DI ABAIKAN ISTRI AKU MENIKAH LAGI

DI ABAIKAN ISTRI AKU MENIKAH LAGI
Pernikahan


__ADS_3

Ijab kobul akan segera di mulai.


Santi hanya di wakilkan oleh wali pengganti.


Pak Amin sebagi Pak Penghulu, tengah bersiap untuk menikah kan ke dua mempelai.


"Apakah sudah bisa di mulai ijab kobul nya?" Tanya Pak Amin.


"Iya silah kan!" Bu Dewi saja yang menjawab sedangkan yang lain nya hanya menganggukan kepala, termasuk Santi.


...


Wali pengganti Ayah nya Santi mengulur kan tangan nya kepada Hardi.


Begitu juga dengan Hardi, menerima uluran tangan dari orang tersebut.


Ijab kobul telah di Ucap kan.


"Bagai mana para saksi, Sah." Ucap Pak Amin.


Semu orang yang berada di rumah Santi, saling melirik satu sama lain, dan mengangguk kan kepala nya masing-masing.


"SAH" serentak semua nya.


Di lanjut dengan berdo'a bersama, dan yang lain nya.


Pernikahan antara Hardi dan Santi terlaksana dengan lancar, Hardi dan Santi sudah sah menjadi suami istri.


Dengan sekali mengucap janji suci, dengan mahar seperangkat alat solat dan cincin 10 gram saja. Bagi santi segitu juga sudah alhamdulillah.


Hardi dan Santi tidak ada rencana untuk berbulan madu, mereka akan menghabiskan waktu bersama selama satu bulan ke depan nya di rumah Santi saja.


Sementara Airin di rumah begitu gelisah, dia sangat kepikiran suami nya, karena Hardi sama sekali tidak bisa di hubungi.


"Apa yang harus aku lakukan! Apa aku main ke rumah mamah saja!" Batin Airin.


"Jika aku sedirian, memikir kan orang yang tidak tahu lagi apa, lama-lama bisa gila." Cerocos Airin.


Akhir nya Airin memutus kan pergi kerumah orang tua nya.


Airin akan menginap beberapa hari kedepan untuk menenangkan hati nya yang di penuhi dengan kegelisahan.


Airin sangat merasa aneh yang dia rasakan saat ini.


Ini kali pertama Airin merasakan begitu teramat sakit di hati nya tanpa sebab apapun, di pikiran nya, hanya Hardi dan Hardi terus, padahal Airin sering sekali di tinggal suaminya keluar kota, Airin tidak pernah merasa kan apa pun, namun kali ini perasaan yang sangat aneh timbul begitu saja.


...


Mobil yang di bawa Airin, telah mengantar kan nya ke rumah Orang tua nya.


Ia ke luar dari Mobil, dan menenteng tas nya, langkah kaki nya sangat loyo tidak ada semangat sama sekali.


Ketika sampai di depan pintu, Airin memijit bel rumah, yang menempel tidak jauh dari pintu.


Hanya menunggu beberapa menit, pintu Rumah nya sudah ada yang membuka.


"Mah."


Airin langsung memanggil orang yang berada di depan nya sekarang.


Rupanya Bu Vera yang membuka kan pintu untuk Airin.


"Airin, kamu ke sini? Ayo masuk."


Airin melanjut kan langkah kaki nya untuk masuk ke dalam rumah masa kecil nya.


"Sebentar, Mama ambil kan minum buat kamu."

__ADS_1


Airin menunggu di kursi ruang tamu, sampai Ibu nya kembali.


"Tumben kamu ke sini." Sahut Bu Vera sambil membawa segelas air putih.


Baru saja Bu Vera menyimpan nya di meja, Airin sudah mengambil minum tersebut dan langsung di habis kan.


"Ada apa Rin? Ko kamu kesini. Kamu juga seperti tidak bersemangat." tutur Bu Vera.


"Ntah lah mah! Aku juga bingung apa yang aku rasakan. Aku kepikiran Hardi, Mah. tidak biasanya aku seperti ini, Hardi dulu sering banget ninggalin aku ke luar kota tapi aku tidak apa-apa. Kenapa sekarang aku merasakan sakit hati". Terang Airin.


Mengingat semua apa yang telah di lakukan putri nya, Bu Vera hanya bisa menggeleng kan kepala.


"Lalu Kamu kemana aja dari dulu Rin? Sampai mengabaikan suami kamu. Untung dia ga cari perempuan lain". Celetuk Bu Vera.


Ketika mendengar Ibunya menyinggung soal perempuan lain, Airin serasa hancur dan menyesal, ketakutan yang ada di dalam diri Airin mulai muncul.


"Mama ko ngomong nya gitu sih, bukan nya do'a,n yang baik-baik buat anak nya."


Airin memasang muka cemberut, ia sedikit kesal apa yang di ucap kan Ibu nya.


"Ya, sesuai Fakta aja, kamu terlalu sibuk dengan urusan kamu sendiri, bahkan kamu setiap bulan habis kan uang puluhan juta buat hal yang ga penting, ga ada faedah nya."


Airin sedikit merenung, kata-kata Ibu nya memang benar, ia tidak pernah memikir kan perasaan suami nya, tapi Airin tidak ingin kehilangan suami nya.


"Awas aja kalau Hardi berani selingkuh! Perempuan gatel nya ga akan aku biar kan hidup tenang". Ancaman Airin.


Ibu nya hanya tersenyum tipis, mendengar putri nya berbicara seperti itu.


"Airin. Airin. Ada-ada aja. Mana mungkin suami mu selingkuh dia kan orang baik-baik dari keluarga yang sangat mamah kenal."


...


Setelah cukup lama mencurah kan uneg-uneg di hati nya, membuat hati nya sedikit lega, Akhir nya Airin pamit pergi ke kamar dan beristirahat.


Baru saja ia melayang kan badan nya ke kasur empuk milik nya sewaktu gadis, tiba-tiba terdengar deringan hp yang ada di tas.


Airin segera mengambil hp milik nya, mata nya tertuju pada layar hp, mata nya berbinar-binar ketika di layar hp nya terdapat nama suaminya. Begitu senang nya hati Airin ketika suaminya telah menghubungi nya.


Hardi, melongo ketika mendengar cerocosan istri nya, namun ia juga senang, ini kali pertama Airin mengkhawatir kan nya ketika Hardi tidak ada di samping nya.


"Rin, Rin, Hey... kamu kenapa? Pelan-pelan bicara nya."


"Gimna kabar kamu? Mas minta maaf baru ngabarin, di sini benar-benar ga ada sinyal. Ini juga mas harus pergi ke tempat dimna ada sinyal, hp yang mas gunakan kartu nya di sini tidak mendukung!" tutur Hardi.


"Aku baik-baik aja mas, namun aku kepikiran kamu. Tapi syukur lah kamu sudah ngasih kabar".


"Memang nya, daerah mana sih Mas, kok sampe ga ada sinyal, pelosok banget gitu." lanjut Airin.


Hardi memutar otak agar bisa memberi alasan yang masuk akal dan bisa di percaya oleh nya.


"Ini loh daerah jawa, pokok nya pelosok banget, eh sayang, Mas ga bisa telephone lama-lama, soal nya Mas udah ada janji mau ketemu klien penting bentar lagi, jadi Mas harus berangkat sekarang ke tempat janjian nya.


Airin sedikit kecewa, tidak bisa lebih lama lagi telephone sama Hardi.


"Ya udah deh Mas, mau gimana lagi, semangat kerja nya ya, Bay."


"Bay Sayang, muach."


Sambungan telephone pun di tutup.


Hardi yang sedang di kamar lagi asyik dengan hp nya, kaget ketika melihat kedatangan Santi yang masuk ke dalam kamar secara tiba-tiba.


"Untung saja ga ketahuan, beres tepat waktu juga telephone Airin, mudah-mudah,n Airin ga curiga, Mana ada jaman sekarang ga ada sinyal pastinya ada dong secara sekarang sudah serba canggih". Batin Hardi.


Dalam hati nya ia merasa tenang tidak terbongkar rahasia nya.


"Mas, ko ngelamun?" Tanya Santi.

__ADS_1


Ini kali kedua Santi mengaget kan Hardi.


Hardi sedikit gelagapan, dan sesekali menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"Mas, cuman bahagia aja bisa menikah sama kamu ga nyangka secepat ini gitu." gombal Hardi.


Mereka saling menatap satu sama lain, Santi tersipu malu, di pandang terus menerus oleh suami nya.


Santi mulai membuka jilbab nya yang selama ini menutupi kepala nya.


Setelah membuka jilbab, ia mendekati Hardi, lalu membaring kan badan nya di samping Hardi.


Hardi terpana ketika melihat Santi tanpa pake jilbab, apa lagi baju nya kini di ganti dengan piyama saja.


Sebagai seorang lelaki yang normal, tidak akan kuat jika harus berdekatan, bahkan satu ranjang dengan wanita yang berpakaian yang memperlihat kan lekuk tubuh nya.


Hardi mulai mendekat kan kepala nya di dekat jenjang leher istri nya yang membuat Santi sedikit merinding.


"Boleh ga aku meminta nya sekarang." tanya Hardi.


Santi yang tau arah permintaan Hardi, hanya ngangguk dan manut saja.


"Kapan pun Mas mau, aku akan memberi kan nya untuk mu."


Hardi begitu senang, ternyata Santi tidak menolak nya sama sekali.


Hardi hanya melakukan nya atas dasar nafsu saja, tidak ada sama sekali cinta yang tulus, melain kan cinta sesaat, cinta yang tumbuh karena pelarian saja.


Akhir nya Santi dan Hardi melakukan nya di malam pertama mereka.


Sedangkan Airin di rumah terbangun dalam mimpi nya, dia bermimpi jika suami nya berselingkuh di belakang nya, padahal Airin baru saja tertidur.


"Ya ampun, kok bisa mimipi seperti itu, Mas Hardi tidak mungkin macam-macam di luaran sana, Mas Hardi lagi kerja, ya dia lagi kerja." Batin Airin.


Airin hanya berfikiran, mungkin cuman gara-gara kepikiran omongan mamah nya tadi.


Airin mencoba melanjutkan tidur nya, walau pun terasa sedikit sulit untuk tertidur kembali.


Sedang kan di tempat lain, Hardi sedang asyik bermadu kasih dengan istri baru nya.


Hardi begitu menikmati sentuhan istri baru nya, sedangkan dia tidak pernah merasakan sentuhan dari Airin seperti apa yang di dapat kan dari Santi.


Sensasi nya sangat beda, walaupun Hardi pernah melakukan nya dengan Airin, Itu pun hanya baru sekali, Airin kelihatan hanya terpaksa melakukan nya.


Setelah selesai melewati malam pertama nya, mereka pun tertidur pulas.


...


Airin masih saja belum bisa tidur kembali, setelah ia terbangun tadi.


Karena kesuntukan nya, Akhir nya dia mencoba membuka kembali game nya yang hampir saja menghancur kan rumah tangga nya.


Berawal dari hanya sebentar, akhir nya kebablasan sampe subuh.


Airin begitu jauh dengan sang pencipta, dia tidak pernah menunaikan kewajiban nya sebagai umat islam, setelah mendengar Adzan subuh berkumandang, Airin malah selimutan dan baru bisa tertidur.


Berbeda dengan Santi, dia begitu teguh dengan apa yang harus di jalan kan nya, kewajiban dia sebagai umat islam.


Setelah mendengar Adzan subuh berkumandang.


Santi buru-buru bangun, lalu duduk sebentar di samping suami nya.


Santi mencoba membangun kan Hardi, untuk shalat berjamaah, namun tidak terbangun juga.


Karena tidak ingin terlambat, Akhir nya Santi menjalan kan kewajiban nya sendiri, sebelum nya, Mandi wajib terlebih dahulu.


Santi mengucap banyak-banyak bersyukur atas apa yang di berikan oleh sang pencipta, tak lupa juga ia mengucap syukur atas jodoh yang di berikan untuk pendamping hidup nya.

__ADS_1


Setelah selesai shalat, tak henti-henti nya ia memandangi wajah suami nya, bagi Santi ia lelaki hebat, lelaki baik dan berharap Hardi akan menjadi pendamping se umur hidup nya kelak sampe tua nanti.


Santi begitu banyak menaruh harapan bersama Hardi, saat ini kebahagiaan Santi hanyalah Hardi dan Ibu nya, mereka kedua nya orang yang paling penting dalam hidup nya, ia juga berjanji akan slalu berbakti kepada kedua nya, yakni Ibu dan suami nya.


__ADS_2