
Para pelayan kerajaan langit membungkukan sedikit badan begitu Ijima lewat dihadapan mereka, Ijima berjalan pelan menuju ruang utama kerajaan Langit.
Sesampainya diruangan itu, Ijima disambut hangat oleh dewi Emina, "Sudah lama kita tidak bertemu, Ijima."
"Benar, kali ini apa yang membuat anda memanggil saya kemari, dewi?"
Dewi Emina mengeluarkan bola kehidupan Ijima yang warna nya sudah menjadi hitam pekat.
"Melihat ini kamu pasti sudah tau tujuanku memanggilmu kemari," ucap dewi Emina.
Ijima termenung, terpaku melihat perubahan bola kehidupannya padahal sebelumnya bola itu masih putih bersih.
"Apa aku tidak akan menjadi pemimpin langit selanjutnya?" tanya Ijima dengan perasaan kecewa pada dirinya sendiri.
"Kamu sudah melanggar beberapa peraturan, setelah Shwan tiada sudah tidak ada lagi yang membimbingmu, kau menikahi wadah iblis dan parahnya lagi kau menggantikannya untuk menjadi wadah iblis mengerikan itu, kau seorang keturunan dewi." Dewi Emina menghela nafas sejenak, menetralkan emosi yang hampir meluap, "Kau bisa menjadi pemimpin langit dengan syarat monster itu harus keluar dari tubuhmu."
Sesuai dugaan dewi Emina pasti akan mengatakan itu sama seperti Anya, "Jika memang seperti itu, aku tidak mau. Mengorbankan manusia yang tidak berdosa merupakan tindakan kejahatan, lebih baik aku tidak menjadi pemimpin langit lagipula aku sudah menulis perjanjian di kertas suci."
"Kau melakukan itu juga? Ijima, sangat disayangkan jika kau seperti itu, usaha Shwan akan sia-sia."
"Shwan? Dia sudah tiada, dewi. Semenjak kejadian itu aku sudah tidak terlalu berminat menjadi pemimpin langit, " ucap Ijima dengan tatapan sendu.
Dewi Emina mengerti, jika saja Shwan masih hidup mereka berdua akan menjadi pasangan yang cocok untuk memerintah kerajaan Langit.
"Ijima," panggil dewi Emina lembut.
"Ya, dewi?"
"Apa kau yakin dengan keputusanmu? Monster itu tidak bisa dibunuh jika wadahnya masih hidup."
"Itu lebih baik, bukannya monster ini adalah ciptaan terakhir Petapa Hitam?"
"Ya, baiklah kalau begitu keputusanmu. Akan ada suatu saat kau tidak bisa menahan monster itu lagi, aku akan menanamkan lonceng didalam hutan keramat dan hanya kau yang bisa membunyikannya, saat itu juga semua pasukan langit siap untuk menghabisimu." Demi Emina meletakan bola kehidupan Ijima ke tempat semula, ia menyuruh Ijima menghampirinya kemudian Dewi Emina memeluk wanita itu erat, walaupun dirinya kecewa ia tidak bisa memaksakan Ijima untuk menggantikannya, selama bertahun-tahun lamanya calon pemimpin langit selalu gugur sebelum dilantik dan kini Ijima menjadi salah satunya.
"Maafkan aku dewi, aku membuatmu kecewa," ucap Ijima.
Dewi Emina melepaskan pelukannya, "Tidak apa, aku menghargai keputusanmu, dan juga sepertinya sudah saatnya kamu tau kebenarannya."
"Kebenaran?" tanya Ijima bingung.
"Kebenaran tentang siapa pembunuh Shwan sebenarnya."
...👑...
"Biarkan aku masuk!" teriak Ijima melawan para penjaga kerajaan Celosia yang melarangnya masuk.
"Nona, apa anda sudah membuat janji dengan Yang Mulia?" tanya salah satu penjaga itu.
Ijima menggertakan giginya geram, "Kukatakan sekali lagi, biarkan aku masuk! Raja kalian itu temanku!"
__ADS_1
Wanita itu masih bersikeras untuk menemui Awldo, ia ingin membuktikan jika yang dikatakan Dewi Emina padanya adalah kesalahan.
Mendengar keributan, sang raja pun keluar untuk memastikan, dia dikejutkan dengan kehadiran Ijima didepan gerbang kerjaannya.
"Prajurit! Biarkan wanita itu masuk," titah Awldo, ia sedikit kesal karna para penjaganya mencengkram lengan Ijima.
Mendapat perintah, mereka pun membiarkan Ijima melangkah masuk menghampiri mantan pemburu itu.
"Ada kepentingan apa sehingga anda datang kemari seorang diri, Nona?" tanya Awldo lembut lalu mempersilahkan Ijima masuk kekerajaan. Ijima sudah lama tidak datang ke kerajaan Celosia. Memori tentang Shwan berputar secara otomatis membuat mata Ijima berkaca-kaca.
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Awldo," ucap Ijima dengan suara bergetar.
Mereka sampai diruangan utama, Awldo meminta para dayang menyajikan hidangan. Mereka berdua duduk berhadapan.
"Katakan, aku akan menjawabnya."
Wanita itu menggigit bibir bawah dengan gugup, "Katakan padaku bahwa orang yang membunuh Shwan bukanlah suamiku."
Deg
Jantung Awldo serasa berhenti sejenak, bagaimana Ijima bisa tau.
"Jawab Awldo! Aku kemari ingin mendengar jawabanmu bukan melihatmu diam seperti ini."
"Nona, bagaimana anda tau?"
Kedua mata Ijima terbelalak, "Jadi benar? Apa yang dikatakan Dewi Emina benar?"
"Memang benar, Chriss yang telah membunuh Shwan, pria bertopeng yang waktu itu memainkan belatinya adalah dia," terang Awldo yang membuat Ijima menangis sejadi-jadinya, ia sudah mulai mencintai lelaki itu tapi kenapa dirinya malah mengetahui kebenaran seperti ini.
"Ke-kenapa dia membunuh Shwan?"
Awldo menggeleng, "Aku tidak tau dengan pasti, yang kutau hanyalah Chriss iri dengan pencapaian Tuan Shwan."
"Ya Tuhan, aku tidak menyangka takdir seperti ini, aku menikahi sampai memiliki anak dengan pembunuh kekasihku."
Awldo membiarkan Ijima memangis sepuasnya, ia juga akan melakukan hal yang sama jika dirinya berada diposisi wanita itu. Ia jadi penasaran apa yang akan Ijima lakukan setelah ini.
Membunuh Chriss atau melepaskannya?
Setelah puas menangis, Awldo meminta beberapa pengawal untuk mengantar Ijima kembali ke Kerajaan Neoma, karna Ijima pergi tanpa pamit ia takut hal itu akan menimbulkan kesalahpahaman.
Selama perjalanan pikiran wanita itu kacau, bingung akan mengambil keputusan apa. Tapi ia sudah membuat sumpah waktu itu.
"Tidak mungkin aku membunuhnya," gumam Ijima, ia melempar pandangan keluar jendela melihat hamparan rumput sepanjang perjalanan yang tersisa.
Begitu sampai di kerajaan, Ijima langsung mencari keberadan Chriss, "Dimana Yang Mulia?" tanya Ijima pada salah satu dayang.
"Ada di tepi danau, Ratu."
__ADS_1
Tanpa banyak bertanya lagi, Ijima mempercepat langkahnya menuju tempat itu, jantungnya berdetak cepat, hembusan nafasnya tidak beraturan.
Menyadari kehadiran istrinya, Chriss menghampiri Ijima, ketika ia hendak bertanya apa yang terjadi sehingga Dewi Emina memanggilnya, sebuah tamparan mendarat di pipi kanan pria itu. Chriss terkejut begitu juga para dayang yang melihat dari lantai atas kerajaan.
"Ijima?"
"Hentikan sandiwaramu itu! Aku tidak pernah menyangka jika pelakunya adalah kau, Yang Mulia!"
"Apa maksudmu? Pelaku?"
Ijima menampakan smrik, "Jangan berpura-pura bodoh, kau lah yang telah membunuh Shwan!"
Suasana seketika hening, Chriss mengusap wajahnya kasar, mungkin Ijima tau dari Dewi Emina.
"Setelah mengetahui itu apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Chriss mengingat Ijima pernah membuat janji.
"Tentu saja menghabisimu," jawab Ijima kemudian ia memainkan jarinya, dari sana sebuah pedang muncul.
Dengan gerakan gesit, Ijima melukai setiap inci tubuh lelaki itu, setelah darah mulai keluar dari sela luka yang diperbuatnya, Ijima menghentikan pergerakannya.
Lelaki itu perlahan menjatuhkan diri ke atas tanah, menahan rasa perih yang menyerang.
Mendengar jeritan histeris para dayang, Sam maupun Raja Kodama menanyakan apa yang terjadi.
"Ratu—melukai Yang Mulia," jawabnya dengan suara gemetar.
Sam menatap Raja Kodama, "Apa Ijima sudah tau?"
"Sepertinya begitu, kita harus menghentikannya," ucap Raja Kodama. Mereka berdua melangkahkan kaki menuju tepi danau.
Mereka juga melihat Ijima mengangkat dagu Chriss menggunakan pedangnya, Raja Kodama pikir wanita itu akan membunuh anaknya ternyata dugaannya salah.
"Sangat disayangkan jika aku membunuh satu-satunya murid Petapa Putih yang tersisa, kali ini aku melepaskanmu karna kamu adalah ayah dari Archlys, persiapkan penurunan tahtaku minggu depan dengan itu semuanya selesai."
...👑...
Tepat seminggu setelahnya, Chriss melakukan upacara penurunan tahta dihadapan ratusan orang. Hampir semua rakyat tau pertengkaran rajanya, mereka memilih bungkam tak berani menyebarkan gosip karna Sam yang merupakan kakak Chriss mengancam akan menggorok leher siapa saja penduduk asli Neoma jika berita itu tersebar sampai keluar kota.
Chriss, lelaki itu dengan ragu mengangkat mahkota yang terpasang dirambut Ijima, ia juga melepas jubah kebesaran Neoma serta perhiasan-perhiasan, menyisakan Ijima dengan gaun putih serta gelang yang sengaja tidak ia lepas sebagai kenangan.
Wanita itu mencium kening putranya sebelum turun dari singgasana menuju kereta kuda yang sudah terparkir di halaman kerajaan. Ijima meninggalkan kerajaan Neoma dengan dayang Annie.
Sam tidak tega melihat tatapan sendu Chriss yang fokus melihat tubuh mantan istrinya yang semakin menjauh, ada tatapan tidak rela terpampang jelas di netra merahnya.
"Apa sekarang kau sudah menyesal, Chriss?" batin Sam sebelum melihat Chriss meninggalkan aula kerajaan.
Disepanjang lorong Chriss tidak henti-hentinya mengumpat, hatinya kini seperti diremas hingga hancur. Sakit.
Ia merasa gagal menjadi pendamping keturunan dewi itu, Chriss tidak bisa membayangkan jika wanita itu menikah dan memulai hidup dengan orang lain, membayangkan saja sudah membuat nafasnya memburu.
__ADS_1
"Suatu saat nanti, ketika semuanya mulai membaik, aku akan membawamu kembali kedekapanku, Ijima. Kau hanya milikku," gumam Chriss yang semakin mempercepat langkahnya.