Dewi Dan Pangeran Terkutuk

Dewi Dan Pangeran Terkutuk
epilog


__ADS_3

Setelah kematian Ijima, Chriss memilih turun dari tahta, ia menyerahkan kedudukan raja kepada putranya. Walaupun Alchyls masih terlalu muda, Chriss yakin dia bisa.


Usai penyerahan tahta, Chriss masuk kedalam kamar untuk melihat putrinya, ia menyentuh pipi Jeannita yang tertidur damai. Memikirkan bagaimana nasib putri kecilnya nanti membuat Chriss semakin galau.


Merawat Alchlys saja ia tidak bisa bagaimana dengan Jeannita, memang banyak orang yang menyarankan ia menikah lagi, tapi tidak mudah menemukan pengganti yang mencintai keluarganya bukan hanya kedudukan.


Kehilangan untuk kedua kalinya membuat Chriss memiliki trauma untuk menjalin hubungan lagi, mungkin ia akan meminta Maki untuk membantunya mengurus Jeannita.


Pandangan Chriss beralih ke lukisan besar yang terpajang di dinding kamarnya, "Apakah kamu senang, Ratuku? Sekarang kamu dan Shwan sudah bersatu, tidak ada lagi yang bisa mengganggu kesucian cinta kalian."


Raja Kodama memilih mengasingkan diri karna merasa bersalah pada Chriss, padahal ia sudah memaafkan ayahandanya dan meminta pria itu tinggal di kerajaan.


"Ayahanda?" panggil seseorang dari arah pintu.


Chriss menoleh sejenak lalu kembali mengamati lukisan Ijima, "Ada perlu apa? Bukankah sekarang kau masih di aula?" tanya Chriss.

__ADS_1


"Aku ingin berterima kasih pada ayahanda karna mempercayaiku untuk memimpin kerajaan," balasnya.


"Alchyls, kau adalah putraku. Kehadiranmu memang ditakdirkan untuk menjadi penerus Neoma, pergilah dan dapatkan cinta rakyatmu."


Alchyls tersenyum, "Terima kasih, aku akan kembali ke aula." Suara langkah kaki semakin menjauh membuat Chriss menghela nafas.


"Kisahku sudah berakhir, sekarang waktumu melanjutkannya, putraku."


**********************************************


Diam-diam raja Kodama menyaksikan itu, ia cukup bangga kepada cucunya yang berani mengambil kursi kerajaan dikala ayahnya turun tahta secara tiba-tiba. Tidak lama ia berada disana, Raja Kodama beranjak meninggalkan tempat itu dengan senyum terukir diwajahnya.


"Kali ini apakah kamu mampu membawa kerajaan itu pada masa jayanya?"


Setelah mengatakan itu Raja Kodama menghilang entah kemana.

__ADS_1


Awldo maupun Anya tersenyum menyaksikan Alchyls, rahang tegas lelaki itu menunjukan bahwa ia adalah seorang raja.


"Lihat Ijima, putra kecilmu sudah menjadi raja," batin Anya kenangannya bersama Ijima kembali berputar.


Jangan tanya dimana Chriss, tentu ia masih berada dikamarnya sambil bersandar di lukisan sang istri.


Mahkota yang tersemat rapi diatas rambutnya membuat Alchyls senang sekaligus tegang karna ia menjadi milik negaranya bukan lagi milik keluarganya, ia harus bisa mempersembahkan hidupnya untuk rakyatnya.


Pandangan Alchyls tiba-tiba terkunci pada seorang gadis berbaju lusuh yang diam-diam memandanginya kagum. Berbeda dari padangan orang-orang. Mata hazel gadis itu tampak berkilau. Menyadari dirinya dipandang, gadis itu menundukan kepalanya sejenak lalu mengukir senyum diwajahnya, tapi tidak selang lama gadis itu dibawa pergi oleh wanita dengan rambut disanggul keatas.


"Hm, menarik."


Kereta itu terus melaju sampai keperbatasan, Alchyls turun dari kereta begitu langkah kudanya berhenti, Alchyls menggunting sebuah pita merah seperti meresmikan sesuatu, Ya, Alchyls membuat patung sang ibu diperbatasan tersebut sebagai perlindungan negara, ia tidak sembarangan membuat patung tersebut, didalamnya terdapat sihir pelindung yang diberikan oleh neneknya.


Alchyls mendongak menatap wajah patung itu, ia berbisik didalam hati.

__ADS_1


"Semoga ibunda bahagia disana."


__ADS_2