
"Bagaimana bisa?"
Raja Kodama menyilangkan kedua tangannya didepan dada, "Ibumu berusaha menahan Petapa Hitam saat dia ingin menanamkan monster Geni ketubuhmu. Tapi dia gagal, Ixora bukan mengendali sihir sehingga dirinya gagal melindungimu, Ixora terkena racun yang membuatnya meninggal."
Chriss diam seribu bahasa, ia tidak menyangka jika ibunya juga mengorbankan nyawa untuk melindunginya, walaupun pada akhirnya dia tetap menjadi wadah monster. Chriss keluar dari ruangan ayahnya tanpa pamit.
"Lihat, Ixora? Putra kecilmu sudah sedewasa ini," ucap Raja Kodama pada lukisan wanita yang memiliki manik mata peridot.
Chriss melangkah dengan tegas menuju ruangan kakaknya, ia membuka ruangan itu tanpa ketukan.
"Kau lupa aturannya, hm?" tanya Sam yang ada dikursi kerjanya.
"Aku membutuhkan bantuanmu, bawa Anya kesini bagaimana pun caranya!" titah Chriss mutlak.
Sam terkejut, "Apa? Menangkap pemburu kelas atas? Kau bercanda, kau masuk keruanganku dengan tidak sopan dan sekarang memerintahku seenaknya."
"Hanya Anya yang tau dimana keberadaan Ijima! Aku baru menemui Ijima, kakak. Aku ingin membawanya kembali padaku," ucap Chriss.
Sam sudah menduga jika Chriss akan bertemu dengan Ijima, ia juga tau penyebab Ijima keluar dari tempat persembunyiannya karna Anya mengancam wanita itu.
"Kau tau, Chriss? Alchlys juga sudah bertemu dengan Ijima," ucap Sam.
"Apa?"
"Bocah itu bertemu Ijima saat ia diam-diam keluar dari kerajaan untuk mencari sebuah batu seperti manik mata Ijima, beruntung Alchlys tidak tau jika dia adalah ibunya."
Pikiran lelaki itu kacau, "Hah, lakukan perintahku tadi, anggap saja ini hukumanku karna kalian menyembunyikan rahasia bahwa Ijima mengambil alih monster itu dariku."
Chriss melangkah pergi, ia ingin pergi ke hutan keramat untuk mencari tempat persembunyian wanita itu. Sam hanya menggeleng pasrah.
"Kau sama seperti ayah, Chriss. Ayah kehilangan wanitanya begitu juga denganmu, tapi bedanya kau bisa membawa wanitamu kembali, tidak dengan ayah," gumam Sam sebelum memanggil prajurit khususnya untuk membantunya mencari keberadaan Anya.
****
Alchlys baru pulang dari Akademi Sihir, ia melihat pamannya yang memakai setelan rapi serta ada empat kuda putih didepan gerbang kerajaan. Sam juga mengecup dahi seorang gadis yang ia yakini adalah Maki.
"Kita tunda pertemuan hari ini, Maki. Aku mendapatkan tugas dan kali ini dia sedang serius," ucap Sam yang diangguki oleh Maki. Maki tak melarang kekasihnya pergi karna dia tau ini menyangkut tentang Ijima dan Chriss.
"Paman, paman mau kemana," tanya Alchyls setelah mendekati Sam.
__ADS_1
Sam menyamai tinggi bocah itu, "Ayahandamu memberiku tugas untuk mencari seseorang jadi aku akan melaksanakannya sekarang."
"Aku ikut!"
"Tidak, masuk kedalam kerajaan."
"Tapi—"
"Apa kamu tidak ingin bertemu ibundamu, Pangeran?" tanya Maki memotong ucapan Alchyls yang belum selesai.
"Ibunda?"
Sam dan Maki pun mengangguk, "Ayahandamu sudah bertemu dengan ibundamu, dan sekarang ia akan mencari keberadaanya karna ibundamu melarikan diri."
Mata Alchyls berbinar, "Benarkah itu? Kalau begitu, cepat selesaikan tugasmu, paman. Aku tidak sabar bertemu ibunda," ucap Alchyls dengan semangat.
"Baiklah, kalau begitu sampai jumpa." Sam naik keatas kudanya lalu memacu kuda tersebut diikuti tiga pengawal dibelakangnya.
Para pemburu biasanya berkeliaran diujung hutan keramat karna disanalah markas pemburu berada, Sam tak mempedulikan keselamatannya asalkan Chriss mendapatkan kembali kebahagiaannya itu sudah cukup.
"Tuan, kita sudah sampai diperbatasan, apakah anda yakin? Perburu itu bisa menyerang kita." Salah satu pengawal kembali memastikan tujuan Sam, didepan mereka sudah ada garis sihir merah yang terbentang, jika mereka memasukinya tidak ada kata untuk mundur.
Empat kuda putih itu satu per satu melompat melewati perbatasan, sesuai dugaan mereka disambut dengan puluhan anak panah dari berbagai arah, beruntung Sam membawa pengawal yang sudah berpengalaman dengan hal ini.
Mereka berempat terus melaju, sesekali Sam menoleh ke sekitar, ia tidak bisa membedakan para pemburu itu.
"Dimana dia," batin Sam kesal, ia heran kenapa para pemburu begitu menutupi identitasnya, hal itu membuatnya kesusahan.
"Berhenti! Turunkan senjata kalian sekarang juga!" teriak seseorang dengan suara keras, begitu mendapatkan perintah mereka langsung menjatuhkan busur serta anak panahnya.
Sam dan para pengawalnya menghentikan langkah ketika seorang pemburu yang berpenampilan beda menghampirinya.
"Kebodohan apa yang membuatmu memasuki area berbahaya ini, Tuan?" pemburu itu melepas topengnya, wajah cantik terlihat dari balik topengnya. Dia adalah Anya, orang yang ia cari.
Sam turun dari tunggangannya diikuti para pengawal kemudian membungkukan badan sebagai tanda hormat.
"Aku diperintah oleh Yang Mulia Chriss Kodama untuk membawamu kekerajaan Neoma," ucap Sam.
"Untuk apa? Bertanya dimana Ijima berada? Aku tidak akan mengatakannya," tolak Anya cepat karna dia sudah tau maksud kedatangan pria tersebut.
__ADS_1
"Jika tidak ingin mengatakan keberadaanya, kenapa kau mempertemukan mereka berdua?" tanya Sam dengan nada dingin.
Anya tersentak, bagaimana Sam bisa tau rencananya dalam sekejap.
"Aku tau kau mengancam Ijima untuk menghadiri pesta itu, jika dia tidak datang kau akan menyakiti Alchlys."
Sam mendengus ketika gadis itu mengepalkan tangannya, bagaimana tidak kesal rencananya diketahui oleh orang lain? Anya menggigit bibir bawahnya, gugup.
"Baiklah, aku akan datang kesana, lagipula sudah saatnya mereka bersatu," putus Anya yang membuat Sam tersenyum lega, benar. Sudah saatnya Chriss mendapatkan semangat hidupnya kembali.
***
Sesuai perkataanya, Anya datang menemui Chriss, mereka berdua duduk berhadapan diruang kerja lelaki itu.
"Sihir yang membentengi tempat itu tak terlalu kuat, dengan kemampuanmu yang luar biasa tentu pelindung itu akan hancur dengan mudah," jelas Anya, ia berkali-kali menegaskan tingkat sihir Ijima. Jika Monster Geni membuat Chriss semakin kuat, namun berbanding terbalik jika Ijima yang menjadi wadahnya.
"Pertengahan Hutan Keramat? Aku baru saja melintasinya tadi," ucap Chriss.
"Ijima membuat tempat itu di dimensi yang berbeda, aku bisa mengantarkanmu kesana, aku ingin kau sendiri yang membawanya kembali tanpa campur tangan dariku," terang Anya, ia tidak bisa terus-terusan mengancam sahabatnya.
Chriss termenung, ia memikirkan apakah Ijima akan menerimanya kembali, Chrisa menggelengkan kepala, mengenyahkan pikiran negatif dari otaknya.
"Aku mengerti, aku akan berusaha sebisaku untuk membawanya kembali.
Keesokan harinya, Chriss memacu kudanya menuju Hutan Keramat, diikuti Anya yang melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.
Mereka berhenti di tempat yang ditumbuhi pohon besar disana, Anya menyentuh pohon itu, seketika lingkaran sihir muncul. Anya berdiri dihadapan lingkaran sihir itu kemudian menyuruh Chriss untuk masuk karna pemeriksaan telah selesai.
Setelah masuk kedalam, Chriss menelusuri setiap lorong tempat ini, beruntung dayang Annie sedang menemui Ratu Ryoika jadi tidak ada yang bisa menghalanginya bertemu dengan Ijima.
Chriss sampai disebuah ruangan yang memiliki benteng perindungan sihir yang cukup kuat. Tubuh Chriss diam membeku melihat wanita yang ada jauh didepannya, wanita itu memunggungi Chriss sambil menyisir rambutnya yang kusut. Bibirnya bergetar membayangkan betapa tersiksanya dia menerima monster itu.
"Anya? Kamu datang lebih cepat, apa pertemuanmu dengan Awldo sudah selesai?" tanya wanita itu tanpa menoleh kebelakang. Ia mengira yang datang adalah Anya.
Suara lembut yang Chriss rindukan terdengar, Chriss menyentuh perisai sihir itu, ia mencengkram dengan penuh kekuatan.
Pyar
Pelindungnya pecah yang membuat wanita itu tersentak, ia dengan spontan menoleh kebelakang, dia mendapati seorang pria yang menatapnya dengan tajam serta kedua tangan terkepal disebelah tubuhnya.
__ADS_1
"Y-Yang M-mulia?" ucapnya dengan bibir gemetar.