Dewi Dan Pangeran Terkutuk

Dewi Dan Pangeran Terkutuk
10. Kacau


__ADS_3

Setelah sebulan latihan tanpa henti, kini sedikit demi sedikit Ijima mampu menguasai seni perang serta element api.


"Fokuskan pandanganmu," ucap Chriss mengarahkan Ijima ketika wanita itu hendak menarik anak panah.


Ijima melepaskan anak panahnya menuju seekor rusa yang sedang memakan rumput dengan tenang.


Jleb


Mengetahui panahnya mengenai target membuat Ijima senang bukan main. Chriss hanya menyunting senyum tipis melihat tingkah sang istri.


"Ternyata dia lucu juga," batin Chriss kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Ijima berlari kearah mayat rusa, kemudian memanggil para dayang untuk memotong dan memasak daging rusa itu.


Seorang prajurit mendekati Chriss lalu membisikan sesuatu.


"Maki datang?" tanya Chriss tak percaya.


"Benar yang mulia, putri Maki ada di ruang kerajaan," balas prajurit itu.


Tanpa menunggu waktu lama, Chriss bergegas berjalan menuju ke tempat Maki berada tanpa memberitau kepada Ijima terlebih dahulu.


"Maki," panggil Chriss kepada seorang gadis yang duduk dengan angkuh di kursi tamu.


Begitu melihat sang pujaan hati datang, Maki beranjak lalu memeluk tubuh Chriss erat. Lelaki itu tentu membalas pelukan Maki lembut.


"Seharusnya kau tidak kemari jika aku tidak memanggilmu," ucap Chriss setelah melepas pelukan sang kekasih.


Maki tersenyum hangat, "Aku merindukanmu, Chriss. Akhir-akhir ini kamu tidak menemuiku."


Belum sampai Chriss membalas, Ijima datang dengan tujuan ingin berterima kasih, namun ia malah mendapati sang suami sedang bertemu dengan kekasihnya.


"Maafkan saya, yang mulia. Saya kesini hanya ingin memberikan ini," ucap Ijima dengan boneka biji teratai terulur.


Chriss merasa sedikit nyeri ketika Ijima kembali memanggilnya dengan formal, tapi ia tetap bersikap biasa saja sambil menerima boneka tersebut, setelah pemberiannya diterima Ijima langsung pergi karna tak ingin mengganggu mereka berdua.


Maki sedikit kesal saat Chriss menatap boneka biji teratai itu, "Kenapa kamu menerima boneka lusuh itu?"


"Ayah bisa membunuhku jika aku tidak menghargai dia," balas Chriss seadanya.


Maki semakin dibuat kesal, "Selalu saja dia yang Raja Oda perhatikan, kenapa tidak aku? Chriss! Kau memberikan kedudukan ratu pada Ijima, kau bilang kedudukan itu hanya untukku?"


"Maki, kita sudah pernah membicarakan ini, aku hanya mengikuti permintaan ayah. Maki, mengertilah."


"Menjadi ratu disampingmu adalah impianku, Chriss!"


Ijima yang menguping pembicaraan mereka merasa hatinya berdenyut, ia tau apa yang Maki rasakan karna dirinya juga seorang wanita. Maki tidak salah, yang salah adalah dirinya yang hadir dalam hidup Chriss. Andai saja ia menolak perjodohan itu sejak awal, pertengkaran mereka tak akan terjadi.


Duar


Tiba-tiba sebuah bom menerobos masuk ke ruangan kerajaan melalui atap. Chriss melindungi Maki agar tidak terkena ledakan benda itu. Ijima terkejut, ia buru-buru hendak memeriksa keadaan Chriss, namun seorang pria bertopeng muncul dan menggendong ala bridal style menjauh dari tempat itu. Samar-samar Ijima melihat Chriss terkapar penuh darah.


"Lepaskan aku!" berontak Ijima tapi laki-laki itu tak bergeming. Ia menurunkan Ijima di belakang taman kerajaan Neoma.

__ADS_1


"Nona aman sekarang," ucap pria itu tersenyum lega dari balik topengnya.


"Awldo, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membawaku kemari?" tanya Ijima beruntun, pandangannya tak lepas dari para prajurit dan dayang yang berlari kesana-kemari dengan perasaan panik.


"Saya melindungi Nona, karna bagi saya Nona lebih berarti daripada orang itu," jawab Awldo apa adanya.


Ijima tak tau lagi apa yang dipikirkan pemburu itu, "Chriss terluka, sebenarnya apa yang terjadi."


Ketika Ijima hendak kembali ke dalam kerajaan, Awldo menahan tangan Ijima, ia menyihir Ijima agar wanita itu tak bisa bergerak.


"Awldo!"


"Ada yang sedang mengincar Chriss, saya harap anda tidak ikut campur. Para tabib akan segera merawat orang itu."


Ijima tidak mempedulikan ucapan Awldo, ia berusaha melawan sihir pemburu itu. Awldo semakin dibuat jengkel karna Ijima sebegitu pedulinya dengan Chriss.


Ctas


Sihir Awldo bisa dipatahkan dengan sihir Ijima, wanita itu bergegas kembali kedalam kerajaan tanpa menoleh ke arah Awldo sedikit pun.


"Pembunuh itu sangat beruntung, lihat saja aku akan merebut Nona darimu, Chriss Kodama."


Sedangkan di dalam kerajaan, para tabib sibuk merawat Chriss yang terluka, disamping itu Maki menangis melihat kekasihnya pingsan dengan luka parah.


"Ini bukan peledak biasa, peledak ini dirancang khusus untuk membunuh yang mulia," ucap salah satu tabib yang membuat Raja Kodama naik pitam.


"Prajurit! Selidiki siapa yang berani menyakiti putraku!" titah Raja Kodama dengan amarah memenuhi relung hatinya.


Sam yang awalnya ada di Akademi pun bergegas pulang untuk memeriksa sang adik.


"Tidak! Aku akan pulang jika Chriss baik-baik saja, dia terluka sekarang, kak. Dia butuh aku," tolak Maki seraya mengusap pipi kiri Chriss yang masih tertidur lelap.


"Dia tidak memerlukanmu, ada Ijima disini. Ayolah Maki, Chriss sudah beristri kenapa kau merendahkan dirimu hanya untuk mendapatkan cintanya?!"


Maki melirik Sam tajam, "Bukankah sudah jelas? Aku mencintainya, aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan bagaimana pun caranya."


Saat Sam hendak membalas lagi, Ijima mengisyaratkan lelaki itu agar tidak melanjutkan perdebatan, tentu Sam langsung menurutinya karna perintah raja atau ratu adalah mutlak.


Hari semakin malam dan belum ada perubahan pasti, kini Ijima duduk sendiri menikmati makan malam hasil buruannya. Jangan tanya yang lain, mereka masih sibuk mengurus Chriss.


Kenapa dirinya tidak berada di samping Chriss pada saat seperti ini? Jawabannya sudah jelas, karna Maki sudah ada disana jadi Ijima tak perlu lagi menyibukan diri.


"Ratu, kenapa anda hanya mengaduk-aduk makanan?" tanya dayang Annie.


"Aku tidak lapar, dayang Annie."


Bohong.


Sudah pasti itu bohong, dayang Annie tau Ijima lapar tapi ia tak berselera melahap daging rusa yang tampak menggiurkan di hadapannya.


"Ratu! Ratu!" panggil Sam dengan langkah terburu-buru.


Ijima menoleh dengan harapan Sam membawa kabar baik.

__ADS_1


"Maaf atas kelancangan saya. Saya kesini hendak memberitahukan kabar bagus, Ratu," ucap Sam sambil membungkukan sedikit badannya.


Mata Ijima berbinar, "Katakan, pangeran."


"Kata bara tabib, kondisi yang mulia Chriss sudah mulai membaik, kemungkinan dia akan sadar besok. Dan juga, pelaku bom itu adalah rakyat Neoma sendiri."


Ijima senang mendengarnya, kondisi Chriss membaik serta pelakunya sudah ditemukan dalam jangka waktu kurang dari satu hari.


"Baiklah, bawa pelaku itu ke ruang sidang, ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan padanya."


"Laksanakan, Ratu." Sam pergi usai pamit, Ijima tentu beranjak dari kursinya menuju ruang sidang diikuti dayang Annie dibelakang tentunya.


Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam ruangan, para penjaga memberi salam hormat kepada pemimpinnya.


"Kalian boleh pergi, aku hanya ingin bicara empat mata dengan pelakunya," titah Ijima yang langsung dituruti. Semua yang tidak berkepentingan meninggalkan ruangan tanpa terkecuali.


Ijima melangkah santai menuju kearah seorang gadis berambut pirang yang menangis tersedu-sedu. Begitu dia melihat Ijima, gadis itu menyambar kaki Ijima lalu memeluknya.


"Jangan bunuh aku, jangan bunuh aku," pintanya dengan suara serak.


Ijima yang mendapat serangan itu berusaha setenang mungkin, ia menyamai tinggi gadis itu lalu melepaskan tangannya dari kaki Ijima dengan lembut.


"Tenang saja, aku hanya ingin tau kenapa kamu melakukan itu," ucap Ijima to the point.


"Aku dipaksa, sungguh percayalah padaku, Ratu. Aku tidak berniat mencelakakan Raja," isak gadis itu yang terus memohon pada Ijima agar tidak dibunuh.


"Memangnya siapa yang memaksamu melakukan itu?" tanya Ijima.


Gadis itu menggeleng kuat, air matanya tak kunjung berhenti hingga kedua pipinya basah, "Maafkan aku Ratu, maafkan aku, aku tidak bisa memberitaukan kepada anda siapa yang menyuruhku, karna dia akan membunuh adiku jika aku sampai menyebut namanya dihadapan anda."


Ijima mengeluarkan koin kerajaan Asteria lalu memberikan koin itu kepada gadis berambut pirang tersebut.


"Kamu membutuhkan itu, beritau aku siapa pelakunya dan aku tidak akan membocorkan pada siapapun. Adikmu akan tetap selamat, jika dia tetap ingin membunuh adikmu, larilah ke kerajaan Asteria, mintalah bantuan kepada Raja disana dengan menunjukan koin ini."


"Be-benarkah? Apakah anda yakin?" tanya gadis itu memastikan, Ijima menggangguk tanda bisa menjamin.


Gadis pirang itu membisikan sebuah nama yang berhasil membuat Ijima mematung.


"Maafkan aku, Ratu."


Ijima mengusap puncak kepala gadis yang usianya sekitar tujuh belas tahun itu lalu menciumnya singkat.


"Terima kasih sudah mau menjawab pertanyaanku, sekarang kamu boleh pergi."


Saking senangnya gadis itu memeluk Ijima singkat kemudian beranjak untuk keluar dari ruangan itu.


Tak selang lama Sam masuk karna heran kenapa gadis itu bisa kabur.


"Maaf Ratu, apa anda melepaskan dia?" tanya Sam.


"Ya, dia bukan pelaku sebenarnya."


"Bagaimana anda bisa tau?"

__ADS_1


Netra biru Ijima menatap tajam kearah Sam, "Apa kamu meragukanku sebagai Ratu kerajaan ini?"


__ADS_2