
Airin telah kembali ke kamar dan membawa segelas Air putih.
Hardi begitu kaget ketika Airin membuka pintu kamar nya.
Airin menatap ke arah Hardi yang seketika menjatuh kan Hp nya ke ranjang.
"Loh mas kenapa? Ko kaget gitu!" Tanya Airin.
Melihat tingkah suami nya yang aneh dan sempat menjatuh kan hp nya tanpa sengaja.
"Ngga, mungkin mas lapar belum makan jadi tangan Mas gemetaran, terus Hp nya ga sengaja jatuh deh!" Seru Hardi.
Airin menghampiri Hardi dan duduk di samping nya.
"Kamu ga sempat makan Mas, di perjalanan tadi gitu!"
Hardi menggeleng kan kepala nya.
"Aku sengaja berangkat nya jam 1 malam dari jawa, agar sampai jakarta nya masih pagi, jadi belum terlalu siang, karena sudah ga sabar pengen bertemu kamu."
Begitu bodoh nya Airin sangat percaya dengan ucapan Hardi.
Airin begitu sangat bahagia atas apa yang di ungkap kan suami nya.
"Aku pesenin makanan ya buat kamu. Soal nya mamah ga masak juga hari ini". tutur Airin.
Ini yang bikin kesal Hardi, Airin atau pun mertua nya jarang sekali memasak, berbeda dengan orang tua Hardi dan Santi sering sekali masak.
"Ya sudah" jawaban yang singkat.
Hardi ingin sekali di masakin oleh istrinya. Apa boleh buat Airin tidak pernah melakukan nya.
Bahkan masak pun mungkin dia tidak bisa, berbeda dengan Santi, selalu melayani Hardi dan pandai memasak.
"Ah sudah lah, mikir apa aku ini, aku harus menerima kekurangan Airin! Aku sayang banget sama kamu Rin! Meskipun kamu sangat berbeda dengan Santi. Tapi aku cinta nya sama kamu". Batin Hardi.
...
Setengah jam kemudian pesenan pun datang.
Airin mengambil pesanan ke luar rumah, karena saking buru-buru, Hp nya di letak kan begitu saja di atas meja lampu.
Tak ada henti nya, Hp Airin terus saja berdering membuat Hardi sedikit kepo.
Hardi mengambil Hp milik istri nya, melihat siapa yang sedikit mengganggu ketenangan nya di kamar.
Layar Hp nya berdering kembali ketika sedang berada di genggaman Hardi, ia sedikit penasaran, ia melihat ke layar hp nya, dan ternyata banyak sekali notivikasi game.
Hardi hanya menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembus kan nya ke luar.
"Ternyata kamu belum berubah Rin, selama aku tinggal sebulan, kirain kamu bisa berubah nyatanya ngga." Batin Hardi.
Hardi mencoba bersikap sabar terhadap Airin, meskipun dalam hati nya ada rasa kecewa, jika di tanya pun Airin akan menyangkal nya.
Hardi sadar akan kedatangan Airin, yang baru saja ke luar mencoba bersikap biasa aja dan mengembali kan Hp milik istri nya ke tempat semula.
"Makan dulu Mas?"
Airin menyodorkan makanan yang di pesan nya untuk Hardi.
"Aku ingin di suapin kamu!" Seru Hardi.
Hardi ingin sekali di suapin makan nya oleh Airin, karena ia sudah kangen dan ingin bermanja-manja dengan nya.
"Maaf Mas, kan Mas bisa makan sendiri." tolak Airin.
Hardi di buat kecewa lagi, akhir nya ia pun makan sendiri.
Selama Hardi makan, Airin malah menjauh dari Hardi, dia asyik sendiri dengan HP nya.
__ADS_1
"Ya ampun, Rin. Kamu lebih memilih game online di banding suami mu sendiri." Batin Hardi.
Selera makan nya menjadi kurang, ia teringat Santi yang selalu melayani nya setiap apa pun yang di butuh kan Hardi.
"Andai kamu bisa seperti Santi, mungkin aku ga akan menikah lagi dengan orang lain." Bati nya.
...
"Rin, kita langsung pulang saja ya, kan sudah lama juga di tinggal pergi rumah nya." Seru Hardi.
Setelah selsai makan Hardi mengajak Airin pulang ke rumah, karena sudah terlalu lama meninggal kan rumah, dan hanya ada pembantu saja yang menempati nya.
"Memang nya sudah beres makan nya Mas, apa sebaik nya kamu bermalam di sini, satu hari saja."
"Ngga Rin, kita pulang saja."
Hardi menolak nya, Hardi ingin secepat nya pergi dari rumah mertua nya.
"Ya sudah, aku beresin barang dulu ya, sekalian aku chat mama dulu, jika aku pulang ke rumah."
Hardi menunggu istri nya untuk packing barang, sedang kan ia menunggu di mobil Airin.
"Dia kenapa sih, kok aneh?" Batin Airin.
Airin merasa sikap suami nya berubah, sangat berbeda ketika ia baru daja datang.
Setelah selesai packing dan memasukan barang-barang ke dalam mobil, Airin pun masuk ke mobil, duduk di pinggir Hardi.
Sepanjang perjalanan tidak ada yang membuka suara satu sama lain.
Setelah sampai di rumah pun, Hardi langsung ke kamar dan tidur tanpa Menghirau kan istri nya.
Airin tidak peka ketika Hardi meninggal kan nya di halaman rumah, ia malah duduk di ruang tamu, dan justru mengguna kan kesempatan ini untuk bermain game kembali.
"Pasti sekarang lagi main game lagi" batin Hardi.
Di kira Hardi, Airin akan menyusul nya ke kamar, tetapi di tunggu-tunggu setengah jam, Airin belum menyusul nya.
...
Ketika sedang memberes kan jualan nya yang belum rapih, Bu Dewi terjatuh karena sesak nafas.
Santi sontak kaget, melihat Ibu nya seperti susah mengatur nafas.
"Bu, Ibu kenapa?"
Karena kesakitan Bu Dewi pun jatuh pingsan.
Santi semakin khawatir kondisi Ibu nya yang tidak sadar kan diri.
Karena tidak ingin terjadi apa-apa, Akhir nya Santi membawa Bu Dewi ke rumah Sakit.
Setiba nya di rumah sakit, Bu Dewi langsung mendapat kan penanganan dari Dokter.
Dokter dan suster mulai memeriksa kondisi Bu Dewi.
Santi, benar-benar panik melihat kondisi ibu nya saat ini, ia hanya bisa berdo'a untuk kesembuhan ibu nya.
Terlihat Dokter yang menangani Ibu nya sudah ke luar, Santi langsung menghampiri dokter tersebut.
"Dok, bagai mana ke adaan ibu saya" tanya Santi.
"Maaf mba, dengan sangat berat, Saya harus mengatakan hal ini kepada anda, ibu anda sudah tiada?" terang Dokter
Dokter pun sangat menyesal tidak bisa menolong nya, sebab Bu Dewi meningal ketika masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Tidak mungkin, Dok. Ibu saya baik-baik saja, ia hanya pingsan, tolong dok, tolong periksa sekali lagi." pinta Santi.
"Maaf mba, Ibu anda sudah tiada ketika masih dalam perjalanan." tutur Dokter.
__ADS_1
Mendengar pernyataan Dokter Santi hanya bisa menangis dan pasrah.
Selain itu juga Dokter menjelas kan bahwa Bu Dewi sakit parah.
Waktu bulan lalu ketika di bawa ke rumah sakit dan di tangani Dokter yang sama pun sebenar nya bu Dewi harus mendapat kan penanganan khusus, namun Bu Dewi menolak nya dan meminta Dokter harus merahasia kan nya dari anak nya, ia tidak ingin anak nya sangat khawatir.
"Karena sudah tidak ada yang di tanya kan lagi, Saya pergi dulu."
Dokter pun pergi.
Santi hanya bisa menangis, dan menghampiri jasad Ibu nya, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, hati dia sangat terpukul atas kepergian ibu tercinta nya.
Santi, mencoba menelphone Hardi, Santi berharap dia menemani nya disaat seperti ini, ia tidak mungkin mengurus sendiri Ibu nya, ia butuh orang yang bisa membantu nya.
Santi mengambil Hp yang ada di tas nya, ia mencoba menghubungi Hardi.
Tut..tut..tut.. tlpon pun nyambung namun tak di angkat.
Beberapa kali mencoba menghubungi nya, namun, tetap masih tidak ada jawaban.
"Kamu kemana mas? Aku membutuhkan mu saat ini!" Batin Santi.
Hardi pun tau Santi menelphone nya, namun karena ada Airin di samping nya, yang baru saja masuk kamar, Hardi tidak bisa mengangkat telephone begitu saja.
Santi teringat dengan majikan Ibu nya dulu. Dia pernah berpesan jika ada apa-apa dengan ibu nya, ia harus menghubungi nya.
Ibu yang di maksud Santi pun melainkan orang tua Airin istri pertama suami nya.
Ya, Santi dengan semangat menghubunginya, Karena Santi juga sudah akrab dan mengenal nya sama mantan majikan Ibu nya itu.
Tanpa ragu-ragu lagi ia mencoba menghubungi Bu Vera, Santi sangat mengenal Bu Vera, karena selama Ibu nya bekerja di rumah Airin, Santi juga ikut tinggal di rumah Airin.
...
Tut...tut...tut... suara khas jika telephone nya telah tersambung.
Telephone Santi pun ada yang menjawab.
"Hallo, siapa ini." tanya Bu Vera.
Santi sangat senang, ternyata no Hp nya yang dulu di kasih kan, masih aktif.
"Assalamuallaikum Bu, ini Santi anak nya Bu Dewi". terang Santi.
Bu Vera sedikit mengingat nya, dan tetingat dengan sosok Bu Dewi, pembantu rumah nya yang dulu selama belasab tahun.
"Wa'alaikum sallam. Ini santi,apa kabar?"
Bu Vera mendengar Santi menangis.
"Ada apa Santi?. Kamu baik-baik saja!"
Sambil terbata-bata santi pun menjawab
"Bu, Apa Ibu bisa membantu Santi, Santi ga tau lagi harus minta tolong ke siapa lagi, Ibu Santi meninggal".
Tangisan pun pecah tak tertahankan lagi.
Mendengar kabar duka dari Santi, mantan majikan Ibu nya sangat tidak menyangka, jika Bu Dewi pergi secepat ini.
Bu Vera tidak perlu bertanya yang macam-macam terlebih dahulu, karena Bu Vera yakin, Santi membutuh kan bantuan untuk mengurus jenazah Ibu nya.
"Saya akan ke sana sekarang, kamu kirim kan alamat lengkap nya ya, tunggu Saya di sana."
Akhir nya nyonya Ervan pergi ke rumah Santi, di temani Suami nya, tanpa memberitahukan Airin terlebih dahulu.
Ibunya cukup lama bekerja sebagai pembantu di rumah Bu Vera, semenjak Airin masih kecil.
Namun ketika Ibu nya Santi sakit parah akhir nya Bu Dewi pun berhenti bekerja, dan belum ada yang bisa menggantikan nya lagi sebagai ART di rumah Bu Vera.
__ADS_1
Bu Vera beserta keluarga nya sudah menganggap Santi dan Ibu nya sebagai keluarga nya sendiri, makanya Bu Vera, sangat dekat dengan Santi.