
"Mau kemana kau?" tanya Chriss ketika Ijima memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas berukuran cukup besar.
Ijima menoleh sekilas lalu melanjutkan kegiatannya mengemasi barang-barang, "Aku akan ikut misi kali ini."
"Aku tidak mengizinkanmu, bisa bahaya jika dirimu mati nanti," tolak Chriss lalu meletakkan jubah kebesarannya dipinggir ranjang.
"Yang mulia, kita sudah sepakat. Aku atau pun kamu tak bisa melarang apa yang akan kita lakukan," ucap Ijima.
"Kau istriku."
"Bukankah bagus jika aku mati? Anda bisa mempersunting putri Maki," ucap Ijima sembari menutup tasnya lalu meletakkan benda itu disudut ruangan.
Chriss mencekal pergelangan tangan gadis itu, "Turuti perintahku sebagai rajamu, aku katakan tidak ya tidak!"
"Yang mulia," ucap Ijima pelan, ia menepis perlahan tangan suaminya itu, "Turuti juga permintaanku sebagai istrimu."
Sudahlah Chriss tak ada gunanya kau melarang Ijima kali ini, dengan hati yang tak mantab lelaki itu mengizinkan istrinya pergi.
Saat makan malam, Ijima dikejutkan dengan kehadiran Maki, gadis itu duduk didekat Chriss sedangkan dirinya duduk di depan lelaki itu. Ijima tak mau berkomentar, karna dia sadar yang dicintai Chriss adalah putri kerajaan Helios.
"Chriss, cobalah apel ini," tawar Maki menyodorkan sepotong apel kepada Chriss, Chriss memakan buah itu sembari tersenyum.
Sam merasa jengkel, "Sangat tidak sopan membawa orang luar saat makan malam kerajaan."
Tampaknya sang adik tak menggubris, ia malah semakin menunjukkan sisi manisnya pada Maki.
"Aku selesai," ucap Ijima setelah meletakkan alat makan ia beranjak dari kursinya lalu melangkah menuju taman belakang kerajaan. Sam memandang kepergian Ijima dengan perasaan iba.
Gadis itu termenung, kepalanya terangkat menatap langit bertabur bintang. Sangat indah sehingga mampu membuat Ijima terpesona.
"Shwan, aku merindukanmu, sangat merindukanmu," gumam Ijima menggengam gelang perak kesayangan-nya.
Udara malam hari semakin dingin, Ijima semakin enggan beranjak, ia merasakan angin malam menusuk kulitnya, matanya terpejam perlahan sembari bersenandung.
"Hanya satu tahun," batin Ijima.
...👑...
Kerajaan Asteria tampak ramai karna Ratu mereka sedang sakit, para dayang berlalu lalang. Ratu Ryoika sakit karna memikirkan nasib putrinya. Raja Oda menatap kasian istrinya yang terbaring lemah.
"Ryoika," panggil Raja Oda lembut, pria itu duduk dipinggir ranjang, tangan kanan-nya terangkat untuk mengelus puncak kepala sang istri.
"Yang mulia...aku takut," ucap Ratu Ryoika dengan suara gemetar, wanita itu tak henti-hentinya menangisi nasib Ijima.
__ADS_1
"Sstt...tenangkan pikiranmu, semua akan baik-baik saja," hibur Raja Oda yang sebenarnya juga khawatir pada putrinya.
"Ijima akan mati dibunuh, yang mulia. Kumohon bawa Ijima kembali, aku menyesal menyetujui pernikahan itu, aku menyesal," tangis Ratu Ryoika yang membuat Raja Oda tak kuasa menahan air matanya lagi.
Raja Oda menyentuh kedua pipi Ratu Ryoika lembut, "Aku tak bisa melakukannya, aku memang manusia egois. Aku sudah membuatmu diusir dari kerajaan langit dan sekarang Ijima yang menanggung akibat sifatku itu, maaf Ryoika aku tak ingin adanya peperangan lagi."
...👑...
Tiba saatnya misi, semua tim berkumpul di halaman akademi, Ijima asik bercengkrama dengan Anya, Awldo menatap lekat Ijima. Raut matanya seolah tak terima jika gadis itu telah menjadi istri pemimpin Neoma.
"Beraninya pembunuh itu menikahi Nona, aku tak terima jika kekasih tuan Shwan menderita seperti ini," batin Awldo, tiba-tiba ia mendapat tatapan maut dari Anya seketika lelaki itu mengalihkan pandangan-nya.
"Aaa-Ijima, sungguh malangnya dirimu karna Chriss lebih mencintai diriku," sombong gadis berkucir kuda yang tiba-tiba ada didekat Ijima.
Ijima tersenyum simpul, "Aku tak pernah mengharapkan yang mulia mencintaiku, putri Maki."
Anya memandang tak suka putri kerajaan Helios itu, "Jika kau disini hanya untuk mencela temanku sebaiknya kau pergi sebelum aku mematahkan tanganmu."
"Anya," tegur Ijima, mendapat teguran itu Anya hanya mendecih pelan.
"Hahaha...kenapa kau begitu tunduk pada gadis perebut se-uhuk." Sebuah tangan mencekik leher Maki sehingga gadis itu tak bisa melanjutkan hinaanya.
Pemilik tangan itu ternyata Awldo, ia menekan jari-jarinya yang membuat Maki semakin memukul lengan lelaki itu, "Aku tak akan membiarkan siapapun menghina kekasih tuan Shwan."
Ijima memegang tangan Awldo, ia meminta lelaki itu untuk melepaskan Maki karna jika Chriss sampai tau pasti lelaki bertopeng itu dalam bahaya.
"Awldo, apa yang kamu lakukan," ucap Ijima memegang kedua lengan Awldo.
"Mulutnya sangat kotor," balas Awldo singkat, netranya tak lepas dari Maki yang lari terbirit-birit mendekati kelompoknya.
"Yang mulia bisa membunuhmu," peringat Ijima.
"Jangan panggil pembunuh itu dengan julukan sopan, dia tak pantas!" Detik itu juga Awldo menyesali ucapannya.
"Pembunuh?" tanya Ijima tak mengerti.
"Lupakan saja," ucap Awldo mengalihkan pembicaraan. Ijima semakin dibuat penasaran.
Kini mereka semua berangkat menuju kota Lantana, menurut kabar yang beredar. Kota itu dipenuhi penjahat kelas kakap oleh karna itu mereka harus berhati-hati.
"Misi kita kali ini mencari emblem rusa, dan emblem itu hanya dimiliki oleh kalangan penjabat saja," terang Tsukasa membaca catatan kecil.
"Untuk menemui penjabat disana sangat sulit, kemungkinan besar kita akan disambut dengan tajamnya pedang," imbuh Awldo yang menumpukan dagu pada tangan kanannya.
__ADS_1
Gadis berambut silver itu meneguk saliva susah payah, "Maafkan aku jika diriku selalu merepotkan kalian, walaupun aku keturunan dewi tapi aku tak sehebat keturunan dewi lainnya."
"Nona, kau tak perlu sungkan," ucap Awldo yang diangguki oleh Tsukasa.
"Bahkan menurut kabar yang aku ketahui, Petapa Putih pun butuh waktu dua puluh tahun lamanya untuk menjadi penyihir hebat," imbuh Tsukasa yang membuat Ijima tersenyum lega.
Perjalanan mereka membutuhkan waktu dua hari lamanya, setiap tim mendapatkan misi yang berbeda.
"Inikah hutan keramat yang terkenal itu?" tanya Tsukasa ketika kereta yang mereka naiki melewati jalan gelap, pohon-pohon yang menjulang tinggi serta bunyi burung hantu yang menakutkan.
Awldo mengangguk, pemburu itu sudah tak kaget lagi dengan suasana seperti ini. Pandangan Awldo mengarah ke suatu pondok yang berada tak jauh dari tempat mereka.
Pondok itu milik Petapa Putih.
"Anginnya semakin dingin saja," keluh Ijima menggosok kedua telapak tangan berlawan arah.
Awldo melirik sekilas lalu melepas jubahnya dan menyuruh Ijima memakainya.
"Tidak perlu, Awldo. Aku bisa menahannya," tolak Ijima.
Lelaki itu memakaikan paksa jubahnya ke tubuh Ijima, "Aku tau jika dirimu tidak tahan dengan udara malam."
Ijima menoleh kaget, "Bagimana kau tau?"
Awldo terkekeh menyadari kebodohan Ijima, "Aku adik dari Shwan Nakamura, mantan kekasihmu. Kakak sering menceritakan dirimu padaku."
Kedua pipi Ijima memanas, ia memalingkan wajahnya berusaha menutupi rasa malu. Diam-diam Awldo menyunting senyum dari balik topengnya.
Perjalanan mereka terus berlanjut, sesekali mereka berhenti untuk mengambil air atau sekedar bersantai sejenak.
Kini mereka sudah sampai disebuah gapura besar bertuliskan Lantara, netra ketiga orang itu terus bergulir kesana-kemari sembari turun dari kereta kuda.
"Mereka bisa muncul kapan saja," peringat Awldo kemudian mengeluarkan senjatanya.
Tsukasa dan Ijima mengangguk, mereka juga ikut mempersiapkan senjata. Ketiga orang itu melangkah masuk kedalam kota tersebut.Puing-puing bangunan berserakan, Ijima tak menyangka kota seperti ini masih berpenghuni.
"Menurut peta, para petinggi kota ini tinggal di dalam portal yang berada didekat air mancur," jelas Tsukasa sebelum menutup peta kecil itu.
"Apa yang membuat emblem itu banyak dicari sehingga penduduk disini sangat melindungi emblem itu bahkan sampai membuat portal sendiri." Ijima bertanya dengan perasaan campur aduk, antara gugup dan takut.
"Emblem itu bisa membeli satu negara karna emblem itu menyimpan kekuatan sihir yang dasyat," jawab Awldo.
Ijima tampak berpikir, "Jika begitu bagaimana cara kita mendapatkannya?"
__ADS_1
Awldo dan Tsukasa saling menatap sebelum Tsukasa menunjuk segerombolan orang dengan senjata besar dipundaknya berlari menuju ke arah mereka.
"Mengalahkan mereka semua," ucap Tsukasa.