
Satu bulan sudah Hardi tidak pernah menemui Santi lagi.
Hardi di sibukan bersama Airin saat ini.
Selama satu bulan ini juga Airin telah menunjukan perubahan nya sedikit demi sedikit, yang mulai memperhatikan Hardi dan mulai melupakan dunia game nya yang sempat membuat rumah tangga nya hancur berantakan.
Sementara di rumah Santi, ia setiap hari selalu menunggu kedatangan Hardi, namun Hardi tidak kunjung datang.
Santi hanya ingin meminta kejelasan hubungan nya bersama Hardi dan tidak di gantung seperti ini, ia juga sadar diri, Santi hanya di jadi kan istri siri dan boneka saja, jadi walau pun nanti nya harus berpisah, ia pun sudah rela melepas Hardi.
Setiap saat Santi hanya bisa menunggu di depan pintu rumah nya yang tanpa kepastian dan sambil menjalan kan usaha warung nya, yang mungkin tidak semulus yang di bayang kan, usaha warung nya pun sangat sepi pembeli bahkan sering tidak ada yang berkunjung ke warung nya, hanya untuk membeli sebuah kerupuk.
"Kamu kemana Mas, sebulan ini tidak ada kabar sama sekali dari kamu!" Batin Santi, sesekali meneteskan air mata nya.
Ketika sedang melamun, tiba-tiba Santi merasa mual-mual hebat, perut nya sangat sakit, mata nya kunang-kunang.
Santi masih berfikiran mungkin dia hanya telat makan saja.
Namun setelah berapa hari beristirahat, semakin hari semakin ngdrop kondisi nya, karena tidak ingin berkepanjangan Sakit nya, akhir nya Santi pun memutuskan untuk pergi ke Dokter, di samping itu Santi harus mempersiapkan 40 hari nya Bu Dewi yang jatuh pada minggu depan, jika Sakit, di khawatir kan ia tidak bisa mengurus 40 harian Ibu nya.
Setelah sampai di klinik Santi memberitahu kan keluhan nya saat ini kepada dokter.
Dokter pun mulai memeriksa Santi.
"Bagai mana Dok! Saya sakit apa?. Tanya santi
Dokter yang memeriksa Santi pun tersenyum bahagia.
"Ibu tidak sakit kok, ini sudah biasa terjadi pada wanita umum nya, selamat ya ibu saat ini sedang hamil 7 minggu." Jelas Dokter Melinda.
"Hamil Dok?" Kaget Santi.
Senang bercampur sedih Santi mendengar nya, sebentar lagi Santi akan menjadi se orang ibu.
Namun Santi sangat sedih, suami nya tidak ada di samping nya saat ini, dan Santi pun tidak bisa terlalu berharap kepada Hardi lagi, pada kenyataan nya Hardi sudah tidak memperduli kan nya lagi.
Setelah selesai di periksa, Santi juga tidak lupa di beri kan resep oleh Dokter Melinda, Vitamin dan penguat kandungan untuk di tebus di bagian obat.
Tidak lama, Obat dan Vitamin sudah di tangan nya, Santi pun langsung kembali pulang ke rumah nya.
Setengah jam yang di perlukan Santi dari Rumah Sakit menuju Rumah nya, kini Santi langsung beristirahat setelah ia mengetahui kehamilan nya.
__ADS_1
Sesekali ia mengusap perut nya yang masih datar itu.
"Kita harus kuat ya Nak, Mamah janji, Mamah akan merawat kamu sebaik mungkin." Batin Santi.
Santi juga berjanji akan menjaga anak nya dengan sebaik mungkin, ia akan mengorban kan segala nya demi anak yang di kandung nya.
...
Tepat 40 hari sudah di mana Bu Dewi meninggal.
Santi mempersiapkan semua nya untuk acara tahlilan nanti malam.
Ia tidak menyangka jika orang tua Airin pun datang.
Santi sangat senang sekali dengan kehadiran mereka.
Santi pun tidak lupa sedikit menaruh harapan, jika Hardi juga akan datang walaupun kedua nya berpura-pura se olah-olah tidak saling mengenal.
Namun pada kenyataan nya Hardi tidak ikut dengan orang tua Airin, begitu juga dengan Airin, ia sama sekali tidak terlihat.
Rupanya hanya berdua saja yang datang.
"Bu, Pak. Masya Alloh Kalian datang!" Santi menyambutnya dengan penuh hangat.
Ke dua nya pun tersenyum.
"Bagai mana ke adaan kamu, sehat kan?" Tanya Bu Vera pada Santi, seraya bersalaman secara bergantian.
"Alhamdulillah baik Bu! Ibu, Bapa bagai mana, Sehat?"
Santi bertanya balik pada mantan majikan Ibu nya.
"Ini ambil, buat tamu-tamu yang datang." Seraya memberi kan 2 polibeg besar.
Tidak lupa juga orang tua Airin pun membawa bingkisan yang begitu banyak untuk acara tahlilan nya Bu Dewi, Ibu nya Santi.
"Aduh Bu, Saya jadi tidak enak malah merepot kan Ibu sama Bapa." Seru Santi pada Bu Vera dan Pak Ervan.
"Tidak merepot kan sama sekali kok."
Santi begitu sangat tidak nyangka jika Pak Ervan dan Bu Vera begitu baik kepada nya. Sampai-sampai acara 40 harian pun mereka datang.
__ADS_1
Setelah beberapa saat berbincang, Santi mencoba menanyakan kabar Airin, walaupun dalam hati nya Santi sangat berharap mengetahui kabar nya Hardi.
Pak Ervan menjelaskan saat ini, Airin di sibukan dengan bulan madu nya dengan Hardi yang sempat tertunda.
Tak lupa juga memberitahukan jika sekarang dia sedang melakukan program hamil, dan banyak hal lain nya yang membuat ke dua orang tua nya sangat bahagia.
Santi hanya tersenyum saja dan walaupun sangat sakit terdengar nya.
Tiba-tiba saja orang tua Airin pun menanyakan keberadaan suami nya Santi.
Santi hanya menjawab suami nya sudah tidak memperdulikan nya lagi, dan meninggal kan begitu saja.
Santi juga tidak lupa memberitahu kan jika dia sedang hamil saat ini.
Di sisi lain orang tua Airin sangat bahagia ketika mendengar Santi sedang hamil, namun mereka juga sangat geram terhadap suami nya Santi. Yang melain kan menantu nya sendiri.
"Santi, bagai mana kalau kamu tinggal di rumah kami saja! Biar nanti nya kamu ada yang jaga" ajak Bu Vera.
"Maaf Bu, bukan Sqnti menolak, tapi Santi tidak enak, takut merepot kan Ibu sama Bapa." Tolak Santi.
"Tidak usah sungkan sama kami, kamu ikut kami saja, agar ada yang bisa menjaga kamu, apa lagi saat ini kamu sedang hamil."
Santi mencoba menolak nya, namum Pak Ervan dan Bu Vera begitu sangat memaksa, Bu Vera tidak ingin Santi terjadi sesuatu jika dia tinggal sendiri di rumah nya.
...
Ke esokan hari nya setelah selesai acara semalam Santi akhir nya ikut ke rumah orang tua Airin. Menolak pun tidak bisa.
Sepanjang jalan hati nya sangat gundah sebab Santi belum siap bertemu dengan Hardi setelah mendengar penuturan orang tua nya Airin kemarin sore.
Santi tidak ingin merusak lagi rumah tangga orang, apalagi dia adalah sahabat Santi sendiri.
"Kamu kenapa San?" Tiba-tiba Bu Vera mengagetkan lamunan Santi di dalam mobil.
"Gpp Bu, Santi hanya menikmati gedung-gedung tinggi sepanjang jalan ini" mencoba beralasan.
Setelah beberapa jam akhir nya mereka pun sampai di rumah Bu Vera dan Pak Ervan dan dimana dulu nya Santi pun pernah tinggal di rumah ini.
Santi juga menempati kamar yang dulu nya Santi tempati dengan Bu Dewi.
Santi melihat-lihat kamar nya yang dulu, tidak ada perubahan sama sekali.
__ADS_1