
Santi beranjak dari sajadah, lalu duduk di samping suami nya.
"Mas, bangun! Shalat subuh dulu."
Hardi hanya menggeliat saja, lalu muka nya di tutup pake bantal.
Santi tidak begitu memaksa Hardi, ia tidak ingin suami nya marah.
Kali ini Santi membiar kan suami nya tertidur, mungkin di waktu yang tepat, perlahan Santi akan memberitahu nya untuk mengajak shalat.
Santi membiar kan suami nya di kamar, ia pergi ke dapur untuk memasak masakan sederhana untuk sarapan pagi bersama.
Ketika sampai di dapur, Santi kaget melihat Ibu nya sudah ada di dapur subuh-subuh.
"Bu, lagi ngapain! ko di dapur?" Tanya santi.
Ia melihat ibu nya yang lagi memotong-motong sayuran sebelum di masak.
Bu Dewi melihat ke arah Santi.
"Loh kok kamu ke dapur nak! Kamu istirahat saja di kamar sana".
Ibu nya malah menyuruh Santi pergi dari dapur.
Mungkin Bu Dewi mengerti jika anak nya masih pengantin baru, Bu dewi tidak ingin anak nya merasa kecapean.
"Biasanya aku yang nyiapin sarapan untuk kita bu! Mendingan ibu saja yang istirahat, jangan kecapean, santi tidak ingin ibu sakit."
"Ngga, Ibu saja yang masak, temani saja suami kamu di kamar, ayok."
Bu Dewi sedikit mendorong halus Santi, agar pergi dari dapur.
Perdebatan ke dua nya tidak ada habis nya, mereka sama-sama bersikeras untuk memasak di dapur.
Akhir nya mereka memutus kan untuk masak bersama.
Perbedaan Airin dan Santi sangat lah, bagai kan bumi dan langit.
Dari kecil Airin sering di manja, tidak pernah sekali pun belajar untuk sekedar memasak di dapur.
Dari kecil Airin sering di layanin, karena ada pembantu rumah yang melayani dan mengurus nya, Ibu nya Airin pun hanya sesekali memasak.
...
Tangan lihai Santi sangat terampil, hingga masakan pun semua nya sudah matang.
Bertepatan dengan Hardi yang baru saja bangun dan ke luar dari kamar.
Santi yang sedang merapih kan meja makan, menyapa Hardi yang baru saja ke luar kamar.
"Mas, udah bangun, mau sarapan dulu apa mau Mandi."
"Sarapan dulu, tapi Mas cuci muka dulu."
Hardi pergi ke kamar mandi, sementara Santi dan Ibu nya menunggu di meja makan.
"Santi, Ibu sangat lega sekarang, jika Ibu sudah tidak ada nanti nya, Ibu sekarang lebih tenang, karena kamu sudah ada yang menjaga nya."
"Bu, jangan pernah berbicara seperti itu, Ibu akan selalu bersama Santi."
Santi menetes kan air mata nya, mengapa Ibu nya berbicara seperti itu, ia memeluk Ibu nya.
"Santi sayang banget sama Ibu, Santi tidak yakin akan kuat jika kehilangan Ibu."
Mereka hanyut dalam pelukan, sama-sama sangat menyayangi.
Pelukan nya terlepas, ketika Hardi sudah kembali dari kamar Mandi.
Air mata nya buru-buru di hapus, tidak enak jika terlihat suami nya.
Santi menyambut suami nya dengan sangat baik.
"Ayo Mas, duduk."
Santi menarik kursi agar lebih nyaman duduk nya.
Gelas di isi kan air, nasi di tuang kan ke dalam piring beserta lauk pauk nya.
Hardi tidak pernah, di perlakukan se istimewa ini oleh Airin, bahkan makan saja pun tidak pernah bareng, hanya baru 1 minggu ke belakang ia bisa makan bersama.
"Maaf ya nak Hardi, makanan nya hanya sederhana ini." Ucapa Bu Dewi.
Hardi hanya tersenyum, Hardi memang sudah terbiasa melihat makanan seperti ini, karena selama belum menikah, Hardi sering sekali di suguh kan sama persis yang di hidang kan di meja makan sekarang.
"Gpp, Bu. Hardi juga sudah terbiasa makan seperti ini." terang Hardi.
Bu Dewi terus saja menatap Hardi, ia ingin sekali berbicara dengan menantu nya, namun nggan untuk membuka suara.
Hardi yang sedang menikmati sarapan pagi nya, sedikit risih, jika terus saja di tatap oleh Ibu mertua nya.
"Bu, apa ada yang mau di bicara kan sama Hardi."
Bu Dewi sedikit menghela nafas, lalu memberani kan diri berbicara.
"Begini nak Hardi, Ibu minta sama nak Hardi, Ibu titip Santi, jangan pernah tinggal kan Santi, Ibu hanya percaya sama nak Hardi saja." tutur Bu Dewi.
Hardi sedikit berat untuk menjawab, Hardi sendiri sangat bingung dengan perasaan nya, karena rasa cinta Hardi hanya untuk istri pertama nya.
"Hardi janji Bu, Hardi akan selalu menjaga Santi."
Bu Dewi dan Santi sangat bahagia atas ucapan yang ke luar dari mulut Hardi.
"Makasih ya Mas, aku beruntung punya kamu."
__ADS_1
"Sama-sama Sayang."
Meskipun yang ke luar dari mulut Hardi tidak sesuai dengan isi Hati nya, tapi Hardi tidak ingin mengecewa kan mertua nya kali ini, apa lagi masih pengantin baru.
...
Satu bulan sudah pernikahan Hardi dan Santi.
"Sayang, Mas besok harus berangkat kerja, Mas akan jarang pulang, masa cuti Mas sudah berakhir."
Hardi menyampai kan jika ia besok harus kembali bekerja, masa cuti nya sudah habis.
Hardi sebelum nya bilang ia hanya bekerja di salah satu perusahaan, sebagai manager, bukan sebagai pemilik perusahaan.
"Iya Mas, gpp. Terima kasih, Mas sudah mau mencari nafkah untuk aku dan Ibu."
Malam itu Santi sedikit sedih, ketika suami nya bilang akan pergi bekerja kembali ke luar kota, namun demi mencari nafkah, Santi mengizin kan nya walau berat.
"Itu sudah kewajiban ku." seru Hardi sambil memeluk Istri nya.
...
Tak terasa, matahari sudah terbit menyinari alam semesta.
Pagi-pagi sekali Santi sudah membuat kan bekal untuk suami nya yang setahu Santi akan merantau ke luar kota.
Airin dan Santi memang satu kota, namun beda tempat, Santi lebih ke perkampungan sedangkan Airin tinggal di kota nya, mereka semua sama-sama tinggal di jakarta.
Suami nya sudah terlihat sangat rapih.
Hardi ke luar dari kamar nya dan menggeret koper nya.
Santi menghampiri suami nya, menemani suami nya sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.
Santi sangat sedih, hati nya sangat teriris, ia tidak ingin di tinggalin suami nya, namun air mata nya sangat di tahan, ia tidak ingin membuat suami nya cemas.
Hardi pun sudah selesai sarapan pagi nya, ia beranjak dari tempat duduk nya.
Begitu juga dengan Santi dan Ibu mertua nya ikut beranjak.
"Mas, harus berangkat sekarang, kasihan taxi nya sudah menunggu di depan."
Santi hanya mengangguk, ia tidak banyak bicara, di takut kan tangisan nya akan pecah di hadapan Hardi.
Santi dan Bu Dewi mengantar kan Hardi ke depan rumah.
Rupa nya taxi online yang di pesan Hardi sudah menunggu di depan gang, supir nya sudah memberi tahu Hardi.
"Sayang, mas pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik. Tunggu mas pulang yah!" Sambil mengecup kening.
"Iya Mas, hati-hati ya! Kalau sudah sampai, kabarin aku."
Tak lupa juga Santi menyalami Suami nya, sesekali memeluk nya.
Hardi pun menyalami mertua nya sebelum berangkat.
"Iya nak, mudah-mudah,n kamu kerja nya lancar, sehat terus, jangan lupa shalat."
Setelah berpamitan Hardi pun pergi, melangkah kan kaki nya lebih jauh dari Santi dan Bu Dewi.
Santi sengaja tidak mengantar kan suami nya ke depan gang di karena kan ia tidak ingin lebih sakit lagi ketika suami nya pergi.
Hardi sudah berada di dalam taxi online.
Ketika di tengah perjalanan, Hardi teringat sebuah toko berlian langganan orang tua Airin.
Hardi berniatan ingin membeli kan Hadiah berlian untuk istri kesayangan nya.
"Pak, nanti mampir dulu ke toko perhiasan yang di depan jalan sana ya, nanti saya kasih tips."
"Ok, baik pak."
Taxi online yang di tumpangi Hardi sudah berada di depan toko perhiasan.
Hardi turun dari taxi online nya dan masuk ke dalam toko.
Ia mulai melihat-lihat berlian yang terpajang di etalase.
Salah satu pekerja di toko berlian, menghampiri Hardi yang sedang melihat-lihat.
"Ada yang bisa saya bantu Pak." tanya petugas toko.
Hardi melihat ke arah petugas yang bertanya kepada nya.
"Oh, begini mba, saya sedang mencari berlian tapi masih bingung yang mana."
Petugas tersebut mengangguk-ngangguk.
"Kalau bapak mau, di tempat kami ada satu set berlian yang keluaran terbaru, jika bapa berminat, bisa di lihat terlebih dahulu, namun harga nya agak tinggi."
Tak perlu berfikir panjang, Hardi langsung meng iya kan nya.
"Boleh mba."
Hardi menunggu beberapa saat sampai petugas nya ke luar membawa berlian tersebut, karena barang keluaran terbaru masih di simpan di tempat spesial.
Terlihat petugas tersebut sudah kembali dan membawa berlian tersebut.
"Ini Pak."
Ketika melihat berlian tersebut, Hardi sangat tertarik.
"Ok, Saya ambil yang ini."
__ADS_1
Tanpa menanya kan harga terlebih dahulu, Hardi sudah menyetujui nya.
"Ini harga nya sekitar 80 juta Pak, bagai mana?"
Petugas nya memberi tahu harga satu set berlian tetsebut, karena dari pihak toko belum membandrol atau pun memberi tahu nya.
"Tidak masalah, ini saya bayar."
Hardi memberi kan sebuah ATM milik nya untuk transaksi jual beli nya.
Petugas toko tersebut sangat senang, dengan customer seperti Hardi, tidak ribet.
"Baik, silah kan Pak."
Hardi di alih kan ke bagian kasir untuk menyelesai kan transaksi tersebut.
Hadiah untuk Airin pun sudah di dapat, Hardi kembali ke taxi online nya dan melanjut kan perjalanan pulang ke rumah mertua nya, karena Airin sedang berada di rumah Bu Vera.
...
Hanya 1 jam perjalanan dari toko berlian ke rumah mertua nya.
Taxi online nya sudah berada persis di depan rumah orang tua Airin.
"Terima kasih Pak, sesuai janji saya, saya lebih kan, sebagai tips."
Hardi memberi kan 3 lembar uang merah kepada supir taxi.
"Terima kasih Pak, apa ini tidak berlebihan, bapa kan harus bayar nya hanya 200 saja, ini lebih 100." Ungkap supir taxi.
"Ambil saja, bonus bapak." Terang Hardi.
Pak supir begitu senang, mendapat kan rezeki yang tidak terduga.
Setelah membayar taxi, Hardi pun turun dan mengeluar kan koper nya di bagasi mobil.
Hardi berjalan dan masuk ke rumah minimalis milik mertua nya.
Tepat lah Hardi di depan pintu.
Hardi memijit bel rumah yang menempel di dinding.
Tak lama dari itu, pintu pun terbuka.
"Mas, ya ampun sayang, kamu sudah sampai."
Rupa nya Airin yang membuka kan pintu rumah.
"Mas sengaja memberi kejutan sama kamu."
Airin begitu senang atas kepulangan suami nya.
"Ko sepi, pada pergi?"
Hardi melihat sekeliling rumah, tidak ada siapa pun.
"Iya, Mama lagi ada janji sama temen nya, sedang kan papah kan lagi kerja."
Hardi pun mengangguk.
"Aku punya sesuatu untuk kamu!" ucap Hardi.
Sambil mencolek dagu Airin.
"Apa Mas." Mata yang sangat berbinar dan sedikit manja.
Airin sengaja bermanja-manja, agar menutupi kesalahan nya.
Airin benar-benar takut ketahuan, ia tidak ingin kehilangan Hardi.
Dia tidak ingin terbongkar rahasia nya jika Airin terjerumus ke dunia game online nya lagi selama Hardi tidak ada di samping nya.
Hardi dan Airin duduk di ruang tamu.
Hardi memberi kan Hadiah nya yang telah di beli tadi di toko berlian.
"Apa ini Mas." Sambil menerima tas kecil yang di beri kan Hardi.
Airin mulai mengambil barang yang berada di tas kecil yang berwarna coklat.
Airin membuka sebuah kotak yang berwarna merah tersebut.
Ketika membuka nya, Airin begitu kaget isi di dalam kotak merah tersebut satu set berlian keluaran terbaru.
"Ya ampun Mas, ini tidak salah."
Airin terus saja memandangi hadiah dari suami nya.
"Apa pun Mas akan berikan untuk kamu."
Hardi mulai mendekati Airin, yang masih memandangi hadiah nya, sesekali bibir nya mendekati bibir Airin, namun Airin sedikit menghindar.
"Ah sudah lah nanti malam saja. Aku akan bersenang-senang dengan kamu! Kali ini ga akan aku kasih ampun" batin Hardi, karena ia gagal mendapat kan ciuman dari istri nya.
Walau pun sedikit kesal, ia tidak ingin marah sama istri nya, apa lagi sudah di tinggal selama satu bulan.
Hardi beranjak dari ruang tamu, dan akan beristirahat di kamar, sedang kan Airin membawa kan minum terlebih dahulu, jika sewaktu-waktu ia haus di kamar.
"Mas, duluan ke kamar ya."
"Iya Mas."
Hardi buru-buru menghubungi Santi agar tidak ketahuan Airin, jika ia sudah sampai di tempat tujuan dan untuk sementara tidak bisa menghubungi nya terlebih dahulu.
__ADS_1