
Setelah kejadian kemarin membuat Sam lebih menjaga bicaranya. Lelaki itu sempat lupa jika orang yang dia ragukan adalah keturunan dewi.
Sedangkan Ijima tidak mempermasalahkan hal tersebut, kini jika ada waktu senggang ia akan berlatih seni perang di dekat danau sendirian.
Semenjak Chriss sakit, Ijima menutup semua akses masuk wilayah Neoma. Semua itu ia lakukan agar orang luar tidak punya celah untuk mencelakai raja secara langsung.
Hosh hosh
Nafas Ijima semakin tak beraturan, keringat membasahi tubuhnya, akan tetapi wanita itu masih setia mengayunkan pedang serta sihir agar semakin mahir.
"Mau sebanyak apapun kamu berlatih, seni perangku akan tetap jauh lebih hebat darimu." Dia adalah Maki Nura, gadis itu berjalan dengan sombong kearah Ijima.
"Aku tidak mengelak tentang hal itu," balas Ijima menghentikan latihan karna tiba-tiba saja moodnya hilang.
"Baguslah jika kamu mengerti, aku heran kenapa dewi Emina memilihmu menjadi pemimpin selanjutnya? Padahal kamu selemah ini," cibir Maki dengan tawa menggelegar.
Kedua tangan Ijima terkepal kuat disamping badan, "Meremehkan seorang ratu termasuk tindak kejahatan. Jika aku mau, aku bisa menghukum mati dirimu saat ini juga, tapi aku tidak sejahat itu."
Ijima melangkah pergi meninggalkan Maki yang tengah kesal bukan main.
Ketika wanita itu hendak masuk ke dalam kamar, sebuah tangan mencegah Ijima masuk. Ijima mendongakan kepala menatap siapa yang berani menghalangi langkahnya.
Chriss Kodama.
Lelaki itu berdiri dihadapan Ijima dengan perban ditubuhnya.
"Yang mulia, anda sudah sadar? Maafkan aku, aku akan membukakan pintu untuk anda."
"Dimana Maki?"
Deg
Hati Ijima kembali berdenyut, wanita itu semakin bingung dengan perasaannya, kenapa ia selalu merasa sakit jika Chriss dan Maki dekat.
"Apa kau tuli? Aku tanya dimana kekasihku?" ulang Chriss.
Ijima menatap kosong manik merah Chriss, " Di dekat danau," ucap Ijima sebelum wanita itu menerobos masuk ke kamar.
Di dalam kamar pun, Ijima terus memperhatikan dua insan yang berada didekat danau dari jendela ruangan itu, Ijima merepas jubahnya hingga kusut.
"Kurasa ini lebih baik, walau usia pernikahan kita belum ada setengah tahun," gumam Ijima, ia memutuskan untuk tidur sejenak sebelum menemui Chriss nanti.
...👑...
Malam harinya, Ijima hendak menemui Chriss. Wanita itu mengenakan gaun putih bermotif bunga sakura di ujungnya.
"Yang mulia," gumam Ijima ketika melihat Chriss di lorong kerajaan.
__ADS_1
Langkah wanita itu berhenti saat melihat Maki memeluk Chriss penuh sayang.
"Aku akan menunggumu untuk menikahiku, Chriss," ucap Maki menggelayut manja di lengan Raja Neoma itu.
Chriss mengangguk, "Setelah satu tahun, aku akan langsung menikahimu."
Gadis itu senang bukan main, ia mengecup pipi kiri Chriss sebelum melangkah pergi meninggalkan kekasihnya. Malam ini gadis itu kembali ke Helios karna sang ayah menyuruhnya pulang.
Dirasa Maki sudah pergi, Ijima semakin membulatkan tekatnya, ia melangkah mendekati Chriss.
"Yang mulia, ki-kita harus bicara," ucap Ijima gugup.
"Urusan kerajaan bisa kita bicarakan besok, Ijima. Lagipula aku baru sembuh." Chriss membalikan badan hendak pergi meninggalkan Ijima, namun wanita keturunan dewi itu dengan cepat menarik lengan Chriss agar lelaki itu mau menghentikan langkahnya.
"Aku kesini ingin bicara tentang hubungan kita," ucap Ijima.
Chriss tampak mendengus pelan, ia memutar badan menghadap kearah Ijima, "Bukankah sudah jelas? Pernikahan ini adalah bentuk hormat kita kepada orang tua."
"Ya, a-aku tau, tapi bukan itu maksudku."
Chriss merasakan ada yang janggal dari sikap Ijima, "Lantas, apa?"
Ijima meneguk saliva susah payah, dengan segenap keberanian yang memenuhi benaknya, ia mengucapkan keinginannya dengan lantang.
"Mari kita akhiri pernikahan ini, persuntinglah putri Maki, bukankah dia yang anda cintai?"
"Pernahkah anda memikirkan posisi saya, yang mulia? Saya menanggung malu, rakyat Neoma bahkan tau jika rajanya mencintai perempuan lain. Apalagi perempuan itu diajak makan bersama dengan sang istri."
"Itulah resikomu, andai kau mau menolak perjodohan itu, ini semua tak akan terjadi."
"Saya sudah tidak tahan dengan resiko ini, mari kita berpisah. Aku tidak meminta apapun, aku mohon, yang mulia." Ijima bahkan sampai menyatukan tangannya sedangkan Chriss tidak memberikan jawaban sedikit pun.
Seorang prajurit utusan Raja Kodama datang menemui Chriss.
"Maaf mengganggu waktu yang mulia. Raja Kodama ingin bertemu dengan yang mulia," ucap prajurit itu.
"Baik, katakan pada ayah bahwa aku akan segera menemuinya." Prajurit itu menganggukan kepala sebelum pamit mengundurkan diri.
Chriss kembali melirik Ijima, "Kita lanjutkan pembicaraan ini lain kali saja."
Lelaki itu melangkah pergi dengan tujuan menemui Raja Kodama, Ijima menekuk wajah menahan air mata yang siap berselancar di pipi.
"Aku sudah memberikan keputusan bagus kepadamu, tapi kenapa kamu menolak keputusanku, Yang Mulia," batin Ijima dengan perasaan sulit diartikan.
Setelah sampai di ruangan Raja Kodama, Chriss mengetuk pintu ruangan itu sebanyak tiga kali sebelum ia membukanya.
"Selamat malam, ayah. Ada hal apa yang membuat ayah memanggilku?" tanya Chriss yang berdiri dibelakang Raja Kodama. Pria paruh baya itu tengah menatap sebuah bingkai foto besar yang terpajang di dinding kamarnya.
__ADS_1
Menyadari kehadiran putra bungsunya membuat Raja Kodama menoleh lalu menyuruh Chriss untuk duduk di bangku yang sudah di siapkan tanpa sepatah kata pun.
Setelah mereka berdua dudk berhadapan, Raja Kodama tak langsung memberitahukan maksudnya memanggil Chrisa keruangan. Ia menyeruput teh hangat kemudian menatap Chriss tajam.
"Jadi apa maksud ayah memanggilku?" ulang Chriss tak sabaran.
"Bagaimana keadaanmu? Kelihatannya baik walaupun kamu baru sadar," ucap Raja Kodama basa-basi.
"Ya, kurasa luka yang ditimbulkan bom itu tidak terlalu parah," jawab Chriss.
Tak
Raja Kodama meletakan cangkir teh kemudian menyandarkan tubuh ke kursi dengan santai.
"Aku ingin membicarakan ini denganmu sejak lama, Chriss."
Chriss merasakan ada yang ganjil dari ayahnya, jujur saja Chriss takut jika Raja Kodama menanyakan tentang pewaris kerajaan.
"Membicarakan apa?" tanya Chriss.
"Jangan pura-pura bodoh, Chriss. Kapan kalian memberikan Neoma seorang pewaris?" Ya, Chriss menarik nafas gusar.
"Ayah, aku akan memberikan Neoma pewaris tapi tidak sekarang."
"Lantas kapan, Chriss? Bicarakan hal ini dengan Ijima," saran Raja Kodama.
Chriss menunjukan wajah masamnya mengingat Ijima mengatakan ingin berpisah dengannya.
"Aku akan memiliki anak tapi bukan dengan Ijima, tolong ayah mengerti hal itu," ucap Chriss.
Raja Kodama memandang putranya sinis, "Jika bukan dengan Ijima, lantas dengan siapa? Maki? Aku sudah menolak hubungan kalian berulang kali, Chriss. Tapi kenapa kamu tetap menjalaninya."
"Aku mencintai dia, Maki cinta pertamaku."
"Ayah ingin kamu merasakan apa yang Ijima rasakan, Ijima kehilangan cinta pertamanya karnamu, Chriss."
Chriss mengangguk, mau tak mau ia harus menuruti perkataan ayahnya walaupun dia seorang raja sekarang, Raja Kodama ataupun Sam bisa menggulingkannya kapan saja.
"Aku akan mencoba berbicara pada Ijima soal ini," pasrah Chriss, ia berharap Ijima bisa mengerti keadaan sekarang dan menunda perpisahan sampai ia melahirkan pewaris tahta Neoma.
Setelah urusannya dengan Raja Kodama selesai, Chriss keluar dari ruangan itu kemudian melangkah dengan santai melewati lorong depan kerajaan.
"Hiyaaa!"
Mendengar suara teriakan penuh semangat itu membuat Chriss menghentikan langkahnya lalu menoleh, pupil matanya membesar melihat Ijima mengayunkan pedang berulang kali ke depan. Cahaya bulan yang menyinari wanita itu menambah kecantikannya.
Chriss bersandar di salah satu tiang, ia memperhatikan Ijima dengan seksama. Diam-diam Chriss menarik senyum tipis, namun tak lama kemudian senyumannya pudar mengingat Ijima belajar seni perang untuk membalaskan dendam Shwan padanya.
__ADS_1
"Apa yang ayah bilang memang benar, Ijima kehilangan cinta pertamanya karna diriku, sangat tidak adil jika aku masih bersenang-senang dengan cinta pertamaku. Aku juga harus merasakan sakitnya kehilangan cinta pertama, maaf Maki, untuk kali ini aku menyerah."