.


"Ada apa denganmu?" tanya Chriss kemudian memeriksa pergelangan tangan istrinya. Hitam. Itu berarti Ijima memiliki trauma pada element api.


Karna tak ingin ambil pusing, Chriss melewatkan element api dan langsung menuju element gabungan.


Hampir semalaman mereka berlatih, mungkin karna Chriss terlalu hebat hal itu membuat Ijima tak sanggup menyainginya.


"C-chriss, aku lelah."


Chriss memandang Ijima sekilas, "Tidak, aku tidak akan memberimu istirahat walau kau memohon sekalipun. Jika kau ingin menjadi pemimpin langit maka bulatkan tekatmu untuk menjadi semakin kuat."


Mengingat ia juga ingin membalas dendam atas kematian Shwan, Ijima kembali bangkit dan berlatih selama semalaman bersama dengan Chriss.

__ADS_1


Tanpa Chriss sadari, seorang pemburu memantau dari dahan pohon yang paling besar.


"Kedekatan mereka semakin membuatku muak saja."


__ADS_2