
Bu Vera menyuruh orang kepercayaan nya untuk membantu mempersiap kan kebutuhan apapun di rumah Santi.
Santi dan jasad Ibu nya, sudah berada di rumah duka.
Mantan majikan dulu pun sudah sampai Rumah Santi.
Santi, menghampiri Bu Vera yang baru saja sampai depan pintu.
"Bu Vera."
Bu Vera hanya tersenyum tipis untuk memberi semangat Santi.
Santi tidak bisa membendung air mata nya lagi, pecah tangisan nya telah mengurai kan air mata yang sejak dari tadi ingin mengalir lebih deras lagi.
"Kamu yang sabar Santi? Ibu kamu sudah tenang disana. Tidak merasakan sakit lagi" seru Bu Vera.
Bu Vera Mencoba menenangkan Santi yang saat ini membutuh kan sekali orang-orang terdekat nya agar ia tidak merasa sendiri.
"Terima kasih ya Bu, sudah bantu Santi, Santi tidak tahu lagi harus minta tolong ke siapa lagi, suami Santi tidak bisa di hubungi, mungkin lagi banyak kerjaan, suami Santi juga baru berangkat tadi pagi."
Ketika mendengar pernyataan Santi, Bu Vera pun kaget ternyata Santi sudah menikah.
"Kamu sudah menikah? Kenapa tidak ngasih tau saya". tanya Bu Vera.
"Maaf Bu, Santi hanya menikah siri saja dan sederhana, tidak ada pesta apapun." Terang Santi.
Santi menunduk, ia sangat malu karena di saat menikah ia tidak memberi tahu nya, tetapi di saat seperti ini malah merepot kan mantan majikan Ibu nya.
"Loh, kenapa ga sekalian nikah secara negara?"
Bu Vera tidak mengerti dengan jalan pikiran Santi dan Bu Dewi saat sebelum menikah, apa tidak takut jika di tipu orang.
"Bagi Santi itu udah lebih dari cukup, asal suami Santi bertanggung jawab" terang nya.
"Kamu sudah berapa lama kenal sama suami kamu."
Santi sedikit risih, jika ia harus di tanya-tanya soal pernikahan nya untuk saat ini.
Santi hanya bisa menunduk, dan sedikit diam.
Dengan diam nya Santi, Bu Vera sangat mengerti dan tidak seharus nya untuk mencecar Santi saat ini tentang pernikahan nya.
"Nanti kenalin ke saya yah!" seru Bu Vera.
Santi kembali menatap ke arah Bu Vera, ia sangat lega dan tenang, jika Bu Vera tidak terlalu mempertanya kan lagi perihal pernikahan nya.
...
Dret... dret... dret
Deringan Hp dari tas milik Bu Vera, membuyar kan percakapan Bu Vera dan Santi.
Bu Vera mengambil Hp milik nya yang terus saja berdering.
Tidak lupa juga, ia melihat ke layar Hp, untuk mengetahui si penelephone tersebut.
"Oh, Airin." Batin Bu Vera.
"Sebentar ya San, Airin telephone."
Santi hanya menganggukan kepala nya saja.
Bu Vera meninggal kan Airin di dalam bersama warga sekitar yang sedang mengaji.
"Hallo,... sayang ada apa?" tanya Bu Vera.
Belum sempat menjawab pertanyaan ibu nya, Airin berbalik nanya.
"Mama lagi di mana, ko kaya ada suara pengajian gitu". tanya Airin.
"Mamah, lagi di rumah almarhumah Bu Dewi sayang, pembantu kita yang dulu".
Ketika menyebut almarhumah Airin tidak menegrti apa yang di ucap kan ibu nya itu.
"Maksud mamah apa?, Airin tidak mengerti!"
Airin sedikit bingung, mengapa Ibu nya bilang Almarhum.
"Sayang, Bu Dewi. orang tua nya Santi, pembantu kita yang dulu sudah meninggal nak!" Jelas Bu Vera.
__ADS_1
Airin sedikit syok.
"Tidak mungkin Mah, selama ini ga ada sama sekali kabar dari mereka Mah, Airin ga percaya."
Airin tidak percaya dengan apa yang di bilang Ibu nya jika Bu Dewi sudah tiada.
"Mamah ga bohong sayang, ini Mama lagi di rumah nya."
kepergian Bu Dewi membuat sedikit syok, pasal nya, Airin sudah menganggap Bu Dewi seperti Ibu nya sendiri, karena Bu Dewi lah yang menjaga dan merawat Airin sedari kecil, sampai tumbuh dewasa.
"Aku akan kesana sekarang Mah, tapi mamah kirim alamat lengkap nya ya."
Airin berlari ke kamar, ia mencoba membangun kan Hardi yang masih tertidur.
"Mas, bangun, ayok dong mas bangun."
Karena guncangan tangan Airin yang menggoyang kan badan nya, Hardi menggeliat badan nya.
"Ada apa Sayang."
Hardi masih antara sadar dan tidak, mata nya masih merem dan sangat berat untuk membuka nya.
"Mas, aku pengen takjiah Mas, anterin aku."
Tangisan Airin pun pecah, di hadapan suami nya.
Hardi langsung terperanjat, mata nya yang semula sepet, kini langsung segar.
"Kamu kenapa nangis, siapa yang meninggal Rin." tanya Hardi.
"Pembantu rumah ku yang dulu meninggal Mas, aku pengen ke sana untuk yang terakhir kali nya."
Hardi sedikit melongo, kenapa juga Airin bisa sampai sebegitu nya sama mantan pembantu rumah Ibu nya dulu.
"Ya ampun Rin, apa urusan nya coba, kamu sampai nangis begini."
Airin sedikit kesal, tidak sepantas nya Hardi berbicara seperti itu.
"Mas, kalau kamu ga mau antar aku, ya udah aku pergi sendiri saja, di sana sudah ada Mama sama papa aku."
Airin beranjak dari tempat ranjang.
Baru saja Airin mau melangkah kan kaki nya, tangan Airin pun di raih oleh Hardi, untuk tidak pergi terlebih dahulu.
"Tapi tolong, jangan pergi dulu, aku ke kamar mandi sebentar dan ganti baju." Lanjut Hardi.
Airin sedikit lega, ternyata Hardi mau mengantar nya.
10 menit untuk menunggu Hardi selesai.
Hardi dan Airin sudah siap berangkat ke rumah Santi.
Sepanjang perjalanan, Hardi tidak membuka suara, Airin saja hanya terus menangis.
Hardi hanya mengikuti arahan Airin lewat JPS nya menuju rumah mantan pembantu nya yang kini baru saja meninggal.
Sudah hampir mendekati alamat yang di tuju, Hardi baru menyadari jika jalanan nya sama seperti jalan ke rumah istri ke dua nya.
...
Hardi mulai sedikit gugup, ketika ia memasuki jalanan kecil yang selalu di lalui nya ketika ke rumah Santi.
"Ini kita kemana lagi Rin?" tanya Hardi.
"Kita langsung ke mesjid saja Mas, mama tadi ngasih tahu, sudah di masjid."
Setelah sampai di kampung tempat tinggal Bu Dewi, Airin langsung ke mesjid yang di maksud Ibu nya, karena Bu Dewi akan di shalat kan dan di makam kan malam itu juga, jadi nya Airin, tidak perlu ke rumah nya terlebih dahulu.
...
Airin dan Hardi, baru sampai depan mesjid yang di tuju.
Airin terburu-buru ke luar Mobil.
Airin langsung lari saja menghampiri jenazah Bu Dewi, tanpa menunggu Hardi yang masih di dalam mobil.
Di dalam mesjid sudah ada orang tua Airin dan warga sekitar.
Santi tidak terlihat ada di dalam mesjid ketika Airin datang, Santi pulang ke rumah terlebih dahulu untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan di rumah nya.
__ADS_1
...
Ketika Santi, kembali ke mesjid, Santi melihat sosok laki-laki yang tidak asing lagi bagi nya.
Santi, mlihat-lihat dengan sangat jeli di takut kan salah orang.
Setelah yakin, Santi memberani kan diri untuk menyapa nya.
"Mas Hardi."
Karena merasa ada yang memanggil, Hardi pun membalikan badan nya ke arah sumber suara.
Betapa senang nya Santi, jika suami nya datang di saat ia membutuh kan nya, Santi pun langsung memeluk Hardi.
Hardi masih mematung, ia tidak menyangka, sesuatu yang tidak di ingin kan nya terjadi.
Santi malah muncul di hadapan nya, ketika ia lagi bersama istri pertama nya, dan bahkan tidak hanya itu, mertua nya pun ada di sekitar dekat Hardi.
"Jadi yang meninggal itu ibu kamu?"
Baru saja Santi menganggukan kepala, Hardi sudah terlihat emosi.
"Ikut aku."
Hardi menggeret Santi dengan sangat keras.
Hardi membawa Santi pergi ke tempat yang agak jauh dari Istri dan mertua nya.
"Mas, kenapa, ada apa?"
"Santi, dengar baik-baik ya. Jangan pernah kamu ngaku di depan orang yang menangisi jenazah ibu kamu itu kalau aku ini suami kamu ngerti!"
Dengan nada tinggi dan sedikit mengamcam.
Sebelum nya Santi melihat sebentar ke arah jenazah ibu nya, di depan Ibu nya ada seseorang yang memang se umuran dengan Santi.
Santi pun cukup baik mengenali nya, ia adalah Airin, sahabat nya sedari kecil.
"Loh memang nya kenapa Mas? Itu kan mantan majikan ibu aku Mas, dan orang itu sahabat aku dari kecil".
Santi benar-benar tidak mengerti, mengapa suami nya bisa berbicara seperti itu.
Hardi hanya terus saja mengusap wajah nya untuk ke sekian kali nya.
"Karena Airin adalah istri sah aku dan mereka yang kamu bilang majikan ibu kamu itu, Mertua aku jelas." Ujar Hardi.
Santi sangat kaget atas apa yang keluar dari mulut nya.
"Maksud kamu apa Mas?"
"Ya, aku sudah menikah, aku sudah punya istri sah, dan kamu hanya buat kesenangan aku saja."
Air mata Santi mengalir begitu deras , bahkan bisa mengalah kan kesedihan nya ketika di tinggal pergi selama nya oleh Ibu kandung nya.
"Kamu pasti bohong kan Mas, tolong jujur sama aku, kamu bohong kan."
"Tapi itu kenyataan nya."
Hardi seperti tidak perduli dengan ucapan nya yang membuat hati Santi sangat hancur.
"Tega kamu sama aku."
Santi pun pergi meninggal kan Hardi, ia berlari menghampiri jenazah Ibu nya.
Santi mencoba kuat dengan semua ini, Santi menghampiri Airin dan orang tua nya.
"Rin."
Airin membalikan badan nya ketika seseorang memanggil nama nya.
"Santi."
Santi menangis di pelukan Airin sahabat nya sekaligus madu nya.
Santi ingin sekali memberitahukan nya kepada Airin namun waktu nya belum tepat.
Santi merasa sangat di bohongi, hati nya sangat hancur berkeping-keping.
Santi kembali fokus ke pengurusan jenazah Ibu nya yang akan segera di makam kan.
__ADS_1
Selang dua jam kemudian semuanya pun sudah beres pemakaman.
Airin dan ke dua orang tua nya berkumpul d rumah Santi dan akan membantu Santi untuk mempersiap kan acara tahlil.