
Dret... dret... dret...
Deringan Hp Hardi, yang menggetar kan meja.
Hardi mengambil Hp yang di letak kan di atas meja ruang keluarga.
Setelah Hardi di dorong istri nya tadi, Hardi duduk di Ruang keluarga di temani dengan penuh kemarahan.
Hardi melihat ke layar Hp nya sebelum menjawab telephone yang masuk.
"Mamah."
Rupanya Bu Mayang lah yang menelphone.
"Hallo, Mah."
"Tolong kamu ke rumah Mama sekarang juga, bawa Istri kamu sekarang juga, dan ga usah banyak bertanya."
Telephone pun di tutup.
Belum juga Hardi, berbicara apa-apa, telephone nya sudah di tutup.
"Argghhh,,, ada apa lagi sih." Kesal Hardi.
Hardi beranjak dari ruang keluarga.
Ia akan segera pergi ke rumah Ibu nya bersama Airin.
Hardi menuju kamar nya untuk mengajak Airin terlebih dahulu.
Belum sempat Hardi masuk ke dalam kamar, rupa nya Airin sudah berada di depan kamar.
"Kita ke rumah Mamah ku sekarang." Ajak Hardi.
Setelah mengajak Airin, ia meninggal kan Airin begitu saja dan menunggu nya di mobil.
Begitu juga dengan Airin, tanpa bertanya apa pun, karena yang Airin tahu, mungkin Ibu nya sekarang ada di rumah Mertua nya.
Sepanjang perjalanan tidak ada sama sekali obrolan yang ke luar dari mulut ke dua nya, mereka sama-sama menyimpan ke kesalan.
Satu jam perjalanan menuju Rumah kediaman Orang tua Hardi, Rupa nya Ayah Hardi, (Pak Feri) juga baru pulang bekerja.
Begitu juga secara bersamaan Ayah nya Airin ( Pak Ervan ) sama hal nya dengan Airin dan Hardi baru sampai.
Rupa nya Pak Feri dan Pak Ervan di chat oleh istri nya masing-masing untuk ikut menyelesai kan permasalahan yang di hadapi anak-anak nya sekarang.
Mereka semua keluar dari Mobil nya masing-masing.
Suasa na nya cukup menegang kan, ketika Hardi keluar dari Mobil dan di tatap tajam oleh Ayah mertua nya.
Hardi hanya bisa menundukan kepala nya, tanpa tau masalah nya apa hingga di panggil ke rumah orang tua nya.
Ke dua Ayah nya meninggal kan Hardi dan Airin yang masih mematung di garasi mobil.
Melihat ke dua Ayah nya masuk, Airin pun mengikuti nya dari belakang dan mau tidak mau Hardi pun ikut masuk ke dalam rumah.
Baru juga masuk ke dalam rumah, Hardi sudah jadi pusat tontonan mereka yang sedang duduk di ruang tamu, termasuk Airin yang sudah berada di pelukan Ibu nya.
Hardi menyalami satu persatu orang tua nya secara giliran.
Hardi duduk di dekat Bu Mayang dan Pak Feri namun berbeda kursi, Hardi hanya duduk di kursi sendirian.
"Coba kamu jelas kan, kenapa kamu menampar istri kamu." Tanya Bu Mayang.
Hardi yang sedang tertunduk seketika melihat ke arah Ibu nya yang bertanya seperti itu.
"Dari mana Mama tau."
"Berarti benar, kamu menampar Airin, kamu kenapa sih, ko bisa berbuat hal seperti itu."
Airin merasa menang, ketika suami nya terpojokan seperti ini.
"Jawab Hardi, alasan nya apa."
Bu Mayang sangat mendesak Hardi, karena belum juga membuka suara.
"Ok, aku jelas kan."
"Mah, bagai mana aku tidak kesal aku berangkat kerja, Airin masih di kamar dengan Hp nya, enggan untuk sekedar mengantar ku ke depan sebelum berangkat kerja, aku pulang kerja Airin masih tidur, Di saat mau makan, tidak ada sama sekali makanan yang bisa aku makan, bahkan dia hanya asyik dengan game nya."
Airin terperanjat dari pelukan Ibu nya, ia masih mempertahan kan ego nya, jika ia tidak bersalah.
"Berapa kali aku bilang, aku ini istri kamu, bukan pembantu kamu, yang harus melayani kamu semua nya." timpal Airin.
Semua orang yang dari tadi menatap tajam ke arah Hardi, kini berbalik ke arah Airin.
"Rin, ko kamu bisa berbicara seperti itu, sebagai seorang istri memang seharus nya kamu layani suami kamu, bukan jawaban seperti ini yang mama ingin kan." Bu Mayang mencoba menasehati Airin
"Rin, belajar lah! Kamu sudah bukan anak gadis lagi, kamu sudah menjadi se orang istri dan sepantas nya kamu melayani suami kamu." Timpal Bu Vera.
Airin sedikit kesal, semua nya berbalik memihak kepada Hardi.
"Tapi Mah"
Airin tidak menerus kan ucapan nya, karena Orang tua nya terlihat sangat Marah.
"Ok, aku minta maaf."
"Minta maaf lah sama suami kamu, bukan sama Mama." tutur Bu Vera.
Airin melihat ke arah suami nya, dan suami nya pun sudah terlebih dahulu menatap istri nya.
Airin beranjak dari tempat duduk yang semula di samping Ibu nya, kini ia menghampiri suami nya yang sedang duduk sendirian tanpa ada yang menemani.
"Mas, maaf kan aku, aku janji ga akan ngulangin kesalahan ku lagi, tapi kamu ganti ya Hp yang rusak tadi."
Airin sedikit merengek, dan menurun kan ego nya, berdebat pun ia akan di salah kan, apa lagi jika semua orang tahu jika ia terlibat game online yang menyesat kan, bukan hanya menyita waktu saja melain kan menghabis kan uang juga untuk membeli apa pun itu yang ada hubungan nya dengan game tersebut.
"Ok, Mas maaf'n. Nanti besok Mas belikan kamu Hp, sepulang kerja. tutur Hardi.
Sebenar nya Hardi tidak ingin terlalu terburu-buru membeli kan Hp untuk istri nya, hanya saja ada orang tua Airin, yang akan berkomentar jika perihal Hp saja tidak di beli kan.
Semua masalah pun sudah klir, Orang tua Airin berpamitan pulang, begitu juga dengan Hardi dan Airin, Hardi memutus kan untuk pulang, karena besok pagi nya harus berangkat kerja.
__ADS_1
...
Setahun sudah pernikahan Airin dan Hardi.
Airin tidak kunjung berubah, Airin hanya bisa menghambur-hamburkan uang untuk game online nya.
"Mas, aku minta uang dong, uang bulanan kita habis, semua nya serba mahal."
Pagi hari ketika Hardi sedang siap-siap mau berangkat kerja, Airin meminta uang kembali sama Hardi, padahal pertengahan bulan pun belum di lewati nya, banyak sekali alasan yang Airin ke luar kan demi mendapat kan uang dari Hardi.
"Buat apa lagi sih Rin, kok cepet banget habis nya, ini baru tanggal berapa loh."
Hardi hanya bisa menghela nafas, yang di ribut kan Airin hanya uang dan uang, padahal kerjaan nya di rumah hanya diam tanpa melakukan aktifitas apa pun itu.
Setelah dulu 1 tahun yang lalu pertengkaran Airin dan Hardi karena perihal Airin tidak bisa mengurus rumah dan yang lain nya, Hardi mencari pembantu untuk di rumah nya, tapi sekarang Airin malah terus saja sibuk masalah Uang.
"Kamu jadi pelit gini sih sama aku."
Airin masih tetap merengek, namun Hardi tetap tidak menggubris nya.
Hardi meninggal kan Airin di kamar sendirian, bahkan yang tadi nya biasa ia sarapan, kini di lewati nya.
Pernikahan Airin dan Hardi setiap hari ada saja masalah, membuat Hardi sedikit berubah, setiap pulang kerja, Hardi selalu mencari kesenangan di luar rumah, itu di sebab kan karena istri nya tidak pernah melayani Hardi, terlalu mengabai kan nya sehingga Hardi muak dengan ke adaan yang sekarang, di tambah banyak tuntutan ini itu dari Airin.
...
Pada saat dalam perjalanan pulang kerja, pikiran Hardi sangat kalut, hingga ia pun hampir menabrak wanita paruh baya yang hendak menyebrang bersama putri nya, namun karena kaget wanita paruh baya tersebut pingsan persis di depan mobil yang di kendarai Hardi.
Hardi pun sama hal nya dengan santi dan Ibu nya, kaget karena terlihat ada orang yang hampir di tabrak nya.
Hardi ke luar dari mobil, dan melihat ke adaan wanita tersebut.
"Bu, Ibu, Ibu bangun." Lirih Santi.
"Astaga, aku ga menabrak nya kan." Batin Hardi, sambil sesekali mengusap wajah nya dengan tangan kanan nya.
Hardi melihat ke arah Ibu-ibu yang tergeletak pingsan dan di samping nya ada seorang perempuan yang se umuran dengan istri nya.
"Mba." Tanya Hardi.
Karena merasa ada yang memanggil diri nya, Santi pun melihat ke arah Hardi.
Santi hanya bisa menundukan kepala, Santi mengira, Hardi akan memarahi nya, karena tidak hati-hati saat menyebrang dan di tambah menghalangi jalan nya.
"Saya tidak menabrak nya kan." Tanya Hardi.
Setelah Hardi bertanya hal itu, Santi baru berani melihat ke arah Hardi.
"Oh, tidak Mas, justru saya yang minta maaf, saya tidak hati-hati, terus saya juga menghalangi jalan Mas."
Santi kembali fokus ke Ibu nya yang belum sadar kan diri.
"Ibu kamu pingsan, saya antar kan ke rumah sakit ya."
Santi sangat senang, ternyata masih ada yang mau menolong nya, jika Hardi tidak menawar kan pertolongan, Santi sangat bingung untuk minta tolong ke siapa, di jalanan pun lagi sepi.
"Mas, mau menolong Ibu saya?"
Hardi membawa Bu Dewi ke rumah sakit terdekat.
"Makasih mas." Ucap Santi, yang berada di jok belakang.
"Sama-sama" sambil sesekali melihat ke kaca yang berada di dalam mobil.
Setelah tiba di rumah sakit, Hardi memanggil petugas UGD untuk membantu nya membopong Bu Dewi.
Bu Dewi langsung di bawa masuk ke ruang UGD, dan sedang di tangani oleh Dokter.
Tinggal lah Hardi dan Santi yag berada di luar, untuk menunggu Dokter selesai memeriksa.
"Mas, sekali lagi terima kasih banyak, sudah menolong kami."
Lagi-lagi Santi mengucap kan terima kasih.
"Sudah lah, jangan terus berterima kasih, jika sekali lagi, nanti kamu dapat cinta saya loh." Celoteh Hardi.
Hardi pun tidak menyadari Ucapan yang keluar dari mulut nya, kata-kata tersebut keluar begitu saja.
Santi sedikit tersipu malu karena celotehan Hardi tadi.
"Oh ya, dari tadi kita belum kenalan, aku Hardi."
Santi pun menerima uluran tangan dari hardi.
"Santi."
Setelah beberapa saat menunggu, Dokter pun keluar.
Santi menghampiri Dokter, yang baru saja ke luar.
“Bagaimana keadaan Ibu saya, Dok? Tanya santi”
“Ibu kamu baik-baik saja, hanya saja kecapean, Sekarang juga udah di perbolehkan pulang, namun sebelumnya harus mengurus dulu ke administrasi sebelum pulang!" Tutur dokter.
Santi sangat lega, Ibu nya baik-baik saja, namun di sisi lain, Santi sangat kebingungan untuk membayar biaya rumah sakit nya, saat ini dia tidak mempunyai uang sama sekali.
Hardi memperhati kan Santi yang lagi kebingungan.
"Kamu kenapa, ko seperti kebingungan gitu." tanya Hardi.
"Mmm, itu mas. Saya tidak punya uang untuk melunasi pengobatan Ibu."
Sebenar nya Santi sangat lah malu jika mengatakan bahwa diri nya tidak bisa membayar biaya Rumah sakit.
"Oh, perihal biaya, Ok. Tunggu sebentar, Saya urus dulu biaya administrasi nya."
Akhirnya hardi yang melunasi semua biaya rumah sakit nya.
"Maaf ya mas, Saya banyak berhutang budi sama Mas."
Santi sangat lah tidak enak, ia bukan siapa-siapa, tapi malah merepot kan orang lain.
Hardi tidak menghirau kan Santi lagi, ia meninggal kan Santi di depan ruang UGD, sementara Hardi pergi ke bagian Administrasi.
__ADS_1
Santi menghampiri Ibu nya yang sedang berada di dalam UGD, sambil menunggu Hardi.
Santi melihat Ibu nya sudah sadar kan diri, ia pun memeluk Ibu nya.
"Bu, Ibu gpp kan, sekarang apa yang Ibu rasain." Cerocos Santi.
"Ngga Santi, Ibu gpp. Santi maaf kan Ibu sudah merepot kan kamu nak."
"Ibu sama sekali tidak merepot kan Santi."
Ketika sedang berbincang, Hardi muncul di baik gorden kamar yang di tempatin Ibu nya.
Santi dan Bu Dewi meihat ke arah Hardi.
"Administrasi nya sudah selesai, jadi sekarang bisa pulang ke rumah."
Bu Dewi sedikit kebingungan, karena tidak mengenal nya.
"Itu siapa Santi." tanya Bu Dewi.
" Oh, itu Mas Hardi, Bu. Yang menolong Ibu, bahkan dia juga yang membayar semua pengobatan Ibu."
"Ya Alloh nak, terima kasih, maaf kan Ibu, sudah merepot kan Nak Hardi."
"Sudah Bu, tidak apa-apa, Saya ikhlas menolong Ibu."
"Lebih baik, sekarang kita pulang, saya akan antar kan Ibu dan Santi pulang ke rumah."
Santi semakin tidak enak ketika Hardi mengantarkan nya ke rumah, namun Santi tidak punya pilihan lain, berjalan kaki pun tidak mungkin.
...
Setelah ke jadian tempo hari, Hardi hampir setiap hari main ke rumah Santi dengan alasan Bu Dewi, awal nya ia hanya bermain saja untuk mengisi waktu yang terasa hampa, namun lama kelamaan ia terkagum dengan ke lembutan hati nya Santi, apa lagi ia sangat sayang kepada ibu nya.
Hardi mulai ada rasa cinta, ia mengalami puber ke dua, begitu juga dengan Santi mulai ada benih-benih cinta yang tumbuh di dalam hati nya.
...
Dua bulan berlalu mereka mengenal satu sama lain akhirnya Hardi pun menta’aruf Santi, tentu saja tanpa sepengetahuan Airin.
Santi sendiri sangat tidak keberatan, ia menerima Hardi untuk menjadi suami nya.
Santi tidak pernah tau jika Hardi sudah mempunyai istri, tidak ada kecurigaan yang menunjukan jika Hardi sudah menikah.
Hardi memberanikan diri berbicara dengan Bu Dewi dengan keyakinan nya, namun tidak memikir kan untuk ke depan nya.
“Bu, kedatangan Hardi kesini, mungkin Ibu juga sudah tahu dari Santi sebelum nya, jika Saya ingin menikahi santi?" Jelas Hardi. tanpa basa-basi.
Memang sebelum nya Hardi sudah berbicara terlebih dahulu kepada Santi, perihal niat nya yang ingin menjadi kan Santi Istri.
Hardi menghadap Ibu nya santi untuk meminta restu kepada beliau bahwa Hardi akan menikahi Santi.
Dengan senang hati Bu Dewi menerima pinangan Hardi untuk putrinya, karena bagi bu Dewi, Hardi itu sosok yang sangat bertanggung jawab.
“Ya sudah, Ibu menerima nya, jika kalian berdua sudah yakin dengan keputusan nya. Ibu akan mempersiapkan pernikahan kalian! Pungkas Bu Dewi”.
“Kapan orang tua nak Hardi mau ke rumah Ibu?.” Tanya Bu Dewi.
Hardi sedikit gelagapan dan mencari banyak alasan untuk meyakin kan Ibu nya Santi, jika orang tua Hardi belum bisa datang ke rumah nya.
Hardi meminta kepada Bu Dewi untuk di nikah kan secara siri dulu, dengan alasan orang tua Hardi berada di luar negeri dan belum bisa sempet untuk datang ke rumah Bu Dewi.
Bu Dewi dan Santi pun menyanggupi nya untuk Nikah siri terlebih dahulu, dari pada terjadi hal-hal yang tidak di ingin kan.
Setelah berbincang cukup lama dengan Santi dan Ibu nya, akhirnya Hardi pun pamit pulang.
Sesampai nya di rumah, Hardi melihat Airin dan ternyata sedang berada di ruang tamu Bersama kedua orang tua nya.
Hardi menghampiri mertua nya tersebut.
“Mah kapan datang? Ucap Hardi”. Akhirnya Hardi pun ikut bergabung dengan istri dan mertua nya.
“Mamah sama papah sudah cukup lama disini! Di mumpung kamu ada disini, mamah ingin berbicara tentang rumah tangga kalian.” terang Bu Vera, mertua nya
“Loh!, memang nya ada apa dengan rumah tangga kami mah! saya sama Airin baik-baik saja. Ga ada sama sekali masalah.” jelas Hardi
Mertuanya menginginkan cucu dari Hardi dan Airin. Ibu mertua nya sudah berbicara dari hati ke hati dengan airin. Dan Airin pun setuju apa yang di kata kan orang tua nya ia juga akan berubah.
Airini baru menyadari semua ini sekarang Ketika Hardi akan menikah siri dengan santi.
"Di, Mamah sama Papah, sudah kepengen menimang cucu dari kalian."
"Apa sebaik nya, kalian berbulan Madu saja, kan kalian belum pernah bulan madu, luang kan lah waktu kalian untuk bisa berdua." Tutur Bu Vera.
Mertuanya menyaran kan Hardi dan Airin untuk berbulan madu.
Namun Hardi tidak bisa, karena ia sudah mempunyai rencana jika Hardi akan menikah dengan Santi.
"Sebenar nya untuk bulan madu sekarang ga bisa, minggu depan Hardi harus pergi keluar kota hampir satu bulan disana”. Hardi mencari-cari alasan.
“Kalau begitu kan pas, sambil bekerja sekalian bulan madu, ga ada salah nya kan! lagian kalian sendiri belum sempat bulan madu.” saran mertua nya.
Hardi harus memutar otak agar Hardi bisa berangkat sendiri tanpa Airin.
"Ga bisa Mah, saya akan sibuk kerja, mungkin nanti setelah pulang dari luar kota aku janji akan meluang kan waktu berdua bersama Airin."
"Ia Mah, nanti saja lah, aku ga mau di tinggal sendiri, sedang kan Mas Hardi sibuk kerja."
Airin juga setuju atas keputusan Hardi, setelah pulang dari luar kota.
Karena selama ini, Airin dan Hardi sudah terbiasa menjalani bahtera rumah tangga dengan kesibukan nya masing-masing.
Di hati Hardi, dia sangat senang bahwa istrinya mau berubah, dan Hardi juga tidak ingin kecewa lagi nantinya. Dia akan tetap menikah siri dengan Santi, jika Hardi menginginkan hubungan intim dia akan mendapatkan nya dari Santi.
Hardi sama hal nya dengan lelaki luaran sana, yang pasti nya mengingin kan hubungan ranjang ketika sudah menikah, maka dari itu ia akan tetap dengan keputusan nya untuk memiliki 2 istri, Sebab selama Hardi menikah dengan Airin, istri nya tidak pernah mau di sentuh oleh Hardi. Karena lebih memilih game online nya.
__ADS_1